NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Raka Adhitama tidak pernah menganggap dirinya orang yang mudah gugup.

Ia pernah bermain di hadapan ribuan penonton, menghadapi lawan yang mampu membalikkan keadaan dalam hitungan detik, dan memberikan wawancara setelah kekalahan yang membuat seluruh timnya kecewa. Dalam situasi seperti itu, ia selalu tahu apa yang harus dilakukan: menarik napas, membaca keadaan, lalu mengambil keputusan.

Namun, pagi itu, ia sudah mengganti bajunya tiga kali hanya untuk menghadiri latihan rutin ASTRAL.

“Gue punya pertanyaan penting,” kata Bima dari ambang pintu kamarnya.

Raka yang sedang merapikan kerah kemeja menoleh. “Apa?”

“Lo mau latihan atau mau melamar seseorang?”

Raka langsung mengambil jaket yang tergeletak di kursi.

“Gue mau latihan.”

“Dengan kemeja sebagus itu?”

“Ini kemeja biasa.”

“Buat lo, mungkin. Buat gue, ini kemeja yang dipakai orang ketika ingin terlihat pantas di depan calon mertua.”

Raka melemparkan jaket ke arah Bima.

Bima menghindar sambil tertawa.

“Tenang, Kapten. Gue mendukung hubungan kalian.”

“Tidak ada hubungan.”

“Kalau begitu, kenapa semalam lo pulang dengan wajah seperti baru memenangkan kejuaraan dunia?”

Raka tidak menjawab.

Sebab, untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa dirinya memang menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar percakapan dan makan malam bersama Nadira.

Ia ingin menjadi orang yang dicari perempuan itu ketika harinya buruk.

Ia ingin mendengar cerita-cerita kecil yang tidak akan pernah masuk ke dalam artikelnya.

Dan, jika boleh jujur, ia ingin suatu hari nanti bisa menggenggam tangannya tanpa harus bertanya-tanya apakah Nadira akan menarik diri.

Keinginan itu tidak datang dengan kepastian.

Namun, semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas perasaan tersebut.

“Bim,” panggilnya.

“Apa?”

“Menurut lo, kapan seseorang tahu kalau dia benar-benar suka sama orang lain?”

Bima terdiam.

Kemudian ia meletakkan tangan di dada dengan ekspresi dramatis.

“Ya Tuhan. Akhirnya.”

“Lupakan.”

“Tidak bisa. Pertanyaan bersejarah seperti ini harus diabadikan.”

Raka berjalan melewatinya.

Bima segera menyusul.

“Menurut gue, lo tahu ketika kebahagiaan orang itu mulai penting buat lo. Bahkan ketika lo tidak mendapatkan apa-apa dari situ.”

Raka memperlambat langkah.

Bima, yang biasanya menjawab semua hal dengan candaan, kali ini tidak tertawa.

“Dan ketika lo berhenti memikirkan bagaimana caranya membuat dia menyukai lo, lalu mulai memikirkan bagaimana caranya memperlakukan dia dengan baik.”

Raka menoleh.

“Sejak kapan lo bijaksana?”

“Sejak gue menyadari bahwa kalau lo menikah duluan, gue mungkin akan kehilangan satu-satunya orang yang bisa gue ganggu setiap hari.”

Raka tertawa dan menepuk bahu temannya.

Namun, sepanjang perjalanan menuju ruang latihan, kata-kata Bima terus terngiang di kepalanya.

Mungkin selama ini ia terlalu sibuk mencari cara agar Nadira memberinya kesempatan kedua.

Sekarang, ia ingin memastikan bahwa kesempatan itu tidak akan membuat Nadira menyesal.

Sementara itu, Nadira sedang berdebat dengan Keisha tentang sebuah persoalan yang menurutnya sama sekali tidak penting.

“Jadi, kamu benar-benar tidak menganggap makan malam kemarin sebagai kencan?” tanya Keisha.

Nadira tetap menatap layar laptop.

“Tidak.”

“Kalian pergi berdua.”

“Benar.”

“Kalian makan malam.”

“Benar.”

“Raka menjemputmu setelah bekerja, lalu mengantarmu pulang.”

