NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Lampion-lampion di Kota Qinghe menyala satu per satu. Ketika pintu toko ditutup dan papan kayu dibalik menjadi Tutup, Yun Ma dan Ayin membereskan toko tapi pandangan nya tidak lepas dari Yun Ma.

Sedangkan Yun Ma yang merasakan Ayin beberapa kali menatap dirinya dengan mata berkaca-kaca.

Yun Ma akhirnya menghela nafas dan bertanya, " Ayin sebenarnya kenapa kau menapku seperti itu?"

Ayin terdiam sebentar dan akhirnya menjawab dengan sebuah pertanyaan “Nona… kalau mereka tahu nona masih hidup....”

“Mereka tidak perlu tahu,” potong Yun Ma lembut. “Belum sekarang.”

Malam turun perlahan.

Setelah selesai Yun Ma naik ke lantai atas di mana ruang kecil sederhana tempat ia beristirahat.

Begitu Ayin tertidur, Yun Ma duduk bersila di atas dipan kayu.

Ia menutup mata dan dunia pun berubah.

 

Kesadaran Yun Ma ditarik masuk seperti terjatuh ke dalam air yang hangat.

Ketika matanya terbuka, ia kembali berdiri di ruang yang telah mengubah hidupnya Ruang Dimensi

Langit di sana berwarna biru keperakan, tidak berawan namun tidak menyilaukan. Tanahnya datar dan berkilau seperti cermin hitam, memantulkan bayangan dirinya sendiri. Udara terasa padat, sarat energi murni.

Namun kali ini… suasananya berbeda, tidak ada tekanan dan tidak ada lingkaran formasi menyala, yang ada justru Shen Yu duduk di atas batu hitam mengilap, satu kaki tertekuk, satu kaki menjuntai, sedang menyeduh teh.

Ya teh... Uap tipis mengepul dari cangkir batu di tangannya.

Yun Ma berhenti melangkah.“…Aku salah masuk ruang?” tanyanya.

Shen Yu melirik tanpa menoleh penuh. “Tidak.”

“Apakah aku salah hari latihan?” tanya Yun Ma

“Tidak.” jawab Shen Yu singkat

Yun Ma menatap cangkir itu lama.“…Kamu minum?”

“Teh,” jawab Shen Yu datar.

Yun Ma menepuk keningnya sendiri. “Aku kira penjaga ruang hidup dari energi kosmik atau semacamnya.”

Shen Yu menyesap teh dengan elegan,“Ruang ini meniru kehendak pewarisnya.”

Yun Ma mengerjap, “…Tunggu. Maksudmu… karena aku suka teh, ruang ini jadi ada teh?”

“Kurang lebih.” jawab Shen Yu

Yun Ma terdiam beberapa detik, lalu duduk bersila di depannya tanpa izin.

“Kalau begitu,” katanya santai, “besok aku ingin ada gunung emas dan harta yang banyak.”

Shen Yu menatapnya, “Jangan berlebihan.”

“Aku hampir mati terbakar oleh kelicikan mereka dengan hinaan dan juga di rendahkan” balas Yun Ma. “Dan sekarang waktunya aku bangkit dengan hidup lebih dari mereka”

Untuk sesaat Shen Yu tampak… menahan sesuatu. Jika orang lain melihatnya, mereka mungkin tidak sadar, namun Yun Ma memperhatikannya karena sudut bibir pria itu bergerak sangat tipis.

“…Kau terlalu banyak bicara malam ini,” ujar Shen Yu.

Yun Ma tersenyum puas.“Berarti aku makin sehat.”

Malam itu tidak diisi latihan berat.

Shen Yu hanya menyuruh Yun Ma duduk dan mengatur napas.

“Energi di tubuhmu mulai stabil,” katanya. “Jika dipaksa, kau justru melambat.”

Yun Ma mengangguk. “Aku juga merasakannya. Tubuh ini… lebih ringan.”

“Namun jangan lengah.” ujar Shen Yu

“Aku tahu.” jawab Yun Ma

Hening sejenak.

