Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milik Saya
“Saya izin ke dalam,” kata Reynan.
Saat memasuki area dapur, Reynan melihat—
Bugh!
Bugh!
Reynan memberi bogeman pada Danish, setelah menariknya dari tubuh sang istri.
“Berani-beraninya kau sentuh milik saya,” ucap Reynan dengan penuh emosi.
Bugh!
Reynan kembali memberi Danish pukulan di perutnya.
“Mas … udah Mas.” Zara menarik Reynan.
Namun percuma, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Reynan.
Bugh!
“Mas … udah, Mas. Bisa mati dia,” kata Zara lagi.
“Biarin, lelaki brengsek.”
“Mas, stop.” Zara pun memeluk tubuh Reynan.
Jika tidak segera diberhentikan, bisa saja Danish lewat.
Mengingat pria itu sudah tersungkur tidak berdaya diatas lantai.
Di luar yang mendengar keributan pun, lekas pergi ke sumber suara.
“Apa yang kau lakukan pada suamiku?” Pekik Lea, melihat Danish yang sudah babak belur.
Zara yang masih memeluk Reynan, ia pun melepaskannya.
“Ayo bangun, Mas.” Lea membantu Danish untuk bangun, dibantu Hanung juga.
“Ada apa ini?” tanya Budi. “Rey, kenapa?” tanyanya pada sang menantu.
Sedangkan Frida, ia menatap nyalang pada Reynan dan Zara.
Reynan menyugar rambutnya dengan napas yang masih memburu.
“Brengsek, kau. Jangan coba-coba lakukan seperti itu lagi, kalo kau gak mau kehilangan pekerjaan,” ucap Reynan. Setelah itu ia pergi, seraya menarik pelan tangan Zara.
Semuanya tampak bingung. Kenapa Reynan bicara seperti itu dan membuat Danish babak belur?
Apa yang sudah Danish lakukan? Sampai Reynan marah seperti itu.
Begitu pikiran mereka.
Namun… Budi membiarkan anak dan menantunya pergi, untuk meredam emosi. Nanti setelah mereda, Budi akan mencoba bertanya lagi.
“Kenapa kamu bisa seperti ini, Mas?” tanya Lea.
Danish membuang muka. Rasa perih di pipi, sudut bibir dan perutnya, membuat ia enggan untuk menjawabnya.
Danish pun berdiri, lalu ia pergi dan masuk ke mobil.
“Bud, kami pulang dulu,” kata Hanung.
“Iya, Mas. Hati-hati,” ujar Budi.
Di tempat lain. Reynan langsung membuka pakaian Zara.
“Mas, kenapa ini?” pekik Zara. Ia pun segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Buka semuanya, lalu buang bajunya!” titahnya.
“Mas …” Zara bingung dengan itu.
“Nurut, Zara. Mas gak mau di tubuh kamu ada noda dia, meski sedikit pun. Buang bajunya, bakar kalo perlu!”
Dengan menggigit pipi dalamnya, Zara pun menurut.
Ia diam, dengan Reynan yang masih membuka pakaiannya.
Malu, tapi senang juga. Malu karena pakaiannya dibuka, senang karena Reynan seperti itu. Berarti Reynan cemburu bukan?!
“Bagian mana lagi yang sempat pria itu sentuh?” tanya Reynan, seraya membolak balikan tubuh Zara.
“Gak ada, Mas. Dia cuma meluk doang,” jawab Zara.
“Apa, cuma? Katamu itu cuma?”
“Aduh … salah ngomong gue.” Batin Zara.
“Nggak gitu … maksudku, Mas. Cuma nempel di baju doang, udah gitu.”
“Cuma, itu juga menurutmu, cuma?”
“Alah … salah ngomong lagi.” Zara kembali membatin.
Reynan menarik tubuh Zara, lalu ia baringkan di atas ranjang.
“Mas tidak mau, milik Mas di sentuh orang lain. Jangankan peluk, pegang tangan atau sekedar mencolek pun, Mas tidak rela, tidak ridho. Kamu paham?” ucapnya, seraya mengungkung tubuh Zara.
“Iya paham, Mas. Maaf ya untuk yang tadi.”
“Kamu tidak salah. Si bajingan itu yang salah,” ucapnya dengan penuh emosi.
“Sabar …” kata Zara seraya mengelus dada Reynan.
Reynan langsung menyambar bibir Zara, dengan tangan bermain di intinya Zara.
Sayang jika dianggurin begitu saja bukan, apalagi sang istri sudah tidak memakai apapun.