Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bandung — Rumah Besar dengan Rahasia Lama (Elisabet)
Bandung lebih dingin. Udara pagi menusuk lembut saat Elisabet melangkah keluar dari bandara.
Seorang sopir tua menunggunya, tanpa banyak bicara.
Mobil melaju ke arah rumah besar di kawasan lama kota. Rumah itu berdiri megah, dikelilingi pagar tinggi dan pepohonan tua. Dari luar, semuanya tampak terawat. Terhormat.
Ilustrasi rumah Elisabet
Namun Elisabet tahu
kekayaan keluarganya tidak sesederhana itu.
Mobil berhenti perlahan di depan gerbang besi hitam setinggi hampir tiga meter.
Gerbang itu terbuka pelan, seolah mengenali siapa yang datang.
Elisabet menatap ke luar jendela.
Rumah itu masih sama.
Megah. Terlalu megah untuk sekadar disebut tempat tinggal.
Ilustrasi
Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit ruang utama. Lantai marmer memantulkan cahaya seperti cermin. Lemari antik, lukisan mahal, dan patung-patung tua tersusun rapi semuanya berbicara tentang kekayaan.
Kekayaan yang dulu ia terima tanpa bertanya.
Begitu pintu terbuka, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya.
“Bet…”
Suara itu datang lebih dulu.
Pamannya berdiri tak jauh dari tangga, mengenakan setelan rapi. Wajahnya terkejut, tapi senyumnya cepat muncul—senyum yang terlalu siap.
“Tidak ada kabar, tiba-tiba pulang,” katanya, membuka tangan seolah menyambut.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan anggun—ibu tirinya. Wajahnya terlihat kaget, lalu berubah menjadi senyum tipis yang penuh perhitungan.
“Kamu makin cantik,” ucapnya lembut, namun dingin.
Sedikit di belakang mereka, seorang perempuan muda berdiri diam. Kakak angkat Elisabet. Tatapannya campur aduk—terkejut, senang, sekaligus waspada.
“Hai, Elisabet,” sapanya pelan.
Elisabet melangkah masuk. Sepatu haknya berdetak pelan di lantai marmer.
Semua mata mengikuti setiap langkahnya.
“Aku hanya singgah,” kata Elisabet tenang. “Tidak lama.”
Pamannya tertawa kecil.
“Kamu selalu bilang begitu.”
Namun mata Elisabet tidak tertuju pada mereka.
Ia menatap dinding besar di ujung ruangan.
Di sana tergantung sebuah foto besar berbingkai emas.
Ayahnya.
Wajah pria itu terlihat tenang. Senyum tipis. Tatapan yang sulit ditebak.
Orang yang memberinya segalanya—nama, hidup nyaman, dan juga warisan penuh rahasia.
Elisabet mendekat.
Di balik foto itu, ia tahu, tersimpan banyak cerita.
Kesepakatan gelap. Uang yang mengalir tanpa asal yang jelas. Perebutan harta. Nama-nama yang disembunyikan.
“Dia akan senang melihatmu kembali,” kata pamannya, berdiri di samping Elisabet.
“Atau marah,” jawab Elisabet pelan.
Pamannya menoleh.
“Kenapa begitu?”
Elisabet menatapnya. Kali ini langsung.
“Karena tidak semua orang di rumah ini jujur.”
Udara mendadak terasa berat.
Ibu tirinya tersenyum, tapi jemarinya mencengkeram tas lebih kuat.
“Kamu selalu terlalu curiga.”
“Tidak,” jawab Elisabet pelan namun tegas.
“Aku hanya akhirnya berani melihat.”
Ia menoleh ke sekeliling rumah itu.
Harta berkilau di setiap sudut. Namun di balik kilau itu—ada bau kebohongan yang tidak pernah hilang.
Langkah Elisabet terhenti di tengah ruang utama.
Dari arah lorong dalam, suara langkah pelan terdengar—mantap, terukur.
Seorang perempuan muncul, mengenakan kebaya modern berwarna gelap, perhiasan sederhana namun jelas bernilai tinggi. Rambutnya disanggul rapi. Tatapannya tajam, namun hangat.
Ibu kandung Elisabet.
Nyonya utama rumah itu.
