NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Di dalam rumah mbah Ambar, dua wanita kebingungan karena sudah selesai magrib Dini belum juga pulang. Padahal tidak biasanya Dini pulang terlambat. Jika hendak pergi kemana pun selalu izin. Walaupun ikut les di sekolah setelah ashar seharusnya sudah tiba.

"Dini kemana ya, Bu?" Tanya Ratna. Sudah berkali-kali telepon putrinya tapi hanya operator yang menjawab. Orang tua mana yang tidak akan panik.

"Coba telepon ke sekolah" titah mbah Ambar

 Ratna mengangguk, tidak mau membuang waktu segera menekan tombol telepon sekolah, tapi sama sekali tidak ada yang mengangkat.

"Tidak diangkat Bu, di sekolah pasti sudah tidak ada orang" Ratna menatap mbah Ambar cemas.

Mbah Ambar pun menyarankan agar Ratna telepon Lestari.

"Iya, Bu" Ratna telepon sahabat Dini satu-satunya nomor yang Ratna punya.

"Assalamualaikum..." ucap Lestari.

"Apa Dini masih di rumah kamu, Nak?" Tanya Ratna tanpa basa basi berharap Lestari menjawab 'iya.

"Tidak Tante, Dini langsung pulang dari jam empat tadi. Memang belum sampai di rumah?" Lestari menceritakan ketika berpisah di gang dekat rumahnya.

Deg.

Hening di telepon, Ratna berpikir yang tidak-tidak. Seketika ingat suaminya yang saat ini masih keliaran. Selama berada di desa, Ratna hampir setiap hari telepon bibi khawatir Ringgo ngamuk ketika ia usir dari rumah.

Ratna sedikit tenang karena menurut bibi, Ringgo hanya marah-marah sekali ketika tahu bajunya bibi letakkan di depan pintu. Setelah itu, Ringgo tidak pernah datang lagi. Keadaan toko pun akhir-akhir ini aman, tapi hari ini benar-benar khawatir jika Ringgo nekat menculik Dini.

"Hallo, Tante masih disini?"

Pertanyaan Lestari menyadarkan Ratna dari kegelisahan.

"Oh iya, Nak. Masih" Ratna melanjutkan obrolan tentang Dini.

"Mungkin Dini pergi bersama Pak Aksa, Tan..."

"Oh, kalau gitu saya minta nomor handphone Aksa ya" pungkas Ratna lalu menutup telepon setelah pesan Lestari agar menanyakan Dini ke teman-temannya yang sekiranya dekat dengan anaknya. Ratna menunggu nomor Aksa yang akan di kirim Lestari dengan gelisah.

"Mudah-mudahan Dini hanya pergi bersama Aksa, Na" kata mbah Ambar yang hanya mendengar percakapan Ratna bersama Lestari.

"Jika memang Aksa yang mengajak Dini, awas saja. Guru apa itu," Ratna kesal, jika memang mengajak Dini seharusnya datang ke rumah minta izin atau setidaknya telepon.

"Kok kamu malah marah-marah sama Aksa sih..." mbah Ambar heran, kenapa Ratna selalu sebal kepada Aksa.

"Bagaimana tidak marah coba, guru tapi tidak sopan. Mengajak anak orang tidak minta izin," Ratna ngomel-ngomel tidak karuan.

Mbah hanya mendengarkan saja, jika ia nasehati Ratna saat panas seperti sekarang, sama saja menuang bensin dalam kobaran api.

Tink.

Ratna mendapat kiriman nomor Aksa yang Lestari kirimkan. Tanpa menyimpan lebih dulu, Ratna segera klik.

"Assalamualaikum..." ucap pria terdengar lembut entah berada di mana.

"Waalaikum sallam..." Ratna masih menjawab biasa saja.

"Siapa ya?" Tanya Aksa.

"Kamu ajak kemana anak saya? Dasar guru tidak bisa menasehati muridnya. Seharusnya kamu bisa memberi tahu supaya telepon saya kalau mau pulang terlambat. Kami di sini kebingungan tahu tidak!" Semprot Ratna tanpa ampun, padahal belum tahu Dini bersama Aksa atau tidak.

Mbah Ambar yang duduk tidak jauh dari anaknya itu hanya bisa Istigfar. Kenapa Ratna tidak bisa bertanya baik-baik.

"Maaf... ini Tante Ratna ya? Saya baru pulang dari kota sore tadi, terus ke rumah Ibu. Belum bertemu Dini, Tan. Memang Dini belum pulang?" Tanya Aksa terdengar lembut tidak membalas kata-kata Ratna yang pedas seperti bon cabe level 25.

Ratna pun akhirnya diam, entah malu atau apa ibu satu anak itu hanya dia yang tahu.

"Hallo..." ucap Aksa setelah beberapa detik saling diam.

"Dini pamit les, tapi sampai sekarang belum pulang..." lirih Ratna. Kata-katanya yang meledak-ledak bagai boom pun berubah seperti seruling bambu.

"Kalau gitu biar saya cari Tan."

Ratna hanya bisa mengucap kata terima kasih sebelum menyudahi pembicaraan.

Waktu terus berjalan hingga jam sembilan malam, Dini belum sampai di rumah. Ratna, Aksa dan juga Lestari pun komunikasi melalui telepon saling memberi kabar.

.

Di tempat yang berbeda, setelah mencari Dini ke rumah teman-teman terdekatnya termasuk Marini, tapi tidak ada yang tahu. Aksa menyusuri jalan desa mencari jejak Dini. Tiba di tapal batas yang menjadi saksi bisu atas hadirnya cinta mereka, tempat itu sangat sepi selain terdengar suara jangkrik.

