NovelToon NovelToon
CINTA SEMANIS PARE

CINTA SEMANIS PARE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Bad Boy
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KENCAN YANG ANEH

Mobil Lohan melaju menyusuri jalanan ibu kota yang cukup ramai. Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mobil itu akhirnya berhenti di halaman sebuah restoran.

Restoran tersebut memang tidak terlalu mewah, tetapi suasananya nyaman dan cukup ramai oleh pengunjung yang menikmati makan malam.

Lohan turun lebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Awen.

Begitu Awen turun, dia justru berjalan menghampiri Afu dan langsung merangkul lengannya. Setelah itu, dia berjalan di samping Lohan tanpa melepaskan rangkulan tersebut.

Lohan yang melihat tingkah mereka hanya bisa mengernyit. Sesekali, dia melirik Awen dan Afu secara bergantian.

Ada sesuatu yang terasa aneh di antara keduanya.

“Awen, kalian benar-benar saudara, ya?”

Afu langsung memalingkan wajah, sementara Awen menjawab dengan santai.

“Iya, dong! Memangnya kenapa?”

Lohan sedikit tergagap.

“Oh, nggak. Nggak apa-apa.”

Dia berusaha tersenyum, meskipun rasa penasarannya belum benar-benar hilang.

Sesampainya di dalam restoran, dua orang pelayan perempuan menyambut mereka dengan ramah. Salah seorang pelayan segera mempersilakan Awen dan Afu duduk di meja yang telah disiapkan.

“Silakan duduk, Nona dan Tuan.”

Awen langsung menarik kursi untuk Afu, lalu duduk di sampingnya.

Kedua pelayan itu saling berpandangan. Salah seorang di antaranya kemudian menghampiri Lohan yang masih berdiri.

“Maaf, Tuan. Pria yang bersama Nona tadi teman kalian juga?”

Afu mengangguk singkat.

“Iya, Mbak.”

Pelayan itu tersenyum, lalu mempersilakan Lohan duduk.

Lohan akhirnya duduk di hadapan Awen dan Afu dengan wajah yang sedikit masam. Dia sebenarnya ingin menikmati makan malam romantis bersama Awen, tetapi sejak tadi saudara gadis itu terus menempel seperti bayangan.

Salah seorang pelayan kemudian menyodorkan daftar menu kepada mereka.

Lohan tersenyum kepada Awen.

“Silakan, Bidadari. Lo mau pesan apa?”

Alih-alih mengambil daftar menu itu, Awen justru menyerahkannya kepada Afu.

“Afu, lo pilih dulu, deh. Gue bingung mau makan apa.”

Afu mengangkat alis.

“Kenapa gue? Ini kan kencan lo.”

“Ya, terus kenapa? Lo kan tahu makanan yang gue suka.”

Afu terdiam sesaat, lalu mulai membaca daftar menu.

Lohan yang melihat kejadian itu akhirnya mengulurkan tangan dan mengambil daftar menu dari Afu.

“Kalau begitu, biar gue saja yang pilihkan.”

Awen mengangguk dengan santai.

Kedua pelayan yang berdiri di dekat mereka kembali saling pandang. Salah seorang bahkan menyenggol lengan temannya sambil menahan senyum.

Lohan menyadari tingkah mereka.

“Mbak, boleh minta tolong pilihkan menu yang cocok untuk pasangan yang baru jadian?”

Pelayan itu langsung tersenyum lebar.

“Tentu, Tuan!”

Dia kemudian menunjukkan beberapa menu andalan restoran yang cocok untuk makan malam berdua. Lohan pun memesan beberapa hidangan beserta minumannya.

Setelah pelayan pergi, Lohan kembali memusatkan perhatian kepada Awen.

Sementara itu, Afu duduk dengan wajah datar, sesekali memainkan ponselnya. Dia berusaha terlihat tidak peduli, meskipun telinganya terus menangkap percakapan di antara kedua orang di hadapannya.

Tiba-tiba, Lohan meraih tangan Awen yang terletak di atas meja.

Awen langsung tersipu malu. Wajahnya memerah ketika Lohan menggenggam tangannya dengan kedua tangan.

Namun, pada saat yang sama, Afu justru terbatuk.

“Uhuk!”

Lohan dan Awen spontan menoleh.

Karena merasa malu ketahuan, Afu buru-buru menunduk dan pura-pura sibuk memeriksa ponselnya.

“Maaf, keselek,” gumamnya.

Lohan mengerutkan kening, tetapi kemudian kembali menatap Awen.

Awen tersenyum malu-malu. Dia mencoba membalas tatapan Lohan, tetapi sesekali matanya melirik Afu yang tampak sibuk dengan ponselnya.

Lohan akhirnya melepaskan tangan Awen untuk mengambil sesuatu dari balik jasnya.

Sebuah kotak kecil muncul di tangannya.

“Awen, gue punya sesuatu buat lo.”

Mata Awen langsung berbinar ketika Lohan menyerahkan kotak tersebut.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Dengan penuh rasa penasaran, Awen membuka kotak itu. Begitu melihat isinya, matanya langsung membelalak.

