Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGLIHATAN GHOIB YANG ANEH
Aku sedikit kaget campur rasa tak percaya mendengar jawaban Bu giyem dan Bu Nini. Aku bertanya ke Bu Marsinah, "Beneran Bu? Pak Handoyo yang biasa dagang jajanan anak sekolah itu?"
"Iya Nisa, bener. Lah wong tadi kita bertiga mampir dulu ke rumahnya, di sana udah ada ustadz Furqon juga jenguk Pak Handoyo. Istrinya sampe nangis-nangis juga tadi." jelas Bu Marsinah.
"Astaghfirulloohal 'azhiim... Sakit apa Pak Handoyo Bu?" tanyaku lagi.
"Gak tau Nis, pokoknya aneh banget. Kemaren kan dia masih sehat, masih seger badannya, masih dagang juga. Masa pagi ini perutnya bengkak tiba-tiba?" Bu Giyem menimpali.
"Disantet kayaknya!" tambah Bu Giyem.
"Heh, heh, heh! Mulutmu kalo ngomong!" timpal Bu Marsinah sambil mencubit bibir Bu Giyem agak kencang. Dan ditepis oleh Bu Giyem tangan Bu Marsinah.
"Udah ya Nisa, kita pulang dulu, mau masak." ucapan Bu Nini kemudian.
"Oh, iya Bu... Silahkan..." jawabku.
Lantas mereka bertiga melangkah meninggalkanku di pinggir pagar halaman rumah dengan penuh tanda tanya, sekaligus rasa kasihan kepada Pak Handoyo.
Aku segera selesaikan menyapu halaman rumah, kemudian membakar sampah dedaunan itu di tempat sampah.
Ketika aku kembali ke teras, duduk dilantai, memandangi tempat sampah yang menyala apinya, seketika penglihatan ghoib mata kiriku kembali terbuka. Aku terdiam sambil menajamkan pandanganku. Sepersekian detik seperti muncul sosok Pak Handoyo di tengah api itu. Posisinya terbaring sambil terlihat menahan rasa sakit di perutnya yang membengkak.
"Astaghfirullooh!" ucapku seketika saat melihat itu.
Aku mengusap mata kiriku, dan kembali memandangi kobaran api di tempat sampahku yang semakin membesar itu. Dan sekali lagi aku melihat sesuatu yang mengerikan. Seperti ada sekumpulan paku berkarat yang masuk ke dalam perut Pak Handoyo.
"Astaghfirullooh... Astaghfirullooh..." nafasku sedikit cepat dibuatnya.
Dan aku semakin terkejut bukan main, saat tiba-tiba Dayang Putri sudah duduk di sebelah kiriku sambil memegangi tanganku.
"Tolonglah orang yang bisa kau tolong..." ucapnya padaku.
Aku menatap wajah Dayang Putri. Kali ini wujudnya nampak jelas di mata kiriku meski sinar matahari semakin terang pagi ini.
"Menolong bagaimana Dayang Putri?" tanyaku.
"Akan kubantu..." jawabnya dengan tatapan tajam padaku.
Aku yang masih kebingungan dengan ucapan Dayang Putri, ditambah rasa terkejut melihat sosok Pak Handoyo di tengah kobaran api di ujung halaman sana, dipanggil oleh bapak yang ternyata sudah bangun.
"Hoooaaammm... Ngapain bengong gitu Nis?" ucap Bapak yang baru saja keluar dari dalam rumah. Sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Aku hanya diam sambil menengok ke arah bapak.
"Nis? Nisa?!" suara bapak seperti menyadarkanku dari lamunan.
"Anu Pak... Pak Handoyo..." ucapku agak tertahan.
"Hah? Pak Handoyo? Kenapa tiba-tiba kamu ngomongin Pak Handoyo? Mau jajan kamu ya?" timpal bapak yang agak keheranan, sambil duduk di kursi teras.
"Anu Pak, Pak Handoyo sakit..." jawabku sambil masih terduduk di lantai.
"Jangan ngawur kamu, kemaren bapak ke kebun aja masih lihat dia jalan buat dagang kok." jawab bapak.
"Beneran Pak, tadi ibu-ibu lewat juga ngasih tau Nisa kok, kalo Pak Handoyo sakit. Terus juga barusan Dayang Putri..."
Aku sambil menyebut nama Dayang Putri, menoleh ke sebelah kiriku. Namun sosok Dayang Putri yang barusan muncul, sudah menghilang.
"Apa? Kamu sebut nama siapa tadi?" tanya bapak kemudian sambil menatapku agak serius.
"Dayang Putri siapa maksudmu?" tanya bapak lagi, saat melihatku seperti orang yang kebingungan. Aku seperti tak bisa bicara lagi. Kepalaku seperti sulit mengolah apa yang terjadi.
"Bukan siapa-siapa kok Pak... Gak apa-apa..." akhirnya hanya itu yang bisa ku ucap.