“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP26
Bandit-bandit organisasi itu tewas massal, tergeletak di atas tanah dengan peluru bersarang di kepala masing-masing.
Di antara kepulan asap dan debu yang masih berterbangan, Bella berlari cepat dalam posisi merunduk, melewati pagar kawat yang telah ambruk akibat ledakan.
Jemarinya menggenggam erat teropong termal—alat optik yang memungkinkannya mendeteksi panas tubuh di tengah asap, kabut tebal, bahkan di saat cuaca buruk. Matanya tajam menyapu keadaan sekitar melalui lensa itu, mencari pergerakan sekecil apa pun.
Tangan satunya tetap siaga, menggenggam pistol yang telah dipasangi peredam. Larasnya bergerak pelan mengikuti arah pandang Bella, siap meletus kapan saja bila ancaman muncul.
Bella melangkah tanpa ragu, menyusuri jalan setapak dan menerobos semak belukar. Namun, langkahnya mendadak berhenti.
“Toloooong!”
“Tolong kamiiii ...!”
DOR!
AKKKHHHHH!
Dari kejauhan, Bella menangkap beberapa suara meminta tolong, lalu disusul suara tembakan dan jeritan ketakutan.
Bella segera menggeser teropong termalnya ke arah datangnya suara. Siluet panas tampak bergerak di timur laut. Ia semakin mempercepat langkah, berlari rendah di antara pepohonan hingga akhirnya berhenti tak jauh dari tanah lapang—area hutan yang telah digunduli.
Dan apa yang dilihatnya di depan sana membuat matanya membeliak. Ia lekas berbalik badan dan bersandar di balik batang pohon sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Biadab! Jahannam!” desisnya, campuran terkejut dan murka.
Di tanah lapang itu, mahasiswa-mahasiswi KKN yang diculik dari balai desa terkurung dalam satu kandang berjeruji besi. Tubuh mereka berdesakan di dalam kerangkeng sempit, bak hewan ternak menunggu giliran disembelih.
“Jangan bertingkah kalian!” bentak salah satu penjaga berbadan besar. Ia mengangkat barbel di tangannya, memainkannya santai seolah sedang berada di pusat kebugaran. “Cuma demi ngawasin barang-barang murah kayak kalian, aku sampai harus olahraga di sini.”
Beberapa mahasiswa terisak. Ada yang memeluk lutut, ada pula yang menutup telinga, berusaha tak mendengar.
“Kalian jangan nguji kesabaran abang ini,” timpal rekannya dengan kekehan ringan, laras senjatanya ia ayunkan sembarangan ke arah kandang. “Kalau bukan karena kalian udah dibayar lunas sama para Elit, peluru tadi pasti udah nembus kepala kalian, bukan cuma dilepas ke udara.”
Salah satu mahasiswi menjerit pelan, mundur hingga punggungnya membentur jeruji dingin — membuat si pria berbadan besar berdecak kesal dan menatap tajam.
“Lagian, kalian tereak-tereak itu biar apa?” pria berbadan besar itu meludah ke tanah, sorot matanya angkuh. “Biar ada yang nolongin? Cih, jangan mimpi. Siapa pun yang masuk ke pulau ini, nggak bakal ada yang bisa keluar hidup-hidup.” Ia mendekat ke kandang, membentur jeruji dengan barbel hingga berdentang nyaring. “Jadi simpan tenaga kalian. Kalian bakal butuh itu buat lari ... saat pintu kandang ini dibuka nanti.”
“Udah, Bro. Nggak usah galak sama orang-orang yang bentar lagi mau mampus,” ujar rekannya santai. “Kasian.”
“Tumben kau punya belas kasihan.”
Dua anggota VIP itu tergelak, membuat seorang mahasiswa yang dikenal paling rajin beribadah mengangkat kepala. Wajahnya pucat, tapi tatapannya berkilat.
“Jangan sombong kalian!” ucapnya lantang. “Jangan mendahului Tuhan. Ajal nggak ada yang tau. Bahkan untuk satu detik ke depan ... bisa jadi kalian yang lebih dulu mati.”
