Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — Teman Lama —
Harusnya ini bukanlah hal yang harus dibesar-besarkan. Mereka tak sengaja tabrakan, lalu saling meminta maaf, dan perkara selesai.
Namun, aku salah. Nampaknya ini tidak akan berakhir dengan cepat.
Miyazaki bahkan terlihat gelisah. Dia mencengkram lengan seragamku, tidak erat... tapi aku langsung tahu kalau ada yang salah.
Begitu pandanganku beralih ke sosok yang menabraknya, ternyata itu gadis ekor kuda yang menolongku sebelumnya. Kalau tidak salah namanya Sera Nanashi.
Di sampingnya berdiri seorang laki-laki, orang yang sama saat mencengkram kerah seragamku. Ternyata dugaanku memang benar, mereka berpasangan.
Mereka berdua menatapku balik dengan mata penuh penghakiman.
"Hai, Elena Miyazaki. Kebetulan sekali, ya?"
Padahal Miyazaki sedang disapa oleh gadis ini, tapi dia tidak berniat merespons. Malahan cengkramannya semakin kuat, membuat lenganku sulit bergerak.
Setidaknya aku yakin kalau mereka saling kenal. Tapi, ada apa sebenarnya?
Agak sulit memahami situasi sekarang, apalagi gadis yang menyapa Miyazaki ini tampak menampilkan seringai licik.
"Oh, ternyata kita bertemu lagi... si peringkat C, Naruse-kun! Maaf karena tidak menyadarimu, aku terlalu senang ketemu teman lama."
"Teman lama?"
"Kau tidak tahu? Pasanganmu tidak menceritakannya, ya?"
Senyum gadis ini semakin terbentuk lebar. Dia bahkan berani memanggil nama depanku.
Kami tidak saling kenal, dan tidak pernah berkenalan. Semuanya berkat jam tangan kami yang bersentuhan secara sengaja sebelumnya, membuat layar hologram menampilkan identitas kami.
Aku tidak keberatan sebenarnya, tapi mungkin Miyazaki akan semakin tertekan.
Dan benar saja, begitu mataku beralih ke Miyazaki yang posisinya kini mundur selangkah dariku... tubuhnya gemetar. Dia masih memegangi lenganku dengan kepalanya yang tak lagi tegak.
Melihatnya seperti ini, entah kenapa darahku sedikit naik. Tubuhku jadi panas.
Aku kesal, dan sialnya aku tidak bisa berbuat banyak. Ini adalah masalah Miyazaki dengan teman lamanya, paling tidak dia sendiri yang harus menyelesaikannya.
"Hei... kami masih di sini, tahu? Dan aku masih punya urusan dengan kalian!"
Merasa terpanggil, aku kembali beralih ke gadis ekor kuda ini. Tatapannya terlihat begitu jengkel, mungkin karena aku mengabaikannya.
Sementara pasangannya, dia tidak banyak bergerak... tidak bicara juga. Sesekali dia hanya melihat sekeliling Mall yang ramai dilalui orang.
Untungnya kami tidak menarik perhatian, karena kebanyakan pasti sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Posisi kami kebetulan berada di pinggir, jadi tidak akan mungkin bertabrakan dengan orang lain.
Oh, itu dia!
Aku sadar akan sesuatu. Sebelum Miyazaki ditabrak, kami sudah memutuskan untuk berjalan di pinggir. Itu karena dia tidak suka menarik perhatian.
"Hah..."
Aku pun mengambil napas panjang, bersiap melakukan sesuatu untuk menyelesaikan ini semua.
"Urusan, ya? Boleh saja. Tapi sebelum itu, minta maaf dulu ke Miyazaki-san."
"Hah?! Untuk apa aku melakukannya? Aku sama sekali tidak bersalah!"
"Maka kami harus pergi kalau begitu."
Mendengar kata-kata dinginku, gadis ini tampaknya semakin jengkel. Kedua tangannya mengepal erat.
Padahal aku tidak berniat membuatnya begitu, tapi dia sendiri yang gampang terbawa emosi.
"Ayo pergi, Miyazaki-san!"
Aku benar-benar mengabaikan mereka sekarang. Lalu, aku menawarkan tangan kananku ke Miyazaki. Mengajaknya berpegangan tangan.
Perlahan, kepalanya terangkat. Matanya mengarah begitu lama ke tanganku.
"Tidak apa-apa, aku di sini. Mana mungkin aku meninggalkanmu."
Karena dia terlihat ragu, aku meyakinkannya lebih dulu. Sampai akhirnya, dia menerima tanganku walau tubuhnya sedikit gemetar.
Kami pun berjalan pergi meninggalkan mereka berdua setelahnya.
Namun, belum sampai menapakkan langkah ketiga... sesuatu menyentuh pundakku. Gerakanku otomatis terhenti, disusul oleh Miyazaki.
"Sejak kapan kalian boleh pergi? Harusnya kalian patuh pada peringkat A sepertiku!"
Sementara pundakku terus ditekan, telingaku mendengar nada suara yang angkuh bercampur kesal.
Aku terpaksa melepaskan pegangan tangan Miyazaki. Merepotkan sekali rasanya ketika tahu bahwa kencan kami terganggu.
