NovelToon NovelToon
Baru Kenal, Sudah Halal

Baru Kenal, Sudah Halal

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azrinamanda

ON GOING | UPDATE SETIAP HARI

Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.

"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"

"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega

"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega

"cancel aja pak makasih!!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keterbukaan

Tunggu.

Cinta?

Ayra terdiam cukup lama setelah pertanyaan itu muncul di kepalanya sendiri. Kata itu terasa besar. Terlalu besar untuk diucapkan sembarangan. Terlebih untuk pernikahan yang sejak awal bukan dibangun dari perasaan yang matang, melainkan dari keadaan.

Ia dan Rega menikah cepat. Tanpa proses pacaran panjang. Tanpa fase jatuh cinta yang penuh kupu-kupu di perut. Semua terasa seperti keputusan dewasa yang diambil dengan kepala, bukan hati.

Lalu sekarang... kenapa ia takut kehilangan?

Kalau bukan karena cinta, lalu apa?

Rega sudah tertidur lebih dulu. Napasnya teratur, wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa hari lalu. Ayra memandangi langit-langit kamar.

Ia mencoba jujur pada dirinya sendiri.

Kalau Rega benar-benar tidak peduli, ia tidak akan repot menjelaskan. Tidak akan berusaha menenangkan. Tidak akan sengaja meletakkan ponselnya terbuka di meja. Tidak akan berulang kali bilang "aku nggak main di belakang kamu."

Dan Ayra sendiri... kalau ia tidak peduli, ia tidak akan merasa sesak hanya karena melihat seorang perempuan menyentuh lengan suaminya.

Suami.

Kata itu masih terasa asing sekaligus mengikat.

Ia memejamkan mata, mencoba tidur. Namun pikirannya belum selesai.

Bagaimana kalau memang cinta itu tumbuh pelan-pelan? Diam-diam? Tanpa sadar?

...***...

Pagi datang dengan cahaya yang lebih lembut. Rega sudah bangun lebih dulu dan sedang bersiap kerja. Ayra duduk di tepi ranjang dan juga sudah bersiap untuk berangkat kerja, memperhatikannya mengenakan jam tangan.

"Aku ada meeting luar hari ini," kata Rega santai. "Mungkin agak sore pulangnya dan ga searah dengan kantor kamu! kamu berangkat dan pulang sendiri gapapa?"

Ayra mengangguk. Kali ini ia tidak merasa panik.

"Meeting sama siapa?" tanyanya, bukan dengan nada curiga, melainkan biasa.

Rega menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Tim marketing sama dua klien baru. Bukan Nadin."

Ayra refleks tersenyum kecil. "Aku nggak nanya soal dia."

"Tapi kamu kepikiran."

Mereka saling pandang beberapa detik, lalu tertawa kecil canggung, tapi lebih ringan.

Sebelum pergi, Rega berhenti di depan Ayra.

"Kita nggak sempurna," katanya pelan. "Tapi aku mau kita jujur. Kalau kamu takut, bilang. Jangan dipendam sampai jadi jarak."

Ayra mengangguk. "Kamu juga."

Rega mengangguk balik, lalu pergi.

lalu ayra memesan ojek online untuk berangkat ke kantornya.

...***...

Siang itu, Ayra bertemu sahabatnya, Teressa, di sebuah kafe kecil dekat kantor.

"lu kelihatan beda," komentar Teressa setelah beberapa menit memperhatikan wajah Ayra.

"Beda gimana?"

"Kayak orang lagi mikir keras."

Ayra menghela napas. "Ca... menurut lu, cinta itu harus terasa dulu sebelum nikah? Atau bisa tumbuh setelahnya?"

Ressa mengangkat alis. "Wah, berat. Kenapa?"

Ayra menceritakan secara garis besar. Tentang Nadin. Tentang rasa cemburu yang muncul. Tentang ketakutannya sendiri.

Ressa mendengarkan tanpa memotong.

"Menurut gua," kata Ressa pelan, "cemburu itu bukan cuma soal takut kehilangan. Tapi takut kehilangan sesuatu yang berharga."

Ayra terdiam.

"Kalau lu nggak peduli, lu nggak akan secemas itu."

"Jadi lu bilang gua...?"

"gua bilang lu mungkin sudah mulai sayang. Dan itu bikin lu takut."

Ayra menggigit bibir bawahnya pelan.

Sayang. Mungkin iya. Cinta?

Ia belum berani menyimpulkan.

"Tapi hati-hati," lanjut Ressa. "Jangan sampai ketakutanmu bikin kamu jadi orang yang kamu nggak suka."

Ayra mengangguk pelan. Ia tahu maksudnya.

Jangan sampai rasa takut kehilangan justru membuatnya kehilangan diri sendiri.

...***...

