Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vacation
Udara di perbukitan Tuscany, Italia, terasa jauh berbeda dengan aroma aspal dan besi di Manhattan. Di sini, udara berbau harum pohon cemara, tanah yang hangat, dan hamparan kebun anggur yang sedang menghijau. Setelah dua tahun yang penuh dengan hiruk-pikuk kekuasaan, skandal, dan kelahiran Alessia, keluarga Xander-Rodriguez akhirnya melarikan diri ke Villa Freya, hadiah ulang tahun pernikahan dari Pablo untuk istrinya.
Liburan ini bukan sekadar perjalanan mewah. Bagi Pablo, ini adalah janji untuk memberikan kedamaian yang sesungguhnya bagi Freya, Nael, dan Alessia—jauh dari pengawalan ketat dan sorotan kamera paparazzi yang biasa mengintai mereka di New York.
...----------------...
Sebuah mobil SUV klasik berwarna cokelat tua melaju perlahan menyusuri jalanan setapak yang dikelilingi pohon cypress tinggi. Di kursi belakang, Nael yang kini berusia tujuh tahun, menempelkan wajahnya ke jendela, matanya berbinar melihat hamparan perbukitan emas.
"Daddy, apakah ini semua milik kita?" tanya Nael dengan rasa ingin tahu yang besar.
Pablo, yang duduk di belakang kemudi—sesuatu yang jarang ia lakukan di New York karena biasanya menggunakan jasa supir—tersenyum tipis melalui cermin tengah.
"Bukan milik kita, Nael. Ini adalah rumah Mommy. Kita hanya tamu istimewa di sini."
Freya, yang duduk di samping Pablo, menggendong Alessia yang kini berusia hampir satu tahun.
Alessia tampak tenang, tangannya yang kecil sesekali mencoba menangkap sinar matahari yang masuk melalui celah jendela. Freya menoleh ke arah Pablo, hatinya penuh dengan rasa haru. Villa itu berdiri di puncak bukit, sebuah bangunan batu kuno yang telah direnovasi dengan sentuhan modern namun tetap mempertahankan karakter klasiknya.
Saat mereka turun dari mobil, keheningan Tuscany menyambut mereka. Tidak ada suara klakson, tidak ada dering ponsel kantor yang berisik—Pablo dan Freya telah sepakat untuk meninggalkan ponsel mereka di dalam brankas selama satu minggu penuh.
"Selamat datang di rumah, Sayang," ucap Pablo sambil membukakan pintu untuk Freya.
Lantai marmer yang sejuk menyambut kaki mereka.
Interior villa itu sangat mencerminkan kepribadian Freya: hangat, terang, dan penuh dengan tekstur alami. Ada jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke kebun anggur yang luas.
"Mom! Lihat! Ada ayunan di bawah pohon besar itu!" Nael langsung berlari menuju halaman belakang yang luas.
Pablo meletakkan tas-tas mereka di lobi dan menghampiri Freya yang masih berdiri terpaku menatap pemandangan dari balkon utama. Ia melingkarkan lengannya di pinggang istrinya. "Apakah kau menyukainya?"
"Ini lebih dari sekadar suka, Pablo. Ini adalah kedamaian yang selama ini aku impikan. Terima kasih telah membawaku pulang ke akar keluargaku," bisik Freya, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya.
...----------------...
Sore pertama di Tuscany dihabiskan dengan berjalan-jalan santai di antara deretan pohon anggur. Pablo menggendong Alessia di bahunya, sementara Nael berlarian di depan mereka, mencoba mengejar kupu-kupu.
"Nael, jangan terlalu jauh!" seru Freya, namun suaranya tidak mengandung kecemasan seperti biasanya. Di sini, di balik pagar batu yang tinggi dan pengamanan tersembunyi, ia merasa benar-benar aman.
Mereka berhenti di sebuah meja kayu panjang yang terletak di bawah pohon zaitun tua. Seorang pelayan lokal yang telah disiapkan sebelumnya menyajikan hidangan sederhana namun otentik: keju pecorino segar, roti focaccia hangat, dan minyak zaitun hasil perasan dari kebun mereka sendiri.
"Ini adalah kemewahan yang sebenarnya," ucap Pablo sambil menyobek roti. "Bukan berlian atau saham, tapi waktu bersamamu dan anak-anak tanpa ada yang mengganggu."
Alessia mulai mengoceh, tangannya meraih sepotong kecil keju yang diberikan Freya.
"Ma... Ma..." ucapnya pelan. Freya tertawa, mengecup pipi bayinya yang kini mulai memerah karena sinar matahari sore.
...----------------...
Malam di Tuscany adalah sebuah keajaiban. Tanpa polusi cahaya kota, langit di atas Villa Freya tampak seperti hamparan beludru hitam yang ditaburi berlian. Pablo membawa teropong bintang antik pemberian Kakek Alan ke teras atas.
"Lihat ini, Nael," panggil Pablo.
Nael mendekat dan menatap melalui lensa teropong. "Daddy! Aku bisa melihat cincin Saturnus dengan sangat jelas!"
"Dulu, Kakek Buyut Alan bilang bahwa bintang adalah pemandu bagi para petualang.
Sekarang, bintang-bintang ini adalah saksi bahwa keluarga kita telah menemukan pelabuhannya," ucap Pablo dengan suara rendah yang penuh wibawa.
