Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. VIGIL MALAM
..."Di kegelapan yang panjang, harapan dan keputusasaan berperang dalam setiap tarikan napas."...
...---•---...
Matahari terasa berlalu dengan kejam, seperti pasir yang jatuh dari genggaman. Enam jam sejak konfrontasi dengan Ki Darmo. Enam jam Doni tidak bergeser dari sisi Tari.
Ia memberinya air rebusan jahe-kunyit setiap beberapa jam. Mengganti kompres di dahi gadis itu dengan kain yang baru direndam air hangat. Menempelkan dua jarinya di leher Tari, berusaha mendeteksi perubahan sekecil apa pun dari denyut nadinya. Metode primitif, tanpa termometer, tapi satu-satunya yang ia punya.
Tak ada perubahan berarti. Tubuh Tari masih membara, napasnya tetap tersengal dan berbunyi.
Mbok Wulan dan Pak Karso bergantian berjaga. Kadang mereka berbisik doa, lebih sering hanya duduk diam, menatap putri mereka dengan wajah yang seperti topeng lilin yang mulai meleleh.
Karyo sempat keluar, kembali membawa nasi aking dan tempe kering. "Makan," katanya pada Doni.
Doni menggeleng. Perutnya melilit lapar seperti ular yang kelaparan, tapi rasa itu kalah oleh sesuatu yang mengeras di dadanya, sesak yang membuatnya sulit bernapas. Bagaimana mungkin ia bisa menelan sesuap nasi sementara di depannya, seorang anak berjuang antara hidup dan mati?
Sore datang membawa cahaya jingga yang perlahan memudar jadi kelabu, seiring dengan surutnya harapan di dalam gubuk itu. Mbok Wulan menyalakan pelita. Nyala kecil itu goyah, menerangi wajah-wajah lelah dengan cahaya yang rapuh.
Doni meletakkan jari di pergelangan tangan Tari. Denyut nadinya masih cepat, tapi… apakah ia hanya berkhayal, atau benang kehidupan itu terasa sedikit lebih kuat dibandingkan tadi pagi?
"Kau harus istirahat," Karyo membisik, menepuk bahunya. "Kau akan tumbang sendiri."
"Aku tidak bisa meninggalkannya."
"Kau akan sakit lagi kalau terus begini."
Tapi Doni tidak mendengarkan. Fokusnya tertancap pada naik-turunnya dada Tari. Inilah yang dulu ia lakukan di ruang ICU: vigil, pengawasan tanpa henti. Hanya saja di sana ada monitor yang berdetak, alarm yang berdering, oksigen tabung. Di sini, hanya ada telinganya, matanya, dan instingnya yang bergantung pada pengetahuan dari masa yang belum lahir.
Malam semakin pekat. Riuh kampung berangsur lenyap, diganti derik jangkrik dan gonggongan anjing di kejauhan. Angin malam menyusup lewat celah dinding, membawa hawa lembap dan wangi bunga kamboja dari pemakaman, sebuah pengingat yang tak menyenangkan.
Pak Karso akhirnya tertidur di tikarnya, tubuhnya meringkuk. Mbok Wulan masih bertahan, menggenggam tangan anaknya erat-erat, bibir bergerak tanpa suara.
Kelelahan menyerang Doni bagai air bah. Kelopak matanya berat seperti diikat pemberat. Tubuhnya yang masih belum pulih benar memberontak, otot-ototnya berdenyut nyeri. Tapi ia menggigit bibir, memaksa diri tetap terbangun. Satu malam. Hanya satu malam ini.
Karyo sudah terlelap di sampingnya. Pelita mulai redup, minyaknya hampir habis. Bayangan di dinding menari-nari, membentuk ilusi yang menyesatkan mata lelahnya.
Pikiran mulai berkelana ke tempat yang tak diinginkan. Keringat dingin muncul di tengkuknya. Aku ahli bedah, bukan dokter penyakit dalam. Apa yang kuketahui tentang pneumonia abad ke-20 cukup? Apa aku hanya memberi harapan palsu?
Pikirannya melompat ke Ki Darmo. Besok pagi, lelaki itu akan datang. Dan jika Tari…
Doni memejamkan mata, menarik napas panjang. Tidak. Jangan.
Lalu, di penghujung malam yang paling gelap, sebuah gerakan.
Jari mungil Tari berkedut.
Kepalanya, perlahan, berpaling ke samping.
Doni langsung merangkak mendekat, jantungnya hampir melompat keluar dada. Jarinya menyentuh dahi gadis itu dengan napas tertahan.
Dingin.
Benar-benar lebih dingin dari beberapa jam lalu.
Demamnya turun.
Lututnya hampir lemas. Napasnya tercekat, dadanya sesak, tapi bukan karena cemas, melainkan lega yang begitu dahsyat ia tak sanggup menahannya. Ia memeriksa nadi lebih mantap. Menempelkan telinga dekat mulut Tari, napasnya masih berbunyi, tapi derak di paru-parunya sudah tidak seekstrim dulu.
"Mbok Wulan," bisiknya, suaranya serak. "Bangun. Rasakan ini."
Mbok Wulan tersentak, terbuka lebar. "Tari?"
"Dahinya."
Perempuan itu mengulurkan tangan dengan napas tertahan. Sentuhannya ringan, lalu lama. Mulutnya terbuka, tidak ada suara keluar, hanya napas yang berhenti sejenak. Air mata tiba-tiba membanjiri, tapi kali ini, air mata yang lain.
"Pak…" suaranya pecah. "Pak, bangun. Demamnya turun."
Pak Karso terbangun, ikut meraba dahi anaknya. Tangis haru pecah dari lelaki tua itu, sunyi tapi menghancurkan. "Syukur… syukur…"
Karyo mengusap mata, lalu tersenyum lebar ke arah Doni. "Kau berhasil, Don."
Dan di tengah pelukan dan isak tangis itu, Tari membuka matanya.
Bingung. Berkaca-kaca. Bibirnya yang pecah-pecah bergerak.
"Ibu…"
Hanya satu kata, lemah seperti embun. Tapi itu cukup.
Mbok Wulan memeluk anaknya, tubuhnya terguncang oleh isakan. Pak Karso membelai rambut Tari, tak henti-hentinya mengucap syukur. Karyo menepuk-nepuk punggung Doni dengan penuh arti.
Doni menarik napas dalam. Belum selesai. Infeksinya masih ada. Dia harus tetap diawasi, diberi minum, nutrisi. Tapi krisis terberat sudah terlampaui. Gadis ini punya peluang.
Dia akan melihat matahari terbit.
Di luar, ayam jantan mulai berkokok, menyobek selubung fajar. Dan dengan fajar itu, akan datang Ki Darmo.
Doni menatap langit yang mulai berwarna biru kelabu melalui sela-sela atap. Sebuah kemenangan kecil, di medan perang yang sangat besar.
Dunia ini penuh dengan Tari-Tari lain. Penuh dengan penyakit, kemiskinan, dan kematian yang sebenarnya bisa dicegah. Dan kini, dengan pengetahuan sebagai satu-satunya senjatanya, perjalanannya baru saja dimulai.
...---•---...
...Bersambung...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