Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: PENJARA TANPA JERUJI
Pagi itu, Kota A terbangun dengan berita yang mengguncang fondasi dunia bisnis dan sosialnya. Headline di setiap media cetak dan digital menampilkan foto Adrian Mahendra dan Sisca yang digiring keluar dari Vila Mahendra dengan tangan terborgol.
Video amatir yang bocor memperlihatkan Sisca yang merontak histeris, rambutnya acak-acakan, berteriak tentang "hantu berbaju perak" sementara Adrian hanya menunduk dengan wajah yang hancur, kehilangan sisa-sisa martabatnya sebagai konglomerat.
Di dalam markas kepolisian pusat, Adrian duduk di ruang interogasi yang dingin. Di balik kaca satu arah, Alana berdiri bersama Arlan, menyaksikan pria yang pernah menjadi dunianya itu kini tampak seperti pecundang kecil.
"Dia akan didakwa dengan pasal berlapis," Arlan berbisik, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Pembunuhan berencana, sabotase, pencucian uang, dan kepemilikan senjata ilegal dari tim Black Cobra. Dengan bukti rekaman dari Lukas dan pengakuan Viper, dia tidak akan pernah melihat matahari di luar jeruji besi lagi."
Alana menatap Adrian datar. "Penjara adalah tempat yang terlalu aman baginya, Arlan. Dia akan merasa bahwa dinding sel adalah perlindungan dari dunia yang kini membencinya. Aku ingin dia merasakan 'penjara' yang lebih menyiksa—penjara di dalam pikirannya sendiri, di mana dia tahu bahwa hartanya, namanya, dan masa depannya telah lenyap, sementara aku terus tumbuh menjadi sosok yang tidak akan pernah bisa dia raih kembali."
Sisca, di sel yang berbeda, telah dipindahkan ke bangsal psikiatri penjara karena kondisinya yang terus memburuk. Dia terus meracau, menggambar lotus di dinding selnya dengan ujung kuku sampai berdarah. Bagi Alana, pemandangan itu adalah penutup sebuah bab lama, namun ia tahu, dendam yang terselesaikan seringkali memancing badai baru.
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk kepolisian, di sebuah kedai kopi terpencil yang menghadap ke arah kediaman mewah Syailendra, dua orang pria duduk dalam keheningan yang mencurigakan. Mereka mengenakan pakaian kasual, namun postur tubuh mereka tegak dan waspada—ciri khas orang-orang terlatih.
Salah satu dari mereka meletakkan sebuah perangkat tablet kecil di atas meja. Layarnya menampilkan peta satelit kediaman Syailendra dengan titik-titik merah yang menandai posisi sensor keamanan.
"Sinyal enkripsi dari laboratorium bawah tanah Vila Mahendra telah diputus, tapi data terakhir menunjukkan bahwa unit 'Teratai' telah dipindahkan," kata pria dengan suara parau.
"Arlan Syailendra tidak akan menyimpannya di bank. Dia terlalu pintar untuk itu. Dia pasti membawanya ke rumahnya," jawab pria satunya, matanya terpaku pada gerbang tinggi kediaman Arlan melalui teropong jarak jauh.
Mereka adalah anggota dari "The Ouroboros", sebuah sindikat bayangan internasional yang selama puluhan tahun telah mendanai riset ilegal di seluruh dunia, termasuk Proyek Teratai milik Kakek Mahendra tanpa sepengetahuan sang Kakek.
Bagi mereka, Adrian hanyalah pion yang gagal, namun Alana adalah variabel baru yang berbahaya karena dia memiliki kunci biometrik asli.
"Perintah dari pusat sudah jelas," lanjut pria itu sambil menyesap kopinya. "Ambil Formula Teratai itu hidup-hidup. Jika wanita itu melawan, bawa dia juga. Dia adalah kunci biometrik berjalan."
"Bagaimana dengan Syailendra? Dia memiliki unit Black Hawk."
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Black Hawk hanyalah burung kecil di hadapan naga. Kita tunggu sampai malam bulan mati. Saat itulah pertahanan paling kuat sekalipun akan memiliki celah."
Di kediaman Syailendra, suasana yang seharusnya penuh kemenangan justru terasa tegang. Arlan telah meningkatkan status keamanan ke level tertinggi. Pasukan tambahan bersenjata lengkap kini berpatroli di perimeter hutan setiap jam.
Alana berada di laboratorium medis pribadi Arlan, menatap botol perak berisi Formula Teratai yang kini tersimpan di dalam inkubator antigelombang. Di sampingnya, Lukas sedang memindai molekul cairan tersebut.
"Mummy," panggil Lukas dengan nada serius, matanya tidak lepas dari monitor. "Formula ini... dia tidak stabil secara kimiawi jika tidak berada di dekat frekuensi jantung pemilik biometriknya. Itulah sebabnya cairan ini berpendar lebih terang saat Mummy mendekat."
Alana mengerutkan kening. "Maksudmu, formula ini 'mengenaliku'?"
"Secara biologis, ya. Kakek bukan hanya membuat obat, dia menciptakan 'kunci hidup' yang terikat pada DNA keturunannya. Jika orang lain mencoba menyuntikkan ini tanpa protokol biometrikmu, ini akan menjadi racun paling mematikan di dunia."
Arlan masuk ke laboratorium dengan wajah yang tidak menunjukkan tanda-tanda relaksasi. "Alana, intelijenku menangkap aktivitas aneh di sekitar gerbang luar. Ada dua kendaraan yang terdaftar atas nama perusahaan cangkang di Swiss. Mereka sedang mengintai kita."
Alana menoleh, ketenangan di wajahnya kini berganti dengan kewaspadaan seorang pejuang. "Musuh Adrian sudah habis, Arlan. Jika ada yang datang sekarang, artinya mereka bukan mengejar dendam, tapi mengejar apa yang ada di tanganku."
"Siapa pun mereka, mereka membuat kesalahan besar dengan memilih kediamanku sebagai target," kata Arlan, tangannya secara refleks memeriksa senjata di balik jasnya.
"Lukas, Luna, masuk ke ruang aman sekarang. Alana, kau tetap di sini bersama Leo. Aku akan memeriksa perimeter secara pribadi."
"Tidak," sahut Alana tegas. Ia mengambil sebuah alat suntik kosong dan menyimpannya di saku taktisnya. "Jika mereka datang untuk formula ini, mereka akan datang kepadaku. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian sementara aku bersembunyi di balik dinding baja."
Arlan menatap Alana dalam-dalam. Ada perdebatan di matanya antara keinginan untuk melindungi dan rasa hormat terhadap kemandirian wanita itu. Akhirnya, ia mengangguk. "Tetap di dekatku. Jika situasi memburuk, keselamatanmu adalah prioritas utama, melebihi formula ini."
Malam mulai turun menyelimuti Kota A. Di balik kemegahan rumah Syailendra yang tenang, bayangan-bayangan gelap mulai bergerak di antara pepohonan pinus.
Organisasi The Ouroboros telah memulai langkah mereka, dan Alana menyadari bahwa kemenangan atas Adrian hanyalah gerbang menuju perang yang jauh lebih besar.
Penjara bagi Adrian dan Sisca mungkin tidak memiliki jeruji besi, namun bagi Alana, dunia luar kini terasa seperti medan perang tanpa batas di mana ia harus melindungi masa depan anak-anaknya dan warisan kakeknya dari pemangsa yang jauh lebih haus darah daripada mantan suaminya.