"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Fajar menyingsing di ufuk timur, membiaskan warna jingga kemerahan di atas permukaan laut yang tenang.
Bunyi klakson kapal yang berat dan bergema menandakan bahwa Ocean Empress mulai memasuki dermaga pelabuhan utama.
Arkan terbangun lebih dulu. Ia merasakan beban hangat di dadanya dan tersenyum melihat Gladis masih terlelap dengan sangat tenang. Namun, tugas sebagai Kapten memanggilnya.
Dengan sangat hati-hati, ia memindahkan kepala Gladis ke bantal dan bangkit untuk mengenakan seragam kebesarannya.
Baru saja ia selesai merapikan lencana di bahunya, pintu kabin diketuk pelan.
Arkan membukanya dan menemukan Gerald sudah berdiri di sana dengan tablet di tangan.
"Kapten, kita sudah bersandar. Pihak kepolisian internasional dan tim kejaksaan sudah berada di dermaga. Paman Dayu juga terdeteksi berada di kantor pusat pelabuhan, dia sepertinya berniat melarikan diri menggunakan jet pribadi pagi ini," lapor Gerald dengan nada mendesak.
"Jangan biarkan dia melangkah satu senti pun keluar dari pelabuhan ini," perintah Arkan dingin.
Gladis menggeliat, terbangun karena suara percakapan itu.
Ia duduk di tempat tidur, mengusap matanya, dan menyadari bahwa momen yang menentukan telah tiba.
"Arkan? Kita sudah sampai?"
Arkan menghampiri Gladis, duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangannya.
"Ya, Sayang. Waktunya menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Pamanmu sedang mencoba melarikan diri. Apa kamu cukup kuat untuk melihat keadilannya hari ini?"
Gladis menarik napas panjang, menguatkan hatinya.
"Aku ingin melihatnya, Arkan. Aku ingin dia tahu bahwa aku masih hidup dan aku tidak akan membiarkan dia merusak warisan Mama."
Beberapa saat kemudian, di area VIP pelabuhan, Dayu tampak terburu-buru menyeret koper hitamnya.
Wajahnya gelisah, terus-menerus melihat ke arah jam tangan. Namun, langkahnya terhenti saat sekelompok petugas berseragam hitam memblokir jalannya.
"Dayu Pratama?" tanya seorang petugas kepolisian.
"I-iya, ada apa ini? Saya punya jadwal penerbangan penting!" bentak Dayu, mencoba menutupi kegugupannya.
"Anda ditahan atas tuduhan korupsi, pencucian uang, dan percobaan pembunuhan berencana terhadap Nona Gladis."
Dayu tertawa hambar saat mendengar perkataan dari polisi.
"Pembunuhan? Itu konyol! Keponakan saya sudah hilang di laut lepas karena badai. Itu kecelakaan!"
"Siapa yang bilang aku hilang, Paman?"
Suara jernih itu membuat tubuh Dayu membeku. Ia berbalik dan melihat Gladis berjalan anggun di samping Arkan yang gagah mengenakan seragam kaptennya.
Arkan berjalan dengan tongkat, namun auranya begitu mengintimidasi.
Wajah Dayu seketika pucat pasi, matanya membelalak seolah melihat hantu.
"G-gladis? Kamu? Bagaimana mungkin?"
"Laut tidak menginginkanku, Paman. Dan Mama juga sepertinya ingin aku melihatmu memakai borgol itu," ucap Gladis dengan nada dingin yang belum pernah Dayu dengar sebelumnya.
Arkan melangkah maju, berdiri di depan Dayu. "Permainanmu selesai.
Semua bukti sabotase dari Alex dan aliran dana gelap dari perusahaan Widya sudah berada di tangan jaksa. Jangan harap kamu bisa melihat matahari luar untuk waktu yang sangat lama."
Klik!
Sepasang borgol besi melingkar di pergelangan tangan Dayu.
Ia terjatuh lemas di lantai pelabuhan, menyadari bahwa seluruh kekuasaan yang ia bangun di atas penderitaan keponakannya telah runtuh dalam sekejap.