Sebuah kalung berlian dengan batu berwarna biru terbaring di dalamnya. Cahaya lampu restoran yang temaram memantul pada permukaannya, membuat kalung itu terlihat semakin berkilau.

“Ya ampun, Lohan! Ini indah banget!”

Lohan tersenyum puas melihat reaksinya.

“Lo suka?”

“Suka banget! Makasih, Lohan!”

Di seberang meja, Afu hanya bisa memandang mereka dengan sudut mata.

Astaga, aneh banget. Dulu Alu paling suka main game, sekarang malah girang banget dikasih berlian. Dasar Alu sinting!

Lohan kemudian berdiri.

“Boleh gue pakaikan ke leher lo?”

Awen mengangguk malu-malu sambil sedikit merapikan rambutnya.

Lohan berjalan ke belakang kursi Awen, mengambil kalung dari kotaknya, lalu memasangkannya dengan hati-hati di leher gadis itu.

“Gimana? Cocok nggak?”

Awen memandangi kalung tersebut melalui pantulan kaca di dekat meja. Senyumnya semakin lebar.

“Cocok banget! Kayaknya gue memang cocok pakai ini.”

Afu yang mendengar jawaban itu menggerakkan bibirnya tanpa suara, seolah sedang mengejek mereka.

Sayangnya, Lohan dan Awen tidak menyadarinya.

Tak lama kemudian, para pelayan datang membawa pesanan mereka.

“Silakan, Tuan dan Nona. Hidangannya sudah siap. Selamat menikmati.”

“Terima kasih, Mbak,” jawab Lohan.

“Kalau ada yang dibutuhkan, silakan panggil kami.”

Setelah para pelayan pergi, Lohan mengambil gelas minuman dan menyerahkannya kepada Awen.

“Bidadari cantik, minum dulu, yuk.”

Awen yang baru saja meneguk minumannya langsung tersedak.

“Uhuk! Uhuk!”

Air yang masih berada di mulutnya hampir tersembur keluar.

Lohan membelalakkan mata, buru-buru meletakkan gelasnya, lalu kembali duduk.

Awen menoleh ke arah Afu dengan tatapan tajam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mencubit paha saudara kembarnya itu dari bawah meja.

Afu langsung meringis.

“Aduh!”

“Maaf, maaf,” ucap Afu sambil menahan tawa. “Gue nggak sengaja. Silakan dilanjutkan.”

Awen menyipitkan mata, seolah memberi peringatan agar Afu tidak mengulangi perbuatannya.

Lohan menghela napas pelan, mencoba mengembalikan suasana romantis yang terusik.

“Oke, kalau begitu, kita makan dulu, ya.”

Dia mengambil sepotong makanan menggunakan sumpit, lalu menyodorkannya ke arah Awen.

“Coba ini. Kayaknya lo bakal suka.”

Awen tersenyum malu-malu. Dia sempat melirik Afu, lalu kembali menatap Lohan.

Perlahan, dia membuka mulut untuk menerima suapan tersebut.

Namun, sebelum makanan itu menyentuh bibirnya, Afu kembali terbatuk.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

Kali ini, batuk Afu terdengar lebih keras. Lohan sampai menghentikan gerakan tangannya, sementara makanan yang hendak disuapkan kepada Awen jatuh kembali ke piring.

Awen dan Lohan saling berpandangan dengan ekspresi bingung.

“Afu, lo kenapa, sih?” tanya Awen.

Afu segera berdiri sambil menutup mulutnya.

“Maaf, sepertinya gue kebelet pipis. Gue ke kamar mandi dulu. Kalian lanjut saja makannya.”

Tanpa menunggu jawaban, dia segera meninggalkan meja.

Begitu sampai di kamar mandi, Afu menyandarkan punggungnya ke dinding.

Awalnya, dia hanya ingin mengatur napas. Namun, ketika mengingat wajah Lohan yang menyuapi Awen, dia justru tertawa lepas.

“Gila! Kencan macam apa itu? Kenapa gue malah jadi pengganggu?”

Dia tertawa lagi, tetapi perlahan tawanya mereda.

Afu menatap dirinya sendiri di cermin.

Untuk sesaat, dia seperti melihat bayangan Awen berdiri di belakangnya. Afu langsung menoleh, tetapi tidak ada siapa pun di sana.

Dia kembali menatap cermin. Kali ini, yang terlihat hanya pantulan wajahnya sendiri.

Senyum di bibirnya perlahan menghilang.

Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tidak bisa dia pahami.

“Kenapa gue jadi begini, sih? Kenapa gue harus marah? Kenapa gue kesal melihat Alu makan sama Lohan?”

Afu mengusap wajahnya.

“Gue cuma mau melindungi Alu. Gue nemenin dia karena dia saudara kembar gue. Dia belum terbiasa dengan tubuh barunya, jadi wajar kalau gue khawatir.”

Dia terdiam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“Tapi, kenapa rasanya beda banget?”

Afu membuka keran, membasuh wajahnya, lalu mengusapnyA dengan kedua tangan. Dia melakukannya beberapa kali, berharap air dingin bisa menjernihkan pikirannya.

