NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan

Sore menjelang malam, suasana di rumah Andi di Jakarta mulai tenang setelah hiruk-pikuk acara lamaran mereda. Rangga berdiri di teras, memegang kunci mobilnya, bersiap untuk menempuh perjalanan kembali ke Bandung.

"Mas, beneran nggak mau menginap saja dulu? Ini sudah hampir malam, Mas pasti capek," tanya Andi sambil mengantar kakaknya ke depan.

Rangga tersenyum tipis sambil menepuk bahu adiknya. "Nggak apa-apa, Ndi. Besok pagi ada urusan di bengkel yang nggak bisa ditinggal. Kapan-kapan saja Mas menginap di sini kalau kamu sudah resmi pindah sama Rania."

"Ya sudah, hati-hati di jalan ya, Mas. Kabari kalau sudah sampai," pesan Andi.

Perjalanan Jakarta-Bandung ditempuh Rangga kurang lebih dua jam perjalanan. Begitu memasuki wilayah Bandung, langit yang tadinya mendung akhirnya tumpah. Hujan turun dengan sangat deras, membatasi jarak pandang dan membuat aspal jalanan menjadi licin.

Saat mobilnya melewati sebuah jalanan yang agak gelap dan menurun, Rangga melihat deretan lampu kendaraan yang melambat. Di pinggir jalan, tampak kerumunan orang di bawah guyuran hujan, mengelilingi sesuatu yang tergeletak di aspal.

Awalnya Rangga berniat terus melaju, namun entah mengapa perasaannya mendadak tidak enak. Ia meminggirkan mobilnya, menyambar payung, dan turun untuk melihat apa yang terjadi.

"Ada apa, Pak?" tanya Rangga pada salah satu warga.

"Kecelakaan, Mas. Motor bebek jatuh karena jalan licin, sepertinya ditabrak lari," jawab warga itu.

Rangga menyeruak di antara kerumunan. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sebuah motor bebek tua yang sangat ia kenali.

Di samping motor itu, seorang wanita terbaring di aspal yang dingin. Kerudungnya basah kuyup, bercampur dengan air hujan dan darah yang mulai mengalir dari luka di kepalanya.

"Ayu?!" seru Rangga spontan.

Rangga segera berlutut dan memangku kepala Ayu. Ia tidak memedulikan kemeja batik mahalnya yang kini kotor terkena lumpur dan genangan air. Wajah Ayu pucat pasi, matanya terpejam rapat, dan napasnya terdengar pendek-pendek.

"Yu! Ayu! Bangun!" Rangga menepuk pipi Ayu dengan tangan yang gemetar hebat. Namun, Ayu tidak memberikan respons apa pun. Ia sudah benar-benar tak sadarkan diri.

Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mendadak menyerang Rangga. Ia merasa dunianya seolah runtuh melihat sosok yang baru saja ingin ia dekati kembali kini terkapar tak berdaya di pelukannya.

"Tolong! Bantu saya angkat dia ke mobil!" teriak Rangga pada orang-orang di sekitar dengan suara serak. "Pak, tolong motornya dipinggirkan ke tempat aman, saya harus bawa dia ke rumah sakit sekarang!"

Beberapa warga dengan sigap membantu Rangga mengangkat tubuh Ayu yang terasa dingin dan ringan ke kursi belakang mobilnya. Rangga segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Sepanjang jalan, ia terus melirik ke kaca spion tengah, menatap wajah Ayu yang tak bergerak, sambil terus merapalkan doa agar ia tidak terlambat.

Sesampainya di Unit Gawat Darurat , Rangga langsung menggendong Ayu masuk. "Suster! Tolong! Kecelakaan!"

Para perawat segera membawa brankar dan melarikan Ayu ke ruang tindakan. Saat pintu UGD tertutup, Rangga berdiri mematung di koridor dengan napas tersenggal dan baju yang basah kuyup. Tangannya masih gemetar, dan ada noda darah Ayu di lengan kemejanya.

Rangga duduk tertunduk di kursi tunggu depan ruang UGD, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. Ia menatap telapak tangannya yang masih menyisakan bekas noda darah, lalu beralih menatap tas belanjaan Ayu yang sempat ia selamatkan dari lokasi kejadian.

Ia teringat harus segera memberi kabar kepada orang rumah Ayu. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Rangga merogoh kantong tas kecil milik Ayu untuk mencari ponselnya. Ia menemukan sebuah ponsel pintar dengan pelindung yang sudah mulai menguning dan layarnya yang retak di bagian sudut.

Saat layar dinyalakan, untungnya ponsel itu tidak menggunakan kata sandi yang rumit hanya sebuah pola sederhana yang beruntungnya berhasil ia buka setelah mencoba beberapa kali.

