Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulau di Lautan Hampa
Kesadaran Li Tian kembali perlahan, seperti gelembung udara yang naik ke permukaan air.
Hal pertama yang dia rasakan bukanlah sakit, melainkan... ringan. Tubuhnya terasa seringan kapas.
Dia membuka matanya.
Di atasnya, tidak ada langit-langit batu menara, tidak ada awan badai gurun. Yang ada hanyalah hamparan Nebula Ungu yang berputar lambat, dihiasi ribuan bintang redup yang berkedip dalam irama yang aneh.
"Di mana ini..." gumam Li Tian, mencoba duduk.
Dia berada di atas hamparan rumput berwarna perak yang lembut. Di sekelilingnya, reruntuhan pilar-pilar marmer putih berserakan.
Li Tian berdiri dan melihat ke sekeliling. Napasnya tercekat.
Dia berada di sebuah pulau melayang.
Pulau itu tidak besar, mungkin hanya seluas alun-alun kota. Di luar tepi pulau itu, tidak ada lautan air, melainkan Lautan Hampa—ruang kosong tak berujung di mana angin bertiup tanpa suara dan batu-batu raksasa melayang tanpa gravitasi.
"Guru Zu-Long?" panggil Li Tian panik.
"Tenang, Bocah. Aku masih di sini," suara Zu-Long terdengar, namun nadanya sedikit lemah. "Tempat ini... ini adalah Dimensi Saku yang diciptakan oleh seseorang yang sangat kuat. Hukum alam di sini berbeda. Gravitasi di sini sangat tipis."
"Xiao Yu!" Li Tian teringat.
Dia berlari mencari di antara reruntuhan. Dia menemukan gadis kecil itu sedang tidur meringkuk di dekat sebuah pilar patah.
"Xiao Yu, bangun," Li Tian mengguncang bahunya pelan.
Xiao Yu mengerang, membuka matanya. "Kakak Naga... kita sudah mati?"
"Belum. Setidaknya aku rasa belum," kata Li Tian, membantunya berdiri. "Su Yan... dia tidak ada di sini."
Li Tian melihat ke kejauhan. Di Lautan Hampa itu, dia bisa melihat pulau-pulau melayang lainnya yang berjarak sangat jauh, mungkin puluhan kilometer. Di salah satu pulau itu, terlihat kilatan cahaya biru samar.
"Itu mungkin Su Yan," pikir Li Tian. "Dan si Naga Putih Ye Chen... dia pasti ada di suatu tempat di sini juga."
"Kakak Naga, lihat itu," Xiao Yu menunjuk ke tengah pulau tempat mereka berada.
Di sana, berdiri sebuah bangunan yang masih utuh. Sebuah kuil kuno (gaya pilar tinggi) tanpa atap, dengan sebuah altar di tengahnya. Di atas altar itu, melayang sebuah benda yang memancarkan cahaya hijau lembut.
"Ayo kita periksa," ajak Li Tian.
Mereka berjalan mendekati kuil itu. Anehnya, meskipun tidak ada dinding, angin di sekitar kuil itu benar-benar mati. Hening mutlak.
Saat mereka melangkah naik ke lantai kuil, benda di atas altar itu menjadi jelas.
Itu adalah sebuah Bulu.
Bulu sepanjang lengan manusia, berwarna putih bersih namun memancarkan aura angin yang sangat tajam. Bulu itu melayang, berputar pelan pada porosnya.
"Bulu apa itu?" tanya Li Tian.
"Itu..." suara Zu-Long terdengar kaget. "Itu adalah Bulu Utama milik Bai-Long! Sialan! Jadi benar, tempat ini adalah sarang penyimpanan harta si Naga Putih di masa lalu!"
"Maksudmu, ini bagian dari Sayap Rembulan?"
"Bisa dibilang begitu. Sayap Rembulan yang dimiliki Ye Chen sekarang mungkin belum mencapai potensi maksimalnya. Bulu ini adalah Katalis Evolusi. Jika Ye Chen mendapatkannya, dia akan membuka kunci kekuatan Sayap itu ke tahap selanjutnya."
Li Tian menelan ludah. Ye Chen yang sekarang saja sudah bisa membatalkan Gandakan x6 dengan satu jari. Jika dia bertambah kuat...
"Kita harus mengambilnya," kata Li Tian tegas.
Dia melangkah mendekati altar.
STOP.
Sebuah suara bergema di dalam kepala mereka. Bukan suara Zu-Long. Suara itu terasa kuno, lelah, dan hampa.
Angin di sekitar altar berputar, memadat, dan membentuk wujud sesosok manusia transparan.
Seorang pria tua berjubah pendeta angin, memegang tongkat kayu. Tubuhnya terbuat dari partikel angin yang bergetar.
Sisa Jiwa Penjaga.
"Hanya mereka yang memiliki Darah Angin atau Takdir Naga Putih yang boleh menyentuh Pusaka Suci," kata Penjaga itu. Matanya yang kosong menatap Li Tian.
"Kau..." Penjaga itu mengendus udara. Wajahnya berubah menjadi ekspresi jijik. "Kau bau Naga Hitam. Bau kehancuran. Bau musuh."
Angin di sekitar kuil mulai menajam, berubah menjadi ribuan pisau tak kasat mata.