“Bet…” suaranya bergetar tipis.
Semua percakapan terhenti.
Elisabet menoleh. Sekejap, ketegaran yang ia bangun sejak turun dari mobil runtuh. Matanya berkaca-kaca.
“Ibu.”
Tanpa ragu, perempuan itu melangkah cepat dan memeluk Elisabet. Pelukan seorang ibu yang lama menahan rindu, lama menahan takut.
“Kamu pulang,” bisiknya. “Akhirnya.”
Elisabet membalas pelukan itu erat. Untuk sesaat, rumah megah itu terasa sunyi. Hanya ada mereka berdua—ibu dan anak yang lama terpisah oleh jarak dan rahasia.
Pamannya berdehem kecil.
“Kami tidak tahu Elisabet akan datang hari ini.”
Ibu Elisabet menoleh, senyumnya tipis namun penuh kendali.
“Rumah ini tidak memerlukan izin untuk menerima anaknya sendiri.”
Ibu tiri berdiri dengan wajah tetap tenang, namun sorot matanya mengeras.
“Tentu saja,” katanya lembut. “Kami hanya terkejut. Lagipula, Elisabet jarang pulang.”
“Jarang bukan berarti asing,” jawab ibu Elisabet tenang. “Dan kehadirannya selalu pantas disambut.”
Elisabet berdiri di sisi ibunya. Ia bisa merasakan kekuatan perempuan itu—cerdik, penuh perhitungan, namun hatinya tetap seorang ibu.
“Kamu kelihatan lelah,” lanjut ibunya, menatap Elisabet. “Kamar lamamu masih terjaga.”
Ibu tiri tersenyum kecil.
“Kamar itu sebenarnya sudah kami rapikan ulang. Beberapa barang lama sudah tidak relevan.”
Ibu Elisabet menoleh perlahan.
“Barang lama sering kali menyimpan kebenaran,” ucapnya halus. “Dan kebenaran tidak pernah benar-benar usang.”
Udara kembali menegang.
Pamannya mencoba menengahi.
“Kita semua keluarga. Tidak perlu membuka hal-hal lama.”
“Justru karena keluarga,” jawab ibu Elisabet sambil menatap lurus,
“hal-hal lama perlu diingat.”
Ibu tiri mengangkat dagunya sedikit.
“Kamu selalu berpikir begitu. Padahal, rumah ini berkembang karena kami tahu kapan harus melupakan.”
Ibu Elisabet tersenyum.
“Dan aku tahu kapan harus menjaga.”
Dua perempuan itu saling menatap.
Tidak ada suara keras. Tidak ada emosi meledak.
Namun di antara mereka—dua kekuatan beradu, sama-sama cerdas, sama-sama berbahaya.
Elisabet menatap pemandangan itu dengan dada berdebar.
Ia sadar, kepulangannya telah mengusik keseimbangan lama.
Ia bukan sekadar anak yang pulang.
Ia adalah bagian dari rahasia yang belum selesai.
Dan di rumah megah itu,
perang tidak akan dimulai dengan teriakan—
melainkan dengan senyum yang terlalu tenang.
Kamar Lamanya — Bayangan Masa Lalu
Elisabet melangkah pelan ke lantai atas. Karpet merah tua berderak halus di bawah langkahnya. Lorong panjang memantulkan cahaya dari lampu kristal, menyoroti lukisan-lukisan keluarga yang sudah memudar warnanya.
Ia berhenti di depan pintu kamar lamanya. Jantungnya berdebar lebih cepat. Pintu itu tampak sama—namun terasa asing.
Tarikan napas dalam, kemudian ia membuka pintu perlahan.
Kamar itu hangat, namun penuh kenangan. Rak buku berderet rapi, meja belajar yang dulu penuh coretan, dan di dinding, foto ayahnya—tampak tersenyum lembut, dengan tangan di sampingnya, wajah Elisabet kecil menempel erat di tubuhnya.
Elisabet menatap foto itu lama, seolah ingin menghirup kembali aroma masa kecil yang hilang. Hatinya terasa getir—bahwa ayahnya sudah tiada, namun jejaknya masih ada di sini, di rumah megah ini, di kamar yang kini terasa sepi namun penuh rahasia.
