Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Pesta Lima Puluh Tahun
"Pak Damar, satu gelas lagi! Lima puluh tahun, Pak, cuma sekali seumur hidup!"
Laki-laki berperut buncit dari salah satu bank mitra itu sudah mengangkat gelas anggurnya untuk ketiga kalinya. Wajahnya merah. Orang-orang di mejanya tertawa dan ikut mengangkat gelas.
Sebelum Damar sempat menolak, sebuah tangan terulur dari sisi kirinya dan mengangkat cangkir teh.
"Mohon maaf, Pak. Pak Damar hanya minum teh malam ini, perintah dokter." Anala tersenyum, sopan dan hangat. "Tapi biar saya yang bersulang mewakili beliau. Untuk lima puluh tahun berikutnya."
Dia mengangkat cangkir tehnya. Laki-laki itu tertawa, setengah kecewa, setengah terhibur, lalu ikut bersulang dan pergi ke meja lain.
Itu yang keenam malam ini.
Damar meliriknya. Anala sudah kembali duduk di kursinya, kursi paling ujung di meja keluarga, di antara seorang tante jauh yang tuli sebelah dan pilar marmer. Eyang yang mengatur tempat duduk. Eyang selalu mengatur segalanya.
Ballroom rumah Menteng malam itu dipenuhi tiga ratus orang. Spanduk emas bertuliskan 50 Tahun Grup Hadiwijaya membentang di atas panggung. Ada pertunjukan wayang singkat di awal acara, sambutan dari para direktur, video sejarah perusahaan yang diputar di layar besar. Di video itu, Eyang muda berdiri di depan gudang pertama Hadiwijaya di Tanjung Priok. Tidak ada foto Aditya, ayah Damar. Tidak ada foto siapa pun yang sudah meninggal.
Di meja sebelah, tiga tante berkebaya brokat berbisik sambil melirik ke ujung meja keluarga.
"Itu, kan, yang dikasih cincin lima miliar."
"Duduknya aja di pojok. Eyang tahu diri."
"Eyang yang tahu, dia yang nggak."
Anala pasti mendengarnya. Kalau dia mendengarnya, wajahnya tidak menunjukkan apa-apa.
"Kamu sudah makan?" tanya Damar pelan, tanpa menoleh.
"Nanti, Pak."
"Sekarang."
Anala mengambil sepotong lumpia dari piring di depannya dan memakannya dalam dua gigitan, tanpa mengalihkan pandangan dari panggung. Damar memperhatikan rahangnya bergerak, dan entah kenapa itu membuatnya sedikit lebih tenang.
Di seberang meja, Laras sedang bercerita dengan tangan bergerak-gerak tentang dosen kriminologinya yang galak. Reza duduk di sebelahnya, tertawa di saat yang tepat, mengisi gelas air Laras sebelum kosong. Setiap kali Laras mengeluarkan alat cek gula darahnya dari tas kecil di pinggang, Reza berhenti bicara dan menunggu sampai angkanya muncul.
Damar melihat itu. Dia mencatatnya untuk nanti.
Di ujung meja, Eyang berdiri untuk bersulang. "Untuk keluarga," katanya. "Keluarga yang tidak pernah terpecah." Tiga ratus gelas terangkat. Mata Eyang berhenti di wajah Damar sedikit lebih lama dari wajah yang lain.
Ketika semua orang duduk kembali, seorang pelayan muda mendekati ujung meja dan menawarkan segelas jus kepada Anala. Anala menerimanya dengan anggukan sopan. Damar melihatnya, dan tidak memikirkannya lagi.
***
Seorang pelayan meletakkan mangkuk di depan Damar.
"Sup buntut, Pak. Eyang yang minta dibuatkan khusus untuk Bapak. Katanya Bapak suka dari kecil."
Damar menatap mangkuk itu. Kuahnya bening, potongan buntutnya besar-besar, taburan bawang goreng dan seledri di atasnya. Sup buntut memang kesukaannya waktu kecil. Sebelum Bekasi. Sebelum semuanya.
Di ujung meja panjang, Eyang mengangkat sendoknya sedikit ke arahnya dan tersenyum.
Damar makan sup itu. Tidak habis, tapi cukup banyak.
Setengah jam kemudian, Bianca datang ke mejanya membawa dua gelas jus jeruk.
Dia sudah memakai gaun putih malam ini, bukan merah. Senyumnya berbeda dari biasanya, lebih lembut, hampir rendah hati. Sejak penolakan di depan keluarga besar, dia belum bicara dengan Damar sepatah kata pun.
"Aku cuma mau minta maaf," katanya pelan. "Soal ulang tahun Eyang. Soal semuanya. Aku kekanak-kanakan." Dia menyodorkan salah satu gelas. "Damai?"
Beberapa orang di meja itu menoleh. Kalau dia menolak lagi, di sini, di depan tiga ratus tamu dan para direksi bank, besok cerita itu akan sampai ke setiap grup WhatsApp di Jakarta.
Damar menerima gelas itu dan meminumnya separuh.
"Makasih," kata Bianca, dan dia pergi.
***
Lima belas menit kemudian, lantai ballroom mulai miring.
Awalnya hanya panas. Panas yang naik dari perut ke dada, ke leher, ke wajah. Damar melonggarkan kerah kemeja batiknya. Lalu jantungnya. Berdetak terlalu cepat, terlalu keras, seperti habis berlari.
Lampu-lampu kristal di langit-langit pecah menjadi titik-titik cahaya yang bergerak. Penglihatannya yang memang buruk di malam hari sekarang hampir tidak berguna. Wajah orang-orang di sekelilingnya menjadi bayangan.