Tangan si penjaga berbadan besar itu menjulur di antara jeruji, berusaha menyambar kerah baju mahasiswa tadi. “Ngomong apa kau barusan, Bangsat?!”
Jeruji besi bergetar saat ia mengguncangnya dengan emosi. Di dalam kandang, beberapa mahasiswa menjerit panik, mundur menjauh. Namun tidak dengan mahasiswa tadi, ia tetap berdiri di tempatnya, menatap lurus tanpa berkedip.
Bukan tanpa sebab. Sejak tadi ia menyadari kehadiran sosok sang dosen yang bergerak senyap di antara pepohonan dengan pistol teracung di tangannya.
Maka, ia sengaja memancing amarah dua penjaga itu—mengalihkan perhatian mereka, memberi celah bagi penyelamatnya untuk mendekat tanpa terdeteksi.
‘Target terkunci!’ Bella menyeringai tipis, kemudian ia bersiul kencang.
Fweeeiiit!
Kedua penjaga itu refleks menoleh bersamaan. “Siapa di sana—”
Thup!
Senjata api di tangan Bella meletus dengan suara teredam.
Kepala penjaga berbadan besar itu tersentak. Tubuhnya roboh seketika.
Thup!
Peluru kedua menembus pelipis rekannya. Ia terhuyung setengah langkah sebelum ambruk di samping temannya.
Para mahasiswa-mahasiswi itu menjerit. Rasa takut dan lega bercampur menjadi satu.
“Bu Nikeeen!”
“Hiksss, kami takuuut!”
Bella segera mengangkat telunjuk ke bibir. “Sst!”
Mereka tercekat, menahan isak.
Bella bergerak cepat mendekat, berjongkok di samping dua tubuh yang tergeletak. Tangannya merogoh saku celana salah satu penjaga, mencari kunci gembok. Jarinya menemukan gantungan besi kecil.
“Ketemu.”
Ia berdiri dan berbalik ke arah kandang, berniat membuka jeruji. Namun, salah satu mahasiswi menjerit histeris ketika melihat satu bandit membidikkan senjata ke arah sang dosen.
“Bu Niken, awaaas!”
DOR!
*
*
*
Marhaban ya Ramadhan 🌙
Untuk para pembaca yang menjalankan ibadah puasa, semoga bulan suci ini menjadi ruang untuk menenangkan hati, membersihkan jiwa, dan menguatkan iman.
Semoga setiap doa yang dipanjatkan di sepertiga malam dikabulkan, setiap sabar diganti pahala berlipat, dan setiap langkah kebaikan dicatat sebagai keberkahan.
Semoga Ramadhan ini membawa kedamaian, kesehatan, serta rezeki yang dilapangkan untuk kita semua. 🤍
tapi aku sangat suka.
maaf thor apa ada ceritanya sebelum mereka dewasa? maksudnya sewaktu ayahnya Edwin masih muda?
kalau ada pasti seru.
terimakasih telah menyuguhkan cerita yang epik , keren dan banyak ilmu yang bisa di ambil ..
lanjutkan karyamu thor .👍👍👍😘😘
rajin ibadah kok nyosor?
padahal kan durung halal?
maaf .,... maaf saya hilaf " kata abirama"
🤣🤣🤭
tapi dibalik kekejaman dan kesadisan itu kita jadi tahu yang namanya ilmu KEDOKTERAN.
makanya sekolah di bidang kesehatan Mahal dan membutuhkan sangat banyak biaya dan otak.
maaf kak baru kasih komentar, soalnya masih menyimak 🤭🤭
aku suka karya kakak , meskipun banyak adegan kekerasan dan menyimpang, tapi karyamu keren 👍👍👍
ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴɴ
Cerita mereka slalu menarik dan bikin penasaran.
Makasih utk karyanya Kaka.
semoga cepet pulih kembali dan menghasilkan karya karya novel kembali ya 🫶