Nadira berhenti mengetik.

“Keisha, kalau kamu sudah memiliki kesimpulan, kenapa masih bertanya?”

“Karena aku ingin mendengar kamu mengakuinya.”

Nadira mengembuskan napas.

Ia tahu Keisha tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan.

“Baiklah. Mungkin itu bisa disebut kencan.”

Keisha langsung menepuk meja.

“Akhirnya!”

“Tapi jangan berlebihan. Kami belum membicarakan hubungan.”

“Aku tahu.”

“Dan aku masih harus menyelesaikan persoalan keluargaku.”

“Aku juga tahu.”

“Jadi, jangan membuatnya terdengar seperti aku akan menikah bulan depan.”

Keisha menyandarkan punggung ke kursi.

“Dira, tidak ada yang menyuruhmu menikah bulan depan. Aku hanya senang melihatmu memberi kesempatan kepada seseorang.”

Nadira kembali menatap laptop.

“Aku juga tidak ingin terus-menerus mencurigai semua orang.”

Keisha mengangguk.

“Bagus. Tapi ingat, memberi kesempatan bukan berarti mengabaikan hal-hal yang membuatmu tidak nyaman.”

“Aku tahu.”

“Dan jangan merasa berutang perasaan hanya karena dia memperlakukanmu dengan baik.”

Nadira terdiam.

Nasihat itu jauh lebih penting daripada yang ingin ia akui.

Raka memang telah menunjukkan perubahan. Ia meminta maaf tanpa menuntut pengampunan, menjawab pertanyaan dengan lebih jujur, dan memberi Nadira ruang untuk menentukan langkahnya sendiri.

Namun, semua itu tidak otomatis membuat Nadira harus membalas perasaannya.

Ia ingin memilih Raka karena memang menginginkannya, bukan karena merasa berutang kesempatan.

Dan setelah memikirkan semuanya, ia mulai menyadari bahwa keinginannya untuk terus bertemu Raka bukan lagi sekadar rasa penasaran.

Ia benar-benar ingin mengenal laki-laki itu.

Termasuk sisi-sisi dirinya yang belum pernah diperlihatkan kepada siapa pun.

Menjelang sore, sebuah pesan masuk ke ponsel Nadira.

Raka: Kamu sibuk malam ini?

Nadira membaca pesan itu sambil tersenyum kecil.

Nadira: Tergantung. Kamu mau mengajukan pertanyaan sulit lagi?

Raka: Tidak. Aku mau mengajakmu makan.

Nadira: Kita baru saja makan bersama kemarin.

Raka: Aku tahu.

Nadira: Kamu tidak takut kehabisan topik pembicaraan?

Raka: Aku bisa membicarakan betapa menyebalkannya Bima selama tiga jam.

Nadira: Menarik. Tapi aku tidak yakin bisa bertahan selama itu.

Raka: Berarti kamu harus datang untuk membantu mengubah topiknya.

Nadira tertawa sendiri.

Ia melirik kalender pekerjaannya. Tidak ada agenda mendesak malam itu.

Namun, sebelum menerima ajakan tersebut, ia mempertimbangkan apakah dirinya benar-benar ingin pergi.

Jawabannya datang tanpa banyak perdebatan.

Nadira: Baik. Tapi kali ini aku yang memilih tempat.

Raka: Setuju.

Nadira: Dan jangan datang terlalu awal.

Raka: Aku akan berusaha mengendalikan antusiasmeku.

Nadira: Usaha yang mulia.

Nadira menyimpan ponselnya.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi malam itu.

Namun, ia sudah berhenti mencari alasan untuk tidak pergi.

Raka memilih sebuah restoran kecil yang terletak tidak jauh dari tempat yang ditentukan Nadira. Mereka bertemu di depan pintu masuk, lalu berjalan menuju meja yang sudah dipesan.

Tidak ada kamera.

Tidak ada wartawan lain.

Tidak ada mikrofon yang menunggu mereka melontarkan komentar menarik.

Hanya dua orang yang ingin menghabiskan waktu bersama.

Setelah memesan makanan, Nadira menatap Raka dengan senyum tipis.

“Aku punya pertanyaan.”

