Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Padamnya Matahari Suci
Kehampaan yang dingin menyelimuti puncak Gunung Surya saat Boqin Tianzun mengungkapkan jati dirinya. Han Ruoli dan Han Feng mencoba bangkit, namun tekanan aura dari Boqin membuat tulang mereka berderit seolah akan hancur.
"Jiwa... Sejati..." bisik Han Feng dengan wajah pucat pasi. "Bagaimana mungkin seorang kultivator Jiwa Sejati menyamar menjadi pelayan di tempat ini?"
Boqin tidak menjawab. Baginya, penjelasan adalah pemborosan napas bagi orang mati. Ia mengangkat tangan kanannya, dan seketika langit di atas sekte berubah menjadi merah darah. Bayangan besar berbentuk wajah iblis muncul di awan—manifestasi dari Jiwa Sejati milik Boqin yang penuh dengan aura pembantaian.
Han Ruoli merangkak mundur, air mata ketakutan mengalir di pipinya yang dulu sombong. "Ampun... Boqin... aku... aku tidak bermaksud menghinamu... aku mencintaimu!"
"Cintamu adalah polusi bagi telingaku." sahut Boqin datar.
Ia menjentikkan jarinya. DAKK! Kepala Han Feng meledak seketika tanpa sempat mengeluarkan suara. Boqin kemudian menatap Han Ruoli yang menjerit histeris. Ia tidak membunuhnya dengan cepat. Ia menggunakan jarinya untuk menarik paksa Jiwa Han Ruoli keluar dari tubuhnya yang masih hidup.
"Kau menghina Sua Mei sebagai pembantuku," bisik Boqin sambil menggenggam jiwa transparan Ruoli yang meronta kesakitan. "Maka jiwamu akan kujadikan bahan bakar untuk lampu minyak di depan rumahku, agar kau bisa melihat kebahagiaan kami selamanya dalam penderitaan yang abadi."
Ia memasukkan jiwa itu ke dalam botol giok penyegel.
Pemimpin Sekte Matahari Suci, ayah Ruoli, akhirnya muncul dari ruang meditasinya setelah merasakan getaran luar biasa. Namun, saat ia melihat pemuda asing yang berdiri di atas mayat anak-anaknya, ia tahu ini bukan lawan yang bisa ia hadapi.
"Siapa kau?! Mengapa kau menghancurkan sekteku?!" raung sang Pemimpin Sekte sambil melepaskan teknik pamungkas Matahari Jatuh.
Boqin Tianzun hanya menatap serangan itu dengan bosan. Saat bola api raksasa itu mendekat, Boqin hanya menghembuskan napas ringan. Bola api itu membeku di udara dan pecah menjadi serpihan es hitam.
"Aku adalah akhir dari kesombonganmu." ucap Boqin.
Dengan satu gelombang tangan, seluruh bangunan di gunung itu runtuh. Boqin menggunakan kekuatan Jiwa Sejati-nya untuk menghancurkan setiap titik saraf murid-murid sekte tersebut secara massal. Ribuan orang tumbang serentak, nyawa mereka terhisap masuk ke dalam Inti Api Matahari yang telah ia jarah, memperkuat artefak tersebut berkali-kali lipat.
Dalam satu jam, Sekte Matahari Suci—yang telah berjaya selama seribu tahun—berubah menjadi tumpukan abu dan tulang. Tidak ada teriakan lagi. Hanya suara angin yang membawa bau kematian.
Boqin Tianzun berdiri di tengah reruntuhan, menatap matahari asli yang mulai terbit di ufuk timur. Dengan kekuatan Jiwa Sejati Level 1, ia kini bisa melakukan Teleportasi Ruang.
Syuuuut!
Dalam sekejap mata, ia sudah berdiri di depan rumah kayu di tepi danau. Ia mengganti jubah hitamnya yang bersimbah darah dengan jubah putih bersih yang ia simpan di cincin penyimpanan. Ia membasuh tangannya di air danau, menghilangkan sisa-sisa bau kematian.
Klon-nya menghilang masuk kembali ke dalam tubuhnya saat ia menyentuh pintu rumah.
"Boqin? Kau sudah selesai meditasinya?" Sua Mei membuka pintu, wajahnya cerah dan penuh kerinduan.
Boqin tersenyum—senyum yang benar-benar tulus dan hangat, yang hanya ia miliki untuk wanita ini. Ia merangkul pinggang Sua Mei dan mencium keningnya.
"Sudah, Mei. Pegunungan itu sangat sunyi, jadi aku memutuskan untuk pulang lebih cepat," ucap Boqin lembut. "Aku membawakanmu hadiah."
Ia mengeluarkan seuntai kalung yang memancarkan kehangatan lembut—sebuah artefak yang ia tempa dari esensi Inti Api Matahari yang telah ia murnikan. Kalung itu bukan hanya perhiasan, tapi pelindung yang akan membakar siapa pun yang berniat jahat pada Sua Mei hingga menjadi abu.
"Cantik sekali..." gumam Sua Mei sambil memeluk Boqin.
Di balik pelukan itu, mata Boqin menatap ke arah kejauhan, ke arah sekte-sekte besar lainnya yang ada di dunia ini. Ia tahu, selama masih ada orang yang bisa mengancam kedamaian ini, tangannya tidak akan pernah berhenti berlumuran darah. Namun di sini, di pelukan ini, ia hanyalah Boqin, suami yang mencintai istrinya.