Aku terpaksa berbalik menghadap mereka. Tapi sebelum itu, mumpung sudah begini... aku ingin tahu peringkat laki-laki yang senang melakukan hal kasar ini.
Agar kelihatannya natural, karena mereka percaya aku peringkat C, aku melayangkan lenganku ke tempat jam tangannya berada.
"Lepaskan aku!"
Begitu jam tangan kami bersentuhan sekilas, tampilan layar muncul.
[Nama: Satoshi Akanji]
[Peringkat Individu: B]
Ternyata peringkat B, lebih rendah dari pasangannya sendiri dan Miyazaki.
Setelah tahu peringkatnya, barulah aku benar-benar berbalik kali ini. Dia juga melepaskan pundakku setelahnya.
Tapi entah kenapa, tubuhnya sedikit tersentak begitu bertatapan denganku, dan dia memijat-mijat tangannya.
Tidak, lupakan saja. Itu tidak penting. Tatapanku lalu beralih ke gadis di sebelahnya.
"Katakan apa maumu! Urusan apa yang sebenarnya kau perlukan sampai-sampai bawa peringkat?"
"Maaf ya, Naruse-ku—"
"Jangan panggil nama depanku!"
"Ah, maaf kalau begitu."
Suaraku jadi lebih tinggi dari yang aku kira, membuat gadis ini terdiam sesaat. Emosiku mungkin sudah keluar seperempat.
Walaupun Miyazaki memanggilku dengan nama belakang, dia kemungkinan tidak suka kalau ada gadis lain yang memanggil nama depanku.
Ini hanya dugaan semata begitu melihat reaksinya tadi, jadi aku tidak boleh salah paham sebelum dia sendiri yang mengatakannya.
"Bagaimana kalau kita percepat saja? Aku tidak ingin melihat kekesalan di wajah tampanmu."
"Ya, harusnya aku membuat lebih banyak ekspresi jengkel di wajah tak menarikmu itu."
"Kau memang hobi membuatku kesal, ya? Tapi, akan kumaafkan karena kau tampan."
"Lalu? Cepat katakan urusanmu!"
Aku ingin segera mengakhirinya. Miyazaki juga pasti tidak nyaman jika pembahasannya berlanjut.
"Ah, baiklah. Kau terlalu kaku, Naru... Ehem... Takashi-kun. Aku hanya ingin melihat peringkat Elena, teman lamaku."
"Aku ragu kalau kalian itu teman lama."
"Kenapa begitu?"
"Dia tidak ingin menyapamu balik, dan kau juga mencurigakan... bahkan tak mau meminta maaf karena sengaja menabraknya."
"Ahahaha... astaga! Kau ini hanya peringkat C, tapi banyak omong juga."
Gadis ini terkekeh dan terus mengoceh tentang peringkat. Tampaknya dia punya obsesi untuk menjadi angkuh.
Orang yang ingin dipermalukannya sekarang adalah Miyazaki, teman lamanya. Andai saja dia tahu sesuatu, aku yakin ekspresinya akan berubah drastis.
Aku pun menatap Miyazaki sekilas. Dia masih saja tidak bergeming.
Tapi, tak lama kemudian... pandangannya lurus ke depan. Miyazaki melangkah maju sementara gadis itu masih tertawa. Dia berjalan melewatiku dengan langkah tegas.
"Miyazaki-san, kau yakin?"
"Mereka duluan yang mulai, kan?"
"Eh? Kau seperti tidak ingin melepaskannya begitu saja."
"Aku belajar sesuatu darimu, Takashi-kun. Terima kasih."
"Tu-tunggu dulu!"
Aku tidak tahu Miyazaki akan melakukan apa. Dia membelakangiku, dan aku tidak bisa menghentikannya. Ke mana sisi murungnya yang tak berdaya tadi?
Kini mereka saling berhadapan.
"Lama tidak jumpa, Elena. Akhirnya kau menghadapiku."
"Aku tidak ingat kalau pernah mengizinkanmu memanggil nama depanku."
"Aku tidak perlu melakukannya. Untuk apa meminta izin ke orang yang lebih rendah dariku?"
"Begitu, ya?"
Miyazaki terdiam sejenak. Tangan kanannya mulai terangkat, lalu...
PLAK!
Dia menampar wajah teman lamanya sendiri dengan keras. Tapi bukan hanya itu yang kulihat, karena sebelum tangannya mendarat tepat di pipi gadis itu, dia sempat membuat jam tangannya saling bersentuhan.
"Kau puas sekarang? Lihatlah peringkatku sebanyak yang kau bisa!"
Gadis itu tidak sempat bereaksi, begitu juga dengan pasangannya.
Mereka hanya terdiam kaku sembari menatap sesuatu yang tidak bisa kulihat. Jelas sekali bahwa mereka tidak menyangka akan dua hal.
Pertama, Miyazaki menampar gadis itu dengan keras tanpa aba-aba. Kemudian yang kedua, peringkat gadis itu ternyata sama seperti orang yang ingin dipermalukannya.
"Ayo pergi, Takashi-kun. Kita belum membeli apa-apa di sini."
Miyazaki pun berbalik ke arahku. Dia lalu meraih tanganku untuk dipegang, menarikku menjauh dari mereka.
Jangankan mereka berdua, aku juga tidak menyangka kalau pasanganku bisa begini.