Terjebak di antara dua pilihan yg sulit, antara kakak beradik yg dua duanya ada di hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisha A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 25 Pengakuan Perasaan
Icha POV:
Juan terus saja menatapku sejak aku keluar dari kamar mandi. Aku yang sejak tadi juga tak menghiraukannya, kini mulai risih saat matanya terus saja memandangi setiap gerak gerik ku.
"Kenapa menatapku seperti itu ?" Tanyaku sembari mengemasi barang-barang ku.
Ya, setelah kejadian yang terjadi antara aku dan Juan tadi, membuatku ingin cepat-cepat pulang. Aku tak mau terus berlama-lama bersama Juan yang bisa membuatku semakin terbawa perasaan.
"Apa kamu marah ?" tanya Juan.
"Tidak, aku hanya tidak habis pikir pada diriku sendiri." jawabku tanpa melihat Juan.
"Kenapa ?"
"Ya, bagaimana bisa aku melakukan tindakan sampai sejauh itu padamu. Orang yang belum lama aku kenal."
"Apa kamu menyesal ?"
"Iya! Aku bahkan belum pernah sejauh itu pada kakak mu." jawabku lirih dan mengecilkan nada suaraku.
Juan yang mendengar itu sontak saja langsung menghampiriku dan memeluk ku dari belakang.
"Maafkan aku, aku memang lelaki brengsek, aku hampir ingin merusak mu. Maafkan aku." Kata Juan lirih,
"Tidak Juan, ini murni kesalahanku yang membiarkan semua itu terjadi, bahkan aku pun ikut menikmatinya." jawabku sambil menunduk.
Juan menghadapkan tubuhku menjadi berhadapan dengannya, aku masih menunduk lesu, Juan kembali menarik ku dalam dekapannya.
"Maafkan aku." Terdengar suara bisikan Juan yang sangat lirih ku dengar.
"Sejujurnya aku sudah merasa nyaman denganmu, mungkin itu yang membuatku sejenak lupa kalau aku sudah memiliki Rendi."
Mendengar pengakuanku, membuat Juan semakin mengeratkan pelukannya, aku membiarkannya karena pelukan Juan lumayan menenangkan aku.
"Aa.. aku ingin pulang sekarang!" kataku pelan sambil melepaskan pelukan kami.
kulihat Juan menundukkan pandangannya, kemudian menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku akan mengantarmu." katanya sambil tersenyum yang terkesan seperti dipaksa.
"Tidak usah, kau sedang sakit, biar aku pulang sendiri naik taksi online."
"Tidak, aku yang membawamu kemari, maka aku yang akan mengantarmu pulang!! lagian aku juga sekalian mau pulang." Jawab Juan sambil ikut mengemasi barang-barangnya.
Aku turun duluan, karena Juan bilang dia mau mandi dulu sebelum pulang, jadi kuputuskan untuk menunggunya dibawah. Namun aku sudah tak melihat satu orang pun di Villa itu, terakhir aku melihat Rudi dan tunangannya masih sarapan saat aku memasak nasi goreng untuk Juan.
"Pada kemana orang-orang itu ?" tanya ku dalam hati sambil melihat ke segala arah.
Tak lama Juan turun dengan keadaan rambutnya yang basah, dan wajahnya yang sudah jauh tampak segar. Aroma parfum mint Juan sudah masuk ke rongga hidung bahkan saat dia belum sepenuhnya menuruni anak tangga.
"Kamu sedang mencari siapa ?" tanya Juan yang sadar dengan sikapku yang kembali melihat ke berbagai arah ruangan.
"Aku mencari anak-anak yang lain, aku ingin pamit pada mereka sebelum pulang."
"Mereka sudah pulang duluan" Ucap Juan kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga sembari memasuk kan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Ha, sudah pulang? kenapa aku bisa gak tau ? kenapa mereka tidak bilang? dan kenapa malah kamu yang tau? bukankah sedari tadi kamu terus berbaring di kamar ?" aku menghujani Juan dengan pertanyaan.
"Tadi Yana sudah datang ke kamar saat kamu mandi." Jawab Juan singkat dan melewati ku begitu saja.
Akupun mengikuti Juan yang terus berjalan keluar dari bangunan villa itu, saat sudah keluar, kulihat Juan mengunci Villa itu dan memasukkan kunci ke saku celananya dan melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.
"Ternyata benar kata Yana, kalau Villa ini milik keluarga Juan, kenapa Rendi sama sekali tak pernah bercerita tentang Villa ini?" ucapku dalam hati dengan sedikit rasa bertanya-tanya.
