Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: PECAHNYA MANIFESTO MAUT
BAB 25: PECAHNYA MANIFESTO MAUT
Suara hantaman Kunci Tulang Emas Arga ke meja batu itu menghasilkan dentuman yang sanggup meretakkan dimensi Sektor 00. Meja batu yang berisi daftar jutaan nyawa itu mulai mengeluarkan cahaya hitam yang pekat, menolak serangan Arga.
"Berhenti, bodoh!" teriak salah satu anggota dewan. "Meja itu adalah jangkar realitas! Jika kau menghancurkannya, kau tidak hanya membunuh kurir, kau akan menghapus keberadaan mereka dari sejarah!"
"Itu lebih baik daripada mereka hidup sebagai budak kalian!" balas Arga dengan urat leher yang menegang.
Arga memusatkan seluruh energi dari simbol ∞ di telapak tangannya. Ia membayangkan wajah ibunya, wajah ayahnya, dan wajah pemuda yang ia selamatkan tadi. Energi itu bukan lagi berasal dari kebencian, melainkan dari tekad untuk membebaskan.
KRAKK!
Meja batu itu terbelah menjadi dua.
Seketika, rantai-rantai emas yang mengikat para anggota dewan putus. Topeng porselen mereka pecah, menampakkan wajah-wajah asli mereka—orang-orang dari berbagai zaman yang telah layu dan kering seperti mumi. Mereka menjerit saat tubuh mereka mulai menguap menjadi debu, akhirnya terbebas dari keabadian yang menyiksa.
Namun, hancurnya meja itu memicu pusaran lubang hitam di tengah ruangan. Ribuan lembar kertas Manifest melayang liar, terbakar oleh api putih.
"Arga! Pegang tanganku!"
Sebuah suara yang sangat dikenal Arga muncul dari dalam pusaran. Itu adalah ayahnya, namun kali ini sosoknya tampak lebih transparan, seperti proyeksi memori terakhir.
"Ayah? Apa yang terjadi?"
"Sistem ini sedang melakukan reboot otomatis. Kau telah menghancurkan pusat kendalinya, tapi energinya harus dibuang ke suatu tempat," ayahnya menunjuk ke arah lubang hitam. "Jika kau tidak menutup lubang ini, Jakarta akan tersedot ke dalam dimensi hampa."
"Bagaimana cara menutupnya?"
Ayah Arga menatap telapak tangan Arga. "Kau adalah kurir terakhir, dan juga penjaga pertama. Gunakan koin emasmu. Koin itu bukan hanya alat untuk melihat, itu adalah Segel Terakhir."
Arga mengeluarkan koin emas dari sakunya. Koin itu kini bersinar sangat terang, lebih panas dari matahari.
"Lemparkan koin itu ke pusat pusaran, Arga. Tapi ingat, begitu kau melakukannya, semua hal tentang Gudang akan hilang dari ingatan manusia. Termasuk ibumu... dia tidak akan pernah ingat kau adalah pahlawannya. Baginya, kau hanya Arga, anaknya yang bekerja di kantor ekspedisi biasa."
Arga tersenyum pahit. "Itu sudah lebih dari cukup, Yah."
Arga melempar koin emas itu tepat ke jantung lubang hitam.
BLAARRRR!
Cahaya putih menyilaukan menelan segalanya. Arga merasa tubuhnya terlempar sangat jauh, melewati terowongan waktu yang penuh dengan suara hiruk-pikuk kota yang kembali normal.
Keesokan paginya...
Arga terbangun di tempat tidurnya. Sinar matahari pagi masuk melalui ventilasi kamar. Tidak ada bau melati, tidak ada bau anyir darah. Suasana sangat tenang.
Ia berjalan ke luar kamar. Di dapur, ibunya sedang menggoreng telur sambil bersenandung.
"Arga? Sudah bangun? Cepat mandi, nanti telat ke kantor. Katanya hari ini ada banyak paket yang harus dikirim di gudang tempatmu kerja," ucap ibunya dengan senyum hangat yang tulus.
Arga melihat ke telapak tangannya. Tidak ada angka 8, tidak ada simbol infinity. Hanya sebuah bekas luka kecil berbentuk lingkaran di telapak tangannya, menyerupai bentuk koin.
Ia menarik napas lega. Semuanya sudah berakhir. Ia berjalan menuju pintu depan untuk mengambil koran. Namun, saat ia membuka pintu, langkahnya terhenti.
Di teras rumahnya, terdapat sebuah paket kecil yang dibungkus kertas cokelat polos. Tanpa alamat pengirim, tanpa alamat penerima.
Di samping paket itu, terdapat sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi:
"Pekerjaan bagus, Arga. Tapi ingat... di dunia ini, tidak pernah ada kiriman yang benar-benar sampai tanpa harga yang harus dibayar. Sampai jumpa di Babak Selanjutnya."
Arga menatap paket itu. Ia merasakan detak jantungnya kembali berdegup kencang. Ia perlahan berlutut, tangannya gemetar. Kali ini, ia tidak takut, tapi ia waspada.
Ia teringat aturan nomor satu yang kini menjadi prinsip hidupnya: Jangan buka paketnya... kecuali kau siap untuk menjadi pengirimnya.