"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsip Merah dan Tamu Tak Diundang
Hujan deras mengguyur kota Jakarta malam itu, mengubah pemandangan dari balik jendela ruang kerja William Bagaskara menjadi lukisan kelabu yang muram. Namun, suasana di dalam ruangan jauh lebih dingin daripada badai di luar.
Di atas meja mahoni yang mengkilap, tergeletak sebuah map merah dengan stempel "RAHASIA". William menatap lembaran kertas di dalamnya dengan rahang mengeras. Itu adalah laporan latar belakang Adinda Elizabeth yang baru saja diserahkan oleh tim investigasi swasta.
"Bapak yakin ingin membaca detailnya?" suara Pak Harto memecah keheningan. "Isinya cukup berat, Pak."
"Bacakan, Harto," perintah William tanpa mengalihkan pandangan dari foto gadis kecil berusia sepuluh tahun di halaman pertama.
Harto menghela napas panjang. "Adinda Elizabeth. Anak tunggal dari pasangan guru honorer di Bekasi. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan bus sepuluh tahun lalu. Karena tidak ada kerabat yang mau menampung, Adinda diserahkan ke Panti Asuhan 'Kasih Bunda' di Depok."
William membalik halaman laporan. Matanya menangkap kliping koran lama tentang kebakaran.
"Panti asuhan itu bermasalah, Pak. Anak-anak dieksploitasi bekerja paksa. Tahun 2015, terjadi kebakaran hebat. Adinda selamat setelah menyeret dua balita keluar, tapi dia kabur karena trauma. Laporan menyebutkan dia menolak dipindahkan ke dinas sosial."
Tangan William mengepal.
"Sejak usia 13 tahun, dia hidup di jalanan Tanah Abang," lanjut Harto. "Tapi dia bersih, Pak. Tidak ada catatan kriminal, tidak ada utang. Dia bekerja serabutan—tukang cuci piring, kuli panggul pasar, penjaga gudang. Dia belajar bela diri dari satpam pasar hanya untuk melindungi diri dari pelecehan. Dia bukan preman, dia penyintas (survivor)."
William menutup map itu perlahan. Hatinya nyeri. Gadis yang kemarin berdiri tenang di tengah hujan peluru, ternyata telah berperang sendirian seumur hidupnya.
"Dimana dia tinggal sekarang?"
"Di kontrakan petak, Gang Kelinci III. Kawasan rawan, Pak. Sangat tidak layak untuk seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa Bapak."
William berdiri mendadak, menyambar kunci mobil dan pistol Glock dari laci meja. "Saya ke sana sekarang. Sendiri."
Satu jam kemudian, mobil mewah William terparkir canggung di mulut gang yang becek. Ia berjalan kaki menembus hujan, mengenakan jaket hoodie hitam.
Gang Kelinci adalah labirin kemiskinan. Bau got meluap bercampur aroma masakan murah. William melangkah hati-hati hingga menemukan pintu nomor 14. Sebuah rumah petak dengan cat biru yang mengelupas parah.
Langkah William terhenti. Pintu itu sedikit terbuka, dan terdengar suara bentakan dari dalam.
"Jangan pelit lah, Dinda! Kita lihat lu dijemput mobil mewah kemarin!" suara serak seorang pria terdengar memaksa.
William merapat ke dinding, mengintip lewat celah pintu.
Di dalam ruangan sempit berukuran 3x3 meter itu, Adinda berdiri terpojok di dekat lemari plastik. Tangan kirinya masih dibebat kain gendongan (arm sling) akibat luka tembak kemarin. Wajahnya pucat menahan nyeri, namun matanya menyala nyalang. Tidak ada air mata di sana.
Di hadapannya, berdiri tiga preman lokal. Mereka bukan penagih utang—karena Adinda tidak punya utang—melainkan pemalak yang mencium bau uang.
"Keluar dari rumah saya," suara Adinda tenang, dingin, dan berwibawa. "Saya tidak punya uang untuk alkohol kalian. Uang saya untuk makan."
"Halah! Lu kerja sama bos besar kan? Bagi lima juta sini!" Pria terbesar, bernama Jarwo, maju menendang ember air. "Atau lu mau bayar pakai cara lain?"
Jarwo menyeringai jijik.
"Maju satu langkah lagi, Jarwo," desis Adinda. Tangan kanannya mencengkeram erat sebatang tongkat besi bekas tiang jemuran. "Kakimu yang pincang tahun lalu belum sembuh total, kan? Aku bisa mematahkannya lagi."
Jarwo tertawa meremehkan. "Lu lagi sakit, Dinda. Tangan buntung begitu mau ngelawan?"
Jarwo memberi kode. Salah satu anak buahnya bergerak maju hendak merampas tongkat itu.
Bugh!
Dengan sisa tenaganya, Adinda menyabetkan tongkat besinya ke tulang kering preman itu, lalu mendorongnya dengan tendangan depan ke dada hingga terhuyung menabrak dinding.
