NovelToon NovelToon
Cinta Tak Butuh Tes IQ

Cinta Tak Butuh Tes IQ

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Murid Genius / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:57
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembelaan Yang Terlambat

Pagi itu suasana sekolah terasa aneh.

Aira duduk di bangkunya dengan kepala tertunduk. Seragamnya sekarang tidak basah, tapi rasa traumanya masih terasa.

Naya duduk di sampingnya, gelisah.

“Aira,” bisiknya.

“Kamu yakin nggak mau lapor guru aja?”

Aira menggeleng pelan.

“Percuma.”

"Aku lebih baik menghidari mereka," Ucap Aira pelan.

Naya tampak sedih mendengarnya.

Bel belum lama berbunyi, pintu kelas terbuka.

Dan seisi kelas langsung menoleh.

Damar berdiri di ambang pintu.

Seragamnya rapi, wajahnya dingin matanya tajam seperti biasanya.

Dia masuk kedalam kelas itu dan berjalan kearah Aira.

Sekarang Damar tepat berdiri di samping Aira.

“Aku mau bicara,” katanya singkat.

Kelas 2 E mendadak hening.

Aira Nampak terkejut,

"Hah, Aku,"

Damar langsung menarik lengannya.

"Berdiri," Kata Damar datar seperti biasa.

Aira segera bangkit, mengikuti langkah Damar.

Damar berhenti dia berdiri di depan Kelas.

“Semua dengar baik-baik.”

“Aira,” kata Damar, “Kesini.” meminta Aira lebih dekat denganya.

Aira berdiri lebih dekat.

"Iya."

Tatapan seisi kelas sekarang tertuju kearah mereka.

“Gosip yang beredar,” kata Damar datar, “itu tidak benar.”

Beberapa murid saling pandang.

“Aira tidak mengikutiku,” lanjutnya.

“Tidak menunggu, tidak mengganggu ku.”

Damar berhenti sejenak.

“Aira tinggal di rumahku,” katanya jelas, “Dia adalah sepupuku.”

Aira hampir tersedak mendengarnya.

"Damar ..."

Hening.

Tak lama Damar menyuruh Aira kembali untuk duduk.

"Terima kasih," kata Aira berbisik nyaris tak terdengar.

Damar hanya mengangguk. Kemudian pergi meninggalkan kelas itu.

Setelah pengumuman di Kelas E kabar itu pun menyebar dengan cepat sampai ke Kelas A.

“…Hah?”

“Sepupu?”

“Serius?”

Damar menoleh kearah teman-taman sekelasnya yang sedang berkerumun.

“Kita memang tidak dekat,” kata Damar.

“Tapi itu urusan keluarga.” Kata Damar lagi kembali membuka bukunya.

“Dan siapa pun,” lanjutnya dengan suara mengeras,

“yang mengganggunya,” Matanya menatap satu per satu, “berurusan denganku.”

Dan sejak hari itu, semuanya berubah.

Di kantin :

“Aira, mau makan bareng?”

“Aira sini, disini kosong.”

Di lorong :

“Hai, Aira!”

“Boleh titip ini buat Damar.”

Dan yang paling mencolok adalah Anne.

Anne menghampiri Aira dengan senyum paling manis yang pernah ia lihat.

“Aira,” katanya lembut.

“Kamu nggak marahkan sama aku?”

Aira menatapnya tanpa ekspresi.

“Kamu kenapa?”

Anne tertawa kecil.

“Aku cuma khawatir," Anne meneruskan kalimatnya "Kamu kan… keluarga Kak Damar.”

Kata itu ditekankan.

“Oh iya,” lanjut Anne sambil menggandeng lengan Aira,

“kalau ada yang gangguin kamu bilang aja,"

Aira menarik lengannya perlahan.

“Terima kasih.”

Senyum Anne tidak goyah, tapi matanya dingin.

Di sisi lain, Naya tiba-tiba dapet rejeki

“Eh, kamu temannya Aira kan?” Tanya Anne.

Naya mengangguk pelan sedikit bingung.

"Kalau mau minum atau makan lesen aja,"

"Aira juga yaa.."

Naya berkedip-kedip.

“Apa?”

“Rejeki emang nggak kemana,”

Naya menoleh ke Aira sambil berbisik,

“Gila, kemarin kamu di bully sekarang semua orang jadi baik.”

Aira tersenyum kecil.

Tapi senyumnya tidak penuh, karena Aira tau pembullyan memang berhenti.

Gosip memang mati, tapi trauma tidak hilang secepat itu.

Di kejauhan, Damar berdiri di balkon lantai dua.

Damar melihat Aira dikelilingi orang-orang yang kemarin diam bahkan di sana nampak orang yang membullynya.

"Orang-orang itu memang cepat berubah." Gumam Damar.

Dan untuk pertama kalinya, Damar sadar tentang betapa kejamnya pembullyan disekolah.

Pada orang yang tidak pernah melawan.

  

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!