NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Aroma Nasi Goreng Dan Sepiring Rasa Bersalah

Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar, jatuh tepat di wajah Hannah yang masih terlelap. Gadis itu mengerjap-erjap, mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih melayang. Selama beberapa detik, ia merasa bingung dengan langit-langit kamar yang asing dan seprai berwarna dusty pink yang membalut tubuhnya.

Ini bukan asrama pondok. Ini bukan kamar di rumah Abah.

Ingatan tentang kejadian kemarin sore menghantam kesadarannya seketika. Ia sudah menikah. Ia berada di rumah Muhammad Akbar.

Hannah melirik jam dinding. Pukul 06.30 pagi.

"Astaghfirullah!" pekik Hannah tertahan. Ia langsung melompat turun dari ranjang.

Ia kesiangan! Biasanya, sebagai santriwati teladan, ia sudah bangun sebelum subuh, mengantre kamar mandi, dan menderas Al-Qur'an. Tadi pagi ia memang bangun untuk sholat Subuh di kamarnya sendiri, tapi karena kelelahan sisa resepsi dan kenyamanan kasur empuk yang menggoda, ia ketiduran lagi setelah wirid.

Kepanikan melanda Hannah. Apa kata Mas Akbar? Istri macam apa yang bangunnya kalah pagi dari matahari?

Dengan gerakan kilat, Hannah menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi dalam. Ia mandi secepat kilat, mengenakan gamis rumahan yang sopan berwarna toska, dan membalut kepalanya dengan jilbab instan.

Saat ia membuka pintu kamarnya untuk keluar, aroma lezat langsung menyerbu indra penciumannya. Wangi bawang putih yang ditumis, aroma terasi bakar yang samar, dan bau khas telur dadar.

Perut Hannah berbunyi nyaring. Namun, rasa laparnya langsung tertutup oleh rasa malu yang luar biasa.

Ia mengendap-endap menuju sumber bau. Di dapur bersih yang menyatu dengan ruang makan itu, pemandangan di depannya membuat langkah Hannah terhenti.

Muhammad Akbar, suaminya, sedang berdiri di depan kompor. Laki-laki itu sudah mandi dan terlihat segar. Ia mengenakan kaos oblong putih polos dan celana kain santai. Lengan kaosnya sedikit ketat membungkus otot bisepnya yang terbentuk karena kerja keras. Tangan kanannya sibuk mengaduk nasi di wajan, sementara tangan kirinya memegang piring.

Akbar tampak begitu luwes. Tidak canggung sama sekali.

Ya Allah, mau ditaruh di mana mukaku? batin Hannah menjerit. Istri tidur pulas, suami masak di dapur. Ini terbalik!

"Ehem," dehem Hannah pelan, mencoba memberitahukan keberadaannya.

Akbar menoleh. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya saat melihat Hannah berdiri kaku di dekat kulkas.

"Sudah bangun, Dek? Pas sekali, nasinya baru matang," sapa Akbar santai, seolah tidak ada yang salah dengan situasi ini.

Hannah berjalan mendekat dengan kepala tertunduk, meremas jari-jarinya. "Ma... maafkan Hannah, Mas. Hannah ketiduran habis Subuh tadi. Harusnya Hannah yang masak."

Akbar mematikan kompor, lalu menuangkan nasi goreng kampung buatannya ke dalam dua piring.

"Nggak apa-apa. Mas tahu kamu capek. Kemarin seharian berdiri salaman sama ratusan tamu, wajar kalau badanmu remuk," jawab Akbar tanpa nada menyindir sedikit pun. Ia membawa dua piring itu ke meja makan. "Duduklah. Kita sarapan dulu."

Hannah duduk di kursi yang berhadapan dengan Akbar. Kecanggungaan di udara terasa begitu pekat, lebih pekat dari asap nasi goreng yang mengepul. Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan rumah itu.

Hannah menyuapkan satu sendok nasi goreng itu ke mulutnya.

Rasanya... enak. Sangat enak. Bumbunya pas, gurihnya terasa, dan ada potongan cabai rawit yang menambah selera.

Kenyataan ini justru membuat Hannah semakin merasa kecil. Suaminya mapan, tampan, sholeh, sabar, dan ternyata jago masak. Lalu, apa gunanya Hannah di sini?

Hannah meletakkan sendoknya perlahan. Ia tidak bisa melanjutkan makan dengan perasaan bersalah yang menggunung di dadanya.

"Mas..." panggil Hannah lirih.

Akbar menghentikan suapannya, menatap Hannah dengan alis terangkat. "Kenapa? Nggak enak ya? Keasinan?"

Hannah menggeleng cepat. "Enggak, Mas. Ini enak banget. Justru itu..." Hannah menelan ludah, mengumpulkan keberanian. Ia teringat kitab Uqudullujain yang pernah dikajinya di pesantren tentang kewajiban istri melayani suami.

"Mas Akbar, Hannah tahu pernikahan kita ini lewat perjodohan. Hannah juga tahu Mas Akbar sangat baik memberi Hannah kamar sendiri dan privasi," ucap Hannah, suaranya sedikit bergetar namun matanya menatap Akbar sungguh-sungguh. "Tapi, tolong jangan ambil semua peran Hannah."

