Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan.
Suasana diresto itu begitu romantis, aroma parfum dari bunga yang diberikan Marcel begitu memabukkan. Elea tersenyum mencium buket bunga yang dipegangnya, juga hadiah yang tak pernah ia duga bisa mendapatkannya dihari ulang tahunnya.
Sebuah kalung berlian biru saphir, yang dibuka langsung olehnya didepan bosnya sendiri. Baru kali ini ia merasa diratukan oleh seorang lelaki, tentu perasaan melayang diudara ia rasakan sekarang.
"Mau aku pakein?" tanya Marcel, mengambil kalung itu dari dalam box mewah dengan nama penjual yang tertulis disana.
"Gak usah, aku pake lain kali," jawab Elea, ia tak nyaman karena mereka tak punya hubungan apapun selain bos dan asistennya.
Senyuman Marcel mendadak pudar mendengar penolakan dari Elea, apalagi saat wanita itu mengambil kembali hadiahnya dan memasukkannya kedalam box. Anehnya ada rasa yang tak biasa detik itu juga, biasanya ia yang menolak wanita namun kali ini ia sendiri yang ditolak.
Marcel menatap Elea, tersenyum kembali walau dengan rasa yang tak pasti.
"Apa ini begitu biasa? Atau tunangan kamu ngasih hadiahnya lebih dari ini?" tanya Marcel, padahal ia tahu seperti apa rumah tangga Elea.
Elea menggelengkan kepalanya cepat, meski bibirnya tersenyum namun pikirannya merasa miris. Mana pernah Rajendra memperlakukannya seromantis ini, apalagi dihari ulang tahunnya.
Selama ini hari penting ini selalu ia jalani dengan pelukan kesendirian, ditemani kesepian dan tak ada senyum bahagia yang terukir. Menunggu suaminya hingga larut berharap ia diberikan sesuatu yang mengejutkan, namun faktanya ia hanya dianggap penunggu rumah lelaki itu.
Miris bukan.
"Gak, gak pernah. Ini kali pertama saya dapet surprise, makasih ya pak," jawab Elea tersenyum lalu merapatkan bibirnya.
Sekarang ia malah dapat kejutan itu dari pria lain, bolehkah ia jatuh cinta kali ini?
Hatinya bahagia, walau ada yang salah tapi takdir tak ada yang tahu. Rajendra sudah bersama Erika, kenapa ia tak bisa bersama pria lain?
Ia juga ingin bahagia diusianya yang sudah kepala tiga, bahagia bersama orang yang mencintainya dengan tulus. Mungkin kah itu Marcel?
Entahlah Elea bingung, ia takut jatuh kepelukan yang salah, ia takut kembali terluka dan ia takut untuk melangkah lebih jauh.
Perdebatan didalam benaknya membuatnya serba salah, andai saja Rajendra jatuh cinta padanya dan Erika tak pernah kembali. Apakah ia akan sebahagia sekarang?
Faktanya tidak, dan dunianya sekarang penuh lika liku yang tak jelas. Ia lelah, iya. Ia sudah capek menghadapi seorang Rajendra, yang tak akan pernah bisa ia taklukan hati dan cintanya.
"Jadi ini pertama kalinya," tebak Marcel yang Elea angguki dengan cepat.
Dua insan itu tersenyum, terbawa suasana romantis malam ini. Alunan musik piano menggema diruangan itu, mereka menikmatinya dengan segelas wine dan makan malam yang sudah tertata rapi didepan mereka.
Marcel mengambil gelasnya, ia menyuruh Elea mengikutinya untuk bersulang merayakan hari indahnya. Mereka bertos dan meminum gelas masing-masing sampai tandas, dengan tersenyum bahagia bak pasangan sesungguhnya.
Aliran air yang memabukkan itu membasahi kerongkongan Elea, asam, manis dan pahit yang bercampur dengan dingin menyegarkannya. Ia ingin menghabiskan malam indah ini dengan bahagia, ia merasa bebas walau ikatan pernikahannya dengan Rajendra masih mengekangnya.
"Mau berdansa?" ajak Marcel, mengulurkan telapak tangannya pada Elea.
Apapun akan ia lakukan untuk malam ini, agar Elea senang dan melupakan semuanya. Harus hanya dia yang wanita itu pikirkan, harus!
"Mmm, boleh kah?" ucap Elea polos balik tanya tanpa menjawabnya, ia melihat kesekitar resto romantis itu. Memang ada pengunjung lain yang berpasangan, bukan hanya mereka berdua.
