Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lorong pertemuan
Di lorong rumah sakit yang pucat. Sebria duduk terpaku dengan noda darah di gaunnya, menggenggam erat tas punggung milik Byan yang tertinggal bersama nya. Ia menyadari bahwa meski bocah itu bukan darah dagingnya, setiap kuntum bunga yang mereka tukar setiap hari telah menanam akar yang begitu dalam di hatinya.
Sebria terus mematung di sudut ruang tunggu, memeluk erat tas kecil milik Byan yang talinya nyaris putus akibat benturan. Aliran darah yang keluar dari pelipis Byan tidak lepas dari ingatan.
Rasa cemas Sebria kian menyesak. Ia merasa seperti orang asing yang mencuri momen paling rapuh dari hidup seseorang. Namun, ia tak sanggup beranjak. Setiap kali pintu otomatis rumah sakit terbuka, ia menoleh dengan harapan sekaligus ketakutan, membayangkan bagaimana hancurnya perasaan orang tua bocah itu saat melihat putra mereka terbaring di balik dinding kaca sana.
Sebria merasa terombang-ambing di antara tanggung jawab moral dan rasa tak berdaya. Sambil terus menggenggam ponselnya yang licin karena keringat dingin, ia berbisik dalam hati, memohon agar keluarga bocah itu segera tiba, bukan hanya untuk mengambil alih penjagaan, tapi agar bocah kecil itu tidak sendirian saat ia akhirnya membuka mata nanti.
"Bagaimana Nak Byan?"
Sebria mengangkat pandangnya ketika merasakan kehadiran seseorang. Air mata mereka sama-sama menetes dengan bibir bergetar. "Masih di tangani. Bi Mer... Kepala Byan berdarah badannya lecet." Tangis Sebria tidak bisa di tampung lagi.
"Ini salah saya, karena telat menjemput Nak Byan." Bi Merry tak kalah menangisnya terlebih Byan adalah anak yang diasuhnya sejak kecil setelah ibu Diana meninggal.
"Bagaimana keluarganya?"
Bi Merry mengusap jejak air mata nya. "Sebentar lagi Pak Jehan kesini mungkin di perjalanan."
"Jehan." Nada itu mengandung keterkejutan. "Jehan Kelvin Sanjaya."
"Iya, anda mengenal nya?"
Sebria semakin menangis. Sekarang ia tahu Byan adalah anak Ayusa dan Jehan. Kepingan teka-teki yang selama ini tersembunyi di balik senyum Byan kini terungkap dengan cara yang paling kejam.
Ia baru menyadari mengapa mata cokelat bocah itu selalu terasa familiar dan mengapa lesung pipitnya saat meminta bunga matahari selalu mengingatkannya pada seseorang. Anak laki-laki yang setiap hari menemaninya di toko bunga yang ia peluk erat dengan sisa tenaga saat kecelakaan tadi, adalah bocah yang pernah ia temui dulu saat masih bayi.
Sebria mundur perlahan ke dalam bayangan pilar rumah sakit, napasnya tercekat. Ada badai emosi yang berkecamuk antara rasa iba yang mendalam pada nyawa kecil di dalam sana dan perasaan asing ketika bayangan langkah besar menghampiri.
Di tangannya, tas punggung milik Byan terasa kian dingin, menjadi saksi bisu bahwa takdir punya cara paling ironis untuk mempertemukan kembali mereka yang telah terasing. Lorong seketika sepi seolah berubah dimensi hanya ada Sebria dan laki-laki berwajah panik semakin mendekat.
"Kenapa bisa seperti ini bagaimana kondisi Byan." Suara benda jatuh di pojok dinding menarik atensi pria itu. "Bria..."
Udara di lorong rumah sakit yang tadinya hanya berbau obat, kini mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen ditarik paksa dari ruangan itu. Jehan berdiri terpaku beberapa langkah di hadapan Sebria. Jemarinya yang gemetar masih menggenggam ponsel, sementara matanya yang memerah menatap tak percaya pada wanita yang berdiri di depan ruang UGD.
