NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Kampung

Minggu sore, halaman gabungan itu akhirnya siap. Pohon mangga Aruna kini dihiasi lampu warm white. Sementara meja kayu pilihan Gavin berdiri kokoh di atas rumput yang sudah dipangkas rapi.

Sesuai dugaan, Gavin tidak membiarkan syukuran ini berjalan tanpa "Rencana Operasional'. Di depan pintu masuk (bekas pagar yang sudah di bongkar), Gavin memasang sebuah papan kecil:

PROSEDUR SYUKURAN:

Gunakan Hand Sanitizer di pos 1

Letakkan sandal di rak sesuai nomor urut kedatangan.

Pengambilan makanan di lakukan searah jarum jam (SOP Peasmanan).

Pak RT dan Bu Tejo datang paling awal. Bu Tejo langsung tertawa melihat papan pengumuman tersebut.

"Ya ampun Mas Gavin, ini mau syukuran atau mau simulasi evakuasi bencana?" goda Bu Tejo sambil tetap memakai handuk sanitizer dua kali semprot agar Gavin senang.

"Ini demi kelancaran alur kerja konsumsi, Bu Tejo," jawab Gavin sambil memegang jam tangan, memastikan acara di mulai tepat pukul 16.00.

Acara inti adalag pemotongan tumpeng. Aruna sudah menyiapkan tumpeng kuning yang cantik. Saat Pak RT hendak memotong puncaknya, Gavin tiba-tiba berdehem.

"Tunggu, Pak RT. Secara proporsi, potongan puncak tumpeng harus memiliki radius lima sentimeter agar distribusi nasi dan lauk pauk untuk tamu pertama tetap seimbang secara estetika.

Gavin mengeluarkan sebuah pisau kue yang sudah dia tandai dengan spion kecil. Aruna langsung menyenggol rusuk Gavin. "Mas! biarkan Pak RT memotong sesukanya!"

Pak RT terkekeh. "Nggak apa-apa, Mbak Runa, saya ikuti instruksi 'Direktur Kebersihan' kita saja supaya tumpengnya nggak roboh secara struktural."

Setelah pemotongan tumpeng selesai, saatnya Aruna menyajikan bakso gerobak langganannya yang dipanggil khusus ke rumah. Gavin berdiri di samping gerobak bakso dengan wajah waspada. Setiap kali tukang bakso menuangkan kuah, Gavin memperhatikan uapnya.

"Pak, suhunya sudah mencapai 80 derajat celsius? Itu suhu optimal untuk membunuh kuman tanpa merusak tekstur daging," tanya Gavin serius.

Tukang bakso itu hanya melongo. "Pokoknya panas, Mas. Asapnya aja sampai buat kacamata Mas burem begitu."

Aruna mendekat dan menyuapkan satu butir bakso langsung ke mulut Gavin untuk menghentikan interogasinya. Gavin terdiam, mengunyah perlahan, lalu bergumam. "Bumbunya tidak simetris di lidah, tapi secara sensorik... ini sangat memuaskan."

Setelah para tetangga pulang (dengan membawa souvenir berupa sabun cuci tangan organik pilihan Gavin), tinggallah mereka berdua di halaman yang sunyi. Angin malam meniup daun mangga, dan lampu-lampu berkelap-kelip indah.

Gavin duduk di kursi kayu yang tadi dia goyang-goyangkan di toko. Ia menatap Aruna yang sedang asyik membereskan piring plastik.

"Runa," panggilnya.

"Ya, Mas Kaku?" jawab Runa.

"Setelah saya hitung ulang... ternyata memiliki halaman tanpa pagar itu jauh lebih efisien."

Aruna duduk di sampingnya. "Efisien dalam hal apa? sirkulasi udara?" tanya Aruna.

"Bukan." Gavin menggenggam tangan Aruna, Ibu jarinya mengusap punggung tangan gadis itu. "Efisien untuk melihat kamu. Dulu saya harus mengintip lewat gorden jendela lantai dua untuk memastikan kamu sudah bangun. Sekarang, saya cukup menoleh ke kiri, dan langsung terlihat jelas."

Aruna tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Gavin. "Masa auditor sehebat kamu harus mengintip?"

"Itu namanya pemantauan aset berharga, Runa. Dan sekarang, asetnya sudah menyatu dalam satu laporan neraca yang sama."

