"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Luka di Balik Make-up Tebal
Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman keras, memutus suara kebisingan dunia luar yang baru saja memuji-muji kesempurnaan pasangan Arkan dan Elena. Di dalam ruangan yang luas itu, keheningan mendadak terasa mencekam. Elena berdiri mematung di dekat meja rias, masih mengenakan gaun malam yang indah, tapi rasanya gaun itu kini mencekik lehernya.
Arkan melepas jas abu-abunya, melemparnya ke sofa dengan gerakan kasar. Melonggarkan dasi, lalu berbalik menatap Elena. Sorot matanya yang tadi penuh binar kemesraan di depan kamera, kini berubah menjadi tatapan predator yang sedang mengamati mangsanya.
"Kemari," perintah Arkan. Suaranya rendah, berbahaya.
Elena melangkah mendekat dengan bahu yang gemetar. Begitu dia berdiri di depan Arkan, pria itu tidak mengatakan apa-apa.
Arkan hanya meraih dagu Elena, memutar wajah wanita itu ke kiri dan ke kanan seolah sedang memeriksa sebuah barang dagangan yang dia curigai cacat.
"Tadi di pesta... kamu sempat melamun," ucap Arkan. Jemarinya yang dingin merayap ke pipi Elena, menghapus sisa blush-on mahal di sana.
"Siapa yang kamu lihat di kerumunan itu, Elena? Kenapa matamu tiba-tiba kehilangan fokus saat kita bicara dengan kolega propertiku?"
"Aku... aku hanya pusing, Tuan. Lampu kamera itu sangat menyilaukan," jawab Elena, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. Kertas pesan dari Eros yang dia sembunyikan di dalam lipatan kain stagennya terasa seolah-olah membakar kulitnya.
Arkan mendengus sinis. Tiba-tiba, tangannya bergerak cepat. Mencengkeram rahang Elena, menekan tulang pipinya hingga Elena merintih kesakitan.
"Jangan berbohong padaku! Aku tahu setiap gerak-gerikmu. Kamu terlihat seperti sedang melihat hantu. Atau... kamu melihat seseorang yang kamu kenal?" Arkan mendekatkan wajahnya, matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Jangan pernah berpikir untuk mencari bantuan, Elena. Kamu pikir ada orang yang cukup berani untuk mengambilmu dariku? Di mata dunia, kamu adalah istriku yang bahagia. Siapa yang akan percaya kalau 'malaikat' kedermawanan seperti aku menyiksa istrinya sendiri?"
Arkan melepaskan cengkeramannya, tapi sebelum Elena bisa menarik napas lega, Arkan menarik kalung berlian yang melingkar di leher Elena. Dia tidak membuka pengaitnya dengan benar, melainkan menyentaknya hingga rantai tipis kalung itu menggores kulit leher Elena, meninggalkan garis merah yang mulai mengeluarkan darah tipis.
"Aakh!" Elena memegang lehernya, merasakan perih yang tajam.
"Kalung ini terlalu bagus untuk leher seorang pembohong," ucap Arkan dingin sambil menatap kalung itu di tangannya.
"Sana, bersihkan wajahmu. Hilangkan topeng cantik ini. Aku muak melihatmu berpura-pura anggun padahal jiwamu hanyalah sampah desa."
Elena segera berlari ke kamar mandi. Mengunci pintunya, lalu terduduk di lantai yang dingin. Di depan cermin besar, Elena melihat dirinya sendiri.
Make-up yang tadi membuatnya terlihat seperti ratu kini mulai luntur oleh air mata yang jatuh tanpa suara. Garis merah di lehernya terlihat kontras dengan kulitnya yang pucat.
Elena mengambil kapas, mulai menghapus riasan tebal itu. Sedikit demi sedikit, wajah aslinya kembali muncul—wajah yang penuh dengan kelelahan dan kesedihan yang mendalam.
Saat riasan matanya luntur, terlihat memar kebiruan kecil di sudut matanya yang tadi disembunyikan dengan concealer tebal. Itu adalah luka dari dua hari yang lalu saat Arkan mendorongnya ke pinggiran meja.
"Luka di balik make-up," batin Elena miris. Itulah hidupnya sekarang. Sebuah keindahan yang dibangun di atas fondasi penderitaan yang berdarah.
Elena teringat pesan Eros. "Malam ini, aku akan ada di jendela kamarmu saat lampu padam."
Elena melihat jam dinding di kamar mandi. Hampir tengah malam. Elena harus keluar dan bersiap. Dengan tangan gemetar, Elena membasuh wajahnya, membiarkan air dingin membilas sisa-sisa kemunafikan hari ini. Setelah mengenakan baju tidur yang tipis, Elena keluar dari kamar mandi.