"Argh!" Adinda mengerang tertahan saat gerakan itu menarik jahitan di bahunya. Keringat dingin mengucur, tapi ia tetap pasang kuda-kuda. Harga dirinya melarang dia memohon ampun pada sampah seperti mereka.
"Bangsat! Habisin dia!" teriak Jarwo marah, mencabut pisau lipat.
Saat Jarwo hendak menerjang, pintu rumah didobrak kasar.
BRAK!
"CUKUP!"
Suara bariton yang berat menggelegar. William Bagaskara berdiri di ambang pintu, basah kuyup, namun tatapannya jauh lebih menakutkan daripada setan manapun. Di tangan kanannya, ia menggenggam pistol Glock yang diarahkan santai ke kaki Jarwo.
"Satu gerakan lagi, dan kalian tidak akan punya lutut untuk berjalan pulang," ancam William datar.
Ketiga preman itu membeku. Nyali mereka ciut melihat senjata api asli dan aura kekuasaan yang terpancar dari pria itu.
"Si-siapa lu?" gagap Jarwo.
"Seseorang yang bisa membuat kalian lenyap malam ini juga," jawab William dingin. "Keluar. Detik ini juga. Jika aku melihat kalian di sini lagi, urusan kalian bukan dengan polisi, tapi dengan tim pemburuku."
"Ca-cabut! Dia bawa pistol!" Jarwo dan kawan-kawannya lari terbirit-birit menembus hujan, meninggalkan kontrakan itu dalam keheningan.
William menurunkan senjatanya, berbalik menatap Adinda.
Gadis itu masih berdiri siaga, tongkat besi di tangan. Napasnya memburu. Wajahnya merah padam. Bukan karena takut, tapi karena rasa malu yang luar biasa. Bos besarnya baru saja melihat realitas hidupnya yang telanjang: atap bocor, lantai semen retak, dan kemiskinan.
Perlahan, Adinda menurunkan tongkatnya. Ia mendongakkan dagu, mempertahankan sisa martabatnya.
"Bapak ngapain ke sini?" tanya Adinda defensif. "Saya bisa tangani mereka. Saya hanya butuh satu pukulan lagi untuk Jarwo."
William menghela napas, memandang sekeliling ruangan yang menyedihkan itu. Kasur tipis tanpa dipan, kompor satu tungku, dan tumpukan buku di sudut. Hatinya nyeri. Bukan rasa kasihan yang merendahkan, tapi rasa hormat yang bercampur kepedihan.
"Dengan satu tangan? Dan membiarkan jahitanmu robek lagi?" William melangkah mendekat, mengambil tongkat besi dari tangan Adinda dengan lembut. "Kau keras kepala sekali."
"Ini rumah saya, Pak. Bapak tamu tak diundang," Adinda bersikeras, meski kakinya mulai gemetar karena lelah.
"Saya tidak mengasihanimu, Adinda," William menatap mata gadis itu lurus-lurus. "Saya marah. Saya marah karena orang yang melindungi nyawa William Bagaskara harus tidur dengan atap bocor dan diganggu preman tengik."
William meletakkan tongkat itu. "Ini masalah strategi keamanan. Musuh saya sindikat internasional. Jika mereka tahu kau tinggal di sini, tempat ini akan jadi kuburanmu dalam semalam. Bagaimana kau bisa melindungiku besok jika malam ini kau sibuk mengusir tikus?"
Adinda terdiam. Argumen itu logis. Ia tidak bisa membantah.
"Kemas barangmu," perintah William pelan. "Dokumen penting, foto orang tua, baju ganti. Kita pergi sekarang."
"Saya belum terima gaji, Pak. Saya tidak punya uang sewa apartemen," jawab Adinda jujur.
"Anggap ini fasilitas kantor. Rumah dinas dengan keamanan 24 jam," William tersenyum tipis. "Potong gaji kalau kau mau, saya tidak peduli. Yang penting kau keluar dari sini."
Adinda menatap William lama, mencari kebohongan, tapi hanya menemukan ketulusan yang kokoh. Akhirnya, bahunya rileks. Ia menyerah.
"Baik, Pak. Atas nama efisiensi pekerjaan," jawab Adinda kaku.
Adinda mengambil tas ransel tuanya. Dengan satu tangan, ia memasukkan pakaian dan sebuah kotak kaleng berisi foto orang tuanya—harta paling berharganya. Ia menatap ruangan kecil itu untuk terakhir kalinya.
"Sudah siap?"
"Siap."
William mengambil tas ransel dari tangan Adinda, membawanya di bahunya sendiri—gestur sederhana yang membuat dada Adinda sesak oleh perasaan aneh. Perasaan dilindungi.
Mereka berjalan keluar menembus hujan. William membuka payung besarnya, memastikannya menaungi Adinda sepenuhnya, membiarkan bahu kirinya sendiri basah.
Malam itu, Adinda Elizabeth meninggalkan Gang Kelinci tanpa menoleh ke belakang. Di sampingnya, berjalan seorang pria yang baru saja membuktikan bahwa ia bukan sekadar bos, tetapi seorang pelindung yang siap pasang badan.
Bersambung...
terimakasih