Aku merasa saat itu Juan bersikap agak aneh padaku, dia menjadi sedikit lebih cuek sejak selesai mandi tadi. Kalau sikapnya begitu dia jadi terlihat sangat mirip dengan Rendi, akupun hanya diam dan hanya mengikutinya menuju mobil.
Sepanjang perjalanan Juan hanya diam, dia terus fokus dengan kemudinya dan matanya menatap lurus ke depan. Suasana mobil sangat hening tanpa suaraku, tanpa suara Juan, bahkan tanpa suara musik yang biasanya mengiringi, Ini sangat berbeda dari biasanya. Tapi aku juga hanya bisa diam, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan memilih membuka ponselku dan berniat mengirimkan pesan pada Rendi.
"Apa kamu masih marah padaku? aku sungguh minta maaf, tolong kabari aku secepatnya saat kamu sudah tidak marah lagi padaku." Bunyi pesan yang kukirim kan pada Rendi.
"1 jam lagi aku boarding." Balas Rendi cuek tapi terkesan seperti ingin memberiku kabar.
Tanpa sadar senyumku muncul begitu saja sambil kulirik Juan sesaat.
"Aku tunggu kamu." jawabku juga tak kalah singkat.
Akhirnya mobil Juan berhenti tepat didepan rumahku. Pintu rumahku yang biasanya sering terbuka kini tertutup rapat dan sepertinya sangat hening.
"Sepertinya ibuku sedang tidak dirumah." Kataku sambil melepaskan sabuk pengaman ku.
"Iya tidak papa aku langsung pulang saja." Kata Juan masih sedikit cuek.
"Oh ii.. iya baiklah." kataku lagi sambil membuka pintu mobil.
Hatiku sedikit berat saat ingin melangkahkan kaki, tapi aku tidak ada alasan untuk lebih berlama-lama lagi berada disamping Juan. Akupun memutuskan bergegas keluar dari mobil Juan hingga akhirnya Juan mencegahku.
"Tunggu!" kata Juan sembari menarik tanganku.
Aku yang terkejut, sontak menoleh ke arahnya dengan mengerutkan dahiku.
Cuppp..
Tanpa basa basi Juan menarik tengkuk ku dan langsung mencium bibirku. Mataku kembali membulat sempurna, terasa Juan menghisap bibirku atas dan bawah dengan lembut namun tak lama dia langsung melepasnya secara perlahan dan membiarkan dahi kami yang masih menempel dengan matanya yang masih terpejam yang kemudian dia berkata:
"Aku cinta kamu." ucap Juan lirih dengan suara yang sangat pelan.
Hembusan nafas hangat Juan bisa sangat kurasakan Karena jarak wajah kami yang masih sangat dekat.
Aku hanya diam tak berkutik, perlahan Juan langsung melepaskan tangannya dari tengkuk ku dan melepaskan dahi kami yang sedari tadi masih menempel.
"Masuk lah ke rumahmu! Rendi sebentar lagi pulang, persiapkan dirimu." Kata Juan lagi dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan itu.
Melihat senyum Juan, sontak saja aku refleks membelai dan mengusap lembut pipi Juan yang bersih tanpa kumis maupun jambang.
"Sejujurnya aku mulai menyukaimu, terima kasih untuk waktumu beberapa hari belakangan ini yang selalu ada untuk ku, Dan maaf jika lagi-lagi keadaan seperti ini membuatmu harus merasa kecewa. Aku yakin kamu bisa menemukan yang lebih baik." kataku pada Juan sembari bergegas keluar dari mobil Juan.
Aku terus melangkah tanpa melihat ke arah mobil Juan lagi, aku mengambil Kunci di yang terletak didalam pot bunga yang tak jauh dari pintu, aku sudah mengetahui kebiasaan ibuku ketika bepergian selalu meninggalkan kunci rumah di dalam pot. Saat aku membuka pintu Juan masih belum beranjak, tapi aku terus saja memasuki rumah dan langsung ku tutup lagi pintu rumahku tanpa melihat ke arah mobil Juan untuk terakhir kali.
Sebagian perasaanku merasa sangat sakit dengan keadaan ini.
Akupun langsung masuk kamar, menjatuhkan tubuhku di atas kasur, dan memejamkan mataku.
Bersambung...
sukses
semangat
mksh
tp bnr ada yahh crita gni d dunia nyata
iyaa Smngtt trs y KK👍👍👍👏👏