Raka mengangkat alis.

“Haruskah aku khawatir?”

“Tergantung jawabanmu.”

“Baik. Silakan.”

Nadira memutar gelas di tangannya.

“Kenapa kamu masih mau menghabiskan waktu denganku?”

Raka terdiam.

Ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu, meskipun sebenarnya ia sudah beberapa kali memikirkan jawabannya.

“Karena aku suka berbicara denganmu.”

“Itu jawaban yang sangat sederhana.”

“Aku belum selesai.”

Nadira menunggu.

Raka meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“Aku suka caramu mempertanyakan sesuatu tanpa langsung menganggap orang lain salah. Aku suka caramu memperhatikan hal-hal yang dilewatkan orang lain. Aku juga suka bahwa kamu tidak berusaha menyenangkan semua orang hanya supaya mereka menyukaimu.”

Nadira menatapnya tanpa berkedip.

“Dan,” lanjut Raka, “aku suka ketika kamu tertawa karena sesuatu yang kukatakan. Bahkan kalau biasanya kamu menghabiskan lima menit berikutnya untuk mengkritik leluconku.”

Nadira menunduk, berusaha menyembunyikan senyum.

“Itu karena sebagian besar leluconmu memang perlu diperbaiki.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu masih belum menjawab pertanyaan utamaku.”

Raka mengangguk.

“Karena aku ingin mengenalmu lebih jauh, Dira. Aku tidak tahu apakah ini akan berakhir menjadi sesuatu yang serius atau tidak. Tapi aku tahu aku ingin mencoba.”

Kejujuran itu membuat Nadira tidak segera menemukan jawaban.

Ia telah terbiasa mendengar orang berbicara tentang perasaan seolah-olah cinta adalah sesuatu yang harus datang dengan kepastian mutlak.

Raka tidak menawarkan kepastian semacam itu.

Ia hanya menawarkan keinginannya untuk mencoba, tanpa meminta Nadira menjanjikan apa pun sebagai balasan.

Dan anehnya, itu justru membuat Nadira lebih berani.

“Aku juga ingin mencoba,” katanya pelan.

Raka menatapnya.

“Benarkah?”

Nadira mengangkat alis.

“Jangan membuatku mengulanginya.”

“Maaf. Aku hanya ingin memastikan pendengaranku masih berfungsi.”

“Kalau begitu, sebaiknya kamu mulai menggunakannya.”

Raka tertawa, tetapi senyum di wajahnya tidak menghilang.

Untuk beberapa saat, mereka hanya saling memandang.

Tidak ada yang berusaha mengisi keheningan itu dengan lelucon.

Nadira menyadari bahwa ia tidak sedang menunggu Raka melakukan sesuatu yang spektakuler.

Ia hanya ingin laki-laki itu tetap duduk di hadapannya, menjadi dirinya sendiri, dan membiarkannya mengenal orang yang ada di balik nama Vex serta keluarga Adhitama.

Mungkin hubungan memang tidak selalu dimulai dengan pengakuan yang megah.

Kadang-kadang, hubungan dimulai ketika dua orang akhirnya berhenti berpura-pura bahwa mereka tidak menginginkan hal yang sama.

Makanan mereka datang, menyelamatkan Raka dari keharusan mengatakan sesuatu yang lebih sentimental.

Nadira mengambil sendok, lalu meliriknya.

“Jadi, sekarang kita apa?”

Raka hampir menjatuhkan garpunya.

“Kamu bertanya begitu setelah aku baru saja mengatakan bahwa aku ingin mencoba?”

“Ya. Aku hanya ingin tahu apakah kita sedang mencoba mengenal satu sama lain atau sedang mengikuti audisi untuk menjadi pasangan paling membingungkan di Jakarta.”

Raka tertawa.

“Aku memilih pilihan pertama.”

“Bagus.”

“Tapi aku tidak ingin membuatmu merasa harus menentukan semuanya malam ini.”

Nadira mengangguk.

“Aku juga tidak ingin terburu-buru. Aku ingin kita jujur satu sama lain. Kalau ada sesuatu yang membuat salah satu dari kita tidak nyaman, kita bicarakan.”

“Setuju.”