Namun, yang muncul justru sebuah kenangan lama.

Saat itu, matahari bersinar terik. Awen sedang duduk di sebuah bangku taman kampus.

Awen menepuk tempat kosong di sampingnya.

“Afu, sini duduk!”

Afu menghampiri sambil membawa dua es krim.

“Nih, yang ini punya lo.”

Dia menyerahkan salah satunya kepada Awen, lalu duduk di samping gadis itu.

Mereka menikmati es krim sambil berbincang dan bercanda. Sesekali, Awen tertawa mendengar lelucon Afu.

Namun, beberapa saat kemudian, Awen mendadak berhenti tertawa dan menatap wajah Afu.

Afu mengernyit.

“Kenapa lo lihatin wajah gue terus?”

Awen tidak menjawab. Dia justru membuka tasnya, mengambil selembar tisu, lalu mengulurkannya ke arah Afu.

“Ya ampun, Afu. Lo udah gede, tapi kalau makan masih belepotan. Yang rapi, dong!”

Afu baru menyadari bahwa bibirnya terkena es krim.

“Eh, iya, ya?”

Awen mendekat dan mulai membersihkan noda di bibirnya.

Saat itulah Afu meraih tangan Awen yang masih memegang tisu.

Keduanya mendadak terdiam.

Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa saat, tak ada yang berbicara. Afu merasakan jantungnya berdebar semakin cepat ketika menyadari betapa dekat wajah mereka.

Tanpa sadar, dia mulai mendekat.

Awen tidak menjauh. Gadis itu justru perlahan ikut mendekatkan wajahnya.

Jarak di antara mereka semakin tipis. Mata mereka saling menatap, sementara Afu hampir tidak berani bernapas.

Sedikit lagi, bibir mereka akan bersentuhan.

Namun, tiba-tiba es krim di tangan kanan Afu meleleh dan menetes tepat ke paha Awen.

“AFU!”

Awen langsung berdiri sambil menatap noda di pakaiannya.

Afu tersentak, lalu buru-buru ikut berdiri.

“Maaf! Gue nggak sengaja!”

Momen yang hampir menjadi ciuman pertama mereka pun berakhir begitu saja.

Afu tersenyum kecil saat mengingat kejadian itu.

Dia menatap bayangannya sendiri di cermin, seolah berharap Awen berdiri di sana dan bisa menjawab pertanyaan yang selama ini dipendamnya.

“Awen, kasih tahu gue. Sebenarnya, siapa yang ada di samping gue setiap hari sekarang? Elo atau saudara kembar gue?”

Tentu saja, cermin itu tidak memberikan jawaban.

Afu mengembuskan napas panjang, lalu menundukkan kepala.

Dia tidak tahu apakah dirinya sedang merindukan Awen, atau justru mulai merasakan sesuatu terhadap Alu yang kini berada dalam tubuh gadis itu.

Yang dia tahu, perasaannya semakin sulit dikendalikan.

Setelah merasa cukup tenang, Afu akhirnya kembali ke meja restoran.

Namun, begitu tiba, dia justru terkejut melihat Awen berdiri sambil menangis.

Lohan masih duduk di kursinya dengan wajah kebingungan. Piring-piring makanan di atas meja tampak belum banyak tersentuh.

“Awen? Ada apa?” Afu segera menghampirinya.

Belum sempat dia bertanya lebih jauh, Awen langsung berlari dan memeluknya erat.

“Afu ...”

Suara Awen terdengar bergetar di sela tangisnya.

Afu tertegun. Dia tidak mengerti apa yang telah terjadi selama dirinya berada di kamar mandi.

“Kenapa, Wen? Apa yang terjadi?”

Namun, Awen tidak menjawab. Dia justru semakin erat memeluk Afu, seolah hanya ingin segera pergi dari tempat itu.

Dia segera menarik tangan Afu dan membawanya keluar dari restoran.

Afu sempat menoleh ke arah Lohan dengan wajah penuh tanda tanya, tetapi dia tidak sempat mengatakan apa-apa.

Begitu tiba di luar, Awen menghentikan sebuah taksi yang sedang melintas. Dia segera masuk, menarik Afu agar ikut duduk di sampingnya, lalu menyebutkan alamat apartemen mereka.

Taksi itu pun melaju meninggalkan restoran.

Sepanjang perjalanan, Afu terus berusaha mencari tahu apa yang terjadi.

“Awen, sebenarnya ada apa? Kenapa lo menangis? Lohan ngapa-ngapain lo?”

Awen hanya menggeleng sambil terisak. Dia menyandarkan kepala di bahu Afu dan memeluk lengannya erat-erat.

Afu akhirnya berhenti bertanya.

Dia menatap wajah Awen yang basah oleh air mata, lalu perlahan mengangkat tangan untuk mengusap kepalanya.

Apa pun yang terjadi di restoran tadi, Afu tahu satu hal: Awen sedang sangat terluka.

Dan untuk saat ini, dia hanya ingin memastikan gadis itu tidak menghadapinya sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!