Rangga segera membuka kontak. Ia mencari nama "Nenek". Benar saja, ada nama "Nenek Tari" dengan simbol hati di sampingnya. Namun, sebelum ia menekan tombol panggil, Rangga terdiam sejenak. Ia merasa sangat berat hati. Ia tahu betul Nenek Tari sudah tua, dan kabar seperti ini pasti akan menjadi guncangan besar baginya.

"Ya Tuhan, gimana gue ngomongnya ke si Nenek?" bisiknya pada diri sendiri.

Baru saja ia hendak menekan tombol, sebuah pesan WhatsApp masuk. Pesan itu dari Nenek Tari.

“Yu, sudah di mana? Hujan besar sekali di sini, jangan dipaksa jalan kalau licin. Nenek sudah hangatkan sayur untuk kamu makan malam.”

Membaca pesan itu, dada Rangga terasa sesak. Ia membayangkan Nenek Tari yang sedang menunggu.

Sama sekali tidak tahu bahwa cucunya sedang berjuang antara hidup dan mati di balik pintu putih di depannya.

Rangga menarik napas panjang, menguatkan hati. Ia tidak mungkin berbohong. Ia akhirnya menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Nenek..." suara Rangga tercekat saat mendengar suara ceria Nenek Tari di seberang telepon.

"Halo, Ayu? Kamu di mana, yu? Kenapa belum sampai?"

"Nenek... ini Rangga," ucap Rangga sesenyap mungkin, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap stabil.

"Den Rangga? Kenapa ponsel Ayu ada di Den Rangga? Ayu mana?" Suara Nenek Tari mulai bergetar.

"Nenek, dengarkan Rangga ya. Nenek harus tenang dulu. Ayu... Ayu tadi jatuh dari motor karena jalanan licin. Sekarang Ayu sudah di rumah sakit dan sedang ditangani dokter. Nenek jangan panik, Rangga ada di sini menjaga Ayu."

Di seberang sana, terdengar suara isak tangis tertahan. Rangga tahu Nenek Tari pasti sangat terkejut. "Nenek nggak usah bingung mau ke sini bagaimana. Sekarang Nenek siap-siap saja, bawa barang yang perlu dibawa. Seseorang akan datang menjemput Nenek sekarang juga."

Setelah menutup telepon, Rangga segera menghubungi salah satu karyawannya yang memang tinggal di mess bengkel.

"Halo, Fian. Kamu sekarang juga ambil mobil operasional, jemput Nenek Tari di kedai nasi Padang yang waktu itu kamu ngantar motor. Bawa beliau ke Rumah Sakit Medika segera. Hujan deras, jadi tolong hati-hati tapi jangan lambat. Kabari saya kalau sudah di jalan," perintah Rangga tegas.

Selesai menelepon, Rangga menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit yang dingin. Ia menatap ke arah pintu UGD yang masih tertutup rapat.

Sekitar satu jam kemudian, karyawan Rangga datang bersama Nenek Tari yang tampak sangat lemas. Rangga segera berdiri dan merangkul pundak wanita tua itu, mencoba memberikan kekuatan meskipun hatinya sendiri masih sangat cemas.

Tak lama setelah mereka duduk, pintu UGD akhirnya terbuka. Seorang dokter dengan stetoskop yang masih melingkar di lehernya keluar sambil melepas masker bedahnya. Rangga dan Nenek Tari serentak berdiri menghampiri sang dokter.

"Keluarga dari Saudari Ayu?" tanya dokter tersebut.

"Saya kakaknya, Dok. Dan ini neneknya," jawab Rangga cepat. "Bagaimana kondisi Ayu?"

Dokter tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang sedikit meredakan ketegangan di dada Rangga. "Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya. Benturan di kepalanya memang cukup keras yang menyebabkan dia pingsan, tapi hasil pemindaian awal menunjukkan tidak ada pendarahan dalam yang serius."

Nenek Tari mengucap syukur berkali-kali sambil mengusap dadanya yang sesak.

"Luka-lukanya sudah kami jahit dan bersihkan," lanjut dokter. "Saat ini pasien masih tertidur karena pengaruh obat dan syok ringan, tapi fisiknya stabil. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap agar dia bisa beristirahat total."

Rangga mengembuskan napas panjang yang seolah sudah ia tahan sejak di lokasi kecelakaan. "Boleh kami melihatnya, Dok?"

"Silakan, tapi tunggu setelah pasien dipindahkan ke kamar ya. Dan tolong, pastikan suasananya tenang agar pemulihannya lebih cepat," pesan dokter sebelum berpamitan.

Nenek Tari menatap Rangga dengan mata berkaca-kaca. "Den Rangga... terima kasih banyak. Kalau tadi Den nggak lewat sana, Nenek nggak tahu nasib Ayu gimana di bawah hujan begitu."

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!