Sorot lampu kendaraan roda empat yang melintas di jalan kecil itu menerpa wajah Aksa. Aksa hanya diam memperhatikan kendaraan yang pada akhirnya berhenti. Tampak mbah Ambar turun dari kendaraan tersebut berjalan tergesa-gesa ke arahnya.

"Aksa... Apa tidak ada tanda-tanda keberadaan cucu saya?" Mbah Ambar bertanya dengan suara serak, sepanjang perjalanan ia selalu menangis karena waktu sudah jam 9 malam, tapi Dini belum ada kabar.

"Belum ada Mbah" Aksa menatap wajah mbah Ambar tapi hanya terlihat samar karena lampu jalanan redup.

Ratna yang turun belakangan pun mendekat.

Plak!

Telapak tangan halus Ratna melayang ke pipi Aksa tapi tetap saja terasa sakit karena sekuat tenaga. Guru itu tidak berkata-kata selain Istigfar dalam hati. Dia menatap wajah Ratna yang tepat di bawah sinar lampu itu tampak merah dan menyala.

Aksa tidak marah mungkin saja hari ini wajahnya tampak lebih tampan, buktinya dua telapak tangan sudah mencium pipinya.

"Ratna!" Pekik mbah Ambar. Dia marah mengapa pula Ratna menampar Aksa.

"Aku cuma mau memberi pelajaran pria ini Bu. Bukankah Dia berjanji akan melindungi Dini tapi mana buktinya?! Anak gadis saya hilang entah kemana!" Ratna menatap Aksa marah, menyimpan air mata.

"Dini itu bukan anaknya Aksa, Na. Seharusnya kamu yang melindungi," mbah Ambar harus memberi pengertian Ratna. Sebab yang Ratna lakukan tidak benar.

Aksa menunduk, menyadari bahwa yang dikatakan Ratna adalah benar. Seharusnya dia telepon Dini setelah pulang dari kota, tapi karena pusing memikirkan ayahnya. Tiba di rumah Wati langsung menceritakan kejadian yang ia alami ketika sampai di kota hingga lupa.

"Sudah Ratna, jika marah-marah begini kamu pikir bisa menyelesaikan masalah? Sebaiknya kita berpikir jernih supaya bisa mencari jalan keluar. Agar Dini secepatnya kita temukan" mbah Ambar sebenarnya tidak kalah sedih, tapi masih bisa berpikir jernih.

Duk!

Ratna membenturkan dahinya ke badan mobil, tangisnya pecah. "Aku takut Dini diculik Ringgo Bu..." ucapnya lirih.

"Kita semua sedih Na" mbah Ambar mengusap pundak Ratna.

 Mendengar kata Ringgo, Aksa teringat ayahnya. "Jangan-jangan Ayah pelakunya" ucapnya tapi tidak dia lahirkan.

"Sekarang juga saya akan mencari Dini ke kota, Tante..." Aksa segera naik ke atas motor.

"Aksa, tunggu Nak, sebaiknya pakai mobil Ratna, kita cari sama-sama" mbah Ambar memegangi motor Aksa.

"Sudah malam Mbah, sebaiknya Mbah dan Tante Ratna beristirahat saja," Aksa salim tangan mbah Ambar minta bantu doa saja, kemudian melesat pergi. Tanpa jaket yang melindungi tubuhnya dari dinginnya malam, Aksa mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi kembali ke kota.

.

Di dalam rumah kontrakan kecil, wanita yang sedang dicari-cari sedang berada di sana. Dalam keadaan terikat, gadis itu berteriak-teriak. "Lepaskan saya!"

...~Bersambung~...

1
Darti abdullah
luar biasa
Eka ELissa
knpa tu Lusi..... entahlah hy emk yg tau.....
Buna Seta: Jangan jangan bunting
total 1 replies
Attaya Zahro
typo kak..yang memberi Burhan bukan Ringgo
Attaya Zahro: Iya kak 😍😍
total 2 replies
Ita rahmawati
ada apa nih dg bu lusi
Ita rahmawati
polisi dateng,,apakah 22 nya ditangkep 🤔
Eka ELissa
nah lohh.... Burhan Ringgo msuk bui.,. tu bersiap udh di jmput mo di bawa ke hotel 🏨🏨🏨 prodeo 😄😄😄😄🤭
Buna Seta: Kapok dia 😁
total 1 replies
neng ade
aku hadir disini thor .. 🙏😍
Buna Seta: Lanjut ya
total 1 replies
Ita rahmawati
aksa kah yg dateng atau orang lain
vj'z tri
🫣🫣🫣🫣 semoga selamat 🫣🫣
Eka ELissa
Lusi pa Ringgo.....yg culik....dini... entahlah hy emak yg tau...
Eka ELissa
aduh....Bu ..dini....di culik tau ...smoga GK knpa2....yaaa......🤦🤦🤦
Bu Kus
lanjut
Fitriah Fitri
pleazee thor ... 2 bab tudey. nti sore up lg kan dr kmrn 1 bab trs up nya
Buna Seta: Lagi galau say, retensi buruk 😭
total 1 replies
vj'z tri
sabar Mak sabar tanya pelan pelan jangan langsung gas 🤭🤭🤭🤭
Ita rahmawati
siapa ya yg nyulik,,lusikah atau ringgo kah atau ada lg orang baru 🤔
Eka ELissa
dini....pak....msih inget kan kmu...😡😡😡
Ita rahmawati
hadeuh siapa nih yg bekap dini
Attaya Zahro
Jangan² nih kerjaan si Bu Lusi,.dan malah membuat Aksa jadi salah paham ma Burhan..
Attaya Zahro
Waduh..Dini di culik..tolong Dini Bang Aksa
Bu Kus
lebih baik jujur aja dini kan Aska gak tahu dengan kamu jujur pasti akan bertindak jangan main curiga nanti kamu nyesel lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!