Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas dan perasaan
Raut wajah Tuan Marquis berubah. Tatapannya menancap pada Eryn dengan jelas—tidak suka.
“Kau,” ucapnya dingin. “Apa kau tidak tahu aturan Wilayah Kaelmont?”
“Aku tahu semua aturan Kaelmont,” jawab Eryn berani. “Dan satu hal yang kutahu, menemui teman bukan bagian dari larangan.”
Tuan Marquis tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak ramah.
“Teman?” ulangnya pelan. “Apa benar ada pertemanan antara pria dan wanita?”
Elara menoleh cepat.
“Tentu saja. Buktinya aku dan Elara. Kami tumbuh bersama dan ka—”
“Tanpa melibatkan perasaan?” potong Tuan Marquis cepat.
Ucapan itu membuat Eryn terdiam. Seolah seluruh kata-kata menguap begitu saja. Ia beralih menatap Elara.
“Cukup.”
Elara mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam, tak gentar.
“Anda sudah melewati batas, Tuan Marquis,” katanya tegas. “Eryn adalah sahabatku, dan Anda tidak berhak mempertanyakan hal-hal pribadi seperti itu.”
Tuan Marquis menatap Elara, tak menyembunyikan keterkejutannya. Sejenak ia lupa—atau mungkin pura-pura lupa—bahwa gadis di hadapannya adalah seorang pemberontak yang tak pernah menarik kembali kata-katanya.
“Jika tujuan Anda kemari untuk menemui Paman Alden, silakan. Beliau ada di dalam,” lanjut Elara.
“Namun jika tidak ada urusan dengannya, aku mohon—pergilah.”
“Kau mengusirku?” suara Marquis rendah.
“Ya. Silakan tinggalkan pondok ini, Tuan Marquis,” jawab Elara jelas.
Marquis tak segera bergerak. Ia hanya berdiri, menatap Elara, seakan menimbang sesuatu, atau mungkin sekadar mengagumi keberanian gadis di hadapannya.
“Tuan.”
Seorang pria mendekat, pengawal pribadinya.
“Nyonya Marianne mencari Anda. Beliau meminta Anda segera kembali ke rumah utama.”
Marquis tak menjawab. Ia hanya berbalik, menaiki kudanya, lalu meninggalkan halaman pondok tanpa sepatah kata.
Marquis tak menjawab. Ia hanya berbalik, menaiki kudanya, lalu meninggalkan halaman pondok tanpa sepatah kata.
Begitu Marquis pergi, Eryn menghela napas panjang dan bersandar pada batang pohon tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Jantungku hampir copot,” gumamnya.
Elara menoleh. “Kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja. Tapi ada apa dengan Tuan Marquis? Kenapa dia sampai datang kemari?”
Elara menggeleng. Ia kembali fokus menjemur pakaiannya.
“Jangan tanya aku. Aku juga bingung.”
“Syukurlah, kupikir aku saja yang merasa dia aneh.”
Elara menoleh lagi. “Jadi… apa tujuanmu kemari?”
“Astaga, hampir lupa!” Eryn terkekeh. “Aku mau memberitahumu ini.”
Ia mengeluarkan surat kabar.
“Kau bilang ingin ikut perlombaan seni, kan? Akhir pekan ini ada perlombaan di ibu kota. Hadiahnya besar.”
Elara menatap angka di koran itu.
“$100? Ini tidak salah, Eryn?”
Eryn mengangguk. “Kalau kau menang, uangnya cukup untuk membeli kacamata yang kau inginkan.”
“Kau tahu dari mana aku ingin membeli kacamata?” Elara menatapnya bingung.
Seingatnya, ia tak pernah mengatakan hal itu pada siapa pun—kecuali pada burung-burung di hutan.
“Kau lupa?” Eryn mendongak ke atas pepohonan. “Aku juga memahami mereka.”
Seekor burung beo terbang dan hinggap di dahan.
“Elara… Eryn… beo-beo… Elara ingin kacamata…” suara burung itu menggema di antara dedaunan.
Elara tersenyum malu.
“Sepertinya aku bicara pada burung yang salah,” lirihnya.
“Sudah kubilang berhenti bicara pada mereka,” sahut Eryn.
Elara tersenyum manis lalu kembali membaca koran.
“Tanggalnya… hari ini? Sore ini batas terakhir?” serunya panik. “Bagaimana aku bisa mendaftar?”
Eryn justru tersenyum santai. Ia menarik koran itu dari tangan Elara.
“Tenang saja. Aku sudah mendaftarkan namamu saat ke kota pagi tadi.”
Elara tersenyum manis lalu memeluk Eryn erat. Bukan karena maksud apa pun—hanya karena hatinya dipenuhi rasa senang.
“Kau memang sahabat terbaik,” serunya hangat tanpa melepaskan pelukan. “Kau yang terbaik, Eryn.”
Eryn menegang.
Dadanya bergetar tak karuan. Ucapan Tuan Marquis kembali terngiang jelas di benaknya.
Pertemanan antara pria dan wanita… tanpa melibatkan perasaan?