NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Rahasia yang Dibawa ke Liang Kubur

Hujan turun sejak sore ketika Celine Wang berdiri di depan jendela apartemennya. Di tangannya terdapat foto yang baru diterimanya beberapa jam lalu: Victor Wu berdiri di samping seorang perempuan muda yang menggendong anak kecil. Di balik foto itu tertulis kalimat singkat yang terus menghantui pikirannya.

*Untuk keluarga yang harus tetap tersembunyi.*

Celine memandangi wajah perempuan dalam foto tersebut. Semakin lama ia memperhatikan, semakin kuat keyakinannya bahwa perempuan itu adalah Shen Yiran, putri Shen Guowei yang menghilang lima belas tahun lalu.

Namun, ada sesuatu yang lebih mengganggunya daripada identitas perempuan itu.

Mengapa Victor Wu, pria yang selama ini begitu dingin dan penuh perhitungan, menyimpan foto seperti itu?

Dan mengapa seseorang sengaja mengirimkannya sekarang?

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Daniel masuk bersama sebuah foto dokumen lama.

**Daniel:** *Aku menemukan sesuatu dari arsip Liang Zhen. Kau harus melihat ini sebelum mengambil keputusan.*

Celine segera meneleponnya.

“Apa yang kau temukan?”

“Catatan pembayaran kepada sebuah klinik swasta di Hangzhou. Pembayarannya dilakukan melalui perusahaan perantara yang pernah terhubung dengan Shengyuan.”

“Siapa pasiennya?”

Daniel terdiam sesaat.

“Nama yang tercatat adalah Shen Yiran. Tetapi tanggal pembayarannya tiga hari setelah kematian ayahmu.”

Celine mencengkeram ponselnya lebih erat.

“Tiga hari setelah kematian Ayah?”

“Ya. Dan ada satu hal lagi. Pembayaran itu disetujui menggunakan kode otorisasi yang sama dengan transaksi 0917.”

Celine memejamkan mata.

Satu demi satu, potongan masa lalu mulai menyatu. Perjalanan Evelyn ke Hangzhou. Hilangnya Shen Yiran. Dokumen yang diambil dari Liang Zhen. Mobil kedua yang mengikuti ayahnya pada malam kecelakaan.

Namun, semakin banyak yang ia ketahui, semakin sulit menentukan siapa yang sebenarnya harus ia percaya.

“Daniel, apakah catatan ini asli?”

“Aku sedang meminta pemeriksaan independen. Untuk sekarang, kita hanya bisa menganggapnya sebagai petunjuk.”

“Bagus. Jangan biarkan siapa pun mengubah petunjuk menjadi tuduhan sebelum kita punya bukti.”

Setelah mengakhiri panggilan, Celine menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.

Dulu, ia percaya bahwa kebenaran selalu membawa kelegaan. Ia membayangkan suatu hari nanti ia akan menemukan orang yang menghancurkan keluarganya, menghadapinya, lalu meninggalkan masa lalu dengan hati yang lebih ringan.

Kini ia mulai memahami bahwa kebenaran tidak selalu sesederhana itu.

Bisa jadi orang yang bersalah adalah seseorang yang pernah ia hormati. Bisa jadi orang yang membantunya sekarang menyimpan rahasia yang tak sanggup ia maafkan.

Dan yang paling menakutkan, bisa jadi ia akan menemukan alasan untuk membenci seseorang yang sebenarnya pernah berusaha melindunginya.

Termasuk Alexander Wu.

Nama pria itu muncul dalam pikirannya tanpa diundang.

Celine membenci kenyataan bahwa sebagian kecil hatinya masih mengingat Alexander sebagai lelaki yang pernah menunggunya pulang, membawakan teh ketika ia sakit, dan menggenggam tangannya saat ia menangis karena kehilangan ibunya.

Kenangan itu tidak menghapus pengkhianatan mereka. Namun, kenangan itu membuat kebencian terasa lebih rumit daripada yang ia inginkan.

“Aku tidak boleh membiarkan perasaanku menentukan siapa yang bersalah,” bisiknya.

***

Keesokan paginya, Celine bertemu Daniel di sebuah kafe kecil yang jauh dari pusat kota. Di atas meja, Daniel meletakkan salinan catatan klinik, laporan pembayaran, serta foto Victor bersama perempuan dan anak kecil.

“Menurutmu, Victor menyembunyikan Shen Yiran?” tanya Celine.

“Bisa jadi. Tetapi ada kemungkinan lain. Dia mungkin membantu Yiran melarikan diri dari seseorang.”

“Lalu mengapa dia tidak pernah mengatakan apa pun?”

Daniel menghela napas. “Karena orang yang dilindungi dan orang yang disembunyikan kadang terlihat sama dari luar. Kita belum tahu siapa yang sebenarnya membutuhkan perlindungan.”

Celine menatap foto tersebut sekali lagi.

“Bagaimana dengan anak itu?”