Tidak ada kata sapaan. Hanya ada keheningan yang tajam dan kaku, dimana setiap detik terasa seperti jam yang berdentang keras di kepala mereka. Wanita itu bisa melihat tatapan mantan kekasihnya menjadi sayu, menahan badai emosi dan ketakutan luar biasa atas kondisi putranya.
Sebria meremas ujung tangannya yang bernoda darah berasal dari anak pria itu. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan bagaimana bocah itu setiap hari datang ke tokonya, namun lidahnya terasa kelu.
Mereka berdiri sebagai dua orang asing yang dipersatukan kembali oleh sebuah tragedi, terperangkap dalam tatapan yang penuh dengan kalimat yang tak akan pernah sanggup diucapkan.
"Keluarga dari ananda Byan?"
Suara bariton dokter yang muncul dari balik pintu geser itu menyambar udara seperti petir, seketika menghancurkan dinding keheningan yang menggenggam di antara mereka. Ketegangan yang tadinya terkunci pada tatapan mata saling menggali makna, kini pecah berantakan.
Jehan tersentak, bahunya yang tegang merosot saat ia berputar cepat ke arah sumber suara, seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Di sisi lain, Sebria menarik napas panjang yang sempat tertahan di kerongkongan, merasakan getaran hebat di lututnya mulai mereda, berganti dengan debar jantung yang menuntut kepastian.
Dokter itu berdiri di sana dengan raut wajah datar. Profesionalitas yang kontras dengan kekacauan emosi di lorong itu sambil memegang papan jalan medis. Kehadirannya memaksa kedua orang yang terasing oleh masa lalu ini untuk kembali ke realitas yang lebih mendesak dari pada masa lalu. Nyawa seorang bocah yang kini berada di tangan takdir medis. Ruang kosong yang tadinya dipenuhi kecanggungan pahit, kini mendadak sesak oleh harapan tipis yang digantungkan pada setiap kata yang akan keluar dari bibir sang dokter.
"Kondisinya sudah stabil," Ujar dokter sambil memberikan senyum tipis yang seketika meluruhkan beban berat di pundak semua orang. "Benturannya cukup keras, tapi syukurlah tidak ada cedera organ dalam yang serius. Luka di dahinya sudah kami jahit dan dia hanya perlu observasi lebih lanjut karena pengaruh obat bius."
Mendengar itu, Sebria menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit dengan lemas, air mata lega yang sejak tadi tertahan akhirnya luruh juga. Ia membayangkan kembali wajah ceria bocah itu saat memilih bunga matahari. Membayangkan bahwa esok atau lusa, tangan kecil itu masih akan bisa menggenggam tangannya lagi.
Mereka mengikuti Byan ke ruang rawatnya. Jehan menyelesaikan adminitrasi sementara Bi Merry pulang mengambil beberapa keperluan Byan. Di sofa panjang itu sepasang anak manusia di pertemukan lagi setelah terpisah rumitnya masa lalu.
"Je/Bria."
"Kamu duluan." Jehan tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu Byan, anak kamu. Selama ini aku pikir nama Byan itu banyak. Aku juga tidak pernah tanya tentang orang tuanya siapa. Jangan salah paham, kebetulan Byan sering mampir ke toko bunga ku. Biasanya security mengantarnya menyeberang dengan selamat."
"Jadi kamu pemilik toko bunga itu? Byan sering cerita tentang kamu. Dia menyebutnya tante bunga karena tidak tahu nama kamu."
Sebria mengangguk dengan gestur tubuh tidak tenang merasa bersalah atas kejadian hari ini. Meskipun memang tidak bersalah.
"Musibah tidak ada yang tahu. Tapi syukurlah, Byan tidak parah. Dan pengendaranya sudah bertanggung jawab dan meminta maaf. Dia menyelesaikan biaya rumah sakit hari ini." Jehan menoleh menatapi lamat wajah mantan kekasihnya yang masih terlihat cantik. "Apa kabar, Bria?"