NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:32.8k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Nasi Goreng Bersama

Jam tujuh kurang lima menit. Adinda duduk di sofa lobi apartemen dengan kaki disilangkan. Wajahnya datar, matanya pura-pura fokus ke jam tangan, padahal jantungnya lumayan berisik.

Dia tidak berdandan heboh. Cuma celana jeans, kemeja flanel kotak-kotak (yang lengannya digulung rapi), dan sepatu kets. Dia tidak mau William berpikir dia antusias banget sama "kencan" ini.

"Ingat, Din. Cuma makan. Jangan baper. Jangan lembek," mantranya dalam hati.

Tepat jam tujuh, sebuah Toyota Innova hitam berhenti di depan lobi. Taksi online.

Pintu penumpang terbuka. William keluar.

Adinda mengangkat alis sebelah. Bos besar itu pakai kemeja putih yang agak kusut, celana chino, dan... sneakers. Penampilannya jauh dari kata rapi, seolah dia baru saja lari dari kejaran RUPS.

William melambaikan tangan sambil nyengir. "Malam. Sesuai pesanan, kan? Bukan mobil mewah."

Adinda berdiri, berjalan santai menghampiri mobil. Wajahnya tetap lempeng.

"Saya kira Bapak sakit," komentar Adinda singkat. "Biasanya Bapak alergi kalau nggak pakai jas tiga lapis."

William tertawa renyah. "Saya lagi mencoba adaptasi dengan habitat kamu, Adinda. Silakan masuk."

William membukakan pintu. Adinda masuk tanpa banyak bicara.

Di dalam mobil, suasananya hening dan agak canggung. Sopir taksi online melirik bingung lewat spion melihat pasangan yang auranya bertolak belakang ini: cowoknya senyum-senyum terus, ceweknya kayak siap mau interogasi maling.

"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Adinda, memecah keheningan.

"Jangan panggil Bapak," protes William. "Ini di luar jam kantor. Saya bukan bos kamu lagi. Panggil William."

Adinda menoleh, menatap William dengan tatapan skeptis. "Lidah saya kaku. Sepuluh tahun saya dilatih buat hormat sama atasan. Nggak bisa langsung ganti haluan."

"Dicoba dong. Wi-lli-am."

"Nggak bisa, Pak," tolak Adinda tegas, jual mahal. "Kalau saya panggil nama, rasanya kayak saya lagi marahin bawahan."

William menghela napas pasrah, tapi dia masih senyum geli. "Oke, pelan-pelan. Terserah kamu deh. Kita ke Menteng. Nasi goreng gila."

Warung nasi goreng di pinggir jalan itu berisik dan penuh asap. William tampak sedikit kikuk saat harus duduk di kursi plastik yang agak miring, tapi dia berusaha keras terlihat nyaman.

Adinda duduk di depannya, melipat tangan di dada. Dia memperhatikan gerak-gerik William yang sibuk mengelap sendok pakai tisu sampai lima kali.

"Kalau jijik, kita pindah aja, Pak," kata Adinda datar.

"Enggak, siapa yang jijik? Ini namanya higienis," elak William, lalu nekat menyuapkan nasi goreng yang baru datang.

Satu suap. Dua suap.

Wajah William mulai berubah merah. Dia berhenti mengunyah, matanya membelalak.

"Kenapa? Kepedesan?" tanya Adinda santai, sambil memakan porsinya sendiri dengan tenang.

"Lumayan... nendang," jawab William dengan suara serak, buru-buru menyambar es teh manisnya. Dia minum setengah gelas dalam sekali teguk. Keringat mulai muncul di pelipisnya.

Adinda menyodorkan kotak tisu ke arah William. "Makanya jangan sok jago pesen level pedes kalau lidah Bapak biasa makan croissant."

"Saya cuma mau nyamain level kamu," bela William sambil mengelap keringatnya. "Gengsi dong kalau kalah."

"Gengsi nggak bikin kenyang, Pak. Yang ada bikin sakit perut," cibir Adinda, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Sedikit banget.

William menatap Adinda yang sedang makan. "Kamu kelihatan menikmati banget hidup kamu sekarang ya."

"Iyalah," jawab Adinda singkat. "Bebas. Nggak ada yang nyuruh-nyuruh. Nggak ada yang mau nembak kepala saya."

"Baguslah," William mengangguk pelan. "Saya... kangen kamu, Din."

Adinda berhenti mengunyah sejenak. Jantungnya berdesir, tapi dia buru-buru menambal tembok pertahanannya. Dia menatap William dengan tatapan datar.

"Bapak bukan kangen saya," kata Adinda logis. "Bapak cuma kangen rasa aman. Bapak kangen ada yang jagain. Itu beda sama kangen orangnya."

William terdiam, menatap mata Adinda dalam-dalam. "Sok tahu kamu. Saya kangen omelan kamu. Saya kangen muka jutek kamu. Saya kangen... kita."

Adinda membuang muka, pura-pura melihat pengamen yang lewat. "Habisin nasinya, Pak. Mubazir. Abis itu pulang. Besok saya kuliah pagi."

William tersenyum miring melihat reaksi Adinda yang menghindar. Dia tahu dia menyentuh titik lemah gadis itu, meski Adinda berusaha keras menutupinya.

