Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 (twenty)
Helikopter medis yang dicuri itu mendarat dengan sisa bahan bakar yang hanya cukup untuk beberapa menit lagi. Lokasinya adalah sebuah pulau kecil yang tidak ada dalam peta wisata masyarakat lokal menyebutnya Pulau Hantu, karena kabut abadi yang menyelimutinya dan struktur beton tua yang menjorok ke laut.
"Ini adalah Pangkalan 09," ujar Sarah sambil turun dari helikopter dengan bantuan kruk kayu yang ditemukan di dalam kabin. "Kakekmu membangunnya pada masa Perang Dingin sebagai pusat komunikasi darurat. Sangkala mungkin punya satelit, tapi mereka tidak punya akses ke kabel bawah laut analog yang ada di sini."
Ratna menatap bangunan beton yang ditutupi lumut dan tanaman merambat. Di mata orang awam, ini adalah reruntuhan. Namun di mata seorang jenderal, ini adalah benteng pertahanan yang sempurna. Sudut tembaknya luas, dan fondasinya tertanam di karang yang sangat keras.
(Membangkitkan Sang Raksasa Tidur)
Di dalam pangkalan, udara terasa dingin dan bau oli tua menyeruak. Teguh segera bergerak ke ruang mesin, sementara Ratna membantu ibunya menuju meja operator yang dipenuhi tuas-tuas besi dan lampu indikator kuno.
"Teguh, cari generator diesel di lantai bawah. Kita butuh daya untuk menyalakan pemancar frekuensi rendah," perintah Ratna.
Beberapa saat kemudian, lantai bergetar. Suara mesin diesel tua menderu, memecah kesunyian pulau. Lampu-lampu kuning redup mulai menyala satu per satu, menerangi ruangan yang tampak seperti kapsul waktu dari masa lalu.
"Ratna, dengarkan Ibu," Sarah memegang tangan Ratna, matanya kini penuh dengan tekad. "Liontin itu bukan hanya kunci DNA. Itu adalah detonator digital. Jika kita menghubungkannya ke pemancar ini, kita bisa mengirimkan sinyal 'bunuh diri' ke seluruh server Sangkala di Indonesia. Itu akan menghapus semua data Project Hydra dan mengungkap identitas Dewan Tujuh ke seluruh stasiun televisi secara bersamaan."
"Tapi ada harganya, kan?" Ratna bisa merasakan nada bicara ibunya yang berat.
Sarah mengangguk pelan. "Sinyal ini butuh waktu lima menit untuk terenkripsi sepenuhnya. Selama lima menit itu, lokasi pulau ini akan terpancar seperti suar di tengah kegelapan. Mereka akan mengirimkan semua yang mereka punya untuk menghentikan kita."
(Momen Sebelum Badai)
Malam itu, di tepi dermaga yang rapuh, Ratna duduk sendirian menatap laut. Tubuh "Ratna" yang asli terasa sangat letih, namun jiwa "Sang Jenderal" di dalamnya menolak untuk menyerah.
Teguh mendekat, membawa dua cangkir kopi instan panas. "Ibu masih memikirkan rencana besok?"
"Besok bukan lagi soal penyelidikan, Teguh. Besok adalah perang terbuka," sahut Ratna pelan. "Kau bisa pergi sekarang dengan sekoci penyelamat itu. Kau sudah melakukan lebih dari kewajibanmu sebagai polisi."
Teguh tersenyum, lalu duduk di samping Ratna. "Bu, saat saya lulus akademi, saya bersumpah untuk melindungi rakyat. Rakyat yang sekarang sedang diancam oleh virus gila itu. Lagipula, siapa lagi yang akan menjaga punggung Jenderal kalau bukan saya?"
Ratna menatap Teguh dengan rasa hormat yang tulus. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Tiba-tiba, ponsel satelit milik Hendra yang dibawa Ratna berbunyi. Ada sebuah video yang masuk. Ratna membukanya, dan jantungnya seakan berhenti berdetak.
Di layar, terlihat Bagas anak kecil dari hutan sedang duduk di sebuah kursi laboratorium. Di belakangnya, Siska berdiri sambil memegang alat suntik.
"Detektif Ratna... atau siapapun kau sebenarnya," suara Siska terdengar sangat tenang namun kejam. "Kami sudah tahu kalian menuju ke perairan utara. Jika dalam dua belas jam kau tidak menyerahkan diri di Pelabuhan Tanjung Priok, anak ini akan menjadi subjek pertama untuk Fase 2. Dia akan mati, dan darahnya akan ada di tanganmu."
Ratna meremas ponsel itu hingga layarnya retak. Amarah yang dingin membakar dari dalam dirinya. Siska telah melakukan kesalahan terbesar: ia mengancam seseorang yang berada di bawah perlindungan sang jenderal.
"Teguh, batalkan rencana pertahanan pasif," ujar Ratna dengan suara yang bergetar karena emosi.
"Maksud Ibu?"
"Kita tidak akan menunggu mereka datang. Kita akan membawa 'kunci' ini langsung ke jantung mereka di Jakarta. Kita akan melakukan penyerangan malam hari ke markas pusat Agro-Santara."
Jeng... Jeng.... Jeng.... Jenggg....
Duhhh dag dig dug serrrrr takut banget kena serbu kalian semua😭😩