Sore hari, Rega benar-benar pulang lebih larut. Jam hampir menunjukkan pukul delapan.

Ayra sudah selesai mandi dan sedang duduk di ruang tengah ketika suara pintu terbuka terdengar.

Rega masuk dengan wajah lelah.

"Maaf ya, terlambat" katanya sambil melepas sepatu.

Ayra berdiri dan menghampirinya. "Capek?"

"Lumayan."

Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri berhadapan.

Ayra ragu. Lalu akhirnya memberanikan diri.

"Ga..."

"Hm?"

"Aku nggak mau jadi orang yang selalu curiga."

Rega terdiam, mendengarkan.

"Tapi aku juga nggak mau pura-pura nggak peduli. Jadi... kalau aku nanya, itu bukan karena aku nggak percaya. Tapi karena aku lagi belajar."

Rega menatapnya lama.

"Kamu lagi belajar percaya," katanya pelan.

"Iya."

Rega tersenyum tipis. "Aku juga lagi belajar jadi suami yang nggak bikin istrinya takut."

Kalimat itu membuat sesuatu di dada Ayra menghangat.

Tanpa banyak pikir, ia melangkah lebih dekat dan memeluk Rega.

Bukan pelukan dramatis. Hanya pelukan sederhana. Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Rega tampak sedikit terkejut, lalu membalas pelukan itu.

"Ini pertama kalinya kamu meluk aku duluan," gumamnya pelan.

Ayra tersipu. "Jangan dibahas."

Rega terkekeh kecil.

Di dalam pelukan itu, Ayra sadar. Rasa ini nyata.

Ia mungkin belum berani menyebutnya cinta dengan lantang. Tapi ia tahu, perasaannya bukan lagi sekadar kewajiban sebagai istri.

Ia peduli. Ia takut. Ia ingin mempertahankan. Dan itu bukan perasaan yang kecil.

...***...

Beberapa minggu berlalu.

Hubungan mereka tidak tiba-tiba sempurna. Masih ada momen salah paham kecil. Masih ada hari ketika Ayra merasa overthinking, dan hari ketika Rega terlalu sibuk.

Namun ada satu hal yang berubah.Mereka bicara. Tanpa menunggu meledak.

Suatu malam, ketika mereka sedang duduk di teras rumah, Rega tiba-tiba berkata, "Ayra."

"Hm?"

"Aku nggak tahu sejak kapan. Tapi rasanya rumah itu bukan tempat. Tapi kamu."

Ayra membeku.

Rega tampak sedikit salah tingkah setelah mengatakannya.

"Maksudku... ya...."

"ya? gimana?" tanya ayra

"kamu lebih paham itu!" jawab rega

Ayra menatapnya, jantungnya berdetak lebih cepat.

"Rega."

"Iya?"

"Aku takut aku salah."

Rega tersenyum pelan. "aku lebih takut kehilangan kamu di banding kamu keliru sama pemikiran kamu."

Untuk pertama kalinya, Ayra tidak merasa ragu dengan perasaannya sendiri.

Cinta itu mungkin tidak datang dengan ledakan besar. Kadang ia tumbuh dari rasa cemburu yang jujur. Dari ketakutan yang diakui.

Dari janji yang ditepati hari demi hari. Dan dari dua orang yang sama-sama memilih untuk bertahan, meski sempat gemetar.

Ayra menatap Rega yang kini menatap langit malam.

"oh iya soal project kita bagaimana?" tanya ayra

"sejauh ini sudah aman! yura cekatan dan dia bisa mengerjakannya dengan baik selama kamu tinggal!"

ayra mengangguk 

"kamu mau buah? aku mau ambil, tiba-tiba ngerasa laper hehe..." ucap ayra dengan kekehannya

"memang ada? kita belum belanja kan?" tanya rega memastikan

"ada kok! tadi setelah makan aku buka kulkas sudah penuh dengan bahan makanan!" jawab ayra

rega mengangguk lalu ayra berlalu pergi ke dapur untuk membawakan buah untuknya dan rega

"gimana tadi meetingnya?" tanya ayra

"lancar kok cuma ada sedikit masalah. tapi masih aman sudah selesai!" jawab rega

"kamu tadi pulang naik apa? maaf ya gabisa jemput kamu!"

"gapapa kok, aku tadi bareng teressa. Dia kebetulan lewat jdi aku ikut pulang bareng"

setelahnya hanya ada keheningan dan  terangnya bintang malam menghiasi langit.

Ternyata benar. Hubungan bukan tentang tidak pernah goyah. Melainkan tentang tetap memilih satu sama lain, bahkan setelah tahu bahwa rasa takut itu ada.

Dan kali ini, Ayra tidak lagi bertanya apakah ia mencintai Rega. Karena jawabannya sudah terasa di setiap degup yang tidak lagi ingin kehilangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!