Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
"Bhim, maaf aku tanya privasi sama kamu?" Tanya Arga
"Boleh."
"Berhubung masalah ini menyangkut dengan sahabat kita, saat kamu tahu Xeline suka sama Dhani, gimana perasaanmu saat ini? Are you okeyy bro?"
Bhima terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Arga, sahabatnya.
"Kamu tanya tentang perasaanku? Jujur saja, rasa cemburu pasti ada. Aku juga masih bertanya juga dalam hati. Kenapa rasa ini ada saat bersama Xeline. Padahal saat bersama Lovely dulu, sama sekali nggak ada rasa ini. Tapi kembali lagi. Apa yang harus kau cemburui dari mereka berdua? Xeline hanya perempuan yang suka dalam diam pada lelaki. Selama ini, mereka juga cuma teman mabar dan menurutku, nggak ada hal aneh di antara mereka. Apalagi Dhani juga laki-laki dengan tipe friendly. Aku juga nggak tahu Dhani memiliki rasa suka sama Xeline atau tidak. Mereka berdua nggak salah bukan? Nanti bila aku menunjukkan rasa cemburu, mereka mengira aku terlalu posesif pada hubungan ini. Hal yang lucu dan tidak berdasar sama sekali,"jelas Bhima.
Bhima terlihat tersenyum getir
"Andai kamu punya kuasa sama Xeline, aku sudah memastikan kamu akan ngarungin Xeline, bawa pulang ke rumah, nggak boleh kemana-mana dan bertemu dengan siapa pun," kelakar Arga.
Haydar dan Ryan tak sengaja tersenyum mendengar perkataan Arga.
"Dikarungin? Pilihan katamu. Apalah kau ini Ar."
Bhima tersenyum, tapi belum bisa tertawa lepas seperti biasa. Berarti masih ada yang mengganjal di hati. Arga sebagai sahabat setidaknya sudah berusaha menenangkan sahabatnya. Tapi ya namanya cinta, kembali pada pemilik hati bukan?
Hari sudah malam. Bhima kembali ke rumah dengan perasaan risau Ia terlihat tegah mengirim pesan pada Xeline.
Bhima : Xel, kamu sudah tidur? Bila belum, balas WA ku ya
Xeline : Belum. Ada apa Bhim?
Bhima : masih sering game ML?
Xeline : Masih
Bhima : Sering mabar sama Dhani?
Xeline : Nggak sering banget. Lagian aku juga capek banyak tugas. Banyak job editing juga. Ada apa emangnya?
Bhima : Nggak pa pa kok. Jangan lupa istirahat. Jangan terlalu capek ya. Nanti kamu sakit.
Xeline : Iya. Aku sering mabar juga karena Dhani yang maksa. Sebenarnya aku capek sekali. Tapi nggak pa pa. Namanya juga teman
"Dhani yang memaksa Xeline untuk mabar? Benarkah?" Batin Bhima.
Bhima : Kamu kenapa nggak ngajak mabar aku?
Xeline : Aku takut mengganggu aktivitasmu Bhim. Takutnya kamu juga repot. Aku mabar kalo nggak diajak juga nggak pernah mau. Takut aja. Selain itu takut aja jadi beban pas mabar. Levelku masih rendah
Bhima : Iya. Sudah malam. Jangan tidur terlalu malam. Aku tahu kamu sering begadang.
Xeline : Benarkah?
Bhima : Iya. Aku sering melihatmu tertidur saat di kelas.
Xeline : Aku sering lembur. Aku bangun tengah malam ngerjain job editing pesanan para temanku di grup mabar online. Karena hp juga bareng sama ibu. Selain itu pasti dimarahin kalo ketahuan ibu masih ngedit malam hari. Aku ngedit nunggu ibu tidur dulu.
Bhima : Ya jelaslah dimarahi. Malam itu waktunya istirahat. Ngedit sesekali boleh. Tapi kalau setiap hati, itu namanya kebiasaan. Ngedit boleh, tapi jagalah kesehatanmu. Kita masih sekolah. Mau ujian TKA juga. Jangan sakit. Please. Aku nggak mau kamu sakit.
Xeline : Iya. Aku juga sedang mencari game buat penghasilan kecil-kecilan. Yang penting ada pemasukan meski hanya bisa buat beli lolipop kaki. Sukur -sukur suatu saat aku bisa buat aplikasi game khusus buat para pelajar yang memiliki ekonomi menengah ke bawah yang ingin punya penghasilan sendiri. Ya meskipun nominal yang diperoleh sangat kecil sih. Lumayanlah meski cuma bisa buat beli permen. Betewe permen jajanan paling awet buat kantong para pelajar bukan?