“Belum diketahui. Tidak ada nama pada salinan foto yang kita miliki.”

Sebelum Celine sempat menjawab, seorang pelayan menghampiri meja mereka dan menyerahkan amplop cokelat.

“Seorang pria menitipkan ini untuk Nona Wang. Dia tidak menyebutkan namanya.”

Celine menunggu sampai pelayan itu pergi sebelum membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat selembar kertas dan sebuah kunci kecil berwarna perak.

Tulisan pada kertas itu hanya satu kalimat.

*Jika ingin mengetahui siapa yang membawa Shen Yiran pergi, temui Liang Zhen malam ini. Datanglah sebelum seseorang membuatnya menghilang untuk kedua kalinya.*

Daniel langsung berdiri.

“Ini jebakan.”

“Mungkin.”

“Kau tidak bisa pergi sendirian.”

“Aku tidak akan pergi sendirian.” Celine menyimpan kertas itu. “Tetapi aku juga tidak akan mengabaikan kemungkinan bahwa Liang berada dalam bahaya.”

Daniel mengangguk, meski wajahnya tetap tegang.

“Kita akan mengatur pengawasan. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, kita batalkan pertemuan.”

Celine menyetujui rencana itu. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa malam nanti mungkin akan menjadi titik balik penyelidikannya.

Ia hanya berharap tidak harus membayar kebenaran dengan kehilangan orang lain.

***

Di sisi lain kota, Alexander Wu berdiri di ruang kerja ayahnya.

Victor duduk di balik meja besar, membaca dokumen seolah-olah kedatangan putranya tidak berarti apa-apa.

“Aku ingin tahu siapa Shen Yiran sebenarnya bagimu,” kata Alexander.

Victor tidak mengangkat kepala. “Aku sudah mengatakan bahwa urusan Shengyuan adalah masa lalu.”

“Kalau begitu, mengapa ada pembayaran klinik atas namanya tiga hari setelah kematian William Wang?”

Tangan Victor berhenti membalik halaman.

Hanya sesaat, tetapi Alexander melihatnya.

“Kau mengakses arsipku?” tanya Victor dingin.

“Aku mencari kebenaran.”

“Kebenaran tidak selalu berguna bagi orang yang masih hidup.”

Alexander tertawa pendek tanpa kegembiraan.

“Kalimat itu terdengar seperti ancaman.”

“Itu peringatan.” Victor akhirnya menatap putranya. “Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, Alexander. Ada orang-orang yang kehilangan segalanya karena mencoba membuka kembali perkara ini.”

“Termasuk William?”

Wajah Victor mengeras.

“Jangan menyebut namanya seolah-olah kau memahami apa yang terjadi malam itu.”

“Kalau begitu, jelaskan kepadaku.”

Victor bangkit dan berjalan menuju lemari arsip di sudut ruangan. Ia membuka laci yang terkunci, lalu mengeluarkan sebuah foto tua.

Alexander mengenali Shen Yiran di dalamnya. Perempuan itu berdiri di antara Victor dan Shen Guowei. Namun, di sisi belakang foto terdapat tulisan tangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

*Jika aku tidak kembali, jangan serahkan anak itu kepada mereka.*

Alexander menatap ayahnya.

“Siapa yang menulis ini?”

Victor segera mengambil foto tersebut dari tangannya.

“Keluar.”

“Ayah—”

“Keluar!”

Alexander tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di wajah ayahnya yang lebih kuat daripada kemarahan: ketakutan.

Dan ketakutan itu membuat Alexander semakin yakin bahwa selama ini ia hanya mengetahui sebagian kecil dari rahasia keluarganya sendiri.

“Aku tidak akan berhenti,” katanya pelan. “Tidak peduli siapa yang harus kuhadapi.”

Victor menatapnya dengan mata yang tampak jauh lebih tua.

“Kalau kau terus berjalan, kau mungkin akan berharap tidak pernah menemukan jawabannya.”

Alexander meninggalkan ruangan tanpa menjawab.

Di koridor, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Daniel.

“Aku perlu bicara dengan Celine.”

“Kalau ini soal masa lalu kalian, jangan hubungi dia,” jawab Daniel tegas.

“Ini bukan soal pernikahan kami. Aku menemukan sesuatu tentang Shen Yiran.”

Daniel terdiam.

“Apa?”

“Catatan pembayaran klinik. Dan ayahku masih menyimpan foto Shen Yiran dengan sebuah pesan yang menyebut seorang anak.”

Keheningan panjang menyusul.

Akhirnya Daniel berkata, “Aku akan menyampaikan informasi itu kepadanya. Dia yang akan memutuskan apakah ingin bicara denganmu.”

Alexander menutup mata sejenak.

Dulu, ia akan memerintahkan Daniel untuk mengatur pertemuan. Ia akan memastikan Celine datang, mendengar penjelasannya, dan memberikan kesempatan kepadanya.

Sekarang ia tahu, ia tidak lagi memiliki hak untuk menuntut apa pun.

