Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Mawar merasa kasihan dengan sang ibu, walaupun selama ini bu Munah tidak pernah memperlakukan diri nya dengan baik, tetap saja Mawar merasa tidak tega jika ibunya harus mengerjakan semua nya sendiri.
"Semoga saja dengan kejadian ini, ibu akan sadar dan bisa memperlakukan aku dengan baik ke depan nya!" Mawar berguman sambil menggenggam ponsel milik nya.
Mengenai uang yang di rampas oleh Bu Munah dan juga Indah, Mawar tidak pernah mengadukan hal itu pada Farhan. Mawar tahu dan paham, jika sampai kakak nya tahu jika bu Munah dan Indah mengambil uang itu, maka keributan pun tidak akan bisa di hindari.
Sementara itu di rumah nya, mau tidak mau bu Munah pun harus mengerjakan sendiri semua pekerjaan yang ada di rumah. Dari mulai menyapu, mengepel lantai, mencuci piring bahkan hingga mencuci semua pakaian kotor.
Indah keluar sejak tadi siang hingga hari menjelang malam pun belum juga kembali ke rumah, bu Munah mencemas kan putri bungsu nya tersebut.
"Indah, kamu kemana nak? Kenapa kamu belum pulang juga?" Bu Munah bertanya pada diri nya sendiri.
Sementara Farhan sekarang sedang bekerja, dia saat ini mendapat kan shif malam. Sehingga dia baru bisa pulang ke rumah besok pagi. Berulang kali bu Munah menelepon Indah, tapi nomor nya tetap tidak bisa di hubungi.
Bu Munah pun menyusul Indah ke rumah salah satu teman nya yang ada di kampung itu.
"Assalam mu'alaikum!" Bu Munah mengucap kan salam di depan rumah Novi, salah satu teman nya Indah.
"Bu Munah, ada apa ya?" Tanya ibu nya Novi yang bernama bu Tini.
"Maaf bu Tini, saya mau tanya apakah Indah tadi pergi sana Novi? Sampai sekarang kok Indah belum pulang juga!" Bu Munah bertanya pada bu Tini.
"Iya bu Munah, tadi siang Indah sama Nobi pergi keluar. Mereka bilang mau mengerjakan tugas kelompok di rumah teman nya di kampung sebelah, tapi sampai sekarang Novi pun belum pulang!" Bu Tini berkata pada bu Munah.
"Ibu tahu mereka pergi ke rumah teman nya yang mana bu?" Tanya bu Munah dengan wajah cemas nya.
"Tidak bu, mereka tidak menyebut kan nama teman nya siapa!" Bu Tini pun menggeleng kan kepala nya.
"Bagai mana bu, sebentar lagi magrib. Tapi Indah dan Novi belum pulang ke rumah!" Bu Munah mencemas kan putri bungsu nya tersebut.
Seperti hal nya bu Munah, bu Tini pun mencemas kan keadaan sang anak. Berulang kali bu Tini menelepon sang anak, hasil nya tetap sama anak nya tetap tidak bisa di hubungi.
"Bu, jika nanti ada kabar tentang mereka, kasih tahu saya ya. Saya pamit pulang dulu!" Bu Munah pun pamit dari rumah bu Tini.
Sementara itu di tempat yang berbeda, di sebuah warung bakso yang ada di kecamatan sebelah. Novi dan Indah sedang asyik makan bakso bersama 2 orang laki - laki yang sedikit lebih tua dari mereka.
Kedua gadis itu tampak asyik ngobrol dengan laki - laki itu tanpa perduli jika di rumah orang tua nya sedang mencari keberadan diri mereka. Terlihat dari cara bicara dan interaksi mereka, mereka adalah sepasang kekasih.
"Sebentar lagi magrib, memang nya tidak apa - apa jika kalian berada di luar? Pasti orang tua kalian mencari keberadan kalian!" Salah satu dari pemuda itu bertanya sambil menatap kedua nya.
"Udah, tenang saja. Ibu ku tidak akan marah pada ku, dia pasti paham kok jika hari ini minggu dan hari minggu itu waktunya orang- orang pada pacaran kok. Iya kan Vi?" Indah meminta pendapat pada Novi.
