NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 - Sesuatu Yang Menyeramkan Datang... Takutnyoo

-Ketika Nama Menjadi Jalan

Arthur tidak segera meninggalkan Aurellion Prime.

Ia menolak undangan, menunda jamuan, dan memilih berjalan sendiri di kota yang selalu bergerak bahkan ketika malam hari. Di sana, ia melihat dampak dari perang tanpa mendengar dentum senjata: harga gandum naik, royal guard bertambah sepuluh kali lipat dari biasanya, orang-orang berbicara lebih pelan juga.

- -Jalur Moren telah hidup.

Dan ia hidup tanpa izinnya.

Jejak Hendry yang Tersisa. Pesan itu datang sederhana, seperti Hendry selalu melakukan segalanya.

Tidak ada segel. Tidak ada nama.

Jika kau mencari jalur yang bergerak tanpa peta, carilah mereka yang tidak punya alasan untuk berbohong kepadamu.

Arthur menemukannya di rumah singgah kecil di pinggiran kota bekas tempat penampungan prajurit yang telah pensiun seusai pertempuran hebat dahulu dan janda perang yang kehilangan suami nya di Medan pertempuran. Di sana, satu per satu wajah menoleh, mengenal namanya tanpa pernah bertemu.

“Dahulu kala ada seseorang yang menyelamatkan kami dan meminta untuk menolong anak keturunan dari majikannya, dia selalu berkata kepada kami” ucap seorang pria berambut putih, “kalau suatu hari ada seseorang yang datang, jangan biarkan namamu berjalan sendirian.”

Arthur menunduk.

Hendry tidak membangun pasukan.

Ia membangun kepercayaan.

- -Mengambil Alih Tanpa Merebut

Arthur duduk bersama mereka, mendengarkan cerita dari pengalaman mereka selama bertahun-tahun tanpa menyela.

Tentang makanan yang sampai tepat waktu.

Tentang pengungsi yang diarahkan ke tempat aman.

Tentang perintah singkat yang hanya berkata: Lindungi.

“Ummm... Bisakah aku mengajukan pertanyaan singkat? ...siapa yang memberi kalian arahan sekarang?” tanya Arthur akhirnya.

Seorang wanita menjawab pelan,

“Tidak ada. Tapi kami tahu kapan harus bergerak.”

Arthur menarik napas.

“Berarti... Mulai sekarang” katanya, “jika ada perintah yang membawa namaku, pastikan ia juga membawa pertanggungjawaban.”

Mereka mengangguk.

Tidak ada sumpah.

Namun itu lebih kuat.

- -Reaksi yang Tidak Terhindarkan

Kabar itu tidak butuh waktu lama.

Duke New Gate membaca laporan tentang Jalur F dengan wajah membatu.

“Ini bukan jaringan biasa” katanya dingin.

“Ini fondasi kekuasaan dari seseorang.”

Polein lebih jujur.

“Dan fondasi seperti ini tidak bisa dihancurkan dengan pedang ataupun uang.”

Di tempat lain, Ervin menutup suratnya dengan satu kalimat:

Ia telah berhenti menjadi simbol.

Sekarang ia menjadi arah.

Ia tersenyum tipis.

“Menarik...”

- hPercakapan yang Tidak Pernah Diinginkan

Malam sebelum keberangkatan Arthur dari Aurellion Prime, Kaisar memanggilnya sekali lagi.

“Arthur Fireloren... Apakah ini memang takdir mu atas warisan ayah mu yang tidak lengkap? Jika kau terus berjalan seperti ini di luar sana...” kata Kaisar, “kau akan menciptakan sesuatu yang bahkan tidak bisa aku kendalikan.”

Arthur menatapnya tanpa gentar.

“Aku tidak ingin kendali, tuan” katanya.

“Aku ingin tanggung jawab.”

Kaisar tertawa pelan.

“Hahahahaha itu Jawaban yang sangat jujur sama dengan yang ayahmu sering katakan kepada ku saat aku masih menjabat sebagai putra mahkota.”

Arthur mengangguk.

“Itu sebabnya aku tidak akan mengulangi semua langkahnya yang terasa salah.”

- -Jalan Ketiga

Arthur meninggalkan ibu kota sebelum fajar.

Tidak menuju Florence.

Tidak menuju Fireloren.

Ia berdiri di persimpangan jalan yang sangat sepi, sangat lama ia disana, tempat tiga jalur bertemu dan papan yang entah kenapa bisa bertuliskan, jalan bangsawan, jalan perang, dan jalan rakyat.

Arthur berpikir sangat lama, setidaknya sampai waktu makan siang... Tapi ia akhirnya memutuskan untuk melangkah... Melangkah ke jalan yang tidak diberi nama atau tidak memiliki tulisan apapun...

Di kejauhan, seorang pengintai berlutut dan menulis cepat.

Target tidak memilih sisi.

Target menciptakan sisi baru.

Dan di balik peta Tirpen yang terbentang luas, enam tangan mulai bergerak bersamaan, bukan untuk menyerang Arthur seperti biasa, melainkan untuk menghancurkan jalan yang sedang ia coba bangun.

Hari berakhir seperti biasa... Bukan dengan suara dentingan lonceng kota, melainkan dengan satu kesadaran sunyi:

Perang berikutnya tidak akan dimenangkan oleh yang paling kuat, tapi oleh yang paling dipercaya.

- -Retakan yang Tidak Terlihat

Angin di dataran Tirpen malam itu tidak berisik layaknya angin biasa, justru terlalu tenang. Api unggun di tengah perkemahan hanya berkerlip kecil, seakan ragu apakah ia pantas menyala di antara kegelisahan yang menyelimuti semua orang.