Yun Ma menatap langit perak kosong di atas mereka. “Shen Yu,” katanya tiba-tiba.

“Apa?”

“Kalau suatu hari aku kembali ke ibu kota… apa ruang ini masih bisa kuakses?” tanya Yun Ma

“Selama darahmu mengalir dan jiwamu tidak hancur, iya.” jawab Shen Yu

Yun Ma mengangguk pelan.

“Dan,” tambah Shen Yu, “aku tidak akan pergi.”

Yun Ma menoleh.“…Oh.”

Nada itu sederhana namun entah kenapa dada Yun Ma terasa hangat. “Terima kasih,” katanya akhirnya.

Shen Yu tidak menjawab namun ia menuangkan satu cangkir teh lagi dan mendorongnya ke arah Yun Ma.

Hari-hari berlalu, pagi ke toko obat, siang mengumpulkan informasi ringan dan malam ruang dimensi.

Latihan Shen Yu semakin… aneh, suatu malam, ia menyuruh Yun Ma berlatih mengupas buah tanpa pisau menggunakan energi tipis.

“Mengupas buah?” Yun Ma menatap apel di tangannya. “Aku calon tokoh balas dendam, bukan pembantu dapur.” keluh Yun Ma

“Jika kau bisa mengendalikan energi setipis kulit apel,” jawab Shen Yu, “kau bisa mengiris kebohongan manusia.”

Yun Ma menghela napas. “Kamu selalu berhasil membuat hal sederhana terdengar berbahaya.”

Namun ia tetap melakukannya dan kulit apel terlepas sempurna, “Lihat,” katanya bangga. “Aku bisa buka kedai buah juga.”

“Jangan,” jawab Shen Yu cepat. “Kau sudah cukup merepotkan dengan satu kedai.”

Yun Ma tertawa kecil dan untuk pertama kalinya sejak jatuh ke dunia ini Ia tertawa tanpa rasa takut.

Sementara itu, di ibu kota Gu Changfeng mulai sering melewati Kediaman Yun tanpa alasan jelas.

Ia berdiri di depan puing paviliun Yun Mailan lebih lama dari seharusnya, beberapa prajuritnya saling pandang, bingung. “Nona Yun Mailan… dulu tinggal di sini,” gumamnya suatu malam dan angin berdesir tidak ada jawaban.

Yun Hi, dari balik tirai, memperhatikan semuanya dengan senyum tipis yang mulai retak.

“Kenapa gege sering ke sini…?” gumamnya, benih kegelisahan tumbuh.

Di Kota Qinghe

Seorang pelanggan baru datang ke Toko Obat Feng Ling.

Seorang pria tua berjanggut putih dengan tongkat bambu.

Ia menatap Yun Ma lama.

“Nona kecil,” katanya, “kau punya aroma yang… tidak biasa.”

Ayin langsung siaga. “Apa maksud Anda?!”

Yun Ma mengangkat tangan. “Tidak apa-apa.”

Pria itu tersenyum. “Tenang. Aku tabib kelana. Aku hanya… penasaran.”

Yun Ma tersenyum sopan. “Kalau begitu silakan lihat-lihat.”

Pria itu membeli ramuan biasa.

Namun saat pergi, ia berbisik pelan,“Api yang padam tidak berarti abu itu mati.”

Yun Ma menatap punggungnya.

Shen Yu muncul di ruang dimensi malam itu lebih cepat dari biasanya.“Kau bertemu seseorang menarik hari ini,” katanya.

“Kau tahu?” tanya Yun Ma kaget

“Aku merasakannya.” jawab Shen Yu

Yun Ma menghela napas. “Aku harap hidup tenang ini bertahan sedikit lebih lama.”

Shen Yu menatapnya.“Ketenanganmu tidak akan hilang.”

“Yang hilang,” lanjutnya tenang, “adalah ketenangan mereka.”

Yun Ma tersenyum tipis.“Kalau begitu,” katanya sambil meregangkan badan, “besok… kita latihan apa?”

