Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 28
Reya tak mencari tau atau bahkan peduli dengan kabar mantan suaminya. Ia sempat mendengar jika Reyhan telah berhenti dari pekerjaannya
"Maaf mbak, ini ada supplier yang ngabarin kalau bahan mereka ada warna yang kurang!" Ujar Sisil yang merupakan asisten pribadi Reya
"Apa? Kok bisa!" Reya merasa jika kepalanya ingin pecah, waktunya tinggal sebentar lagi dan masalah mulai berdatangan
"Terus mereka gak punya solusi lain gitu?" Tanya Reya kesal
"Untuk warna yang kita cari mereka ada tapi bahannya sedikit berbeda. Untuk memastikan sebaiknya mbak dateng langsung ke tokonya!"
Sisil memberi saran, Reya mulai berpikir dan sepertinya memang dirinya tidak memiliki pilihan lain
"Ya udah, kamu urus semua ini biar saya yang ke toko itu!"
"Tapi jam segini itu macet banget mbak, saran saya sih mbak Reya jangan pake mobil!" Ujar Sisil membuat Reya kian frustasi
"Terus saya harus terbang gitu?"
"Bukan gitu mbak, gimana kalau mbak Reya pake motor saya aja?" Sisil menawarkan opsi
"Saya gak bisa bawa motor Sisil!" Reya kesal, bagaimana bisa asisten pribadinya itu lupa tentang itu
"Maaf mbak saya beneran lupa!" Ujar gadis manis itu sambil tersenyum "Emm gimana kalau mbak Reya pesen ojol aja?"
Reya berpikir sejenak, jika melawan macet maka akan sangat membuang waktu. Saran Sisil untuk menggunakan ojek online sepertinya membantu
"Ya udah, tolong kamu pesenin! Saya gak punya aplikasinya"
Akhirnya Sisil memesan ojek online untuk atasannya itu
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ojek pesanan Sisil tiba
"Ojeknya udah didepan mbak!"
Reya meninggalkan pekerjaannya dan keluar, hari ini ia sangat sibuk. Beruntung kedua orang tuanya tengah menginap dirumahnya hingga mereka bisa menjaga Arlo
Reya keluar, ia melihat punggung seorang pria yang mengenakan jaket berwarna hijau, Reya mendekat dan berdiri dibelakangnya
"Sesuai aplikasi yaa mas!"
Suara lembutnya membuat sang driver menoleh
"Reya?" Reya terkejut, didepannya adalah Reyhan yang kini telah menjadi pengemudi ojek online
Reya sedikit tak mengenali suaminya itu, wajahnya sedikit tirus ditambah kulit Reyhan yang sedikit lebih gelap dari yang terakhir ia lihat
"Reyhan? Kamu?"
Untuk beberapa saat keduanya diam, Reyhan bahkan melihat lagi nama si pemesan dan itu bukan nama Reya
"Tapi disini namanya Sisil!" Gumamnya dan Reya mendengar
"Dia asisten aku"
Reyhan mengangguk saja "Ayo naik!"
Reya ragu, ia masih terkejut melihat penampilan mantan suaminya itu dengan pekerjaan barunya
"Kamu sekarang driver ojol?" Tanya Reya takut menyinggung perasaan pria itu
"Aku butuh uang Reya. Buat makan, bayar kontrakan, sama kebutuhan Arlo!" Ujarnya
Reya menatap prihatin, selama ini memang Reyhan masih rutin mengirimkan sejumlah uang untuk kebutuhan Arlo
Walaupun sebulan terakhir jumlahnya sedikit berkurang namun Reya tak mempermasalahkan, ternyata itu karena Reyhan tengah kesulitan ekonomi
"Kalau kamu lagi butuh, kamu bisa pakai dulu untuk kebutuhan kamu yang lain, Rey. Soal Arlo, aku masih bisa kok" Ujar Reya
"Arlo masih tanggung jawab aku Reya, aku akan berusaha walaupun sedikit" Reyhan tersenyum "Ayo naik! Tolong jangan dicancel yaa!"