Akbar terdiam, mendengarkan dengan saksama.

"Hannah mungkin belum bisa jadi istri yang sempurna buat Mas. Hannah belum bisa melayani kebutuhan batin Mas karena Hannah masih butuh waktu..." wajah Hannah memerah padam saat mengatakan itu, "tapi untuk urusan rumah, masak, nyuci, dan siapin baju kerja Mas... izinkan Hannah yang kerjakan."

Hannah menarik napas panjang. "Hannah merasa nggak berguna kalau cuma numpang makan dan tidur di rumah ini. Hannah ingin dapat pahala juga, Mas."

Akbar meletakkan sendoknya, lalu menatap Hannah lekat-lekat. Ada sorot kagum di mata laki-laki itu. Ia melihat tekad yang kuat di balik tubuh mungil istrinya. Akbar tahu, Hannah sedang berusaha menempatkan diri, berusaha mencari "fungsinya" dalam ekosistem baru ini.

"Hannah," suara Akbar melembut. "Mas masak pagi ini bukan karena Mas menganggap kamu malas. Mas cuma mau memanjakan istri Mas di hari pertamanya di rumah baru."

Hati Hannah mencelos hangat mendengar kata 'memanjakan'.

"Tapi..." lanjut Akbar, "kalau melayani suami bisa membuatmu merasa lebih baik dan merasa lebih memiliki rumah ini, Mas izinkan. Dengan senang hati."

Mata Hannah berbinar. "Beneran, Mas?"

"Iya. Tapi ada syaratnya," potong Akbar cepat.

"Syarat?"

"Lakukan semampumu. Jangan dipaksakan," tegas Akbar. "Kamu akan mulai kuliah minggu depan. Jadwalmu bakal padat. Mas nggak mau kamu kelelahan mengurus rumah sampai tugas kuliahmu terbengkalai. Kalau capek, bilang. Kita bisa beli makan atau panggil laundry. Mas menikahimu untuk jadi teman hidup, bukan asisten rumah tangga. Paham?"

Hannah mengangguk mantap, senyum lebar pertamanya pagi itu akhirnya terbit. "Paham, Mas. Insya Allah Hannah bisa atur waktu."

"Ya sudah, habiskan makannya. Nanti dingin," perintah Akbar sambil kembali menyendok nasinya.

Suasana di meja makan perlahan mencair. Rasa canggung itu masih ada, tapi tidak lagi mencekik.

Selesai makan, Hannah dengan sigap membereskan piring kotor.

"Biar Hannah yang cuci, Mas siap-siap saja," cegah Hannah saat Akbar hendak membawa piringnya ke wastafel.

Akbar menurut, membiarkan istrinya mengambil peran. "Mas mau mandi dulu kalau begitu. Nanti tolong siapkan baju kerja Mas ya."

"Bajunya di mana, Mas?"

"Di lemari kamar Mas. Pilihkan saja yang menurutmu bagus. Kemeja ada di gantungan sebelah kiri," jawab Akbar sambil berlalu menuju kamarnya.

Jantung Hannah kembali berdegup kencang. Masuk ke kamar Mas Akbar? Membuka lemarinya? Itu terdengar sangat intim.

Setelah mencuci piring dengan cepat, Hannah mengeringkan tangannya dan berjalan menuju pintu kamar di seberang lorong. Pintu itu terbuka sedikit.

"Permisi..." gumam Hannah pelan meski tidak ada orang di sana Akbar sedang di kamar mandi.

Kamar Akbar jauh lebih maskulin dan minimalis dibanding kamarnya. Wangi musk menguar kuat di sini. Hannah berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan.

Saat ia membuka pintu lemari, deretan kemeja kerja yang tersusun rapi berdasarkan gradasi warna menyapanya. Akbar benar-benar orang yang terorganisir.

Tangan Hannah menyentuh kain-kain kemeja itu. Ia merasa gugup, seolah sedang menyentuh privasi suaminya. Pilihan Hannah jatuh pada kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang terlihat cerah namun kalem, dipadu dengan celana bahan abu-abu gelap.

Ia meletakkan setelan itu di atas ranjang Akbar, lengkap dengan ikat pinggang dan kaos kaki yang ia temukan di laci.

Saat ia hendak keluar, matanya tertumbuk pada nakas di samping tempat tidur. Di sana, tidak ada foto Hannah. Namun, ada sebuah buku catatan kecil dan Al-Qur'an saku yang terlihat sering dibaca.

Hannah tersenyum tipis. Ia baru sadar, melayani suami sekadar menyiapkan baju ternyata memberikan rasa kepuasan tersendiri di hatinya. Rasa dibutuhkan. Rasa bahwa ia adalah bagian dari hidup seseorang.

Saat Akbar keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang dan Hannah buru-buru memalingkan wajah serta kabur keluar kamar sebelum melihat terlalu banyak.

Mohon klik suka 🤗❤🤭

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!