NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 - PENANGANAN PERTAMA

Lampu meja bertenaga baterai memancarkan pendaran cahaya kekuningan yang lembut di balik benteng kardus obat. Suasana di dalam Apotek Sentral terasa begitu hening, menyisakan deru napas tegang para penyintas yang kini terkunci rapat bersama di balik jeruji besi tempa. Bau cairan antiseptik alkohol bercampur aroma khas kertas kemasan obat terhirup pekat, menggantikan bau amis dan tanah busuk spora yang mendominasi jalanan luar.

Steve menyandarkan tubuh kekarnya di atas kursi plastik melamin yang ditarik oleh Rian. Wajahnya yang biasa diwarnai keteguhan kini tampak sangat pucat, dengan rona merah peradangan yang kian menyebar tajam di sekitar leher dan pipinya. Cucuran keringat dingin menetes membasahi pelipisnya, menandakan demam akibat infeksi jaringan yang mulai menyerang imun tubuhnya.

"Duduk tenang dan jangan banyak bergerak, Steve." kata Endru dengan vokal yang mendadak berubah menjadi sangat tegas dan cekatan.

Pemuda berkacamata itu menarik sebuah meja dorong berbahan stainless steel ke dekat kursi Steve. Ketakutan dan rasa cemas yang tadinya menguasai sikap Endru seketika menguap, digantikan oleh ketenangan profesional seorang tenaga medis yang berada di wilayah kekuasaannya sendiri. Jemari tangannya yang kurus dengan cekatan mengenakan sepasang sarung tangan medis latex steril berwarna putih.

Endru meraih sepasang gunting perban stainless steel dari dalam kotak instrumen, lalu perlahan memotong balutan kain kasa darurat yang terikat di bahu kiri Steve. Ketika lapisan kasa terakhir terangkat, aroma hangat darah bercampur cairan jaringan yang terkontaminasi tercium tipis di udara.

Nancy yang berdiri rapat di samping meja meringis pelan, matanya tak lepas menatap luka di bahu Steve dengan rasa khawatir murni. Luka goresan lurus sepanjang sepuluh sentimeter itu tampak membengkak kemerahan, dengan tepi kulit yang meradang akibat kemasukan debu spora luar.

"Ini bukan sekadar goresan biasa." kata Endru seraya menekan lembut area di sekitar luka menggunakan ujung jarinya yang bersarung tangan.

"Argh..." Steve meringis pendek, giginya gemeretak kaku menahan nyeri.

"Ada akumulasi bakteri dan mikro-spora yang terperangkap di dalam jaringan dermis kulitmu. Kalau terlambat dibersihkan dua jam saja, infeksi ini bisa memicu pembusukan lokal yang parah." jelas Endru memperingatkan dengan detail medis yang sangat membumi.

Luna melangkah mendekat, memperhatikan jemari Endru yang bergerak tanpa ragu sedikit pun. Mantan taruna itu mengamati ketelitian Endru saat mengambil botol cairan hidrogen peroksida dan povidone iodine dari rak khusus.

"Apa lukanya bisa disembuhkan sepenuhnya tanpa peralatan bedah?" tanya Luna memastikan.

"Bisa, Luna. Beruntung bagian fascia otot dalamnya belum robek." jawab Endru mantap tanpa menghentikan pekerjaannya.

Endru membasahi beberapa lembar kapas steril dengan cairan hidrogen peroksida. Sambil menatap mata Steve dengan nada menenangkan, ia mengisyaratkan agar pria kekar itu bersiap menahan rasa sakit.

"Ini bakal terasa sangat membakar, Steve. Tahan napasmu." kata Endru memperingatkan.

"Lakukan saja, Anak Muda. Aku bukan anak kecil yang bakal menangis." balas Steve seraya menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan.

Endru menempelkan kapas basah itu tepat di atas permukaan luka terbuka Steve.

Czzzzt...

Busa putih seketika merekah di sepanjang robekan kulit, bereaksi membunuh kuman dan mikroba kotor yang menempel di jaringan luka. Otot paha dan dada Steve membeku seketika, urat-urat di lehernya menonjol tegang saat rasa panas yang membakar menjalar hebat di bahu kirinya. Namun, sesuai janjinya, Steve menahan erangannya kaku di balik rahangnya yang mengatup rapat.

Dengan gerakan yang sangat terlatih, Endru menyapu busa kotor itu menggunakan kasa steril, lalu membalurkan salep antibakteri spektrum luas berbasis mupirocin secara merata di atas kulit yang terluka.

Nancy meraih sebotol air mineral bersih dari meja, membukakan tutupnya, lalu menyodorkannya ke bibir Steve yang kering.