Reya naik, duduk dibelakang Reyhan tanpa memegang pria dihadapannya
Ini pertama kalinya Reya naik motor bersama Reyhan, selama mereka menikah, Reyhan tak pernah mengizinkan Reya naik motor karena takut wanita itu kepanasan
"Mobil kamu kenapa?" Reyhan membuka percakapan
"Gak pa-pa, aku cuma buru-buru aja! Kalau pake mobil takutnya macet" Reya sedikit menaikkan suaranya
Reyhan mengangguk, keduanya kembali diam hingga motor tersebut berhenti didepan sebuah toko kain
"Kamu mau belanja?" Tanya Reyhan
"Enggak sih, cuma mau ngecek bahan aja" Jawab Reya, ia hanya ingin keduanya tetap memiliki hubungan yang baik
"Aku temenin aja yaa! Kamu juga gak punya aplikasi ojol kan?" Reyhan menebak karena tadi Reya menggunakan aplikasi milik asisten pribadinya
"Gak pa-pa emangnya?"
"Iya gak pa-pa, aku temenin belanja aja!" Reyhan turun dari motornya
"Nanti aku lebihin deh bayaran nya!" Reya tersenyum
"Makasih!" Keduanya masuk, Reyhan menunggu diluar, duduk dikursi sembari melihat-lihat membiarkan wanita itu sibuk
Tak lama Reya keluar, ditangannya terdapat beberapa barang sepertinya Reya habis belanja
Melihat wanita itu kesulitan, Reyhan mendekat dan membantunya
"Sini aku bawain!" Reyhan menawarkan
"Gak pa-pa kok Reyhan, aku bisa" tolak Reya, ia masih canggung jika seperti ini
"Kamu kesulitan! Biar aku aja!" Reyhan mengambil paperbag tersebut dari tangan mantan istrinya itu
"Mbak baik banget yaa, akrab benget sama ojol!"
Reya membawa pandangannya pada wanita yang berdiri disampingnya. Wanita itu adalah pemilik toko ini
Orang-orang pasti akan berpikir seperti itu, jika melihat dirinya. Tidak mungkin juga ia memberitahu kan kebenaran jika wanita cantik itu adalah mantan istrinya
"Dia temen saya mbak, makanya deket!" Ujar Reya, membuat Reyhan menatapnya
Ia pikir Reya akan malu mengakuinya, tapi ini Reya malah mengatakan jika mereka berteman
"Oohh, mbak temenan sama ojol?"
"Emang kenapa ya mbak sama ojol? Sama-sama manusia kan" Reya sedikit kesal
"Maaf mbak, maksud saya nggak gitu"
"Ya udah mbak, saya permisi dulu yaa! Nanti untuk barangnya dikirim langsung ke butik saya!" Ujar Reya pada sang pemilik toko
"Iya mbak"
"Ayo Rey!" Keduanya keluar
Reyhan meletakkan belanjaan Reya didepannya lalu menyerahkan helm pada wanita itu
Reya mengenakannya namun ia kesulitan memasang pengait helm nya
Melihat itu, Reyhan mendekat, tangannya terulur memasang pengait helm milik mantan istrinya itu
Tak ada tatapan romantis seperti di film-film, karena Reya benar-benar sudah menghapus perasaannya
Reya tersenyum begitu pengaitnya terpasang "Terima kasih!"
Keduanya saling menatap, suara diperut Reya sepertinya juga terdengar oleh Reyhan
"Kamu laper?"
Reya tersenyum canggung "Aku belum makan dari pagi"
Reyhan menggelengkan kepalanya "Gimana kalau kamu sakit?"
"Mau mampir makan dulu gak?"
"Emm, didepan sana aja! Kayaknya enak!" Reyhan membawa pandangannya kearah yang Reya tunjuk
"Itu dipinggir jalan Reya, kita cafe aja yaa! Nanti kamu sakit perut!" Reyhan tahu jika selama ini Reya tak pernah makan dipinggir jalan
Pernah sekali waktu keduanya masih hidup kekurangan, saat itu Reya bahkan sakit perut hingga dua hari
"Padahal aku gak pa-pa loh!" Reya merajuk dan itu terlihat lucu membuat Reyhan tersenyum
"Kita ke cafe depan sana aja yaa!" Keduanya akhirnya memutuskan untuk menuju sebuah cafe dekat toko
"Kamu aja yang masuk, aku tunggu disini!" Ujar Reyhan setelah membuka pengait helm Reya
"Apaan sih, ayo kita makan bareng!" Reya menarik tangan Reyhan hingga keduanya tiba di dalam Cafe tersebut
"Aku takut kamu malu Reya!"
"Siapa juga yang malu? Ayo!"
Keduanya duduk, Reya memesan beberapa menu yang kini sudah ditata diatas meja mereka