Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Melihat Maira yang sudah mengantuk berat, matanya berkali-kali terpejam meski tubuhnya masih berdiri karena kedua tangannya terikat, akhirnya Hazel menyerah. Wajahnya menegang sejenak, lalu dia melangkah mendekat.
Hazel membuka ikatan di pergelangan tangan Maira dengan gerakan cepat.
“Jangan ulangi lagi sikap kamu yang tadi,” ucapnya tegas, nyaris tanpa menatap Maira. Setelah itu dia langsung berbalik dan meninggalkan Maira begitu saja.
“Iya, Pak Hazel,” jawab Maira lemah.
Langkahnya tertatih menuju kasur. Begitu tubuhnya menyentuh ranjang, matanya langsung terpejam. Untuk saat ini, dia benar-benar tidak punya tenaga untuk menggoda Hazel. Rasa kantuknya jauh lebih menang.
Keesokan paginya, Maira terbangun karena aroma asing yang menguar dari arah dapur. Dia mengucek mata, lalu berjalan pelan mengikuti bau itu. Begitu sampai di dapur, langkahnya terhenti.
Hazel sedang berdiri di depan kompor.
Pria itu tampak serius mengaduk sesuatu di wajan, lengkap dengan celemek yang melingkar di pinggangnya. Pemandangan yang tidak pernah Maira bayangkan sebelumnya.
Maira duduk di kursi meja makan tanpa suara, menatap Hazel lekat-lekat. Bibirnya melengkung, lalu dia cekikikan sendiri.
"Kalau kayak gini, rasanya kayak adegan drakor," gumamnya dalam hati.
"CEO yang dingin masakin sarapan buat calon korban perasaannya."
Cekikikannya terdengar cukup jelas.
Hazel menoleh, alisnya berkerut.
“Ada yang lucu?”
“Gak ada,” jawab Maira cepat sambil tersenyum, berusaha menahan tawanya.
Beberapa menit kemudian, Hazel membawa sepiring nasi goreng dan meletakkannya di atas meja.
“Saya nggak tahu ini bisa dimakan atau tidak,” katanya jujur, nada suaranya terdengar ragu.
“Tentu saja bisa,” sahut Maira antusias.
Tanpa curiga, dia langsung menyuapkan satu sendok penuh ke mulutnya. Namun baru satu kunyahan, ekspresinya langsung berubah. Wajahnya menegang, lalu dia buru-buru meraih gelas dan meneguk air putih sebanyak-banyaknya.
“Ini bukan cuma nggak bisa dimakan,” oceh nya sambil terbatuk kecil.
“Tapi berisiko bikin darah tinggi, gagal ginjal, sampai serangan jantung!”
Hazel menatapnya kaku dan bingung.
“Pak Hazel,” lanjut Maira serius sambil menunjuk spatula di tangan Hazel.
“Mulai detik ini sebaiknya Anda jangan pernah lagi pegang wajan dan spatula. Kalau nggak mau ada korban berikutnya.”
“Separah itu masakan saya?” tanya Hazel ragu.
Maira mengangguk meyakinkan. Hazel akhirnya memberanikan diri mencicipi nasi goreng buatannya sendiri. Baru satu suapan, wajahnya langsung berubah. Dia ikut-ikutan meraih air dan meneguknya.
“Asin…” gumamnya singkat.
“Nah, kan,” sahut Maira puas.
“Udah, sekarang Anda duduk saja. Biar saya yang buat sarapan.”
Maira berdiri, membuka celemek yang dipakai Hazel lalu memakaikannya ke tubuhnya sendiri. Hazel menurut, duduk di kursi sambil memperhatikan setiap gerakan Maira.
Maira mengambil telur, selada, tomat, dan beberapa lembar roti tawar. Tangannya bergerak cekatan saat memecahkan telur, memanggang roti, menyusun isian sandwich dengan rapi. Gerakannya luwes, seolah dapur bukan hal asing baginya.
Tak lama, sepiring sandwich panggang sudah terhidang di depan Hazel.
“Cobain,” ucap Maira sambil mendorong piring itu sedikit ke arahnya.
“Saya nggak tahu Anda suka pedas atau nggak, jadi saus sambelnya saya kasih sedang saja.”
