Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandangan Mei
Sasa terus memaksa Zee untuk makan siang bersama. Namun Zee juga keukeuh menolak ajakan Sasa.
"Nggak bisa.. emak udah masak. Kasian kalau kakak makan disini nanti emak sendiri". Jelas Zee pada Sasa yang saat ini sudah menggelayuti lengannya.
" Tapi aku masih mau ngobrol sama kakak". Keluh Sasa yang tak jua melepas tangannya dari lengan Zee.
"Kamu bisa kapan aja main kerumah. Kamu anak pintar, masih ingat kan rumah kakak? ". Sasa mengangguk senang.
" Beneran ya.. kapan aja aku boleh main kesana? ". Kini Zee yang mengangguk mantap.
" Kapan aja.. " Sahut Zee lagi.
" Sekarang kakak harus pulang.. harus tidur dulu, nanti malam kakak harus kerja Sa.. " Imbuh Zee karena Sasa enggan melepaskannya.
"Kamu sudah bekerja?? ". Tanya oma Dan ibu Sasa bersamaan.
" Sudah bu.. " Jawab Zee tenang.
"Astaga, aku kira kamu ini masih anak kuliahan Zee.. " Meidina berdecak kagum. Wajah Zee terlihat seperti anak remaja yang baru menginjak bangku perkuliahan.
"Kamu bekerja dimana Zee? ". Kini gantian oma yang bertanya.
" Saya bekerja di club, bu. Sebagai seorang pelayan.. "
Reaksi ibu dan nenek Sasa terlihat sangat terkejut, dan Zee sudah bisa memprediksikan nya. Bukan hal baru lagi baginya. Zee tetap bisa tersenyum tulus.
"Club? ". Beo Meidina yang tatapan matanya pada Zee kini terlihat berubah.
" Di club mana kamu bekerja, nak? ". Zee beralih pada nenek Sasa, wanita yang tetap terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda. Mungkin karena darah bule yang wanita itu miliki.
" Sky blue.. " Zee tetap tenang dan terlihat senyum teduh nya. Membuat oma yang melihatnya ikut tersenyum. Sementara Meidina tiba-tiba menjadi pendiam dan terus menilai penampilan Zee diam-diam.
"Sudah lama bekerja disana? ". Tanya oma lagi, wanita itu seperti tertarik pada Zee dan kehidupannya.
" Apaan nih? Jadi kaya interview kerja begini". Batin Zee menjerit. Ia ingin segera pergi dari rumah itu.
"Tahun ini masuk tahun ke 6 saya bekerja bu.. " Oma membulatkan matanya.
"Berapa usiamu Zee? ". Tanya oma antusias.
" Tahun ini saya berumur 23tahun". Sungguh saat ini Zee benar-benar merasa tengah diinterogasi.
"Kamu.. "
"Omaaa.. kok jadi ditanya-tanya terus sih, kasian kak Zee pasti nggak nyaman". Sasa menyela ucapan sang oma, ia bisa melihat wajah Zee yang merasa tidak nyaman.
" Oh.. aduh maaf ya Zee. Saya suka kelepasan kalau tanya-tanya ". Oma meminta maaf dengan tulus, entah mengapa ia tertarik dengan semua yang berkaitan dengan Zee.
" Tidak apa-apa bu. Saya paham.. " Zee tersenyum, kemudian menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sebelumnya mohon maaf bukan bermaksud lancang, tapi saya harus pulang segera bu". Zee pamit, ia merasa sungkan terlalu lama dirumah itu. Apalagi tatapan ibu Sasa yang terlihat berubah padanya.
" Kenapa buru-buru Zee.. ini masih siang". Oma sama seperti Sasa, enggan melepaskan Zee.
"Astaga kemana bule tengik itu. Kenapa lama sekali sih sampai rumah". Batin oma mengumpati anak lelakinya.
" Kasihan emak di rumah menunggu saya pulang.. Saya sudah berjanji akan makan siang bersama dengan emak". Jelas Zee panjang lebar.
"Biar sopir ibu yang mengantarkan kamu ya.. " Oma hendak memanggil sopirnya namun Zee melarang.
"Terimakasih atas kebaikannya bu. Tapi saya sudah memesan ojek online, kasihan kalau harus saya cancel". Zee menunjukkan layar ponselnya. Ia memang sudah memesan ojek online beberapa saat sebelum berpamitan barusan.
" Baiklah kalau begitu.. " Akhirnya oma pasrah.
"Kalau begitu saya pamit dulu, bu". Zee berdiri
" Tunggu sebentar ". Zee yang hendak melangkah keluar akhirnya kembali diam saat Meidina memintanya menunggu.
" Terima ini Zee.. Anggap ini sebagai hadiah kecil karena kamu sudah berbaik hati menolong dan menampung Sasa". Meidina menyodorkan amplop berwarna coklat yang Zee tahu pasti apa isinya.
"Iya kak.. ayo diterima". Sasa ikut membujuk.
" Terimakasih banyak atas niat baik ibu.. tapi saya tidak bisa menerimanya".
"Saya benar-benar tulus menolong Sasa, tidak ada sedikit pun niat atau keinginan mendapatkan imbalan.
" Jadi saya mohon maaf, saya tidak bisa menerimanya". Zee mendorong halus amplop yang disodorkan di depannya.
Melihat dari ketebalan amplop itu, Zee tahu jumlah nya tidak mungkin sedikit. Namun Zee juga tidak mau menerimanya, ia tulus menolong Sasa tanpa pamrih.
"Tapi Zee.. " Ucapan Meidina mengambang karena Zee kembali bersuara.
"Ibu bisa berikan ini untuk yang lebih membutuhkan. Alhamdulillah, saya masih bisa bekerja dan menghasilkan uang bu. Dan itu sudah cukup untuk saya".