Marcel tersenyum manis kemudian mengangguk pelan, ia raih tangan milik wanita itu dan menautkan jemari mereka. Dengan lembut ia menarik tangannya, mengajak Elea untuk berdansa.
Walau malu, Elea akhirnya mengangguk menerima ajakan lelaki yang lebih muda darinya. Mereka beranjak dari tempat duduk lalu berjalan ke tengah area, dimana ada tempat yang luas didepan panggung untuk pengunjung yang ingin berdansa.
Dengan pelan Elea menggerakkan badan, maju mundur langkah kakinya mengikuti gerakan Marcel. Tangannya menggenggam erat tangan lelaki itu, sedang yang satunya ia daratkan didadanya. Tatapan mereka beradu begitu dalam, bibir mereka tersenyum menikmati gerakan romantis itu.
Mata Marcel terasa terhipnotis, senyum manis Elea begitu indah membuatnya terpesona. Dalam diam ia jatuh terbuai, dengan pelan ia merasakan jantungnya berdetak aneh.
Tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan semacam ini. Selama ini, secantik dan seseksi apapun wanita didepannya tak bisa membuatnya terpana. Namun Elea, begitu indah dimatanya.
"Cantik," gumam Marcel tanpa sadar, namun Elea tak mendengarnya karena terfokus pada gerakan dansa mereka.
Setiap gerakan dan alunan lagu itu, seorang Marcel tak melepaskan tatapannya dari Elea yang tersenyum bahagia. Sudut wajahnya, rambut gelombang yang terurai dan aroma peach yang menguar dari tubuhnya membuatnya mabuk. Lebih memabukkan dari segelas wine yang mereka minum barusan.
Ia tersadar kala alunan itu berhenti, suara tepukan pengunjung lain menggema untuk mereka dan saat itulah Elea melepaskan tangannya dari genggaman lelaki muda itu. Marcel jadi pria linglung, ia bingung setelah bangun dari ketidaksadarannya.
Ia lihat Elea sedikit membungkukkan badannya, tersenyum pada pengunjung lain yang memberi mereka tepuk tangan yang meriah.
"Ada apa sama gue?" batin Marcel yang melihat kesekitar mereka.
Sementara Elea benar-benar bahagia dihari ulang tahunnya sekarang. Ia melirik Marcel dan menunjukkan senyum menawannya pada lelaki muda itu. Sungguh, ia bahagia malam ini.
Dari jauh, sesosok laki-laki mematung melihat kedua insan itu didepan panggung. Tangannya yang menggenggam ponsel pintar langsung meregang, hingga membuat perangkat tersebut jatuh ke lantai.
Ia tak pernah berpikir sejauh itu, bahwa semuanya akan menjadi terlambat.
Rekannya mengambilkan benda pipih itu dan memberikannya padanya, membuyarkannya dalam keterkejutan yang mendalam.
"Tuan, anda kenapa?" tanya asistennya yang ikut bingung melihat tingkah bosnya.
Tak ada jawaban, ia pun ikut melirik kemana arah pandangan sang bos. Matanya membelalak, melihat gambaran yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bagaimana ia tak kaget dengan apa yang dilihat bosnya sekarang, itu adalah istrinya bersama adik tirinya.
Bagaimana mereka berdua ada ditempat itu?
Itulah yang mereka pikirkan sekarang.
"Tuan, ini pasti ada kesalah pahaman," ujar Asisten tersebut yang tak lain adalah Arsena dan bosnya adalah Rajendra.
Wajah Rajendra merah padam, dadanya kembang kempis dan sorot matanya berubah tajam.
"Salah paham. Biar kuberitahu, apa itu salah paham," ujar Rajendra yang langsung melangkahkan kakinya menuju dua insan tersebut, dengan kepalan tangan yang siap untuk menghajar.
Arsena mulai panik, ia pun menyusul bosnya untuk mencegah pertikaian antara kakak beradik satu ayah itu.
"Tuan, tenang!" ucap Sena menenangkannya, ia menarik tangan Rajendra untuk menghentikan aksi yang mungkin akan terjadi.
"Tenang kau bilang, istriku bersama pria lain dan kau menyuruhku tenang. Asisten bodoh!" geram Rajendra menghempaskan tangan Sena dengan kasar, hingga lelaki itu meringis lalu meniup tangannya.
"Tuan, nona Ele sedang ulang tahun," ungkap asisten Sen, tak bisa lagi berbuat apapun selain mengatakannya.
"Jadi, jangan mengacaukan hari bahagianya!" lagi Sena berusaha menghentikan langkah kaki Rajendra.
Dan benar, kaki lelaki arogan itu berhenti.