NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 Salah Menduga

“Dia beneran masuk?”

Bisikan Olivia terdengar rapuh, seakan udara dingin dari lorong itu ikut menelan suaranya. Kedua gadis itu berdiri di samping pintu kamar jenazah, tubuh mereka bersandar pada dinding dingin berlapis cat kusam yang mulai terkelupas di beberapa sisi. Hanya dengusan napas yang tersisa, menggantung di udara, tipis dan tidak teratur.

Katerina mengalihkan tatapannya ke Olivia, matanya menyiratkan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan. Perlahan ia menghela napas panjang, berusaha menyingkirkan rasa aneh yang sedari tadi menghantui sejak mereka menapaki lorong menuju ruangan yang jarang dimasuki orang. Bahkan banyak perawat residence sekalipun enggan melangkah ke sana.

“Aku khawatir sama Victoria…” suaranya pecah keheningan, meski nada lirihnya lebih menyerupai gumaman jujur yang terlepas tanpa bisa ia tahan.

Olivia spontan menoleh, menatap wajah sahabatnya yang terlihat serius. Ia sempat menimbang-nimbang sebelum kembali menatap ke depan. “Khawatir kenapa? Karena lukanya? Atau karena ekspresinya?” tanyanya pelan, seolah kedua kemungkinan itu sama beratnya.

“Keduanya,” jawab Katerina cepat, napasnya berat sebelum ia menyilangkan kedua tangan di dadanya. Matanya menatap kosong, mencoba mencari alasan yang bisa meredakan kekhawatirannya. “Kau sadar kan… baru kali ini kita lihat dia seperti itu?”

Olivia mengangguk lambat. “Iya… biasanya dia selalu ceria. Dokter senior juga suka dengan kinerjanya. Meski kadang polos dan sedikit bodoh, dia cepat tanggap. Dia paham detail kecil penyebab luka, kecelakaan, bahkan kasus pembunuhan. Selama ini dia yang paling banyak membantu.” Suaranya melemah di akhir kalimat, seolah mengingat kembali sosok Victoria yang biasanya penuh semangat.

Katerina mengerling tipis, senyum hambar muncul sekilas. “Ya… seharusnya dia masuk dokter spesialis. Atau lebih tepatnya, jadi psikolog.”

Olivia menoleh, matanya menajam. “Kau tahu kan, dokter psikolog itu langsung di bawah perintah manajer Henry. Tidak semua orang bisa jadi psikolog di rumah sakit ini.” Nada suaranya meninggi sedikit, tapi di balik kata-katanya ada ketakutan yang terselubung.

Kata-kata itu membeku, melayang-layang di udara tanpa sanggup menemukan jawaban. Sunyi kembali menelan lorong itu. Hanya suara mesin pendingin udara yang samar terdengar, berpadu dengan detak jam dinding yang mengalun pelan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki menggema dari kejauhan. Irama sepatu yang awalnya tenang, berubah semakin cepat mendekat. Olivia dan Katerina tetap terdiam, terlalu larut dalam pikiran masing-masing hingga langkah itu tidak segera mereka sadari. Hingga akhirnya suara itu berhenti tepat di hadapan mereka, diikuti hembusan napas berat seseorang.

“Kalian berdua lagi ngapain di sini?” suara bariton itu dalam, pelan, tapi cukup membuat keduanya terlonjak kaget.

Olivia dan Katerina spontan menoleh bersamaan. Mata mereka membesar, tubuh menegang melihat sosok yang berdiri beberapa langkah di depan.

“T-Tuan Rico?” suara Olivia terdengar bergetar, seolah lidahnya kelu di tenggorokan.

Nama itu keluar dari bibirnya dengan ragu, seakan ia sendiri tak yakin pria yang berdiri di hadapan mereka adalah benar asisten pribadi Alexander yang sudah dibicarakan oleh mereka sejak Victoria kembali ke rumah sakit.

“A-ahh itu…” ia mencoba bicara, namun kata-kata tak kunjung tersusun rapi. Jemarinya meremas ujung jas putih yang ia kenakan, raut wajahnya gelisah. “Kami… baru selesai periksa jenazah pagi tadi. Besok pagi wali keluarga akan menjemput, jadi… kami hanya memastikan semuanya tertata.”

Katerina, yang berdiri di sebelahnya, cepat-cepat mengangguk, meski jelas terlihat bahwa alasan itu lebih terdengar sebagai benteng darurat ketimbang kenyataan. Matanya sempat melirik singkat ke arah Olivia, mencoba memberi dukungan agar kebohongan itu tampak meyakinkan.

Rico tidak segera menanggapi. Lelaki itu hanya menatap lekat pintu kamar jenazah di belakang kedua gadis itu, seakan mencoba menembus ruang dingin yang terkurung di baliknya. Napas panjang terlepas dari bibirnya, berat dan menandakan keresahan.

“Apa kalian sudah bertemu dengan Victoria?” suaranya pelan, tapi cukup menusuk, membuat suasana yang sudah tegang semakin berat.

Pertanyaan itu menahan keduanya dalam diam. Olivia dan Katerina saling menatap, seolah berharap salah satunya mampu menjawab tanpa harus membuka rahasia yang lebih dalam.

Hingga akhirnya, Olivia memberanikan diri bertanya balik. “Memangnya kenapa?”

Tatapan Rico turun, bayangan murung melintas di wajahnya. Ia tampak menimbang kata-kata yang akan keluar, bibirnya sempat terbuka lalu tertutup kembali, sebelum akhirnya ia bersuara lirih, nyaris seperti pengakuan yang penuh penyesalan. “Tadi aku mengajaknya keluar. Tapi saat di luar… dia terluka. Dan mendapat ancaman yang tidak pantas dari Tuan Reed.”

Kata itu menghantam seperti petir di tengah senyap.

“Tuan Reed?” suara Katerina meninggi tak terkendali, sedangkan Olivia spontan menutup mulutnya, menahan keterkejutannya.

Nama yang baru saja mereka dengar bukan sembarang nama. Sejenak, keduanya membeku, ingatan mereka berkelindan dengan ekspresi murung Victoria, luka di lengannya, serta sikap dingin yang ditunjukkannya sejak tadi.

Seketika dugaan mereka runtuh. Yang mereka kira hanya ulah Rico ternyata melibatkan seseorang yang jauh lebih berpengaruh.

Keterkejutan itu membuat Rico sendiri bingung. Ia menoleh dari wajah Olivia ke Katerina, matanya mencari kepastian seolah ingin memahami kenapa reaksi mereka begitu kuat. “Kenapa?” tanyanya, alisnya berkerut.

Olivia menarik napas tajam, suaranya bergetar saat akhirnya bertanya balik. “Saat kau bawa Victoria, yang katanya untuk membantu pasien darurat itu… di tempat itu ada Tuan Reed?”

“Ya, ada.”

Rico mengangguk pelan, nadanya berat. “Tapi sayangnya korban meninggal di lokasi, bahkan sebelum ambulans sempat tiba. Dan… kasus ini persis seperti yang sudah-sudah tahun ini. Korban tewas dalam keadaan mengenaskan, lalu lokasi kejadian kembali dipalsukan.”

Kalimat itu menggantung di udara, membuat keheningan lorong semakin menyesakkan. Tatapan Olivia dan Katerina perlahan berubah, berganti dengan rasa takut bercampur curiga, seakan kata-kata Rico baru saja membuka pintu ke rahasia yang lebih gelap dari yang mereka bayangkan.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!