" Baiklah kalau itu maumu.. " Akhirnya Meidina menarik kembali amplop yang sebelumnya ia sodorkan pada Zee.
"Baik-baik dirumah ya micin. Jangan kabur-kaburan lagi". Peringat Zee sambil mengelus pucuk kepala Sasa dengan sayang.
" Bu saya permisi dulu". Pamit Zee meraih tangan oma dan mencium punggung tangannya.
"Permisi semua.. Assalamualaikum". Sasa dan oma serta ibunya mengantar Zee sampai teras. Di halaman sudah ada ojek online yang menunggu.
" Kak tunggu!! ". Teriak Sasa membuat Zee yang hendak naik keatas motor mengurungkan langkahnya.
" Oma.. hp" Sasa mengasongkan tangannya pada sang oma yang bingung namun tetap memberikan apa yang diminta cucu nya.
Gadis kecil itu berlari mendekati Zee dengan membawa ponsel oma nya.
"Apa? ". Tanya Zee saat Sasa menyodorkan ponsel ke hadapannya.
" Nomor kakak. Simpan nomor kakak disini dulu, nanti kalo aku udah beli hp baru aku bisa gampang telpon kakak". Jelas Sasa penuh semangat. Ia hampir melupakan untuk meminta nomor ponsel Zee.
"Aku kira kenapa". Sahut Zee sambil meraih ponsel keluaran terbaru dari merk terkenal itu kemudian memasukkan nomor ponselnya.
" Nih.. " Zee mengembalikan ponsel oma pada Sasa.
"Aku pasti kangen banget sama kakak sama emak". Zee terpaku saat Sasa tiba-tiba memeluk erat dirinya. Ia tahu Sasa gadis kecil kesepian, sepertinya Zee kecil dulu.
" Kamu bisa kerumah kakak kapanpun kamu mau, Sasa.. " Zee membalas pelukan Sasa dan mengelus rambut panjang anak itu.
"Inget pesen kakak ya.. hargai semua yang kamu punya sekarang. Jaga setiap hal yang kamu miliki.. jangan sampai menyesal dikemudian hari". Sasa mengangguk dalam pelukan Zee.
" Tapi kapan aja aku pengen ketemu kakak sama emak, aku boleh ya kerumah kakak? ". Tanya Sasa melonggarkan pelukan dan menatap Zee penuh harap. Zee mengangguk sambil tersenyum tulus.
"Mungkin setelah ini mama kamu nggak akan pernah izinin kamu buat ketemu aku lagi, micin". Batin Zee sedih. Meskipun dalam waktu yang singkat, Sasa meninggalkan kesan dalam untuk Zee, begitupun sebaliknya.
" Sudah sana masuk.. kakak harus pulang". Akhirnya meskipun berat, Sasa merelakan Zee pulang dan meninggalkan dirinya ditengah keluarga nya.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Sepeninggal Zee, oma yang masih penasaran dengan sosok Zee coba mengorek informasi dari cucunya yang terlihat sudah akrab dengan gadis cantik itu.
Dan mengalir lah cerita tentang hidup Zee selama ini. Cerita yang ia dengar dari emak kala ia menanyakan keberadaan orang tua Zee.
"Kasihan sekali.. " Gumam oma yang mendengar cerita Sasa.
"Kamu kenapa Mei? ". Tanya oma yang sejak tadi melihat anak perempuannya itu banyak diam.
" Nggak apa-apa, mi". Sahut Meidina
"Ck.. " Oma dan Mei menatap Sasa yang tiba-tiba berdecak kesal.
"Aku tahu mama pasti berpikir buruk tentang kak Zee. Tentang pekerjaannya kan? ". Pertanyaan juga pernyataan yang tepat sasaran dilontarkan oleh Sasa.
Sasa sudah melihat perubahan raut wajah ibunya sejak Zee menyebutkan pekerjaan nya. Dan Sasa juga ingat bagaimana ibu-ibu tetangga Zee mengatai Zee.
" Bu-bukan begitu sayang.. " Mei tergagap, tak menyangka putri kecilnya bisa mengetahui apa yang tengah ia pikirkan.
"Mama sama saja seperti tetangga kak Zee". Gumam Sasa kecewa pada ibunya.
Sasa kembali bercerita bagaimana kuatnya Zee bahkan saat tetangga nya mencemooh dirinya. Zee tetap diam tak membalas. Saat Sasa bertanya mengapa diam saja, jawaban Zee membuat Sasa terdiam.
" Untuk apa menjelaskan siapa sejatinya diri kita pada mereka yang tidak mau mengenal siapa kita yang sebenarnya, terlalu menguras tenaga. Biarkan saja, toh semua yang mereka ucapkan itu tidak ada yang benar". Fasih sekali gadis kecil itu menirukan setiap ucapan Zee.
"Maafin mama, sayang.. " Meidina merasa malu pada anaknya. Karena jujur setelah mendengar apa pekerjaan Zee, ia langsung berpikiran buruk pada gadis itu.
Sementara oma melirik galak anak perempuannya yang menilai orang lain hanya dari status pekerjaannya saja.
Saat ketiga nya tengah larut dengan pikirannya masing-masing, sebuah teriakan mengalihkan atensi mereka.
"MICIIIIN!!!! ".
...¥¥¥°°°°¥¥¥...
...Aaah.. akhirnya micin udah ketemu keluarganya deh.. pasti kangen banget deh nanti Zee🥲...
...Nanti deh kita atur-atur lagi biar Zee sama Sasa micin ketemu ya😁🤗...
...Jangan lupa ritualnya readers sayang💕💕💕...
...Sarangheyo sekebon readerskuuuu💋💋💋💋🫰🫰🫰😍❤😘❤😘😍🥰😍😘😘...