“Dan tidak ada permainan tarik-ulur yang tidak perlu.”

“Setuju.”

“Kalau kamu menghilang selama tiga hari tanpa kabar, aku akan menganggapmu sedang sibuk menyusun strategi untuk turnamen.”

Raka mengerutkan kening.

“Kenapa tiga hari?”

“Karena aku masih memberimu waktu untuk mengurus hidupmu sendiri.”

“Baik. Kalau kamu menghilang selama tiga hari, aku akan menganggapmu sedang menulis artikel yang membuat seluruh industri esports marah.”

Nadira tertawa.

“Adil.”

Raka mengulurkan tangannya melintasi meja, telapak tangannya menghadap ke atas.

Gerakan itu sederhana, tetapi Nadira tahu bahwa ia sedang memberinya pilihan.

Ia memandang tangan tersebut selama beberapa detik sebelum meletakkan tangannya di atas tangan Raka.

Jari-jari mereka bertaut.

Tidak ada sorakan penonton.

Tidak ada kamera yang merekam momen tersebut.

Hanya kehangatan telapak tangan Raka dan senyum kecil yang tidak berhasil disembunyikan Nadira.

“Jangan membuatku menyesal,” katanya.

Raka mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.

“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah melakukan kesalahan.”

Nadira menatapnya.

“Tapi aku bisa berjanji akan berusaha jujur dan memperbaikinya ketika aku salah.”

Nadira mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, kita mulai dari sana.”

Raka menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Mereka masih memiliki perbedaan pendapat, rahasia yang belum terungkap, serta masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Namun, malam itu, mereka memilih untuk mengambil satu langkah ke arah yang sama.

Ketika Raka mengantar Nadira pulang, mereka berhenti di depan pagar rumahnya.

Nadira melepaskan sabuk pengaman, tetapi belum membuka pintu.

“Raka?”

“Ya?”

“Aku senang malam ini.”

Raka tersenyum.

“Aku juga.”

Nadira menatapnya sejenak, lalu memberanikan diri mendekat dan mengecup pipinya singkat.

Raka membeku.

Benar-benar membeku.

Nadira segera mundur, berusaha menahan tawa.

“Kenapa? Refleksmu sedang libur?”

Raka menyentuh pipinya sendiri.

“Sepertinya begitu.”

“Kapten ASTRAL ternyata punya kelemahan.”

“Sepertinya aku baru menemukannya.”

Nadira tertawa sebelum membuka pintu mobil.

Namun, sebelum turun, ia menoleh sekali lagi.

“Selamat malam, Raka.”

“Selamat malam, Nadira.”

Ia menunggu sampai perempuan itu masuk ke rumah dengan selamat sebelum menjalankan mobilnya kembali.

Di sepanjang perjalanan, Raka beberapa kali tersenyum sendiri.

Ia tidak tahu apakah malam itu akan menjadi awal dari hubungan yang bertahan seumur hidup atau sekadar bagian indah dari perjalanan mereka.

Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu memprediksi hasil akhirnya.

Ia hanya ingin menikmati langkah berikutnya bersama Nadira.

Sementara itu, Nadira baru saja meletakkan tasnya ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Ratna.

Kami sudah menjadwalkan pertemuan untuk membahas dokumen AP-17. Ada satu informasi dalam arsip yang perlu Anda ketahui sebelum kami dapat memberikan salinan dokumen terkait.

Nadira membaca pesan itu dengan dahi berkerut.

Ia membalas bahwa dirinya akan hadir sesuai jadwal.

Kemudian, ia membuka kembali foto surat lama yang disimpannya.

Di antara nomor referensi dan tanda tangan yang memudar, ada satu nama yang belum sempat ia periksa dengan saksama.

Nama itu mungkin akan menjelaskan mengapa surat tersebut tidak pernah sampai kepada keluarganya.

Atau justru membuka pertanyaan baru yang lebih sulit dijawab.

Nadira menarik napas panjang.

Malam ini, ia telah memilih untuk memberi Raka kesempatan.

Namun, ia belum tahu apakah kebenaran yang akan segera ditemukan akan membuat pilihan itu semakin mudah atau justru mengujinya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!