“Baik,” katanya. “Sampaikan saja faktanya. Aku tidak akan memaksanya.”

***

Malam tiba bersama kabut tipis di kawasan pelabuhan lama Shanghai.

Celine dan Daniel tiba lebih awal di lokasi yang disebutkan dalam pesan. Gudang-gudang tua berdiri sunyi di sepanjang jalan, sementara suara ombak terdengar samar dari kejauhan.

Liang Zhen belum terlihat.

Daniel memeriksa ponselnya. “Tim pengawas sudah berada di sekitar sini. Kita tidak akan masuk ke bangunan tertutup tanpa memastikan keadaan aman.”

Celine mengangguk, lalu memperhatikan sebuah mobil abu-abu yang terparkir di seberang jalan.

Lampunya mati.

Mesinnya tampak tidak menyala.

Namun, kaca jendelanya terlalu gelap untuk melihat siapa yang berada di dalam.

Tiba-tiba, seorang lelaki tua muncul dari balik gudang. Liang Zhen berjalan tertatih-tatih sambil memegangi sebuah tas kain usang.

“Nona Wang,” panggilnya.

Celine segera menghampirinya.

“Apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun lalu, Tuan Liang?”

Liang tidak langsung menjawab. Matanya justru tertuju pada mobil abu-abu di seberang jalan.

Wajahnya berubah pucat.

“Mereka menemukan saya.”

“Siapa?”

Liang meraih tangan Celine dan menyelipkan sebuah benda kecil ke telapak tangannya.

Sebuah alat perekam suara.

“Dengarkan rekaman ini,” bisiknya. “Di dalamnya ada suara orang yang memerintahkan pengambilan amplop ayahmu.”

“Siapa orang itu?”

Liang membuka mulut, tetapi sebelum satu kata pun keluar, suara benturan keras terdengar dari arah jalan.

Mobil abu-abu itu mendadak menyalakan lampunya.

Dua pria bertopeng turun dan berlari ke arah mereka.

Daniel berteriak agar Celine mundur. Tim pengawas bergerak dari balik bangunan, tetapi salah satu pria itu lebih cepat. Ia menerjang Liang dan berusaha merebut tas kainnya.

Liang terjatuh.

Celine berlutut di sampingnya, sementara Daniel dan petugas keamanan mengejar kedua penyerang.

“Bertahanlah, Tuan Liang!”

Lelaki tua itu menggenggam pergelangan tangannya dengan sisa tenaga.

“Jangan percaya pada orang yang membawa Yiran pergi,” bisiknya. “Dia bukan orang yang kau kira.”

“Siapa dia? Katakan namanya!”

Liang menatap Celine dengan mata berkaca-kaca.

“Orang itu… berada di dalam keluarga yang selama ini kau cari.”

Genggamannya melemah.

Sebelum Celine sempat bertanya lebih jauh, Liang pingsan.

Di tangannya, alat perekam suara itu masih menyala. Dari pengeras suara kecilnya terdengar bunyi desis, disusul suara seorang pria yang begitu pelan hingga nyaris tertelan angin malam.

Namun, satu kalimat terdengar jelas.

“Pastikan William tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya berada di mobil kedua.”

Celine membeku.

Suara itu terasa akrab.

Sangat akrab.

Ia pernah mendengarnya dalam ruangan yang hangat, di tengah percakapan keluarga, bertahun-tahun sebelum seluruh hidupnya runtuh.

Dengan tangan gemetar, Celine menatap Daniel.

“Daniel… aku mengenal suara ini.”

Daniel memandang alat perekam itu, lalu wajah Celine.

“Siapa?”

Celine menelan rasa takut yang mendadak memenuhi tenggorokannya.

Ia ingin menyebut sebuah nama. Namun, bibirnya menolak bergerak.

Karena jika tebakannya benar, orang yang selama ini mereka cari bukan sekadar seseorang yang menyembunyikan kebenaran.

Orang itu mungkin telah berdiri di sampingnya selama bertahun-tahun—dan membiarkan Celine percaya bahwa kematian ayahnya hanyalah sebuah kecelakaan.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan tanpa nama masuk.

*Sekarang kau sudah mendengar suaranya. Pertanyaannya, Celine: apakah kau cukup berani mengungkapnya jika orang itu adalah satu-satunya orang yang masih bisa membawamu kepada Shen Yiran?*

Celine menatap layar itu lama sekali.

Untuk pertama kalinya sejak memulai penyelidikan, ia tidak merasa sedang mendekati kemenangan.

Ia merasa sedang berdiri di tepi jurang, dengan kebenaran di satu tangan dan kemungkinan kehilangan segalanya di tangan yang lain.

Dan malam itu, ia sadar bahwa ujian terbesarnya bukanlah menemukan siapa yang bersalah.

Melainkan berani menerima kebenaran ketika kebenaran itu akhirnya menyebut nama seseorang yang tak pernah ia sangka akan menjadi musuhnya.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!