"Minum sedikit, Steve." bisik Nancy lembut dengan nada perhatian murni.

Steve meneguk air mineral itu beberapa tegukan, lalu mengembuskan napas panjang yang amat lega. Pria kekar itu menatap Endru yang sedang membuka kemasan suntikan sekali pakai dengan tatapan kagum murni.

"Caramu memegang obat ini benar-benar tidak main-main, Endru." puji Steve seraya tersenyum jujur.

"Di luar apotek ini aku cuma pemuda penakut yang tidak bisa bertarung, Steve. Tapi di balik meja racik ini, ini tugas dan kewajibanku." jawab Endru rendah hati seraya menyedot cairan antibiotik cefotaxime ke dalam tabung suntik.

Endru mengusap lengan atas Steve dengan alkohol swab, lalu menancapkan jarum suntik steril itu secara perlahan. Cairan antibiotik dosis tinggi mengalir masuk ke dalam pembuluh darah Steve, siap meredakan peradangan dan demam tinggi yang menyerang tubuhnya dari dalam.

Setelah menyuntikkan obat, Endru membalut bahu Steve menggunakan perban elastis tebal yang bersih. Setiap lipatan dan ikatan perban dipasangnya dengan sangat rapi dan simetris, memastikan aliran darah di lengan Steve tetap lancar tanpa ada tekanan berlebihan.

"Selesai. Dalam tiga puluh menit, antibiotik ini bakal bekerja meredakan demammu." kata Endru seraya melepas sarung tangan medisnya dan membuangnya ke tempat sampah medis tertutup.

Steve menggerakkan jari-jari tangan kirinya pelan. Denyutan panas yang tadinya menyiksa bahunya kini perlahan berganti menjadi rasa hangat yang jauh lebih rileks dan nyaman. Pria kekar itu menepuk pelan bahu Endru menggunakan tangan kanannya.

"Terima kasih banyak, Dokter Muda." kata Steve terkekeh hangat.

"Aku bukan dokter, cuma asisten apoteker." balas Endru tersenum canggung seraya membetulkan kacamata tebalnya.

"Sama saja buat kami, Endru. Kamu baru saja menyelamatkan petarung terbaik kami." timpal Nancy dengan senyuman manis yang membuat pipi Endru agak merona merah.

"Kerja bagus, Endru!" seru Rian gembira seraya mengacungkan jempolnya.

Luna berdiri tegap di tengah area kasir, memandangi Endru dengan rasa puas yang tak tertutupi. Kehadiran Endru tidak hanya membawa pasokan obat-obatan vital, tetapi juga memberikan peran medis yang sempurna untuk melengkapi kebutuhan taktis kelompok mereka.

"Berapa banyak stok antibiotik dan perbekalan medis yang bisa kita bawa di dalam tas?" tanya Luna seraya menatap benteng kardus milik Endru.

Endru melangkah menuju tumpukan kardus obatnya, menarik dua ransel medis darurat berwarna merah terang dari dalam kotak.

"Aku sudah mengemas dua ransel khusus berisi antibiotik spektrum luas, obat penurun panas, kasa steril, antiseptik, dan beberapa kolf cairan infus. Ini cukup untuk kebutuhan kita selama berbulan-bulan." jelas Endru seraya menyerahkan salah satu ransel medis ke tangan Luna.

Luna menerima ransel medis itu, merasakan bobotnya yang pas dan sangat terorganisir.

"Kamu resmi bergabung bersama kami, Endru." kata Luna tegas namun hangat, memberikan pengakuan penuh bagi sang asisten apoteker.

Endru mengangguk mantap, menyunggingkan senyum bahagianya yang pertama sejak kota ini dilanda bencana.

Namun, di tengah momen kehangatan dan kelegaan tersebut, udara di dalam Apotek Sentral perlahan berubah. Cairan antiseptik dan sisa-sisa busa pembersih darah dari bahu Steve yang mengalir ke lantai semen menyebarkan aroma amis segar yang tipis. Bau darah segar bercampur alkohol itu merembes keluar secara perlahan melintasi kisi-kisi ventilasi atas dan celah jeruji besi tempa depan.

Di luar sana, di sepanjang aspal Jalan Sudirman yang lengang, aroma darah segar itu memancing reaksi dari jarak jauh.

Luna yang sangat peka mendadak menghentikan bicaranya. Mata kelam sang taruna menyipit tajam, menatap lurus ke arah selasar jeruji besi depan yang tertutup tirai kain tebal. Suara gesekan kaki-kaki kaku yang menyeret aspal mulai terdengar samar dari arah seberang jalan, bertambah banyak dari detik ke detik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!