"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 4
Setelah istirahat sebentar di penginapan, ayah Hana memanggil mereka semua. "Siap ya, anak-anak? Kita mulai jalan ke puncak sekarang! Jalan nya agak panjang dan curam, jadi harus sabar ya!" ucap ayah Hana dengan senyum. Mereka semua mengangguk dan mengambil tas masing-masing yang sudah diisi air minum dan camilan.
Mereka memulai perjalanan ke puncak. Awalnya, jalan nya masih landai dan mudah dilewati. Hana senang banget dia berjalan cepat, menunjuk ke berbagai pohon dan bunga yang dia kenal. "Ini pohon pinus, ini bunga edelweis yang langka, dan lihat itu kelinci hutan yang lagi makan rumput!" teriak Hana dengan semangat. Yuki dan Kinta melihat dengan kagum ini adalah pemandangan yang mereka tidak pernah lihat di kota.
Setelah berjalan sekitar 1 jam, jalan nya menjadi semakin curam dan licin. Yuki mulai kesulitan berjalan dia sering tersandung akar pohon dan hampir terjatuh. "Aduh, jalan ini susah banget ya," gumam Yuki dengan napas kencang. Kinta mendekati dia dan memberikan tangannya. "Tenang aja, Yuki. Aku bantu tarik mu ya. Jangan tergesa-gesa." Yuki menerima tangannya dan tersenyum. "Terima kasih, Kinta. Kamu selalu ada di saat aku butuh."
Ayah Hana juga menunggu mereka di depan. "Jangan terburu-buru ya, anak-anak. Istirahat sebentar kalo lelah. Udara di sini sudah mulai dingin, jadi jaga badan mu jangan sakit!" ucap ayah Hana. Mereka berhenti di tempat yang datar, minum air minum dan makan camilan. Hana bawa kacang mete yang digoreng rasanya enak dan bikin energi kembali.
Mereka melanjutkan perjalanan. Yuki semakin kesulitan kaki nya mulai pegal dan dia sulit bernapas karena udara yang tipis. "Kakak, aku lelah banget... mau istirahat lagi dong," ucap Yuki dengan suara pelan. Hana mendekati dia dan memeluknya lembut. "Semangat ya, Yuki! Puncak sudah dekat. Kita bisa lihat matahari terbenam dari sana pasti sangat indah!" Kinta juga menambahkan. "Ya, Yuki. Kamu bisa lakukan itu! Aku akan selalu ada di samping mu."
Dengan dukungan dari Hana dan Kinta, Yuki melanjutkan berjalan. Dia berjalan perlahan, tapi tidak berhenti. Ayah Hana juga memberikan dia nasi goreng bungkus yang dia bawa makanannya hangat dan bikin dia merasa lebih kuat. "Terima kasih banyak ya, pak Hana. Kamu terlalu baik sama kita," ucap Yuki dengan senyum. Ayah Hana tersenyum. "Sama-sama, Yuki. Semua anak itu seperti anak ku sendiri."
Setelah berjalan sekitar 2 jam lagi, mereka akhirnya mencapai puncak gunung. Mata mereka langsung terkejut pemandangan yang luar biasa! Langit berwarna oranye, merah, dan ungu karena matahari yang akan terbenam. Di bawah mereka, ada awan yang terapung seperti lautan putih. Semua kelelahan mereka hilang dalam sekejap.
"Wah, ini yang paling indah pemandangan yang pernah aku lihat!" teriak Hana dengan senyum lebar. Yuki juga terkejut dia berdiri diam dan melihat matahari yang perlahan-lahan turun. "Ini luar biasa banget," gumam Yuki dengan suara gemetar. Kinta berdiri di sampingnya dan melihat juga. "Benar. Ini moment yang kita tidak akan pernah lupa."
Ayah Hana mengambil ponselnya dan mengajak mereka foto bareng. "Yuk, foto bareng di puncak gunung! Ini kenangan yang sangat berharga!" ucap ayah Hana. Mereka berdiri berdampingan Yuki di tengah, Kinta di kiri, Hana di kanan, dan ayah Hana di belakang. Saat foto diambil, matahari tepat terbenam, membuat pemandangan semakin indah.
Setelah matahari terbenam, udara menjadi semakin dingin. Ayah Hana mengajak mereka pulang ke penginapan. Jalan pulang lebih sulit karena sudah gelap mereka menggunakan lampu senter untuk melihat jalan. Hana selalu bikin kelucuan buat bikin suasana tidak terlalu serius. "Kalian lihat itu? Kayak makhluk aneh ya! Tapi itu cuma pohon yang bentuknya aneh!" teriak Hana, bikin Yuki dan Kinta ketawa.