Freya bergabung dengan mereka, membawa nampan berisi cokelat hangat. Mereka duduk bersama di atas kursi kayu panjang, dibalut selimut kasmir yang hangat. Alessia sudah tertidur lelap di dalam boks bayi di kamar sebelah, dipantau melalui monitor bayi yang diletakkan di meja.
"Pablo," tanya Freya tiba-tiba. "Apakah kau pernah membayangkan kita akan sampai di titik ini? Maksudku, saat pertama kali kita bertemu di Mansion kakek?"
Pablo terdiam sejenak, menatap kegelapan perbukitan. "Sejujurnya? Tidak. Aku pikir pernikahan kita hanyalah sebuah transaksi. Aku pikir aku akan menghabiskan sisa hidupku hanya dengan ambisi bisnis. Tapi kau meruntuhkan semua logikaku, Freya. Kau mengajariku bahwa hidup tanpa cinta hanyalah sebuah eksistensi yang kosong."
Freya menggenggam tangan Pablo. "Kita telah menempuh perjalanan yang sangat jauh, ya?"
"Dan kita baru saja memulai, Baby," jawab Pablo, mencium kening istrinya di bawah kesaksian rasi bintang Tuscany.
...----------------...
Hari berikutnya, mereka memutuskan untuk pergi ke desa terdekat. Pablo mengenakan kemeja linen sederhana dan celana pendek, tampak seperti turis biasa. Freya mengenakan gaun musim panas dan topi anyaman. Tidak ada jas formal, tidak ada pengawal yang terlihat menonjol.
Mereka berjalan menyusuri pasar lokal yang ramai. Nael sangat senang melihat berbagai jenis buah-buahan segar dan gelato Italia.
"Satu gelato cokelat untuk pria kecil ini, dan satu lemon untukku," pesan Freya kepada penjual gelato yang ramah.
Penjual itu, seorang pria tua dengan wajah penuh kerutan yang ramah, tersenyum pada mereka. "Bella famiglia," (Keluarga yang indah), ucapnya dalam bahasa Italia.
Pablo tersenyum dan membayar. Ia merasa bangga—bukan karena kekayaannya, tapi karena di mata orang asing ini, mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis. Itulah pengakuan yang paling ia inginkan sekarang.
...----------------...
Salah satu momen paling ikonik dalam liburan mereka adalah saat mereka melakukan piknik di lembah Val d'Orcia yang terkenal. Pablo membentangkan selimut besar di atas rumput hijau yang lembut.
Nael sedang mengajari Alessia cara merangkak di atas rumput. "Ayo Alessia, kau pasti bisa! Kejar aku!" seru Nael sambil bergerak mundur dengan lututnya.
Alessia tertawa geli, air liurnya menetes saat ia berusaha keras menggerakkan kaki-kaki mungilnya. Akhirnya, ia berhasil mencapai Nael dan memeluk kaki kakaknya itu.
"Dia melakukannya, Daddy! Alessia merangkak!" teriak Nael bangga.
Pablo dan Freya berpelukan, menyaksikan pemandangan itu. Itu adalah momen sederhana, namun bagi mereka yang hidup di tengah intrik New York, itu adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai harganya.
Pablo mengambil kamera manualnya dan mengabadikan momen itu—sebuah foto yang nantinya akan dipajang di tempat paling terhormat di mansion mereka.
Sore hari dihabiskan di tepi kolam renang yang airnya tampak menyatu dengan cakrawala (infinity pool). Pablo berenang bersama Nael, mengajarinya cara menyelam, sementara Freya duduk di tepi kolam sambil merendam kakinya, membiarkan Alessia bermain dengan air di sebuah kolam plastik kecil.
"Aku merasa seperti terlahir kembali di sini," ucap Freya saat Pablo naik dari kolam dan duduk di sampingnya.
"Aku memikirkan sesuatu," kata Pablo, menyeka air dari wajahnya. "Bagaimana kalau setiap tahun kita menghabiskan waktu sebulan di sini? Tanpa kantor, tanpa media. Hanya untuk mengisi kembali jiwa kita."
"Aku akan sangat setuju dengan itu," jawab Freya. "Nael dan Alessia butuh tempat seperti ini untuk tetap membumi. Di New York, mereka akan selalu dikenal sebagai 'pewaris'. Di sini, mereka hanya Nael dan Alessia."
Malam terakhir di Villa Freya dirayakan dengan makan malam yang lebih istimewa. Pablo memasak sendiri pasta carbonara dengan resep yang ia pelajari dari koki lokal. Freya menata meja dengan bunga-bintang liar yang ia petik bersama Nael di sore hari.
Mereka makan di balkon, ditemani oleh alunan musik klasik Italia yang samar dari pemutar piringan hitam.
"Untuk liburan pertama kita," ucap Pablo, mengangkat gelas anggurnya.
"Dan untuk banyak liburan lainnya di masa depan," tambah Freya.
Nael mengangkat gelas jusnya. "Dan untuk Adik Alessia agar dia cepat besar dan bisa bermain bola denganku di kebun ini!"
Setelah makan malam, mereka berdansa pelan di bawah cahaya bulan. Pablo memeluk Freya erat, menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama musik yang lembut. Di momen itu, mereka merasa dunia milik mereka berdua. Tidak ada beban nama besar Rodriguez atau Xander. Hanya ada Pablo dan Freya.
...----------------...