Di laci meja, Elisabet menemukan beberapa map kuning lusuh. Isinya dokumen-dokumen lama: catatan keuangan, surat-surat diplomatik, dan beberapa halaman bergaris tinta tebal dengan tanda tangan ayahnya.
Salah satu halaman mencatat nama-nama penting—pejabat, pengusaha, bahkan organisasi rahasia yang pernah berafiliasi dengan keluarganya. Elisabet menelan ludah. Rahasia itu bukan hanya tentang kekayaan, tapi kekuatan yang diperoleh dari sesuatu yang tidak seharusnya.
“Jadi ini… warisan ayah?” gumamnya, suara hampir tak terdengar.
Langkah lain terdengar di belakang. Ibu tirinya muncul di ambang pintu, senyum tipis namun menantang.
“Kamu selalu penasaran, Elisabet,” katanya lembut, tapi matanya menyiratkan perhitungan.
Elisabet menoleh. “Ini… hakku untuk tahu. Semua ini milik ayah… dan aku.”
Ibu tirinya mendekat, tangan menempel di pinggir meja. “Hati-hati, nak. Beberapa rahasia terlalu berat untuk seorang anak… bahkan untukmu.”
Elisabet menatapnya, menegaskan keberanian yang tidak akan mundur. “Aku siap. Tidak ada yang boleh menyembunyikan kebenaran dariku. Tidak ada lagi.”
Di sudut ruangan, ibu kandung Elisabet berdiri, menatap putrinya penuh haru. Senyum lembutnya menenangkan.
“Benar, Elisabet. Kamu harus tahu. Tapi ingat mengetahui bukan berarti harus terburu-buru bertindak. Setiap rahasia ada waktunya untuk diungkapkan.”
Ibu tirinya tersenyum tipis, tak kalah licik. “Waktunya… bisa lebih cepat daripada yang kau duga, Elisabet.”
Dua wajah berbeda, dua cara memandang dunia, saling beradu—namun Elisabet tetap teguh di tengahnya. Ia tahu, kepulangannya bukan sekadar kembali ke rumah. Ia telah memasuki arena di mana masa lalu, kekayaan, dan kekuasaan keluarga saling menunggu untuk diperhitungkan.
Elisabet menatap foto ayahnya sekali lagi.
“Semua akan jelas,” bisiknya pada diri sendiri. “Suatu saat… semuanya akan jelas.”
Di luar, kota Bandung mulai sibuk. Lampu jalan memantul di aspal basah. Namun di dalam rumah megah itu, waktu terasa melambat—setiap langkah, setiap tatapan, menyimpan janji bahwa rahasia lama akan terus mengintai, dan pertarungan yang elegan baru saja dimulai.
Bayangan Iblis — Rumah yang Dijaga dan Perseteruan Tersembunyi
Malam itu, rumah megah keluarga Santoso terlihat tenang dari luar. Lampu kristal berkilau, lantai marmer bersih, dan lorong-lorong panjang tampak damai. Namun di balik ketenangan itu, keamanan rumah diperketat dua kali lipat.
Beberapa petugas keamanan baru ditambahkan, patroli dilakukan lebih sering, dan kamera pengawas diaktifkan di setiap sudut. Semua ini dilakukan bukan hanya untuk menjaga rumah dan harta benda, tapi terutama untuk melindungi Aurel, sepupu Elisabet, yang masih muda dan rentan. Ancaman dari orang-orang yang mengincarnya tidak boleh dibiarkan lolos.
Ibu Elisabet sendiri yang mengatur semuanya. Duduk di ruang kerjanya, ia menatap layar monitor yang menampilkan setiap sudut rumah. Suaranya tenang, tapi tegas:
“Tidak ada celah. Siapapun yang mencoba masuk, hentikan sebelum mereka sampai ke dalam. Ingat—ini bukan sekadar rumah. Ini warisan keluarga. Dan keluarga harus aman.”
Petugas keamanan mengangguk tanpa suara, menyadari betapa seriusnya perintah itu. Rumah yang sebelumnya terasa terbuka kini berubah menjadi benteng yang nyaris tak tertembus
...----------------...
VISUAL IBU KANDUNG ELISABET
VISUAL IBU TIRI ELISABET