Shen Yu berpikir sejenak.“…Membuat teh.”

Yun Ma tertegun. “…Serius?”

“Serius.” jawab Shen Yu dan Ia tertawa.

----

Hari hari berlalu dengan cepat hari ini saat Yun Ma akan melakukan latihan yang sesungguhnya, saat Yun Ma memasuki ruang di mensi ia merasakan sebuah tekanan luar biasa langsung menghantam tubuhnya. Kakinya gemetar, napasnya berat, seolah seluruh dunia menindih pundaknya.

“Ingat rasa ini,” kata Shen Yu tiba tiba. “Di dunia luar, kau mati karena lemah. Di sini, kelemahan tidak ditoleransi.”

Yun Ma mengertakkan gigi, "Aku mengerti.”

“Baik,” ujar Shen Yu. “Malam ini kita mulai dengan dasar yang seharusnya sudah kau kuasai di kehidupan pertamamu.”

Ia mengangkat satu jari dan sekejap kemudian, puluhan lingkaran cahaya muncul di udara, melayang dan berputar cepat.

“Serap.” seru Shen Yu

Yun Ma membelalakkan mata. “Se-sekarang?”

“Kau ingin mati lagi?” Shen Yu menatap dingin. “Serap.”

Yun Ma menarik napas panjang dan mengedarkan energi spiritualnya, rasa sakit langsung menyerbu. Energi di ruang dimensi jauh lebih murni dan kasar. Ia merobek jalur meridian yang rapuh, memaksa tubuh Yun Ma menyesuaikan diri. Darah merembes dari sudut bibirnya, namun ia tidak menghentikan aliran.

Ia tahu jika berhenti ia akan tetap menjadi korban. Jam berlalu tanpa waktu, ketika lingkaran cahaya terakhir terserap, Yun Ma terjatuh berlutut, tubuhnya basah oleh keringat dan darah.

Shen Yu berdiri di hadapannya. “Kau lambat,” katanya. “Tapi tidak lari.”

Ia mengulurkan tangan.

Energi hangat mengalir ke tubuh Yun Ma, menutup luka-luka internal dengan cepat.

“Ingat,” lanjut Shen Yu pelan, “api yang membunuhmu dulu berasal dari manusia. Maka kekuatanmu juga harus cukup untuk membakar manusia.”

Yun Ma menunduk. “Aku akan mengingatnya.”

Malam demi malam latihan itu tidak berhenti, setiap malam, setelah toko ditutup, Yun Ma masuk ke ruang dimensi.

Kadang ia dipaksa berdiri berjam-jam di bawah tekanan energi hingga kakinya mati rasa.

Kadang ia disuruh menyalin formasi kuno dengan satu kesalahan berarti disambar petir energi.

Kadang Shen Yu menyuruhnya bertarung melawan bayangan dirinya sendiri yang penuh kebencian dan ketakutan.

“Mengapa kau menangis saat terbakar?” tanya Shen Yu suatu malam.

Bayangan Yun Mailan kecil muncul menjerit di antara api. Yun Ma gemetar. “Karena… aku ingin hidup.”

“Salah,” kata Shen Yu dingin. “Kau menangis karena kau masih berharap pada mereka.”

Bayangan itu berubah menjadi Menteri Yun, Yun Zhe, Yun Hi, dan Gu Changfeng.

“Mereka membunuhmu,” lanjut Shen Yu. “Namun kau masih ingin diingat.”

Yun Ma mengepalkan tangan. Air mata jatuh. “Aku tidak akan berharap lagi.”

“Bagus,” ucap Shen Yu. Ia menjentikkan jari.

Bayangan-bayangan itu terbakar menjadi abu. “Mulai malam ini, kau berlatih teknik Api Sunyi.”

Yun Ma terkejut. “Itu teknik terlarang!”

“Api yang terlihat bisa dipadamkan,” ujar Shen Yu. “Api sunyi membakar dari dalam.”

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!