"Xeline, mengapa kamu sudah memikirkan mencari penghasilan di usia remaja ini? Apa kamu kekurangan sesuatu? Ataukah kamu butuh sesuatu. Please. Bicaralah padaku. Aku ingin kamu bicara semua masalahmu padaku. Aku sungguh senang bisa membantumu. Meski statusku sekarang adalaha pacarmu, aku merasa nggak tahu sama sekali tentang dirimu. Ingin rasanya aku mengenalmu begitu jauh, tapi entah mengapa kamu seakan begitu menutup diri. Sungguh, aku merasa seperti pacar tak berguna. Aku hanya ingin kamu tahu satu hal, Xeline. Bagaimana pun dirimu, apapun keadaanmu, aku tak akan pernah meninggalkanmu," batin Bhima.
Bhima : Impianmu is perfect. Keren sekali. Semoga suatu saat kamu berhasil mencapai semua impianmu itu sayank.
Xeline : Aamiin. Good night. Bye
Bhima : Bye.
Sejak mengetahui perasaan Xeline ke Dhani, Bhima hampir tidak pernah datang ke kelas sebelah. Ia lebih membatasi diri sendiri karena takut rasa cemburu semakin terlihat pada dirinya, padahal mereka berdua tidak bersalah sama sekali. Bhima lebih memilih menjauh agar ia bisa menetralisir semua perasaan cemburu. Temannya, Arga, Haydar dan Rian sangat memahami perasaan Bhima. Mereka mengalah untuk bermain ke kelas Bhima untuk sementara waktu.
Hal itu membuat Dhani sedikit bertanya-tanya. Hingga suatu hari Clara mengatakan sesuatu pada Dhani saat mereka sedang asik mengobrol.
"Dhani, apa kau tahu kalau Xeline pernah suka sama kamu?" Tanya Clara mengawali pembicaraan mereka.
"Menyukaiku? Benarkah itu Clara? Kamu nggak bohong kan sama aku?" Tanya Dhani tak percaya.
"Benar. Aku nggak bohong sama kamu. Sudah lama Xeline suka sama kamu. Aku malah ingin mendekatkan kalian berdua."
"Oh my God. Ide gila. Aku jadi nggak enak tidak sama Bhima."
"Itu rencanaku sebelum Bhima dan Xeline jadian."
"Oalah. Kirain saat mereka sudah jadian."
"Ya nggaklah. Kecuali kalau Bhima dan Xeline putus."
"Jangan berharap bermimpi di siang bolong. Bhima nggak akan melepaskan Xeline begitu saja. Aku tahu Bhima seperti apa."
"Benarkah?"
"Iya. Lihat saja. Ra, makasih ya infonya. Setidaknya aku bisa jaga diri sekarang."
"Maksudmu?"
"Aku bisa lebih jaga diri dari Xeline."
"Kenapa?"
"Dia pacar sahabatku woiii. Pacar sahabat adalah musuh."
"Kok bisa punya slogan kaya gitu Dhan?"
Clara penasaran dengan ucapan Dhani.
"Ya agar kita tahu diri. Jangan pernah merebut pacar sahabat atau teman. Sakit banget tau."
"Ooo, begitu," Clara berucap sambil menganggukkan kepala.
"Itu slogan kita. Kaum lelaki. Perempuan nggak tahu."
"Ya sama ajalah. Ya kali pacar sahabat diembat juga. Kayak nggak ada lelaki lain aja."
Dhani tertawa ke arah Clara.
Dhani tak menyangka sedikit pun bila Xeline pernah menyukainya. Ia begitu tertutup. Gosip yang beredar malah Xeline suka pada Reza. Menurutnya, Xeline memang berbeda dari perempuan lain. Tipe Bhima banget. Cantik, seorang gamer, hiperaktif, pecicilan, pintar, tengil. Tapi lelaki mana yang nggak bangga pernah disukai oleh Xeline yang super cool itu? Andai ia tahu hal itu sebelum bertemu dengan Citra, Marina, Tasya dan perempuan yang sangat tergila gila pada pesona Dhani? Tapi sekarang Xeline telah menjadi pacar Bhima. Siapa yang berani sedikit saja mendekati pacar Bhima? Mimpi saja nggak berani. Seakan mimpi masuk kandang Harimau.