Arkan sudah berbaring di tempat tidur, membelakangi posisi Elena. Dia tampak sudah tertidur, atau mungkin sedang pura-pura tidur.
Elena berjalan perlahan menuju sofanya di pojok ruangan. Mematikan lampu kamar, menyisakan kegelapan total yang hanya ditembus oleh sedikit cahaya bulan dari celah tirai.
Elena duduk di lantai dekat jendela, jantungnya berdegup sangat kencang hingga dia takut Arkan bisa mendengarnya. Elena menunggu dalam diam. Menit demi menit berlalu terasa seperti jam.
Tiba-tiba, terdengar ketukan halus pada kaca jendela. Sangat pelan, hampir tidak terdengar jika Elena tidak sedang dalam keadaan siaga penuh.
Elena bangkit, dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara gesekan, membuka tirai sedikit. Di sana, di balik kaca, berdiri sesosok bayangan pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Dia berdiri di balkon kecil yang sebenarnya sulit dijangkau dari luar.
Elena membuka pengait jendela dengan tangan gemetar. Begitu jendela terbuka sedikit, aroma udara malam yang segar masuk, membawa serta aroma yang sangat familiar. Aroma yang Elena rindukan selama lima tahun terakhir.
"Eros..." bisik Elena, nyaris tidak bersuara. Air matanya langsung tumpah.
Pria itu, Eros, melangkah masuk ke ambang jendela. Cahaya bulan menyinari sebagian wajahnya, memperlihatkan rahang yang tegas dan sepasang mata yang kini berkilat penuh amarah saat melihat garis merah di leher Elena.
Tanpa kata, Eros mengulurkan tangannya, menyentuh lembut luka di leher Elena dengan ibu jarinya. Sentuhannya sangat berbeda dengan Arkan—sentuhan Eros membawa rasa hangat yang membuat Elena merasa ingin luruh saat itu juga.
"Dia menyakitimu lagi," suara Eros terdengar sangat rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan di balik tenggorokannya.
Elena hanya bisa mengangguk kecil dalam tangisnya yang tertahan. "Kenapa kamu baru datang, Eros? Kenapa lama sekali?"
Eros menarik Elena ke dalam pelukannya. Untuk sesaat, di tengah kegelapan kamar yang menjadi neraka bagi Elena, wanita itu merasakan kembali apa artinya "rumah". Pelukan Eros terasa seperti benteng yang tak terkalahkan.
"Maafkan aku, El. Aku harus menghancurkan banyak penghalang untuk sampai ke sini tanpa membahayakan nyawamu," bisik Eros di telinga Elena. "Tapi aku janji, ini tidak akan lama lagi. Aku sedang menarik benang yang akan meruntuhkan seluruh dunia Arkan. Aku ingin dia kehilangan segalanya sebelum aku mengambilmu kembali."
"Bawa aku pergi sekarang, Eros... aku takut," Elena mengeratkan pegangannya pada kemeja hitam Eros.
Eros melepaskan pelukannya perlahan, menatap mata Elena dengan intensitas yang mematikan.
"Belum bisa sekarang, Sayang. Arkan punya penjaga di setiap sudut rumah ini. Jika kita pergi sekarang, dia akan memburu kita dan ayahmu akan jadi korban pertama. Sabar sebentar lagi. Aku sudah menempatkan orang-orangku di dalam sini. Bi Inah adalah salah satunya."
Elena terkejut. "Bi Inah?"
Eros mengangguk. "Tidurlah. Jangan tunjukkan perubahan apa pun di depan Arkan. Biarkan dia merasa menang untuk beberapa hari lagi. Saat, saatnya tiba, aku sendiri yang akan membuka pintu penjara ini untukmu."
Tiba-tiba, terdengar suara gerutan dari arah tempat tidur. Arkan bergerak dalam tidurnya.
Eros segera mundur ke arah jendela. "Aku harus pergi. Ingat, El... kamu tidak sendirian. Setiap tetes air matamu malam ini akan dibayar dengan kehancuran Arkan."
Eros menghilang ke kegelapan malam secepat dia datang. Elena segera menutup jendela dan menarik tirai kembali. Elena duduk bersandar di bawah jendela, memeluk dirinya sendiri. Rasa perih di lehernya masih ada, tapi kini ada harapan yang menyala terang di dadanya.
Elena melihat ke arah Arkan yang masih tertidur. Pria itu tidak tahu bahwa di balik kesombongan dan hartanya, waktu kematian bagi kekuasaannya sudah mulai berjalan. Di balik make-up tebal dan senyum palsu hari ini, Elena baru saja menemukan kembali jiwanya yang sempat hilang.
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya