NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Perjodohan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.

Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.

Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketemu Ayah Dan Selingkuhannya 22.

Laura melangkah maju. Ketukan sepatu fantofelnya di atas lantai koridor terdengar konstan, seolah-olah dia sedang menghitung mundur sisa waktu ketenangan yang dimiliki Novia. Tatapannya yang penuh intimidasi tertuju lurus pada Novia, menelanjangi ketakutan yang masih tersisa di bola mata gadis itu.

"Lo pikir gue nggak tahu jenis mobil yang biasa jemput lo sepulang sekolah?" Laura terkekeh sinis, suaranya pelan namun menusuk. "Dan tiba-tiba kemarin lo masuk ke dalam SUV hitam Reyhan. Sepupu? Sejak kapan seorang Reyhan Dirgantara punya sepupu yang seragamnya aja kelihatan agak pudar begini?"

Penghinaan itu telak. Novia merasakan dadanya berdenyut perih. Dia meremas ujung seragamnya, berusaha menahan diri agar tidak terlihat semakin kerdil.

Di Pelita Bangsa, status sosial adalah segalanya, dan Laura tahu persis bagaimana cara menguliti harga diri seseorang di depan umum.

Namun, sebelum Novia sempat membuka suara, sebuah bayangan tinggi bergerak memblokade jarak pandang Laura. Reyhan bergeser, dengan sengaja menyembunyikan Novia di balik punggung tegapnya.

"Gue nggak punya kewajiban buat ngejelasin silsilah keluarga gue ke lo, Laura," ucap Reyhan. Suaranya rendah, dingin, dan sarat akan penekanan yang mutlak.

Tidak ada kepanikan, tidak ada keraguan. Topeng Ketua OSIS-nya terpasang sempurna.

Laura mendengus, menatap Reyhan dengan binar kekecewaan yang coba dia sembunyikan di balik tawa hambar. "Lo selalu belain dia, Rey. Dari kejadian kantin kemarin, sampai sekarang. Lo bahkan rela bohongin Pak Baskoro demi cewek kayak dia? Apa yang dia punya sampai lo serendah ini?"

"Jaga batasan lo," potong Reyhan cepat. Sorot matanya menajam, mengirimkan sinyal bahaya yang membuat Laura terdiam sesaat. "Urus urusan lo sendiri. Jangan sampai jabatan lo di sekbid keputrian gue evaluasi cuma karena lo sibuk ngurusin gosip murahan."

Tanpa menunggu jawaban dari Laura, Reyhan langsung menyambar pergelangan tangan Novia. Cengkeramannya kuat, namun entah mengapa tidak menyakiti.

Dia menarik Novia pergi dari sana, meninggalkan Laura yang berdiri mematung dengan napas yang memburu menahan geram.

Mereka berjalan cepat menyusuri koridor yang mulai ramai oleh siswa-siswi yang baru berdatangan.

Novia hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut yang terurai. Sentuhan tangan Reyhan di pergelangan tangannya terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan sikap dingin cowok itu sehari-hari. Ada desiran aneh yang mendadak menyergap dadanya, sebuah perasaan bersalah sekaligus ketergantungan yang keliru.

Tepat di depan pintu kelas, Reyhan melepaskan genggamannya. Dia berbalik, menatap Novia yang masih tertunduk lesu.

"Ayo masuk," ujar Reyhan datar, kembali ke mode normalnya yang irit bicara. "Jangan pikirin omongan Laura. Fokus sama pelajaran."

Novia mendongak, menatap manik mata hitam pekat milik Reyhan. "Rey... makasih. Dan... maaf."

Reyhan tidak menjawab. Dia hanya memejamkan mata sekejap, Novia sekilas menatap mata terpejam Reyhan yang sesaat.

Di dalam hatinya, raut wajah itu seolah diselimuti rasa sesak itu belum sepenuhnya hilang.

Mereka baru saja lolos dari lubang jarum, tapi mereka tahu, kebohongan baru ini justru akan melahirkan masalah-masalah lain yang jauh lebih rumit.

Ketegangan di ruang Kepala Sekolah dan konfrontasi dengan Laura sukses membuat fokus Novia buyar sepanjang hari.

Dia sama sekali tidak bisa mencerna materi pelajaran fisika maupun sejarah yang disampaikan guru di depan kelas. Kepalanya dipenuhi oleh bayangan skenario-skenario buruk yang bisa menghancurkan hidupnya dalam sekejap.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Novia adalah orang pertama yang mengemas barang-barangnya. Dia ingin cepat pulang, mengunci diri di kamar, dan melupakan hari yang gila ini.

Namun, baru saja dia melangkah keluar dari gerbang sekolah, sebuah klakson motor matic berbunyi di dekatnya.

Hari ini Reyhan sengaja tidak membawa mobilnya, bukan karena belajar dari pengalaman, melainkan Reyhan mengantisipasi hal buruk yang sudah terencana.

Pemuda itu sudah mengganti kemeja OSIS-nya setelah ada rapat dengan jaket hoodie hitam polos, duduk di atas motornya dengan helm yang kacanya terangkat setengah.

"Naik," perintahnya tanpa basa-basi.

Novia mengernyitkan dahi. "Hah? Mau ke mana? Nanti kalau anak-anak lain lihat gimana? Rumor sepupu kita bisa makin aneh kalau kita pulang bareng lagi."

"Nggak usah banyak bantah. Naik aja," cetus Reyhan, nadanya tidak menerima penolakan. "Gue nggak mau lo pingsan di jalan dan bikin gue repot lagi."

Mau tidak mau, Novia melangkah mendekat dan naik ke jok belakang.

Selama perjalanan, keheningan yang canggung kembali menyelimuti mereka.

Angin sore menerpa wajah Novia, sedikit mengikis rasa penat di kepalanya. Dia menatap punggung tegap Reyhan yang berada tepat di depannya. Cowok ini begitu misterius, penuh rahasia, namun entah mengapa selalu menjadi pelindung di saat-saat paling krusial dalam hidupnya.

Motor Reyhan membelah jalan raya kota yang mulai padat. Namun, alih-alih berbelok ke arah apartemen tempat mereka tinggal, Reyhan justru mengarahkan kemudinya menuju area komersial di tengah kota. Motor itu akhirnya berhenti di parkiran sebuah restoran bernuansa semi-formal yang cukup tenang dengan pencahayaan hangat.

"Kita ngapain ke sini?" tanya Novia bingung setelah turun dari motor.

"Makan," jawab Reyhan pendek sambil melepaskan helmnya. "Muka lo pucat dari pagi. Gue nggak mau dituduh macam-macam sama bokap lo kalau lo pulang dalam keadaan kelaparan."

Novia tertegun. Di balik sifatnya yang ketus dan otoriter, Reyhan ternyata memiliki sisi perhatian yang begitu halus. Perhatian kecil yang sukses membuat jantung Novia memberikan reaksi berlebihan.

Mereka memilih meja di sudut ruangan, agak jauh dari jendela besar yang menghadap ke jalan raya agar tidak terlalu mencolok.

Setelah memesan makanan, atmosfer di antara mereka berdua berangsur-angsur mereda. Ketegangan yang membungkus mereka sejak subuh perlahan menguap bersama aroma makanan yang disajikan di atas meja.

"Soal yang di ruang Pak Baskoro tadi..." Novia membuka percakapan setelah menghabiskan setengah dari porsi makanannya. Dia menatap Reyhan dengan pandangan serius. "Kenapa lo harus bohong kalau kita sepupu? Maksud gue... itu berisiko banget, Rey."

Reyhan meletakkan garpunya, lalu bersandar pada sandaran kursi. Dia menatap Novia dengan tatapan dalam. "Karena kalau gue bilang yang sebenarnya—kalau kita terikat pernikahan karena wasiat—lo tahu apa yang bakal terjadi, kan?"

Novia terdiam. Mulutnya terkunci rapat.

"Pak Baskoro nggak akan sekadar ngasih SP," lanjut Reyhan, suaranya berbisik namun terdengar sangat tajam. "Kita berdua bakal langsung dikeluarkan. Reputasi keluarga gue hancur, dan masa depan lo selesai. Pilihan sepupu itu satu-satunya cara buat membenarkan kenapa gue terlalu dekat sama lo di dalam mobil kemarin. Paham?"

Novia menelan ludah pelan. "Tapi Laura nggak percaya."

"Laura itu urusan gue. Lo nggak usah ikut campur," balas Reyhan dingin. Namun, ada kilatan perlindungan di matanya yang tidak bisa disembunyikan.

Interaksi nyata itu—perdebatan kecil yang sarat akan rasa saling menjaga tersembunyi—membuat atmosfer di meja itu terasa begitu intim.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Novia merasa bahwa dia tidak sedang menghadapi badai ini sendirian. Ada Reyhan yang berdiri kokoh di sampingnya, menjadi perisai yang siap menghalau apa pun. Novia tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang dia perlihatkan pada cowok itu.

Namun, kehangatan itu mendadak terenggut secara paksa.

Lonceng di pintu masuk restoran berdenting, menandakan kedatangan pengunjung baru. Secara refleks, pandangan Novia beralih ke arah pintu. Detik itu juga, seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah disedot habis.

Wajahnya yang mulai memerah mendadak berubah menjadi seputih kertas. Garpu di tangan kanannya terlepas, berdenting keras di atas piring kaca.

Di dekat area resepsionis restoran, berdiri seorang pria paruh baya dengan kemeja batik formal yang rapi.

Pria itu tertawa lebar, tampak begitu berwibawa dan bahagia. Di lengan kirinya, seorang wanita muda bergaun anggun menggelayut manja, membalas tawa pria itu dengan senyuman yang teramat manis.

Pria itu adalah Baroto, Ayah kandung Novia.

Pria yang sudah menjodohkannya dengan Reyhan dan mengancam akan membakar semua barang peninggalan ibunya jika Novia menolak dijodohkan, Pria yang membiarkan mendiang hidup ibunya menangis setiap malam karena tagihan hutang yang menumpuk, kini dia berada di sini. Di sebuah restoran mewah, membawa seorang wanita baru yang bahkan usianya tampak tidak jauh berbeda dari mereka.

Dunia Novia runtuh seketika. Rasa sakit, dikhianati, dan amarah yang selama ini dia kubur dalam-dalam meledak di dalam dadanya, mengoyak seluruh pertahanannya hingga tak bersisa.

Air matanya merebak tanpa bisa ditahan, siap meluncur jatuh membasahi pipinya.

Reyhan yang menyadari perubahan drastis itu langsung menoleh ke arah pandangan Novia. Rahang Ketua OSIS itu seketika mengeras begitu menyadari siapa yang sedang berjalan masuk ke dalam area restoran.

......................

...****************...

Tbc,

1
Shabrina Darsih
laura laura naksir Rehyan samoe segitu nya sm Novia
Gege Mas
otor berusaha untuk mulai mematik apa yang bisa di sulut...naees...🤣
Gege Mas
Dan terjadi lagi...Nov..Nov...ck..ck..ck
Gege Mas
Dan ondolomon pun muncul ditengah kegelapan...🤣
Gege Mas
lanjuut Thor..belom berasa ini....10k kata gasss luncurkan
Gege Mas
yuklaah gass kasih intrik intrik kekinian yang membakar cemburu Dan bikin senyum senyum sendiri...semangaat..luncurkan 10k kata Thor...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!