Hazel mengambil satu potong dan menggigitnya. Dia terdiam di gigitan pertama. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyeruak, bukan hanya dari makanan, tapi dari kenangan lama. Dulu, saat masih sekolah dasar, dia sering membeli sandwich sederhana seperti ini dari gerobak kecil di depan sekolah.
“Gimana?” tanya Maira penasaran, menatapnya penuh harap.
“Lumayan,” jawab Hazel singkat.
Namun Maira bisa melihat, meski wajah Hazel tetap datar, tatapan pria itu sedikit berubah saat mencicipi masakannya.
***
Setelah Hazel berangkat ke kantornya, Maira memilih merebahkan diri di sofa sambil menyalakan televisi. Dia mengganti-ganti saluran hingga menemukan acara komedi favoritnya. Beberapa kali tawanya pecah, cekikikannya terdengar ringan dan lepas saat adegan lucu muncul di layar.
Tanpa Maira sadari, setiap gerak-geriknya kini sedang diawasi. Hazel melihat semuanya melalui ponselnya, dari kamera CCTV yang terpasang di apartemen itu. Tatapannya kosong, sesekali berpindah dari layar ponsel ke jalanan di depan mobilnya.
Tiba-tiba pintu apartemen terbuka.
Maira tersentak. Nadia masuk begitu saja tanpa mengetuk. Perempuan itu memang sudah hafal password pintu apartemen tersebut.
Maira buru-buru mematikan televisi dan berdiri setengah kaku. Suasana mendadak terasa tegang, terlebih saat tatapan Nadia jatuh padanya, dingin dan tak bersahabat.
“Mbak Nadia,” sapa Maira, berusaha terdengar santai meski jantungnya berdegup lebih cepat.
Nadia tidak menjawab. Dia melangkah masuk, lalu duduk di sofa tanpa permisi. Matanya menyapu seisi ruangan apartemen, seolah sedang menilai sesuatu.
“Ini sudah hampir seminggu kamu menjadi madunya Hazel,” ucap Nadia akhirnya.
Dia menyilangkan kaki, menatap Maira tajam.
“Dan kamu juga tahu, minggu depan jatah Hazel menginap di tempat saya.”
“Saya tahu kok,” jawab Maira ringan,tak masalah dan terlihat santai.
Alis Nadia terangkat.
“Lalu bagaimana dengan seminggu ini? Kamu sudah bisa membuat Hazel meniduri kamu?”
Ekspresi Maira langsung berubah. Dia tidak menyangka Nadia akan sefrontal itu. Ada rasa tidak nyaman yang menyelinap, namun Maira berusaha tetap tenang.
“Suami Anda belum menyentuh saya,” ujar Maira tegas.
“Kamu usaha dong,” suara Nadia meninggi, nada kesalnya tak disembunyikan.
“Saya sudah usaha,” balas Maira.
“Dia tidak tergoda sedikit pun. Bahkan saya sengaja memperlihatkan dada, paha, dan...”
“Cukup!” potong Nadia tajam.
Nadia berdiri, menatap Maira dengan sorot mata keras.
“Kamu kira suami saya sama dengan pria hidung belang yang tidur dengan kamu selama ini? Tidak, Maira.”
Maira terdiam, rahangnya mengeras sedikit tersinggung.
“Makanya,” lanjut Nadia.
“Kamu harus pakai cara lain supaya dia mau melakukan itu semua dengan kamu.” Tatapan Nadia menusuk, penuh tuntutan tanpa bantahan.
Di sisi lain, Hazel yang sudah berada di ruangan kantor nya menatap layar ponselnya dengan napas berat. Percakapan itu terdengar jelas baginya. Tangannya mengendur, lalu dia memijat pelipisnya pelan.
Nadia benar-benar sudah berubah. Perempuan yang dulu membuatnya jatuh hati karena kebaikan, keanggunan, kereligiusan, dan kecantikannya, kini terasa asing.
“Mengapa kamu menjadi sejauh ini, Nadia?” lirih Hazel, suaranya pelan terdengar seperti frustasi dan suaranya tenggelam bersama desah napas panjang yang keluar dari dadanya.