Saat mengantar pulang, taksi online berhenti di lobi apartemen.

Adinda turun dari mobil. "Makasih makan malamnya."

"Sama-sama," William ikut turun, berdiri di hadapan Adinda.

Mereka berdiri berhadapan. Jaraknya cukup dekat, tapi Adinda mundur selangkah, menjaga teritori pribadinya. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana jeans, sikap tubuh yang defensif.

"Din," panggil William lembut.

"Apa lagi, Pak?"

"Kasih saya kesempatan ya?" pinta William. "Bukan sebagai bos. Tapi sebagai laki-laki yang lagi usaha ngejar perempuan yang susah banget ditaklukin."

Adinda mendengus pelan, menatap William dengan tatapan menantang.

"Saya mahal lho, Pak. Nggak bisa dibayar pake saham atau nasi goreng doang."

William tertawa. "Saya tahu. Makanya saya siap investasi waktu dan perasaan. Berapa pun lamanya."

Adinda terdiam sebentar, menimbang-nimbang. Dia tidak mau langsung bilang iya. Dia tidak mau William berpikir dia gampangan hanya karena William kaya dan tampan.

"Buktikan aja dulu," jawab Adinda dingin tapi matanya tidak bisa bohong kalau dia sedikit senang. "Jangan cuma omong doang. Saya pengamat tindakan, bukan pendengar pidato."

"Siap. Tantangan diterima," William mengangkat tangannya, ingin mengacak rambut Adinda, tapi Adinda dengan sigap menepis pelan tangan itu.

"Eits, belum boleh sentuh-sentuh," kata Adinda galak. "Kita bukan muhrim, belum pacaran juga."

William menarik tangannya kembali sambil tertawa kecil. "Oke, oke. Galak banget sih."

"Pulang sana, Pak. Udah malem."

Adinda membalikkan badan, berjalan masuk ke lobi tanpa menoleh lagi.

William tetap berdiri di sana sampai Adinda hilang di balik lift, tersenyum seperti orang bodoh. Penolakan halus Adinda justru membuatnya makin penasaran.

Di dalam lift, Adinda bersandar pada dinding besi. Kakinya lemas. Dia memegang dadanya yang bergemuruh kencang.

"Gila..." bisiknya. "Hampir aja gue senyum lebar tadi. Tahan, Adinda. Tahan. Biarin dia usaha dulu."

Ponselnya bergetar. Pesan dari William:

Lidah saya masih kebakar, tangan saya ditepis, tapi saya seneng. Good night, Adinda. Besok saya ganggu lagi ya.

Adinda membaca pesan itu. Dia tidak membalas dengan kata-kata manis atau emotikon hati.

Dia cuma mengetik:

Jangan ganggu pagi-pagi. Saya ada kelas.

Adinda menekan kirim, lalu tersenyum miring. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Adinda yang memegang kendali.

1
shabiru Al
ya kali nikah sama ceo milyarder bakalan terus pegang wajan
shabiru Al
benarkah akhirnya damai....
shabiru Al
tragedi d malam pertama,, belajar beladiri donk william biar bisa melawan
shabiru Al
buseeeeett tuh sidinda,, selama anda tersenyum rahasia aman🤣
shabiru Al
suka banget sama adinda yang mode singa gini... tdk mudah d intimidasi
shabiru Al
pikiran edward lah yang busuk
shabiru Al
waaaahhh otw kondangan niiihhhh🤭
shabiru Al
ya benar edward adalah orangtua yang gila kontrol
shabiru Al
itu yang dcari william 'rumah' tempat dia bisa pulang dengan sebenarnya dan itu ada d adinda
shabiru Al
nah kan udah dbilangin juga, william itu belajar dari ayahnya bahkan hasilnya edward sendiri pun merasa ngeri terhadap anaknya,, william akan berjuang habis2an demi cinta dan kabahagianya,, seharusnya edward selaku ortu mendukung apapun keputusan william
shabiru Al
kenapa edward kaget dengan apa yang d lakukan william,, bukankah william belajar dari ahlinya dan ternyata hasilnya dluar ekspektasi edward.... rups yaaaa.... gimana ya hasil nya...
shabiru Al
nah gtu donk william pake kekuasaan mu buat nyewa bodyguard profesional,, tpi dinda jangan merasa senang dulu kayaknya edward gak akan menyerah semudah itu
Nurul zahara
ceritaaa nyaaa keren bangeettt😍
Nurul zahara
keren bangettt, sukaa banget sama cerita yang wanitanya tangguh beginii😍
shabiru Al
edward benar2 gila,, harga diri dan gengsi nya terlalu tinggi
shabiru Al
konsep saling menjaga cocok banget buat adinda dsn william
shabiru Al
siap2 aja adinda dan william menghadapi badai amukan keluarga bagaskara,, entah sekejam apa nantinya serangan dari papa william itu
shabiru Al
adinda berhasil bangkit,, semangat adinda💪
shabiru Al
kaaaannn masiih aja inget william padahal udah sibuk banget yuh adinda nya
shabiru Al
demi untuk melupakan william adinda banting setir jadi bisnis kuliner dadakan 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!