NovelToon NovelToon
Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Bad Boy
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love

Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.

Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.

Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.

Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.

Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PACAR BARU SANG KETUA GENG

Pukul enam lewat empat puluh menit, Nadine Kirana berdiri di depan gerbang SMA Garuda sambil memeriksa layar ponselnya untuk ketiga kalinya.

Pesan terakhir dari Axel masuk lima menit lalu.

Axel: Gue udah dekat. Tunggu di gerbang.

Nadine mengetik balasan singkat.

Nadine: Gue tunggu. Tapi ingat, kita belum sepakat lo boleh mengatur semua kegiatan gue.

Tanda pesan dibaca muncul hampir seketika.

Axel: Baru juga pagi, lo udah ceramah.

Nadine: Gue cuma mengingatkan.

Axel: Iya, Bu Pengacara.

Nadine memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Laki-laki itu benar-benar menyebalkan.

Semalam, mereka sepakat untuk mulai memperkenalkan hubungan palsu mereka secara perlahan. Axel mengusulkan agar mereka datang bersama ke sekolah supaya kabar tentang kedekatan mereka tidak terdengar seperti rumor yang dibuat-buat.

Nadine menyetujuinya dengan satu syarat: semua tindakan yang melibatkan dirinya harus dibicarakan terlebih dahulu.

Ia tidak ingin hari pertama kontrak mereka berubah menjadi pertunjukan yang seluruh naskahnya ditulis Axel seorang diri.

Sebuah mobil hitam berhenti di dekat gerbang.

Tidak lama kemudian, Axel turun dari kursi penumpang. Ia mengenakan seragam sekolah dengan kemeja yang rapi, meskipun dua kancing bagian atasnya terbuka dan dasinya sedikit longgar. Tas hitam tersampir di satu bahu.

Begitu melihat Nadine, ia berjalan menghampirinya.

“Udah lama?”

“Lima menit.”

“Berarti belum lama.”

“Buat orang yang datang tepat waktu, lima menit itu tetap lima menit.”

Axel melirik jam tangannya.

“Gue cuma telat sedikit.”

“Gue belum bilang lo telat.”

“Wajah lo sudah mengatakan itu.”

Nadine menahan keinginan untuk membalas. Ia memilih mengalihkan perhatian pada mobil yang baru saja meninggalkan area gerbang.

“Jadi, kita masuk bareng?”

“Bukannya itu tujuan kita datang bareng?”

“Gue cuma memastikan. Jangan sampai lo tiba-tiba punya ide lain.”

Axel mengangkat kedua tangannya sebentar, seolah menyerah.

“Tenang. Gue nggak akan menyeret lo ke panggung dan mengumumkan hubungan kita lewat pengeras suara.”

“Bagus. Karena kalau lo melakukannya, gue bakal langsung membantah.”

Axel tertawa pendek.

“Gue percaya.”

Mereka mulai berjalan melewati gerbang.

Awalnya, Nadine mengira kedatangan mereka bersama hanya akan menarik perhatian beberapa siswa yang kebetulan mengenal Axel. Ia salah besar.

Belum sampai sepuluh langkah dari gerbang, dua siswi yang berdiri di dekat pos satpam berhenti berbicara. Salah satunya bahkan menoleh lagi setelah mereka lewat.

Di sisi lain halaman, seorang siswa yang sedang bermain ponsel menyenggol temannya, lalu menunjuk Axel secara diam-diam.

Bisikan mulai terdengar.

Nadine berusaha tidak memedulikannya.

Namun, ketika seorang siswa dari kelas sebelah berpapasan dengan mereka dan terang-terangan memperlambat langkah untuk memperhatikan, ia mulai memahami satu hal.

Berjalan di samping Axel Pratama ternyata berbeda dengan berjalan bersama siswa lain.

Laki-laki itu seperti memiliki pusat gravitasi sendiri. Ke mana pun ia pergi, perhatian orang-orang cenderung mengikuti.

Dan sekarang, perhatian itu ikut mengarah kepada Nadine.

“Kenapa semua orang melihat ke sini?” bisik Nadine.

Axel menoleh santai. “Karena mereka punya mata.”

“Axel.”

“Ya?”

“Gue serius.”

“Gue juga. Lo mau gue suruh mereka menutup mata?”

Nadine menatapnya kesal.

Axel akhirnya berhenti bercanda.

“Mereka cuma penasaran. Biasanya gue datang sama anak-anak Orbit.”

“Dan sekarang lo datang sama gue.”

“Benar.”

“Jadi, mereka akan bertanya-tanya.”

“Biarin.”

Jawaban itu terlalu mudah bagi Axel.

Bagi Nadine, tatapan orang lain bukan sekadar gangguan kecil. Di sekolah, satu kabar bisa berubah menjadi berbagai versi hanya dalam beberapa jam. Ia tidak ingin kehidupan pribadinya menjadi bahan pembicaraan yang bisa merembet ke urusan keluarga atau rencana kuliahnya.

Namun, ia juga tahu bahwa mereka telah menyepakati hubungan palsu ini.

Kalau ia ingin menjalankannya, ia harus siap menghadapi konsekuensinya.

Setidaknya, untuk saat ini.

 

“WOI, AXEL!”

Suara Dimas terdengar dari dekat tangga gedung utama.

Axel menoleh. Dimas berdiri bersama Bima dan Rio. Ketiganya tampak seperti baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak masuk akal.

Dimas menunjuk Nadine, lalu Axel, lalu kembali menunjuk Nadine.

“Gue salah lihat atau lo benar-benar datang bareng dia?”

Axel memasukkan satu tangan ke saku celana.

“Menurut lo?”

“Gue nanya karena mata gue masih normal.”

Bima menyilangkan tangan di dada. “Kemarin lo pulang sendiri. Sekarang tiba-tiba datang sama Nadine Kirana?”

Rio mengangguk cepat. “Ini berita pagi yang lebih mengejutkan daripada pengumuman ujian matematika.”

Nadine menahan senyum.

Setidaknya, masih ada orang yang bisa melontarkan komentar konyol di tengah situasi yang membuatnya gugup.

Axel melirik mereka satu per satu.

“Kenapa? Ada masalah?”

“Masalahnya, lo nggak pernah cerita kalau punya hubungan sama Nadine,” jawab Dimas.

“Sekarang gue cerita.”

Dimas menyipitkan mata.

“Cerita apaan? Lo bahkan belum menjelaskan apa-apa.”

Axel tidak menjawab. Ia justru menoleh kepada Nadine.

“Lo mau langsung ke kelas?”

Pertanyaan itu membuat Dimas kembali menatap mereka.

Bima membuka mulut, tetapi tidak jadi berbicara.

Rio berbisik cukup keras, “Gue yakin ada sesuatu yang ketinggalan dari kehidupan Axel selama ini.”

Nadine mengembuskan napas pelan.

Kalau mereka terus berdiri di sana, kemungkinan besar seluruh sekolah akan mengetahui bahwa sesuatu sedang terjadi, bahkan sebelum mereka memberikan penjelasan.

“Axel,” katanya.

“Hmm?”

“Kalau kita memang mau orang-orang percaya, sebaiknya kita nggak bersikap seperti dua orang yang baru saja bertemu di gerbang.”

Axel menatapnya beberapa saat.

Kemudian ia mengangguk.

“Benar juga.”

Ia menggeser posisi berdirinya sedikit mendekati Nadine. Tidak menyentuhnya, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa mereka datang bersama.

Nadine menyadari gerakan itu.

Ia juga menyadari bahwa Axel tidak langsung merangkul bahunya atau melakukan tindakan lain yang belum mereka sepakati.

Hal kecil, pikirnya.

Namun, setidaknya laki-laki itu masih mengingat aturan mereka.

“Kalau begitu,” kata Axel, “gue kenalin secara resmi.”

Dimas langsung menegakkan tubuh.

“Sebentar. Jangan bilang—”

“Nadine Kirana,” potong Axel. “Pacar gue.”

Keheningan jatuh selama beberapa detik.

Bima menatap Axel seperti baru saja mendengar pengumuman bahwa kepala sekolah akan membubarkan seluruh kelas.

Rio menganga.

Dimas memejamkan mata, lalu membukanya kembali.

“Gue butuh duduk.”

“Dramatis banget,” kata Axel.

“Lo baru saja bilang Nadine Kirana pacar lo!”

“Pendengaran lo bagus.”

“SEJAK KAPAN?”

Beberapa siswa yang lewat mulai memperlambat langkah.

Nadine bisa merasakan perhatian mereka bertambah.

Ia melirik Axel dengan tatapan yang jelas mengatakan bahwa mereka perlu membicarakan cara penyampaian pengumuman ini nanti.

Axel menangkap tatapannya, tetapi memilih tidak berkomentar.

Dimas masih tampak belum menerima kenyataan.

“Gue kenal lo bertahun-tahun, Axel. Lo pernah menolak cewek yang terang-terangan ngajak lo ke pesta, pernah kabur dari acara keluarga sendiri, bahkan pernah pura-pura sakit supaya nggak perlu menghadiri makan malam bisnis bokap lo.”

“Terus?”

“Sekarang lo punya pacar dan gue baru tahu saat melihat lo berjalan ke sekolah?”

Axel mengangkat bahu.

“Memangnya gue harus mengadakan konferensi pers?”

“Kalau perlu!”

Nadine akhirnya menyela.

“Gue rasa kita nggak perlu membahas kehidupan pribadi gue di tengah halaman sekolah.”

Dimas langsung menoleh kepadanya.

“Maaf, Nadine. Gue bukan bermaksud—”

“Nggak apa-apa. Gue cuma nggak mau ini jadi tontonan.”

Kalimat itu cukup membuat Dimas menurunkan suaranya.

“Baik. Gue mengerti.”

Berbeda dengan Axel, Dimas tampak menyadari bahwa Nadine bukan sekadar seseorang yang tiba-tiba muncul di samping temannya. Ia juga memiliki batasan dan alasan sendiri untuk tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Axel melirik jam tangannya.

“Bel sebentar lagi. Kita masuk.”

Ia menoleh kepada Nadine.

“Gue antar sampai kelas?”

Nadine hampir menjawab tidak. Namun, beberapa pasang mata masih mengawasi mereka, dan menolak terlalu cepat mungkin justru akan menimbulkan pertanyaan lain.

“Boleh. Sampai depan kelas saja.”

“Baik.”

Jawaban Axel membuat Nadine sedikit terkejut.

Tidak ada protes. Tidak ada usaha membujuknya agar mengubah keputusan.

Mereka berjalan menuju gedung kelas XII, meninggalkan Dimas, Bima, dan Rio yang masih berdiri dengan ekspresi sulit dipercaya.

Baru beberapa langkah, Nadine mendengar Dimas memanggil Axel dari belakang.

“AXEL! NANTI KITA BICARA!”

Axel mengangkat tangan tanpa menoleh.

“Kalau gue sempat!”

“GUE PASTIKAN LO SEMPAT!”

Nadine tidak bisa menahan senyum.

“Teman lo selalu seperti itu?”

“Lebih parah biasanya.”

“Pantas kalian cocok.”

Axel menoleh kepadanya.

“Lo baru kenal mereka beberapa menit dan sudah membuat kesimpulan?”

“Gue hanya mengamati.”

“Berarti lo harus hati-hati. Anak-anak Orbit suka ikut campur.”

“Termasuk lo?”

Axel terdiam sejenak.

“Terutama gue, mungkin.”

Jawaban itu terdengar seperti lelucon, tetapi Nadine tidak yakin sepenuhnya.

Ia mengingat kembali isi kontrak mereka, terutama bagian tentang kehidupan pribadi dan kebebasan mengambil keputusan.

Kalau Axel sendiri mengakui bahwa dirinya suka ikut campur, Nadine harus memastikan bahwa pengakuan itu tidak berubah menjadi alasan untuk membenarkan perilakunya.

 

Di depan kelas XII IPS 2, beberapa siswa yang sedang mengobrol langsung terdiam ketika melihat Nadine datang bersama Axel.

Nadine mengenal sebagian besar dari mereka. Beberapa adalah teman sekelasnya, sementara yang lain berasal dari kelas sebelah.

Salah satu temannya, Siska, menatap Nadine dengan mata membesar.

“Nadine?”

Nadine berhenti.

“Hai.”

Siska memandang Axel, lalu kembali menatap Nadine.

“Kenapa lo datang sama Axel Pratama?”

Nadine membuka mulut, tetapi Axel lebih dulu menjawab.

“Karena gue pacarnya.”

Kalimat itu kembali membuat suasana hening.

Siska mengedipkan mata beberapa kali.

“Maaf, apa?”

“Gue pacarnya Nadine.”

Nadine menoleh cepat.

Axel menatapnya dengan wajah tenang, seolah-olah baru saja menjelaskan bahwa hari itu mereka memiliki pelajaran olahraga.

Nadine ingin mengoreksi cara laki-laki itu menyampaikan hubungan mereka yang terlalu percaya diri. Mereka memang sudah sepakat untuk memperkenalkan hubungan palsu tersebut, tetapi ia tidak pernah membayangkan Axel akan mengatakannya dengan begitu lugas kepada setiap orang yang bertanya.

Namun, ia menahan diri.

Mereka masih berada di depan kelas, dikelilingi teman-teman yang jelas-jelas ingin mengetahui lebih banyak.

Kalau Nadine membantah sekarang, semua kesepakatan yang mereka buat akan berantakan.

Siska akhirnya menarik Nadine sedikit menjauh dari pintu kelas.

“Sejak kapan?”

Nadine berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang.

“Belum lama.”

“BELUM LAMA ITU KAPAN?”

“Siska, kecilkan suara lo.”

Siska langsung menutup mulut, lalu mendekatkan wajahnya.

“Lo serius pacaran sama dia?”

Nadine melirik Axel yang kini sedang berbicara dengan seorang siswa di ujung lorong.

“Kelihatannya begitu, kan?”

“Jangan bercanda! Itu Axel Pratama!”

“Gue tahu.”

“Ketua geng yang sering dipanggil ke ruang disiplin itu?”

Nadine menahan napas.

Ia tidak ingin percakapan ini berubah menjadi daftar reputasi Axel.

“Gue nggak mau membahasnya sekarang.”

Siska memandangnya penuh rasa ingin tahu, tetapi akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Tapi nanti lo harus cerita.”

“Nanti kita lihat.”

Sebelum Siska sempat bertanya lagi, Axel kembali menghampiri mereka.

“Bel sebentar lagi.”

Nadine mengangguk.

“Gue masuk dulu.”

Axel tidak langsung pergi.

“Pulang sekolah nanti, kabari gue kalau lo sudah selesai.”

Nadine mengernyit.

“Buat apa?”

“Gue mau tahu jadwal lo.”

“Kenapa?”

“Biar gue tahu kapan kita bisa ngobrol.”

Nadine menatapnya beberapa saat.

“Kalau ada yang perlu dibicarakan, lo bisa mengirim pesan. Tapi gue nggak wajib memberi laporan setiap kali kegiatan gue selesai.”

Axel terdiam.

Siska yang berdiri di samping Nadine mendadak tampak sangat tertarik pada lantai.

“Gue cuma bilang kabari gue,” jawab Axel.

“Dan gue sedang menjelaskan batasannya.”

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Axel mengangguk kecil.

“Oke. Kalau ada yang perlu dibicarakan, gue kirim pesan.”

Nadine mengangguk puas.

“Bagus.”

Axel menatapnya sebentar sebelum akhirnya berbalik menuju kelasnya sendiri.

Siska menunggu sampai laki-laki itu cukup jauh sebelum berbisik, “Lo benar-benar berani bicara begitu sama dia.”

Nadine menghela napas.

“Gue cuma bicara seperti biasa.”

“Kalau gue jadi lo, mungkin gue sudah gugup dari tadi.”

Nadine tidak menjawab.

Ia juga gugup.

Hanya saja, ia tidak ingin rasa gugup itu membuatnya melupakan kesepakatan yang telah dibuatnya sendiri.

 

Jam pelajaran pertama berlalu lebih lambat daripada biasanya.

Nadine berusaha fokus pada penjelasan guru, tetapi ponselnya beberapa kali bergetar di dalam tas. Ia tidak memeriksanya sampai jam istirahat tiba.

Ternyata ada beberapa pesan dari teman sekelasnya yang bertanya tentang Axel.

Sebagian hanya ingin tahu sejak kapan mereka dekat. Sebagian lagi bertanya apakah kabar itu benar.

Nadine membalas seperlunya tanpa memberikan penjelasan berlebihan.

Ia tidak ingin membuat kebohongan baru hanya untuk menutupi kebohongan yang sudah mereka sepakati.

Ketika keluar kelas saat istirahat, ia menemukan Axel berdiri di dekat jendela lorong bersama Dimas.

Keduanya sedang berbicara serius.

Nadine sebenarnya berniat melewati mereka tanpa mengganggu percakapan itu. Namun, ia mendengar namanya disebut.

“Lo yakin ini cuma kesepakatan?” tanya Dimas.

Langkah Nadine melambat.

Axel menyilangkan tangan di dada.

“Kenapa lo nanya begitu?”

“Karena gue kenal lo.”

“Selamat. Berarti lo tahu gue bukan tipe orang yang menjelaskan semua keputusan gue.”

“Gue tahu. Justru itu masalahnya.”

Dimas menurunkan suaranya.

“Lo bisa membuat keputusan mendadak, Axel. Lo bisa bertindak seolah-olah semua orang harus mengikuti cara lo. Tapi Nadine bukan bagian dari lingkaran kita. Dia punya kehidupan sendiri.”

Axel tidak menjawab.

Dimas melanjutkan, “Gue nggak peduli kalau lo mau berpura-pura pacaran untuk alasan tertentu. Tapi kalau lo mulai memperlakukan dia seperti sesuatu yang harus lo kendalikan, gue bakal jadi orang pertama yang mengingatkan lo.”

Rahang Axel mengeras.

“Lo pikir gue nggak tahu cara memperlakukan orang?”

“Gue pikir lo sering tahu apa yang seharusnya dilakukan, tapi tetap melakukan apa yang lo mau.”

Kalimat itu membuat Axel terdiam.

Nadine tidak bergerak. Ia tahu seharusnya ia pergi dan memberi mereka privasi, tetapi percakapan itu terlalu penting untuk diabaikan begitu saja.

Akhirnya, Axel mengembuskan napas.

“Ini cuma kontrak, Dim.”

Dimas memperhatikan wajahnya.

“Kalau memang cuma kontrak, kenapa lo memilih Nadine?”

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Axel mengalihkan pandangan ke halaman sekolah.

“Karena gue butuh seseorang yang bisa gue percaya.”

Dimas mengernyit.

“Dan lo percaya sama dia?”

“Gue percaya dia nggak akan berpura-pura menyukai gue cuma karena nama keluarga gue.”

Dimas terdiam beberapa saat.

“Itu alasan yang masuk akal,” katanya akhirnya. “Tapi bukan berarti lo sudah mengenal dia sepenuhnya.”

“Gue tahu.”

“Bagus. Berarti jangan bertingkah seolah-olah lo punya hak atas semua keputusannya.”

Axel tidak membalas.

Nadine memutuskan melanjutkan langkahnya sebelum mereka menyadari bahwa ia mendengar percakapan itu.

Namun, kalimat Axel terus terngiang di benaknya.

Gue butuh seseorang yang bisa gue percaya.

Untuk pertama kalinya sejak kontrak itu dimulai, Nadine bertanya-tanya apakah Axel benar-benar memilihnya hanya karena ia membutuhkan pacar palsu.

Atau ada alasan lain yang belum ingin diungkapkan laki-laki itu.

 

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Nadine merapikan buku-bukunya, memasukkan alat tulis ke tempat pensil, lalu memeriksa jadwal pekerjaannya di tempat fotokopi Pak Udin.

Ia harus segera berangkat jika ingin tiba tepat waktu.

Setelah memastikan tidak ada tugas yang tertinggal, Nadine mengangkat tasnya dan bersiap keluar kelas.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk dari Axel.

Axel: Jangan pulang dulu. Gue jemput.

Nadine membaca pesan itu dua kali.

Keningnya berkerut.

Mereka tidak pernah menyepakati bahwa Axel akan mengantarnya setiap hari. Bahkan sejak pagi, Nadine sudah menjelaskan bahwa dirinya tidak berkewajiban melaporkan seluruh kegiatan kepada laki-laki itu.

Ia mengetik balasan.

Nadine: Kita nggak pernah sepakat soal itu.

Balasan Axel datang beberapa detik kemudian.

Axel: Gue cuma mau nganter lo.

Nadine menatap layar ponselnya.

Ia tahu mungkin Axel menganggap itu sebagai bentuk perhatian. Namun, niat baik tidak otomatis membuat keputusan sepihak menjadi sesuatu yang bisa diterima.

Nadine: Kalau lo mau nganter, lo harus tanya dulu. Gue masih harus ke tempat fotokopi.

Kali ini, Axel tidak langsung membalas.

Nadine memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu berjalan menuju pintu kelas.

Ia belum tahu apakah Axel akan memahami batasan itu atau justru menganggapnya sebagai penolakan.

Ponselnya bergetar lagi sebelum ia mencapai tangga.

Nadine mengeluarkannya.

Axel: Oke. Lo mau gue anter sampai sana?

Nadine terdiam sejenak.

Setidaknya, kali ini Axel bertanya.

Ia hampir menerima tawaran itu. Perjalanan menuju tempat fotokopi akan lebih mudah jika ada yang mengantar. Namun, ia masih harus mampir ke tempat lain, dan ia tidak ingin penerimaan kecil itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat Axel merasa berhak menentukan jadwalnya.

Nadine mengetik balasan.

Nadine: Makasih udah nanya. Tapi hari ini gue naik angkutan umum aja. Gue harus mampir ke satu tempat dulu sebelum kerja.

Pesan itu terkirim.

Axel tidak langsung membalas.

Nadine memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu melangkah meninggalkan gedung sekolah.

Ia tidak tahu apakah Axel kecewa. Ia juga tidak tahu apakah laki-laki itu akan kembali mencoba menentukan sesuatu tanpa membicarakannya terlebih dahulu.

Namun, satu hal sudah jelas.

Kontrak mereka baru berjalan satu hari, dan ujian pertama Nadine bukanlah meyakinkan sekolah bahwa mereka benar-benar pacaran.

Ujian pertamanya adalah memastikan Axel Pratama mengerti bahwa menjadi pacar palsu tidak memberinya hak untuk menentukan hidup Nadine Kirana.

Dan jika satu tawaran tumpangan saja sudah cukup untuk menguji kesepakatan mereka, Nadine mulai bertanya-tanya apa yang akan terjadi ketika Axel membawanya ke hadapan keluarganya.

Sembilan puluh hari itu mendadak terasa jauh lebih panjang daripada yang tertulis di atas kertas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!