Gavin mengecup dahi Aruna. Di atas mereka, pohon mangga tetap menjatuhkan daunnya secara alami mengikuti hukum gravitasi newton, namun kali ini Gavin tidak peduli lagi untuk menghitungnya. Karena baginya, satu kekacauan bernama Aruna sudah cukup untuk melengkapi hidupnya yang terlalu rapi.

*********

Gavin Adnan tidak pernah melakukan apapun tanpa rencana cadangan, rencana darurat, dan analisis resiko. Maka ketika ia memutuskan untuk melamar Aruna, ia tidak hanya menyiapkan mental, tapi juga menyiapkan "Dokumen Kelayakan Pernikahan"

Satu bulan sebelum keberangkatannya ke kampung halaman Aruna, Gavin menghabiskan waktu tiga jam di toko perhiasan bukan untuk melihat modelnya, melainkan untuk menginterogasi penjaganya.

"Mbak, saya butuh sertifikat GIA (Gemological Institute of Amerika) untuk berlian ini. Dan saya butuh jaminan tertulis bahwa kadar emasnya murni 18 karat dengan toleransi kesalahan 0,001 persen," ujar Gavin sambil mengeluarkan kaca pembesar miliknya sendiri.

Penjaga toko itu berkeringat dingin. "Ini sudah standar internasional, Pak!"

"Standar internasional bagi Anda belum tentu memenuhi standar audit saya," Balas Gavin. Ia bahkan membawa cairan uji asam sendiri untuk memastikan bahwa cincin itu tidak akan mengalami oksidasi dalam waktu lima puluh tahun ke depan. "Saya tidak mau simbol komitmen saya mengalami korosi hanya karena kelembaban udara di kampung calon istri saya."

Aruna merantau dari sebuah desa asri di Jawa Tengah. Perjalanan darat memakan waktu delapan jam. Gavin bersikeras menyetir mobilnya sendiri karena ia tidak mempercayai jadwal kereta api yang memiliki "potensi keterlambatan".

"Mas, kita cuma mau pulang kampung, bukan mau pindah negara. Kenapa bagasi penuh dengan kotak P3K dan genset portable?" tanya Aruna heran.

"Kita tidak tahu stabilitas tegangan listrik di sana, Runa. Dan saya sudah memetakan rute ini berdasarkan kepadatan aspal terbaik agar suspensi mobil tetap stabil." Jawab Gavin sambil memeriksa tekanan ban untuk keempat kalinya.

Setelah selesai memeriksa tekanan bannya dan setelah dia yakin aman, dia segera membukakan pintu mobil untuk Aruna.

"Mau kemana, Mbak Aruna?" tanya Bu Tejo.

"Oh, ini Bu Tejo. Aku mau pulang ke kampung mau jenguk Bapak sama Ibu dan Mas Gavin yang mengantarkan Aku, Bu." jawab Aruna pelan.

"Oh, iya. Memang Mas Gavin ini calon mantu idaman ya. Kampungnya Mbak Aruna kan lumayan jauh ya? Mas Gavin yakin bakal bisa nyopirin sendiri?" tanya Bu Tejo.

"Semuanya bisa saya lakukan untuk Aruna, Bu." jawab Gavin datar tapi tegas.

"Ya udah, Bu kami berangkat dulu, ya. Titip rumah kami." kata Aruna lalu masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Gavin.

Gavin menyalakan mobilnya dan membunyikan klakson pertanda pamitan sama Bu Tejo.

"Itu Mas Gavin mau ngelamar Mbak Aruna kali, Ya?" tanya tetangganya Bu Tejo.

"Nggak tahu juga ya, Bu. Katanya sih cuma mau jenguk Orang tuanya aja. Kan emang biasa Mbak Runa setiap bulan pasti pulang jenguk Orang tuanya. Mumpung sekarang sudah punya pacar yang bermobil ya diantarkan sama pacarnya. Nggak repot-repot nunggu kereta lagi."

"Tapi bukannya pake kereta lebih cepat ya, Bu?" tanya tetangganya lagi.

"Iya sih, tapi kan lebih nyaman pake kendaraan sendiri. Nggak perlu nunggu, nggak perlu desak-desakan dan pasti diantar sampai depan rumah. Kalo kereta kan, turunnya di stasiun abis itu lanjut naik kendaraan umum lagi. Repot kalau banyak barang bawaan."

"Iya juga sih. Tapi filling saya sih, Mas Gavin mau lamaran tuh di sana" kata tetangganya Bu Tejo yakin.

Bu Tejo mengangkat bahunya. "Kita tunggu aja kabar berikutnya di Grup kita."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!