yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benci jadi cinta (bab 16) Antara percaya dan pergi
Keheningan yang menyakitkan tercipta di antara mereka. Marco berdiri di sana, tangan terulur, matanya penuh keputusasaan, namun Yuna mundur perlahan. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti ada yang merobek dadanya.
"Berapa lama kau berencana menyembunyikannya dariku, Marco?" suaranya bergetar, air mata tak lagi bisa ditahan jatuh di pipinya. "Sampai kapan kau akan membiarkanku hidup dalam kebohongan ini? Sampai aku mencintaimu terlalu dalam, lalu kebenaran ini hancur leburkan aku?"
"Tidak begitu, Yuna! Dengarkan aku!" Marco melangkah maju, ingin memegang tangannya, tapi Yuna menarik tangannya menjauh. Sentuhan yang dulu terasa seperti rumah, kini terasa menyakitkan.
"Katakan padaku yang sebenarnya. Apa yang terjadi dua puluh tahun lalu? Apa yang dilakukan ayahku?"
Marco menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar hebat. Ketakutan terbesarnya akhirnya terjadi — dia harus membuka luka lama yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri.
"Dua puluh tahun lalu... ayahku dan ayahmu adalah mitra bisnis. Mereka bersahabat baik. Sampai satu malam terjadi kebakaran di rumahku. Ibu terjebak di dalamnya. Ayahmu yang terakhir terlihat berbicara dengannya sebelum api menghanguskan segalanya. Ada saksi yang melihat mereka bertengkar hebat malam itu. Bukti-bukti menunjuk ke arahnya. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa ayahmu lah penyebab kematian ibuku."
Dia menatap Yuna dengan mata basah dan penuh rasa sakit yang mendalam.
"Itulah alasan aku menerima pernikahan ini. Awalnya, aku ingin menghancurkan keluargamu dari dalam. Aku pikir kau adalah bagian dari kesalahan mereka. Aku memperlakukanmu dengan buruk karena aku membenci ayahmu, dan kau adalah satu-satunya cara aku bisa menyakiti dia."
Kata-katanya menghantam Yuna lebih keras dari pukulan apa pun. Dunia seakan runtuh di kakinya. Pernikahan mereka, semua kebaikan yang perlahan tumbuh, semua senyum dan janji... semuanya berawal dari dendam?
"Jadi semua itu... hanya akal bulusmu untuk balas dendam?" suaranya nyaris tak terdengar, hatinya terasa hancur berkeping-keping.
"TIDAK! Tidak begitu!" Marco berteriak pelan, takut suaranya terlalu keras namun putus asa agar dimengerti. "Itulah awalnya, Yuna! Tapi sejak kau masuk ke hidupku, semuanya berubah! Kau tidak pernah menyakiti siapa pun. Kau baik, tulus, dan kuat. Kau menyembuhkan luka-lukaku yang kubawa selama puluhan tahun. Cintaku padamu nyata! Awalnya mungkin salah, tapi hatiku memilihmu dengan sukarela, sepenuhnya!"
Yuna menggelengkan kepalanya perlahan, mundur terus sampai punggungnya menabrak dinding. Dia tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Di satu sisi, dia tahu Marco mencintainya — dia merasakannya setiap hari, dalam setiap pelukan, setiap tatapan, setiap pengorbanan yang dilakukan Marco untuknya. Tapi keraguan itu kini merayap masuk seperti racun yang perlahan menyebar ke seluruh hatinya.
"Bagaimana aku bisa yakin, Marco? Bagaimana aku tahu bahwa semua kebaikanmu, semua kata cinta itu... bukan sekadar topeng yang kau pakai sampai rencanamu selesai?"
"Aku rela menukar nyawaku untukmu, Yuna! Bukankah itu buktinya? Saat kau terluka, saat kau hampir pergi... apa yang aku rasakan itu tidak bisa pura-pura!"
"Mungkin kau hanya menyesal rencanamu berantakan!" Yuna membentak, lalu dia menutup mulutnya sendiri, terkejut dengan kata-katanya sendiri. Dia melihat luka yang dalam tercipta di mata Marco — luka yang lebih menyakitkan daripada pisau apa pun.
Marco tersenyum getir, senyum yang penuh kepahitan dan keputusasaan. Dia mengangguk pelan, lalu perlahan menurunkan tangannya.
"Jika kau tidak bisa mempercayaiku lagi... aku tidak akan memaksamu. Aku tidak akan menyakitimu lebih dari yang sudah kulakukan. Pergilah ke kamar. Istirahatlah. Besok pagi... jika kau masih ingin pergi, aku tidak akan menahan mu. Tapi tolong... pikirkanlah baik-baik sebelum kau memutuskan sesuatu yang mungkin kau sesali selamanya."
Dia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang berat dan tertatih. Pintu ruang tamu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Yuna sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa begitu kosong dan dingin.
Yuna jatuh berlutut di lantai yang dingin, menekan mulutnya agar tidak berteriak, dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa terbelah dua — satu bagian mencintai Marco lebih dari apa pun di dunia ini, namun bagian lain merasa dikhianati dan tertipu.
Dia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar, menelepon Yona. Sahabatnya mengangkatnya dengan cepat, dan begitu mendengar suara isak tangis Yuna, dia langsung berkata:
"Aku dan Jisoo akan datang menjemputmu sekarang. Bertahanlah, Yuna. Kami ada untukmu."
Malam itu terasa paling panjang dalam hidupnya. Yuna duduk sendirian di tepi tempat tidur, menatap jendela yang gelap. Di luar, angin berhembus kencang, seakan ikut merasakan kekacauan di hatinya. Dia tahu Marco ada di ruang kerjanya di lantai bawah — sendirian, sama sepi dan sama hancurnya seperti dirinya. Dia ingin berlari ke bawah, memeluknya, dan berkata bahwa dia percaya. Tapi keraguan itu menahannya.
Keesokan paginya, saat fajar baru menyingsing, terdengar ketukan di pintu depan. Yuna sudah siap dengan tas kecil di tangannya. Dia berjalan menuju pintu, kakinya terasa berat bagaikan terikat rantai. Marco berdiri di ujung tangga, menatapnya dengan mata yang sembab dan wajah yang pucat. Dia tidak bergerak maju. Dia hanya berdiri di sana, seakan takut jika dia melangkah satu langkah pun, Yuna akan lenyap selamanya.
Mereka saling menatap untuk terakhir kalinya sebelum perpisahan yang menyakitkan. Tidak ada kata yang terucap. Namun di mata mereka berdua, terbaca satu hal yang sama — mereka saling mencintai, tapi saat ini... rasa sakit dan ketidakpastian lebih besar daripada keberanian untuk bertahan.
Yuna membuka pintu dan melangkah keluar. Langit terasa mendung, persis seperti hatinya. Saat pintu tertutup di belakangnya, Marco terjatuh berlutut di tangga, air mata jatuh tanpa suara.
Julian berdiri di kejauhan, tersenyum puas melihat pemandangan itu. Dia berhasil. Benih keraguan yang ia tanam telah tumbuh dan memisahkan dua hati yang saling mencintai.
BERSAMBUNG...