Arthur duduk di atas kayu tua, menatap peta kulit yang terbentang di pangkuannya. Garis-garis batas wilayah telah lama usang, tetapi satu area tetap dibiarkan kosong, Wilayah Kekosongan. Tidak ada penanda, tidak ada nama kota, hanya arsiran gelap.

“Peta ini berbohong...” gumam Arthur pelan.

“Bukan berbohong...” jawab suara di belakangnya. “Ia hanya sengaja dibungkam atau dihilangkan.”

"Seperti tidak asing..." pikir Arthur.

Lucien berdiri beberapa langkah di belakang Arthur. Wajahnya tampak lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya kulitnya tidak lagi pucat, napasnya stabil.

“Kau seharusnya beristirahat lebih lama lagi, tuan” kata Arthur tanpa menoleh.

Lucien tersenyum tipis. “Aku sudah terlalu lama beristirahat.”

Arthur akhirnya menatapnya. “Sejak kapan kau bisa berdiri selama ini tanpa gemetar tuan?”

Lucien terdiam sejenak. Api unggun memantulkan bayangan retak di wajahnya. “Sejak... Btw bisakah kamu memanggil ku dengan sebutan selain tuan? Misalnya kakak mungkin? ... Kembali ke topik, sebenarnya aku sedang berusaha mencoba berhenti melawan ingatan itu.”

Arthur menutup peta perlahan. “Ehh... Baiklah kakak, dan ingatanku juga penuh dengan hal-hal yang seharusnya tidak bangun...”

Lucien melangkah lebih dekat, suaranya merendah. “Perbedaannya, Arthur… ingatanmu belum mencoba membunuhmu dari dalam.”

Keheningan menggantung.

Di sisi lain perkemahan, para penjaga berjaga dengan sikap lebih waspada dari biasanya. Bahkan para veteran yang pernah menghadapi ras non-manusia di perbatasan Tirpen terlihat gelisah. Sejak Lucien sadar sepenuhnya dari penyakitnya, sesuatu berubah. Bukan hanya pada dirinya, tetapi pada suasana di sekitarnya.

“Kau belum menceritakan semuanya, kakak” ujar Arthur.

Lucien menghela napas panjang. “Penyakit itu bukan penyakit biasa. Itu adalah sebuah pengekangan.”

Arthur mengernyit. “Pengekangan?”

“Ada sesuatu di dalam diriku,” lanjut Lucien. “Sesuatu yang tidak ingin aku ingat… dan seseorang yang sangat ingin aku lupa.”

Arthur berdiri. “Siapa tuh?”

Lucien hendak menjawab ketika tiba-tiba tanah bergetar pelan. Bukan seperti gempa lebih seperti denyut. Sekali. Lalu berhenti.

Para penjaga langsung mengangkat senjata.

“Tunggu kenapa tanahnya tiba-tiba bergetar??” salah satu dari mereka berbisik.

Arthur meraih pedangnya. “Itu bukan alami.”

Lucien menatap ke arah Wilayah Kekosongan, matanya menyipit. “Mereka tahu kita di sini.”

“Mereka? Siapa?” Arthur menoleh tajam.

“Bukan satu ras biasa” jawab Lucien cepat. “Mungkin kita menyebutnya sebagai Aliansi...”

Udara tiba-tiba terasa berat. Api unggun meredup sendiri, seolah disedot oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Dari kejauhan, kabut mulai naik tidak bergerak seperti kabut biasa, tetapi mengalir perlahan, menyusup di antara batu dan rerumputan, seakan memiliki tujuan.

“Segera bentuk formasi bertahan!! Lindungi Tuan muda!!” teriak komandan penjaga.

Arthur berdiri di garis depan, tetapi perhatiannya tetap pada Lucien. “Kau seperti tahu ini akan terjadi kakak.”

Lucien mengangguk. “Aku berharap salah.”

“Kau menuntun kami ke sini?”

“Tidak, tidak mungkin” jawab Lucien tegas. “Tapi keberadaanku adalah pemicu kedatangan mereka.”

Arthur terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Kau seharusnya bilang dari tadi dong.”

“Ahhh itu... Aku baru mengingat hari ini, maaf Arthur” balas Lucien. “Dan sebagian ingatan itu… bukan berasal dari milikku.”

Kabut kini cukup dekat. Dari dalamnya, terdengar suara langkah kaki yang keras, desisan yang sangat menganggu, bahkan gema rendah seperti bisikan banyak makhluk yang berbicara dalam satu napas.

Arthur mengangkat pedangnya. “Apa yang mereka inginkan darimu kakak?”

Lucien menatap Arthur, kali ini tanpa senyum. “Bukan, bukan dariku.”

Arthur merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. “Lalu dari siapa?”

Lucien menoleh ke arah Arthur sepenuhnya. Matanya memantulkan cahaya yang bukan berasal dari api unggun.

“Dari pewaris yang tidak seharusnya hidup...”

Detik itu juga, kabut terbelah.

Sosok pertama muncul tinggi, ramping, dengan bentuk yang tidak sepenuhnya manusia. Di belakangnya, bayangan lain bergerak, puluhan, mungkin ratusan, tetapi tidak satu pun melangkah tergesa-gesa.

Seakan mereka yakin.

Arthur menggenggam pedangnya lebih erat.

Di belakangnya, Lucien berbisik, hampir seperti doa atau penyesalan.

“Perang ini tidak dimulai hari ini, Arthur,” katanya. “Ia baru saja mengingatmu.”

Dan ketika sosok di depan kabut itu mengangkat kepalanya, Arthur menyadari satu hal yang membuat darahnya membeku, makhluk itu seakan mengenalnya.

Dan ia tersenyum kepada Arthur...

-Tri: hell nah🗿

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!