"I,,, Iya!" Jawab Novi gugup.
Sebenarnya Novi sangat takut dia akan di marahi oleh sang ibu, karena keluyuran hingga menjelang waktu magrib. Tapi dia tidak bisa pulang sendirian sebelum Indah pulang, sebab dia tidak membawa kendaraan. Tadi dia pergi bersama Indah dengan menumpang motor nya Indah.
"Ya udah, kita makan bakso dulu, setelah itu batu kita pulang!" Ajak Indah pada teman - teman nya.
Mereka ber 4 pun akhir nya makan bakso, tanpa perduli bahwa keluarga nya di rumah mencemas kan keberadan diri nya. Indah dan Novi sengaja mematikan ponsel mereka, agar aman dan tidak ada yang mengganggu mereka.
Mereka saat ini berada di wilayah kecamatan, dekat dengan sekolahan mereka. Setelah selesai makan bakso, Indah dan Novi tidak langsung pulang. Mereka berdua mampir di sebuah toko baju yang tampak masih buka di malam hari.
Indah membeli beberapa stel pakaian dan juga beberapa peralatan kecantikan. Indah memang tidak kekurangan masalah uang, karena semua uang gaji Farhan di berikan 100 % pada ibu nya untuk kebutuhan sehari- hari mereka.
Tapi uang itu malah di gunakan oleh Indah untuk berfoya - foya, Bu Munah memang menuruti semua keinginan Indah. Apapun yang di minta oleh Indah pasti dia turuti, berbeda dengan Mawar yang selama ini tidak pernah sekalipun membeli baju baru. Bahkan saat Idul Fitri sekalipun, Mawar hanya di berikan pakaian bekas sepupu nya, Erin.
"Novi, ini bagus gak?" Tanya Indah sambil memperlihat kan baju yang sudah dia pilih.
"Bagus kok, itu cocok banget buat kamu!" Jawab Novi sambil mengangguk kan kepala nya tanda setuju dengan pilihan Indah.
Setelah Indah selesai membeli semua barang yang dia ingin kan, Novi segera mengajak Indah untuk pulang karena ini sudah malam.
"Indah, ayo pulang yuk, ini sudah malam. Nanti aku bisa di marahi oleh ibu ku!" Ujar Novi dengan nada cemas.
"Iya, ayo pulang!" Akhir nya mereka berdua pun segera pulang.
Motor yang di kendarai oleh Indah berhenti di depan rumah orang tua nya Novi, Novi turun dari motor dengan raut wajah cemas dan ketakutan. Novi tahu, ini sudah malam dan pasti dia akan di marahi oleh ibu nya karena keluyuran hingga malam.
Sementara Indah pulang ke ruang nya dengan tenang, karena Indah tahu apapun yang dia lakukan, ibu nya tidak akan pernah memarahi nya.
Berbeda dengan Mawar, jika Mawar yang berbuat salah maka sudah pasti dia akan di hukum.
"Indah, dari mana kamu nak?" Tanya bu Munah menyambut kedatangan sang anak di teras rumah.
"Aku habis beli baju dan juga peralatan make up, bu!" Indah menunjuk kan kantong belanjaan milik nya.
"Mawar, ibu tidak melarang mu keluar nak. Tapi ingat jangan lupa waktu, ini sudah malam nak!" Bu Munah berbicara dengan nada lembut pada Indah.
Sekalipun bu Munah sangar kesal pada Indah, tapi dia tidak bisa memarahi nya. Bu Munah tidak mau melanggar sumpah yang sudah dia buat dahulu, dia akan menutup mata dan telinga akan semua kesalahan anak nya. Bagi nya apa pun kesalahan Indah, semua nya tetap benar di mata nya.
mungkin Dr kecil di buli mkne otaknya gk jalan jd bego.
coba km punya sedikit pinter pasti kau hajar adikmu itu. sayangnya km in oon.
baik tp bodoh buat apa ya buat di injak injak dan di jadikan sapi perah.
dan lgi" sll mawar harus jdi org bodoh...
🤣🤣🤣🤣. jelek banget novel nya.
ah tp terserah othor aja ngikutin alur sampe mana mawarnya di buat bodoh
djadiin babu gratisan dan diperas hasil krjamu