Dia meraih gelas air. Tangannya meleset.
"Mas? Mas kenapa?" Suara Laras, dari sisi kanannya.
"Tidak apa-apa."
"Mas keringetan banget."
"Aku mau ke kamar mandi."
Dia berdiri. Kursinya hampir jatuh. Dia mencari kursi di ujung meja, kursi di sebelah pilar marmer, dan kursi itu kosong.
"Anala di mana?"
"Tadi Kak Nala bilang mau cari angin ke taman danau. Kayaknya pusing juga."
Pusing juga.
Sebelum Damar bisa bertanya lagi, sebuah lengan menyusup ke bawah lengannya. Wangi parfum mawar yang terlalu manis.
"Kamu pucat banget." Suara Bianca, dekat telinganya. "Ayo, aku antar ke sayap barat. Ada kamar tamu. Kamu istirahat sebentar."
Damar ingin menolak. Tapi kakinya sudah melangkah, dan lantai terus miring, dan wangi mawar itu menuntunnya keluar dari ballroom, melewati lorong-lorong yang semakin gelap.
***
Kamar itu gelap gulita.
Pintunya tertutup. Dia mendengar bunyi kunci diputar. Lalu kasur empuk di belakang lututnya, dan dia duduk karena kakinya tidak mampu berdiri lagi.
Tangan seseorang menyentuh wajahnya. Jari-jari yang dingin dan halus.
"Ini aku," bisik suara itu di dalam gelap. "Anala."
Damar membeku.
Suara itu terlalu tinggi. Terlalu manis. Anala tidak pernah berbisik seperti itu. Anala tidak pernah memakai parfum mawar. Anala wangi sedap malam, samar, seperti bunga yang hanya mekar ketika tidak ada yang melihat.
Dia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga.
Sakit itu menyambar seperti listrik. Rasa asin darah memenuhi mulutnya. Dan untuk beberapa detik, kabut di kepalanya tersibak.
Tangannya bergerak. Dia menangkap pergelangan tangan yang menyentuh wajahnya, berdiri dengan sisa tenaga yang dia punya, dan memutar tubuh itu sampai punggungnya membentur dinding.
Bianca menjerit kecil.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Damar, sakit..."
"Siapa."
Dia tidak meremas pergelangan tangan itu lebih keras. Dia hanya tidak melepaskannya. Di dalam gelap, dia bisa mendengar napas Bianca yang tersengal, bisa mencium parfum mawar yang sekarang membuatnya mual.
"Gilang," isak Bianca akhirnya. "Gilang yang... dia bilang kalau kita... kalau sudah terjadi, kamu nggak bisa nolak lagi. Eyang pasti maksa kamu nikahin aku."
"Lalu Gilang?"
Diam.
"Lalu Gilang dapat apa?"
"Dia..." Bianca menelan ludah. "Dia bilang dia yang urus sekretaris itu."
Damar melepaskan pergelangan tangannya.
Bianca merosot ke lantai sambil menangis. Damar meraba dinding, menemukan sakelar lampu, dan menyalakannya. Cahaya menyakiti matanya. Bianca terduduk di karpet dengan gaun putih yang setengah terbuka di bahu, maskaranya luntur.
Damar mengambil kunci yang tergantung di pintu, membuka pintu itu, keluar, dan menguncinya lagi dari luar.
Dari dalam, Bianca menggedor pintu. "Damar! Damar, buka! Damar!"
Dia memasukkan kunci itu ke saku celananya.
***
Lorong sayap barat panjang dan sepi. Lampu-lampu dindingnya kabur. Damar berjalan dengan satu tangan menempel di dinding, bibirnya masih berdarah, kemejanya basah oleh keringat.
Dia mengeluarkan ponselnya. Layarnya bergoyang di depan matanya. Dia menekan nama Tagih tiga kali sebelum berhasil.
"Bos."
"Anala. Cari dia. Taman danau." Napasnya pendek-pendek. "Gilang ada di dekat dia."
"Siap."
"Dan Tagih." Damar bersandar ke dinding. "Siapkan pelayan yang tadi bawa sup buntut. Kalau ada yang tanya, aku sudah pulang sejam lalu. Paham?"
Hening sebentar di seberang. Lalu, "Paham, Bos."
"Sepuluh menit lagi, bawa Eyang ke sayap barat. Bilang ada yang aneh di kamar tamu ujung."
"Bos sendiri?"
"Cari dia dulu."
Dia mematikan telepon. Dia mencoba berjalan lagi. Lorong itu bercabang dua, dan dia tidak ingat lorong mana yang mengarah ke taman danau. Rumah ini, rumah tempat dia lahir, rumah yang dia kenal setiap sudutnya sebelum dia berumur empat belas, mendadak terasa asing seperti labirin.
Anala tidak ada di sini. Anala ada di luar sana, di dekat air, sendirian, dengan Gilang.
Dia tidak pernah takut gelap. Dia sudah lama berhenti takut pada apa pun. Sejak umur empat belas, sejak tahun-tahun yang tidak ada di dinding foto rumah ini. Tapi sekarang, di lorong yang miring ini, dengan jantung yang berdetak seperti mau pecah, dia merasakan sesuatu yang sudah lama sekali tidak dia rasakan.
Takut.
Dia tidak tahu di mana perempuan itu.
Lalu suara itu datang. Dari arah kiri, dari ujung lorong yang terbuka ke taman, dari arah danau kecil di belakang rumah, tempat sebuah gazebo berdiri di atas air.
Bunyi pecahan. Keras dan tajam, seperti satu set cangkir porselen dibanting sekaligus ke lantai batu.