"Pergi, wahai Pembawa Bencana. Atau kucabik jiwamu menjadi debu."
Li Tian mundur selangkah, melindungi Xiao Yu. Dia memegang gagang Pedang Hitam-nya.
"Aku tidak bisa pergi tanpa benda itu, Tetua," kata Li Tian sopan namun tegas. "Jika musuhku mendapatkannya, dia akan menghancurkan dunia."
"Dunia hancur atau tidak, bukan urusanku," jawab Penjaga itu kaku. "Tugasku hanya menjaga ini untuk Pewaris Putih. Dan kau... kau adalah kebalikannya."
Penjaga itu mengangkat tongkatnya.
WUSH!
Sebuah tornado kecil muncul di dalam kuil, menyedot udara hingga Li Tian sulit bernapas.
"Lari, Xiao Yu! Sembunyi di balik pilar!" teriak Li Tian.
Xiao Yu berlari menjauh.
"Zu-Long, apa kita bisa melawannya?"
"Dia hanya sisa jiwa, kekuatannya tidak utuh. Tapi di dimensi ini, dia mengendalikan atmosfer. Kau tidak bisa menggunakan Tebasan Naga Jatuh dengan maksimal karena gravitasi di sini lemah!"
"Sial," umpat Li Tian. Senjata andalannya adalah berat pedang. Di tempat tanpa gravitasi kuat, pedang 1.200 jin pun terasa ringan.
Penjaga itu mengayunkan tongkatnya.
"Bilah Angin Hampa!"
Sabit angin raksasa meluncur ke arah Li Tian.
Li Tian melompat menghindar. Sabit itu memotong pilar marmer di belakangnya seperti memotong tahu.
"Kalau berat tidak berguna..." Li Tian berpikir cepat sambil berguling menghindari serangan berikutnya. "...maka aku harus menggunakan hal lain."
Li Tian menancapkan pedangnya ke celah lantai. Dia mencengkeram gagangnya erat-erat.
"Aku tidak butuh pedang ini untuk jatuh," batin Li Tian. "Aku butuh pedang ini untuk menarik."
Li Tian mengaktifkan Cakar Naga-nya.
"Gravitasi... Pusaran Hitam!"
Alih-alih menyebarkan gravitasi ke pedang untuk memberatkannya, Li Tian memusatkan daya tarik gravitasi ke ujung pedang.
WUUUNG!
Ujung pedang hitam itu menjadi titik singularitas kecil. Udara, debu, dan... serangan angin Penjaga itu, semuanya tersedot ke arah ujung pedang.
Serangan "Bilah Angin" berikutnya yang diluncurkan Penjaga itu tidak lurus, melainkan melengkung dan tersedot masuk ke dalam pusaran gravitasi di pedang Li Tian, lalu hancur netral.
Penjaga itu terhenti. Wajah datarnya menunjukkan kebingungan.
"Kau memakan angin?"
"Naga Hitam memakan segalanya," kata Li Tian, keringat dingin bercucuran. Mempertahankan Pusaran Hitam menguras Qi-nya dengan sangat cepat.
"Sekarang!"
Li Tian mencabut pedangnya yang kini diselimuti pusaran energi kacau (campuran gravitasi dan sisa angin musuh).
Dia tidak mengayun ke bawah. Dia menusuk lurus ke depan seperti tombak.
"Tusukan Naga Kehampaan!"
Li Tian melesat maju, didorong oleh ledakan Qi di kakinya. Ujung pedangnya menembus dada Penjaga Angin itu.
BLARR!
Pusaran energi di ujung pedang meledak. Tubuh angin Penjaga itu terurai, tersedot ke dalam kekosongan, dan hancur berkeping-keping.
"Pewaris... Hitam..." bisik Penjaga itu sebelum lenyap sepenuhnya. "Keseimbangan... telah... rusak..."
Penjaga itu hilang.
Li Tian jatuh berlutut, napasnya memburu. Pedang Hitamnya berasap.
"Berhasil," desah Li Tian.
Dia menatap altar. Bulu Putih itu masih melayang di sana, tenang dan indah.
"Ambil itu, Bocah," perintah Zu-Long. "Cepat, sebelum pemilik aslinya datang."
Li Tian bangkit, berjalan tertatih-tatih menuju altar. Tangannya terulur untuk mengambil Bulu Naga Putih itu.
Namun, sebelum jarinya menyentuh bulu itu...
Sebuah suara dingin yang familiar terdengar dari langit di atasnya.
"Singkirkan tangan kotormu dari milikku."
Li Tian membeku. Dia mendongak.
Di langit ungu di atas kuil, Ye Chen melayang turun dengan sayap cahayanya yang membentang lebar. Wajahnya tidak menunjukkan emosi, tapi matanya memancarkan niat membunuh yang murni.
Dia telah menemukan jalan ke pulau ini.
"Kau..." Li Tian menggenggam gagang pedangnya lagi.
"Kau membunuh penjaganya untukku?" Ye Chen mendarat di sisi lain altar. "Terima kasih. Sebagai balasannya, aku akan membunuhmu dengan cepat."
Dua Naga akhirnya berdiri berhadapan di depan harta karun, tanpa ada orang lain yang mengganggu.
Ronde kedua dimulai. Dan kali ini, tidak ada tempat untuk lari.