Ruang tahanan sementara di kantor polisi pelabuhan itu terasa dingin dan pengap, berbanding terbalik dengan kemewahan kapal pesiar yang baru saja mereka tinggalkan.
Dayu diseret oleh dua petugas kepolisian melewati lorong jeruji besi dengan langkah gontai dan wajah yang tertunduk lesu.
Namun, langkahnya terhenti saat petugas membawanya masuk ke sebuah ruangan tunggu sebelum proses administrasi lebih lanjut.
Di sana, duduk seorang pria dengan pakaian kumal dan wajah penuh lebam.
Mata Alex yang merah menyala seketika berkilat saat melihat sosok Dayu masuk ke ruangan yang sama.
"Hahaha! Lihat siapa yang datang!" tawa Alex pecah, terdengar sangat getir dan penuh kebencian.
Ia mengangkat kedua tangannya yang terikat borgol besi ke udara.
"Selamat datang di neraka, Pak Tua. Ternyata uangmu tidak cukup tinggi untuk menyuap maut, ya?"
Dayu menatap Alex dengan tatapan tajam yang penuh rasa jijik.
"Diam kamu, Alex! Ini semua salahmu! Kalau saja kamu becus menyingkirkan mereka di pulau itu, kita tidak akan berakhir di sini!"
"Salahku?" Alex berdiri dengan kasar, membuat kursi besi yang ia duduki berderit nyaring di lantai beton.
"Kamu yang serakah! Kamu menyuruhku menyabotase kapal dengan ribuan nyawa di dalamnya hanya karena harta seorang gadis kecil! Sekarang lihat, gadis 'kecil' yang kamu remehkan itu justru yang menjebloskan kita ke sini!"
Arkan dan Gladis berdiri di balik kaca transparan satu arah, menyaksikan perselisihan dua orang yang pernah mencoba menghancurkan hidup mereka.
Gladis menggenggam erat lengan Arkan, melihat paman yang dulu ia sayangi kini saling lempar kesalahan dengan eksekutornya sendiri.
"Mereka saling menghancurkan, Arkan," bisik Gladis pelan.
Arkan merangkul bahu Gladis, menatap kedua pria di balik kaca itu dengan pandangan dingin.
"Pengkhianat tidak akan pernah memiliki kesetiaan, bahkan di antara mereka sendiri. Biarkan mereka membusuk di sana sambil menyesali keserakahan mereka."
Seorang petugas masuk ke ruangan tersebut dan membentak keduanya agar diam.
Dayu jatuh terduduk di kursi panjang, wajahnya menunjukkan keputusasaan yang luar biasa.
Ia tahu, dengan bukti korupsi dan rekaman sabotase yang dimiliki Arkan, tidak akan ada jalan keluar baginya.
Suasana di ruang tunggu itu mendadak mencekam.
Dayu, yang sudah kehilangan segalanya, tertawa terbahak-bahak dengan nada frustrasi.
Matanya menatap Gladis dengan kebencian yang mendalam, sebuah tatapan yang belum pernah Gladis lihat seumur hidupnya.
"Semua ini salah Widya! Dia selalu pilih kasih!" teriak Dayu, suaranya menggema di dinding beton kantor polisi.
"Dia memberikan segalanya padamu, memanjakanmu seolah kau adalah putri mahkota, sementara aku? Aku adiknya sendiri hanya dianggap sebagai bayang-bayang!"
Gladis menggelengkan kepalanya, air mata mulai menggenang.
"Mama menyayangimu, Paman. Dia memberimu posisi di perusahaan!"
"Posisi? Itu hanya remah-remah!" Dayu meludah ke lantai. "Dan yang paling membuatku muak adalah dia menyerahkan seluruh warisan itu pada anak yang bahkan tidak memiliki darah kami! Kamu itu hanya anak pungut, Gladis!"
Kalimat itu menghantam Gladis seperti hantaman ombak yang paling dahsyat.
Jantungnya seolah berhenti berdetak. Genggamannya pada lengan Arkan melemah.
"M-maksud Paman? Apa yang Paman katakan?" bisik Gladis dengan suara yang sangat bergetar.
Dayu menyeringai puas melihat kehancuran di wajah Gladis.
