Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Freya berpamitan pada Miko dengan alasan ada acara keluarga mendadak. Setelah mendapat izin, ia segera melangkah pergi dan menaiki taksi yang telah ia pesan sebelumnya.
Begitu taksi berhenti di depan Restoran X, Freya tidak langsung menuju ruang VVIP tempat keluarganya menunggu. Ia justru berbelok ke arah toilet.
Beberapa pasang mata sempat menatapnya dengan curiga. Namun, Freya menegaskan dengan suara rendah bahwa ia seorang wanita. Barulah ia diizinkan masuk ke toilet wanita.
Di dalam salah satu bilik, Freya menghela napas panjang. Ia melepas wig yang selama ini menutupi identitasnya, lalu mengganti jas maskulin itu dengan pakaian kasual yang lebih sesuai dengan dirinya. Setelah itu, ia keluar dari bilik, berdiri di depan cermin, memoles tipis wajahnya dengan make up, dan merapikan rambut panjang yang kini tergerai bebas.
Pantulan di cermin menampilkan sosok yang nyaris terasa asing, namun juga begitu nyata.
Freya menatap dirinya sendiri cukup lama. Dadanya naik turun saat ia mengumpulkan keberanian.
Ia tahu, setelah melangkah menuju ruangan itu, tidak ada lagi jalan untuk kembali.
"Aku akan membatalkan perjodohan ini," gumamnya pelan. "Demi pria yang aku cintai. Demi Steven." Bibirnya melengkung tipis, penuh tekad. "Setelah semuanya benar-benar selesai, aku akan jujur padamu, Steve. Dan memperkenalkan mu pada keluargaku."
Freya kembali menarik napas dalam, lalu berbalik dan melangkah keluar dari toilet. Langkahnya mantap menuju koridor yang mengarah ke ruang VVIP.
Tidak lama kemudian, ia berdiri tepat di depan pintu itu. Sekali lagi, ia menarik napas, lebih dalam dari sebelumnya lalu, membuka pintu.
"Maaf semuanya. Aku datang terlambat," ucapnya dengan tenang. Namun, sedetik kemudian tubuhnya membeku di ambang pintu saat melihat sosok yang sangat ia kenal, berada di dalam ruangan itu.
"Steven?" lirihnya. Jantungnya seakan jatuh ke dasar perut saat pandangannya bertabrakan dengan mata pria itu.
Sementara, Steven berdiri terpaku. Tatapannya terkunci pada sosok Freya, sampai tidak berkedip, seolah dunia di sekelilingnya mendadak lenyap.
Wajah itu, garis rahangnya, tatapan matanya. Semuanya terasa familiar. Bahkan postur tubuhnya.
Dada Steven berdegup keras. Ada rasa asing yang justru terasa sangat dekat.
"Tidak mungkin... " lirih Steven.
Freya menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, berusaha tetap berdiri tegak meski lututnya terasa lemas.
Tanpa sadar, Steven menggerakkan kakinya satu langkah ke depan. "Kenapa wajahmu... " suaranya terdengar rendah dan tertahan, "sangat mirip dengannya?"
Ruangan mendadak sunyi.
Jacob dan Evelyn menaikkan sudut bibirnya, sementara Miko membeku di tempat, matanya menatap Steven dan Freya bergantian.
"Kenapa wajahnya sangat mirip.dengan Boy? Apa... Boy mempunyai saudara kembar?" batin Miko.
Freya mengangkat wajahnya perlahan, menatap Steven tepat di mata. Ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan. Namun, yang keluar hanyalah satu tarikan napas panjang, penuh ketakutan, juga keberanian.
"Jadi, kau benar-benar yakin ingin membatalkan perjodohan ini, Steve?" tanya Evelyn tiba-tiba.
"Apa maksud Bibi?"
"Apa maksud Mama?"
Dua pertanyaan itu terlontar bersamaan.
Steven dan Freya saling menatap.
"Mama?" ulang Steven lirih.
"Ya." Evelyn bangkit dari kursinya, melangkah mendekat, lalu berdiri di sisi Freya. Tangannya menyentuh bahu putrinya dengan tegas. "Ini adalah putriku. Namanya Freya."
Steven tidak langsung bereaksi. Tatapan tajamnya tertuju pada Freya, seolah mencoba menembus siapa sebenarnya wanita di hadapannya. Potongan-potongan bayangan tentang Boy berkelebat di kepalanya, cara berdiri, sorot mata, bahkan caranya menunduk.
"Tidak mungkin," lirihnya. Ia masih berfikir jika semua ini hanya kebetulan. Apalagi, fakta yang ia tahu, Jacob hanya memiliki satu putri saja.
"Ada apa, Steve?" tanya Evelyn pelan namun, menusuk. "Apa kau pernah bertemu putriku sebelumnya, hm?"
"Ma—" Freya hendak bicara, namun suaranya tertahan.
"Aku hanya... " Steven menelan ludahnya. "Merasa wajahnya sangat familiar. Dia mirip seseorang."
"Apakah maksudmu, Boy?"
DEG.
Jantung Steven menghantam dadanya keras. Tangannya mengepal tanpa sadar, kukunya menekan telapak. Ia berharap bahwa dugaannya salah.
"Memang benar, Steve," ucap Evelyn mantap. "Freya adalah Boy."
Evelyn meraih tas Freya dan mengeluarkan benda-benda penyamaran yang selama ini dipakai Freya, wig, pengikat dada, aksesori kecil yang selama ini menipu mata.
Wajah Steven seketika memucat. Miko membeku dengan mata membelalak, napasnya tercekat.
"Kau... " suara Steven nyaris tidak terdengar.
Freya mengepalkan tangannya erat-erat. Kepalanya tertunduk. Ia tidak sanggup menatap Steven, tidak setelah semuanya terbuka seperti ini.
"Jadi selama ini kau... " Steven tidak mampu melanjutkan. Ia tertawa kecut sambil menggeleng pelan, tidak percaya. "Aku benar-benar bodoh."
Tubuhnya terhuyung, mundur satu langkah. "Maaf," ucapnya dingin, menahan sesuatu yang bergetar di dadanya. "Sepertinya, aku tidak enak badan. Permisi." Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Steven berbalik dan berjalan cepat keluar ruangan, melewati Freya begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun.
Miko segera menyusul. Namun, tepat saat melewati Freya, langkahnya terhenti sejenak. Ia menatap wanita itu, lalu menggeleng pelan. Bukan marah, atau benci, melainkan campuran rasa kecewa dan iba, sebelum akhirnya kembali melangkah pergi.
Freya mengangkat wajahnya perlahan, menatap Jacob dan Evelyn bergantian. Matanya memerah, dadanya naik turun. Bukan hanya amarah yang bergejolak di sana, melainkan perasaan tertahan yang siap meledak kapan saja.
"T-tidak, Pa. Tidak!" suaranya bergetar. "Aku tidak mau!" Tanpa menunggu jawaban, Freya berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu, menyusul Steven.
Jacob menghela napas berat. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk pinggang Evelyn dari samping.
"Apa kita tidak keterlaluan?" tanyanya lirih.
Evelyn bersandar santai di pelukan suaminya. "Kita hanya mengikuti permainan mereka saja," jawabnya tenang. "Anggap saja ini hukuman kecil untuk mereka."
"Hukuman?"
"Untuk dua orang keras kepala yang saling mencintai tapi, memilih bersembunyi," lanjut Evelyn ringan. "Kalau mereka benar-benar saling mencintai, mereka pasti akan kembali bersama."
Jacob masih menatap pintu di depannya yang tertutup rat. "Tapi, sepertinya Steven sangat marah."
Evelyn justru tersenyum. "Bukankah itu bagus?"
Jacob menoleh heran.
"Semakin besar emosinya, semakin besar pula perasaannya," ucap Evelyn, kembali duduk di kursinya. "Dan... semakin cepat kita mendapatkan cucu," lanjutnya dengan senyum puas.
Jacob hanya bisa menggeleng pelan, sementara Evelyn melanjutkan makan malamnya dengan wajah puas, seolah kekacauan yang baru saja terjadi hanyalah bagian dari rencana yang berjalan sempurna.
"Putriku yang malang. Kau harus sabar menghadapi ujian dari mama mu yang mengerikan ini, " batin Jacob.