Saat mereka tiba di penginapan, mereka semua lelah banget. Tapi hati mereka penuh dengan senang dan kebanggaan mereka berhasil mencapai puncak gunung! Ayah Hana memasak sup ikan yang hangat buat mereka. Makanan itu terasa lebih enak karena mereka semua sangat lapar.
"Malam ini kita tidur lebih awal ya, anak-anak. Besok pagi kita bisa lihat matahari terbit dari penginapan juga sangat indah!" ucap ayah Hana. Mereka semua mengangguk dan langsung masuk ke kamar masing-masing. Yuki, Hana, dan Kinta tidur di kamar yang sama mereka tidur berdampingan, tubuh mereka masih dingin tapi hati penuh kehangatan.
"Terima kasih ya, Hana dan Kinta. Kalau nggak ada kalian, aku pasti nggak bisa sampe puncak," gumam Yuki dengan suara pelan. Hana memeluknya. "Sama-sama, Yuki! Kita adalah teman, jadi harus saling membantu." Kinta juga menambahkan. "Ya, Yuki. Kamu kuat banget kamu bisa melakukan apapun kalo mau."
Pagi esok, mereka bangun lebih awal untuk melihat matahari terbit. Mereka berdiri di teras penginapan, melihat langit yang perlahan-lahan menyala. Saat matahari muncul dari balik gunung, cahaya nya menyinari seluruh pemandangan, membuat semua yang ada terlihat lebih cerah dan indah. Yuki menangis air mata senang ini adalah momen yang paling indah dalam hidupnya.
"Kita akan selalu ingat momen ini ya, kan?" tanya Yuki dengan suara gemetar. Hana dan Kinta mengangguk. "Ya! Selalu!" teriak mereka bersama. Ayah Hana juga tersenyum. "Anak-anak, ini yang namanya hidup penuh dengan tantangan, tapi juga penuh dengan keindahan yang layak untuk dilihat."
Setelah melihat matahari terbit, mereka sarapan dan mulai menyiapkan barang untuk pulang ke kota. Perjalanan pulang ke kota lumayan jauh, tapi mereka tidak bosan mereka selalu berbicara tentang pengalaman mereka di gunung, menunjuk ke pemandangan yang mereka lewati, dan bercanda bersama.
Saat mereka tiba di kota, matahari sudah mulai terbenam lagi. Ayah Hana membawa mereka ke rumah masing-masing. Di depan rumah Yuki, mereka semua berpisah. "Terima kasih banyak ya, pak Hana. Ini libur yang paling seru yang pernah aku alami!" ucap Yuki dengan senyum. Hana dan Kinta juga mengucapkan terima kasih. "Sama-sama, anak-anak. Kapan-kapan kita lagi kemana-mana ya!" ucap ayah Hana dengan senyum.
Setelah mereka pergi, Yuki memasuki rumah dan melihat Ayase yang sudah menunggu. "Cara pulangnya lama ya? Ceritakan dong apa yang terjadi di gunung!" tanya Ayase. Yuki mulai menceritakan semua yang terjadi dari jalan ke puncak sampe melihat matahari terbenam dan terbit. Ayase mendengar dengan kagum. "Wah, itu luar biasa banget! Kamu hebat banget bisa sampe puncak!"
Malam hari, Yuki duduk di kamar nya, melihat foto yang mereka ambil di gunung. Dia mengambil hp nya dan mengirim pesan ke Hana dan Kinta: "Hari ini aku senang banget bisa pulang aman. Terima kasih banyak ya kalian berdua dan pak Hana buat bikin libur ini sangat spesial. Aku akan selalu ingat momen ini selamanya. Aku cinta kalian berdua!"
Pesan Hana kembali cepat: "Aku juga senang banget! Kita lagi kemana-mana ya besoknya? Aku sudah pengen libur lagi!"
Pesan Kinta juga datang: "Aku juga akan selalu ingat momen ini, Yuki. Kamu hebat banget. Aku cinta kamu!"
Yuki tersenyum dan menyimpan hp nya. Dia merenungkan semua pengalaman yang dia alami dari ketemu Hana lagi, dapat nilai ujian bagus, sampe libur ke gunung. Dia merasa sangat beruntung punya orang-orang yang mencintainya dan membuat hidupnya semakin berwarna.