"Widya dan suaminya tidak bisa punya anak. Mereka membawamu dari panti asuhan saat kamu masih bayi hanya untuk menutupi kekurangan mereka! Kamu bukan siapa-siapa, Gladis. Kamu hanya orang asing yang beruntung dicelupkan ke dalam mangkuk emas!"
Gladis mundur selangkah, napasnya tersengal. Dunia di sekitarnya seolah berputar.
Seluruh identitas yang ia miliki selama ini—sebagai putri dari Widya—terasa runtuh dalam sekejap.
"Itu bohong! Paman bohong!" seru Gladis sambil terisak.
Arkan, yang sejak tadi diam, langsung menangkap tubuh Gladis yang hampir tumbang.
Ia menatap Dayu dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Tutup mulutmu, Dayu! Kamu hanya mencoba menghancurkan mentalnya karena kau sudah kalah!" bentak Arkan.
Arkan kemudian membawa Gladis keluar dari ruangan itu, menjauh dari tawa jahat Dayu yang masih terdengar di lorong.
Di luar kantor polisi, Arkan memeluk Gladis dengan sangat erat di bawah rintik hujan yang mulai turun.
"Jangan dengarkan dia, Sayang. Jangan dengarkan iblis itu," bisik Arkan sambil mengecup puncak kepala istrinya yang terguncang hebat.
Gladis mendongak dengan wajah yang basah oleh air mata.
"Arkan, apa itu benar? Apa selama ini aku hidup dalam kebohongan? Apa aku benar-benar bukan anak Mama?"
Arkan memegang kedua bahu Gladis, mencoba menyalurkan ketenangan ke dalam tubuh istrinya yang gemetar hebat.
Sorot matanya tajam namun penuh perlindungan.
"Kamu anak kandung Mama Widya, sayang. Jangan dengarkan paman kamu. Dia hanya sedang berusaha menghancurkanmu karena dia tahu dia tidak akan pernah bisa memilikimu atau perusahaan itu lagi," ucap Arkan dengan nada meyakinkan.
Namun, Gladis menggelengkan kepalanya dengan kuat. Keraguan sudah terlanjur tertanam dalam hatinya.
Ucapan Dayu yang begitu penuh keyakinan dan kebencian tadi terasa terlalu nyata untuk dianggap sebagai angin lalu.
"Tidak, Arkan. Aku butuh kepastian," isak Gladis. Ia menatap Arkan dengan mata yang memerah.
"Paman tidak mungkin mengarang cerita sekejam itu hanya untuk membalas dendam. Aku ingin tahu siapa aku sebenarnya."
Gladis menarik napas panjang, mencoba menghentikan tangisnya meski dadanya terasa sesak.
"Paman, aku ingin melakukan tes DNA. Aku ingin membandingkan sampelku dengan sampel milik mendiang Mama yang mungkin masih tersimpan di rekam medis rumah sakit."
Arkan terdiam sejenak. Ia melihat tekad yang bulat di mata istrinya.
Ia tahu, jika ia melarang, Gladis akan selamanya hidup dalam bayang-bayang keraguan.
"Baiklah," jawab Arkan akhirnya sambil mengusap air mata di pipi Gladis.
"Jika itu bisa membuatmu tenang, kita akan melakukannya hari ini juga. Aku akan meminta Gerald mengatur semuanya di laboratorium terbaik di kota ini."
Arkan merangkul pinggang Gladis, membimbingnya menuju mobil yang sudah menunggu di depan kantor polisi.
"Tapi apa pun hasilnya nanti, Gladis. Ingatlah satu hal. Bagiku, kamu adalah wanita yang aku cintai. Darah apa pun yang mengalir di tubuhmu tidak akan mengubah fakta bahwa kamu adalah istriku, Nyonya Arkan. Dan bagi Mama Widya, kamu adalah dunianya."
Gladis hanya diam, menyandarkan kepalanya di bahu Arkan selama perjalanan.
Pikirannya melayang jauh, membayangkan kemungkinan pahit jika identitas yang selama ini ia banggakan ternyata hanyalah sebuah pinjaman.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget