'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan bekerja
Zafirah mulai kembali bekerja di restoran setelah mengambil cuti tahunan nya. Ia bekerja sebagai sous chef di sebuah hotel bintang lima di ibu kota. Jaraknya tidak begitu jauh dari apartemennya.
Di dapur hotel, ia biasa bertugas untuk mengawasi operasional dapur, membantu Chef Eksekutif, mengelola staf dapur dan memastikan kualitas makanan.
Zafirah di kenal dengan tangan dinginnya yang bisa menciptakan hidangan baru yang diminati para pengunjung hotel. Hotel tersebut menyediakan makanan khas luar negeri.
Para rekan kerjanya senang bisa bekerjasama dengan Zafirah. Meskipun Zafirah tergolong baru bekerja sekitar delapan bulan lalu setelah bercerai.
Sebelum itu ia hanya menjalankan tugasnya sebagai istri di rumah menunggu suaminya pulang dengan masakan yang menggoda lidah. Namun pada akhirnya makanan yang sudah dimasak berakhir di tempat sampah karena Aldo jarang pulang.
Sebelum menikah, Zafirah bekerja di sebuah restoran di pulau dewata. Setelah bercerai dan ingin bekerja lagi, ia memutuskan bekerja di ibukota saja agar dekat dengan orang tuanya.
Setelah jam kerjanya selesai dan mengganti pakaiannya, Zafirah memutuskan untuk pergi ke lobi menemui resepsionis untuk bertanya pekerjaan yang mungkin saja menarik minat Zahra.
"Mbak Karina, apa ada lowongan pekerjaan buat saudara ku. Dia lulusan akuntansi. Dia sebelumnya pernah bekerja di bank dan itu tiga tahun yang lalu sebelum menikah," Kata Zafirah.
"Oh kebetulan, Chef Fira. Hotel sedang mencari analisis keuangan. Kalau saudara Chef Fira bersedia, boleh langsung kirim lamaran nya saja. Nanti biar aku yang memberikannya ke bagian HRD," balas Karina.
Zafirah mengangguk. Ia rasa posisi itu juga bagus. Jika Zahra diterima bekerja disini mereka bisa berangkat bersama jika jam kerjanya sama.
"Baiklah. Makasih ya mbak," pamit Zafirah kemudian pergi lantai basement untuk mengambil mobilnya.
Zafirah diberi tau Mama Febi jika Zahra ingin bekerja setelah masa iddah nya berakhir minggu depan. Ia juga sudah mulai menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan dan rencananya Zahra ingin melamar di perusahaan.
"Semoga Zahra cocok sama pekerjaan nya dan bisa melupakan laki-laki jelek itu," gumam Zafirah tersenyum sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
..
Zahra memangku laptopnya dengan tatapan yang fokus sampai tidak menyadari kehadiran Zafirah di sampingnya.
"Astaghfirullah, kamu ngagetin aku," ucap Zahra begitu menyadari keberadaan Zafirah. Zafirah hanya tertawa tanpa suara.
"Kamu sudah memasukkan lamaran kerja kemana saja ?" tanya Zafirah.
"Belum memasukkan. Cuma ada beberapa perusahaan yang sepertinya cocok dengan kualifikasi ku. Ya semoga saja salah satunya bisa menerima ku," jawab Zahra menghembuskan nafas panjang.
Sudah tiga bulan dan sebentar lagi masa iddah nya berakhir. Ia ingin mencari pekerjaan agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Nyatanya waktu tiga bulan untuknya merenung masih belum bisa menyembuhkan luka dihatinya.
"Aku tadi juga bertanya di hotel apa ada posisi yang bisa kamu tempati. Dan katanya di hotel sedang membutuhkan analisis keuangan. Kamu bisa menitipkan lamaran itu ke aku kalau mau," ujar Zafirah memberitahu tanpa memaksa.
"Iya, itu boleh juga. Tapi seminggu lagi aku baru mulai mengirim lamaran," jawab Zahra tersenyum.
"Baiklah. Kalau gitu aku mau memasak dulu. Papa dan Mama pasti pulang malam," kata Zafirah bangkit dari sofa dan menuju dapur.
"Iya mereka pulang malam. Biar aku bantu kamu masak," Zahra pun mengikuti Zafirah setelah meletakkan laptop nya.
...
Aditya menelan makan malamnya dengan ekspresi datar. Seolah apa yang masuk dalam mulutnya hanya sekedar masuk tanpa peduli rasanya.
"Enak tidak, Mas ? aku tadi diajarin sama Mama Lina buat ikan bumbu kuning ini," kata Nadia antusias. Ia pun memakan hidangan yang sama namun wajahnya sangat sumringah.
"Iya enak," jawab Aditya mengangguk dan melanjutkan makannya. Tidak sedikitpun menatap Nadia atau memberi pujian dari hatinya.
"Kamu besok mau dimasakin apa ?" tanya Nadia. Ia tidak memperdulikan wajah datar Aditya karena sudah setiap hari memang seperti itu wajahnya. Meskipun Aditya jarang tersenyum dan tidak memperhatikannya, namun Nadia tetap bahagia karena merasa menang sudah mendapatkan Aditya.
Sudah tiga bulan berlalu, namun sikap Aditya tetap dingin. Ia memang mau memakan masakan Nadia meskipun rasanya tidak sama dengan masakan Zahra.
Aditya mendengarkan nasehat Mama Lina untuk menjalani kehidupan rumah tangga bersama dengan Nadia karena memang ini jalan yang ia pilih sendiri.
"Terserah kamu saja," jawab Aditya kemudian berdiri dari kursinya setelah meminum air putih.
"Mas, besok malam aku ada jadwal periksa kandungan. Kamu nemenin aku kan ?" tanya Nadia penuh harap.
"Jam berapa ?"
"Jam tujuh,"
"Baiklah. Besok aku temani. Sekarang aku mau melanjutkan pekerjaan ku dulu," kata Aditya kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Zahra dulu.
Sejak menikah Aditya dan Nadia tidak pernah tidur di satu kamar. Dan Aditya dengan jelas mengatakan itu pada Nadia. Nadia tidak masalah dengan itu, toh ia sudah hamil anak Aditya.
Barang-barang Zahra yang berada di kamar Aditya pun sudah tidak ada yang tersisa lagi. Setelah palu di ketuk, Zafirah dan Mama Febi mengambil semua barang-barang Zahra entah itu penting atau tidak penting hingga tidak menyisakan sesuatu yang bisa Aditya peluk jika sedang rindu.
Nadia sebenarnya merasakan sesak di dadanya mengingat sikap Aditya yang jauh berbeda dengannya dulu.
Dulu mereka sangat dekat. Tidak ada kecanggungan. Kemana-mana selalu bersama hingga kedatangan Zahra merusak impian Nadia yang ingin menjadi Nyonya Aditya.
Nadia menghapus air matanya yang mulai menetes. Mengenyahkan rasa sakit hati dan lelah menghadapi sikap Aditya selama pernikahan ini. Namun kembali lagi, ia merasa ia menjadi pemenangnya. Dan sampai akhir harus ia yang menjadi pemenang di hati Aditya.
Aditya sudah duduk di depan laptopnya memandang foto-foto Zahra. Melanjutkan pekerjaan hanyalah dalihnya pada Nadia.
Rasa rindu benar-benar menghancurkan nya dari dalam. Aditya benar-benar merasa lemah sejak perceraian nya dengan Zahra. Setiap hari di pelupuk matanya hanya ada wajah Zahra yang tersenyum manis padanya. Lalu perlahan senyum itu berganti dengan tangisan kemudian hilang.
"Zahra, aku merindukanmu," kata Aditya dengan menekan dadanya.
Ia melihat-lihat semua foto Zahra. Ada juga foto mereka yang berpose bersama ketika liburan atau hanya dirumah.
"Kenapa kamu tidak mau memaafkan aku, sayang ? apa selama ini kamu tidak mencintai ku sampai kamu melepaskan hubungan ini," lagi-lagi ia meratapi perpisahannya. Seolah permintaan Zahra tidak sebanding dengan kesalahannya yang hanya tidak sengaja tidur dengan Nadia.
Setelah puas menumpahkan resah dihatinya, Aditya mulai mengecek kembali pekerjaannya yang belum selesai. Ia menjabat sebagai menejer keuangan di sebuah perusahaan properti.
..
penasaran siapa itu.. smngt up ny Thor
sempet kirain genre BL novelnya gegara cover ternyata bukan hehehe
Semangat thor 💪