Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
loro (2)
Satu detik yang lalu, dunia Elena adalah putih yang membutakan. Ia masih bisa merasakan sensasi atom-atom tubuhnya yang seolah ditarik paksa oleh gravitasi titik hitam hasil kegagalan eksperimennya. Dalam logikanya yang dingin, Elena telah menerima kematian sebagai hasil akhir dari sebuah perhitungan yang salah. Ia mengharapkan kekosongan absolut, sebuah kegelapan tanpa akhir di mana hukum termodinamika tidak lagi berlaku bagi kesadarannya. Ledakan itu seharusnya telah menguapkan laboratorium bawah tanahnya, menghapus jurnal-jurnal risetnya, dan mengubah dirinya menjadi debu bintang dalam hitungan milidetik.
Namun, alih-alih kegelapan yang tenang, kesadarannya justru dihantam oleh gelombang rasa sakit yang mentah dan primitif. Paru-parunya tidak lagi menghirup udara laboratorium yang steril dan dingin, melainkan sebuah udara yang berat, panas, dan berbau tajam seperti campuran jerami busuk serta kotoran ternak. Tidak ada suara alarm Hera yang melengking, tidak ada dengung mesin pendingin nitrogen. Yang ada hanyalah suara cicitan burung dari kejauhan dan suara dengung lalat yang berputar di atas kepalanya.
Elena mencoba membuka matanya. Kelopak matanya terasa seberat timah, lengket oleh sesuatu yang ia duga adalah infeksi bakteri atau sekresi mukus yang mengering.
Ketika ia berhasil membukanya, hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit beton reinforced Sektor 7, melainkan atap jerami yang bolong di sana-sini, memperlihatkan langit biru yang terlalu cerah hingga menyakitkan matanya.
"Anomali," bisik Elena. Suaranya tidak keluar. Tenggorokannya terasa seperti telah menelan pasir panas.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa nyeri hebat menjalar dari saraf-saraf di lengannya. Ia mengangkat tangan itu ke depan wajahnya dan seketika tertegun. Ini bukan tangannya. Tangan yang ia lihat sekarang adalah tangan seorang gadis remaja yang sangat kurus, dengan kulit pucat yang kotor oleh tanah hitam, kuku-kuku yang pecah, dan pergelangan tangan yang begitu kecil hingga seolah bisa patah hanya dengan satu remasan.
"Analisis status..." gumam Elena secara instingtif, seolah-olah ia masih berbicara pada AI laboratoriumnya. "Suhu tubuh... diperkirakan 38 derajat Celcius. Gejala dehidrasi tingkat dua. Malnutrisi kronis. Massa otot... tidak mencukupi untuk aktivitas fisik berat."
Ia mencoba duduk, mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya bagai palu godam. Pandangannya berputar. Ruangan sempit itu hanya berisi sebuah dipan kayu yang keras, sebuah meja pincang, dan sebuah tempayan tanah liat yang retak. Tidak ada satu pun elemen logam atau plastik di sana. Secara kimiawi, tempat ini didominasi oleh polimer alami kayu, serat, dan tanah.
"Di mana aku?" Elena memicingkan mata. Otaknya yang jenius mulai bekerja keras memproses data. "Apakah ledakan itu menciptakan lubang cacing yang memindahkan kesadaranku ke subjek lain? Ataukah ini hanya simulasi neuro-elektrik sebelum mati?"
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis jauh lebih jernih daripada suara Hera bergema langsung di dalam lobus temporal otaknya.
[Ding! Sinkronisasi Jiwa Berhasil.]
[Kecocokan Inang: 100%.]
[Selamat Datang, Tuan Rumah. Sistem Petani Legendaris telah diaktifkan.]
Sebuah layar semi-transparan berwarna hijau zamrud muncul di depan matanya. Layar itu melayang di udara, mengikuti arah gerak pupil matanya dengan presisi digital yang luar biasa.
Elena terdiam. Sebagai seorang ilmuwan yang skeptis, ia tidak langsung percaya pada keajaiban. Ia mencoba menyentuh layar itu, namun jarinya menembus cahaya tersebut.
"Sistem?" Elena membatin. "Petani? Kau pasti bercanda. Aku adalah Dr. Elena, spesialis kimia katalis. Jika kau adalah entitas cerdas, identifikasi dirimu. Apakah kau hasil dari Project Genesis?"
[Menjawab: Sistem ini adalah asisten botani tingkat tinggi. Status Anda saat ini: Petani Pemula (Level 0). Lahan yang tersedia: 0,1 Hektar Tanah Terkutuk.]
Elena mendengus dingin, meski tubuhnya gemetar karena lemah. "Petani... kau ingin aku menanam tanaman dengan tangan ini? Ini adalah penghinaan terhadap intelegensiku. Aku bisa mensintesis protein di laboratorium tanpa perlu menyentuh lumpur sama sekali."
[Sistem memberikan peringatan: Tubuh inang berada dalam status 'Hampir Mati'. Jika tidak segera mendapatkan nutrisi dari hasil tani sistem, fungsi organ akan berhenti dalam 24 jam.]
Elena menatap layar itu dengan pandangan tajam yang gila. "Cih.. Jadi ini adalah pemerasan biologis? Menarik."
Ia memaksakan diri untuk berdiri, berpegangan pada dinding tanah yang kasar. Setiap gerakannya adalah perjuangan melawan gravitasi. Saat ia berhasil keluar dari pintu kayu yang reyot, pemandangan di depannya membuatnya kembali tertegun. Di depannya terhampar tanah yang luas, namun warnanya bukan cokelat subur, melainkan hitam keabu-abuan yang mati. Tidak ada satu pun tanaman yang tumbuh di sana.
"Tanah ini..." Elena berlutut, mengambil segenggam tanah dan mendekatkannya ke hidungnya. Ia tidak mencium bau mineral yang sehat. "Kadar pH-nya pasti sangat asam. Mungkin mengandung sulfur tinggi atau kontaminasi logam berat yang ekstrem. Secara teoritis, tidak ada sel tumbuhan yang bisa melakukan osmosis di sini. Ini gila lalu aku harus menanam apa disini"
[Ding! Misi Pemula Diaktifkan: Gunakan 'Cangkul Pemecah Kerak' untuk membalik tanah seluas 2 meter persegi. Hadiah: 1 Liter Air Embun Pemurni Tubuh & Benih Sawi Roh.]