Kisah rahasia seorang gadis yang di perkosa oleh Bapaknya sendiri. Giska namanya, ia sudah kehilangan kesuciannya sejak ia masih belia.
Syock, malu, marah dan kecewa, semua ia rasakan dan ia pendam sendiri. Dengan segala cara ia berusaha melawan rasa traumanya. Ia ingin bisa terbebas dari bayang-bayang kejadian memilukan itu.
Karena tidak ingin terus-terusan menjadi tempat pelampiasan oleh Bapaknya,ia rela bekerja menjadi pembantu supaya ia bisa keluar dari rumahnya.
Tantangan demi tantangan ia hadapi, sampai suatu hari hanya demi mendapatkan uang 9 juta, ia terpaksa menjadi istri kedua dari pria asing yang baru ia kenal dalam beberapa hari.
Bagaimana kehiduapan Giska setelah ini? Akankah dia bisa bahagia, atau malah sebaliknya?
Yuk, mari simak kisah lengkapnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Ws, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku memberimu waktu, 2 hari
"Kenapa dia tidak bangun-bangun, ya?" pikir Bobby, ia kembali menatap Giska, yang ternyata masih belum membuka matanya.
"Gis," Bobby membelai rambut Giska.
"Gis, Giska..." kini Bobby mengguncang tubuh Giska, pelan.
"Kenapa tidak mau bangun? apa dia pingsan?" Bobby pun langsung memeriksa denyut nadi di lengan Giska, ia merasa lega karena denyut nadi nya masih ada. Bobby pun berinisiatif memberikan napas buatan. Ia pun langsung menempelkan bibirnya di bibir Giska. Cukup lama ia melakukan nya, hingga akhirnya ... Giska mendorong tubuh Bobby.
"Aku tidak bisa bernapas!" seru Giska. Ia melototkan kedua matanya ke arah Bobby.
"Apa kau gila! aku bisa mati kehabisan napas!" seru nya kembali.
"Maafkan aku, aku kira kau pingsan. Jadi aku berinisiatif memberimu napas buatan." Ucap Bobby.
"Haa? siapa yang pingsan?" tanya Giska dalam hatinya. Sebenarnya ia bukan pingsan, hanya saja ia tidur terlalu nyenyak. Mungkin karena tempatnya yang bagus, juga kasur yang empuk, dan juga selimut yang halus dan tebal, yang membuatnya merasa nyaman, sehingga ia malas untuk bangun. Berbeda dengan hari-hari sebelum nya, ia hanya tidur ber alaskan tikar, dan ia juga hanya memakai kain tipis sebagai selimut nya
"Napas buatan apanya! kau tadi menciumku!" Giska menggerutu. Belum hilang rasa kesalnya karena ulah Bobby semalam, di tambah lagi pagi ini Bobby kembali mencium Giska. Giska jadi berpikir, kalau Bobby akan melakukan seperti semalam lagi.
Bobby tersenyum tipis, "Iya, aku memang ingin memberimu napas buatan, tetapi melihat bibirmu itu, aku jadi kembali tergoda, Gis. Aku tak bisa menahan nya." Ucap Bobby, di ikuti dengan kekehan kecil dari bibir nya.
"Jangan macam-macam! bukankah semalam baru meminta maaf padaku? jangan bilang, mau melakukannya lagi!" Giska semakin kesal.
"Aku tau. Aku akan berusaha tak memaksamu lagi." Ucap Bobby.
"Bagus." Giska nampak lega.
"Tapi aku tidak janji, ya." Bobby tersenyum.
"Menyebalkan." Giska cemberut.
"Lihatlah Joni ku, di bangun, Gis." Bobby berucap sembari satu tangan nya memegang Joni.
Giska mengerutkan keningnya, "Joni siapa? apa dia anakmu, Bli? apa dia berada di rumah ini juga?" tanya Giska.
"Bukan." Bobby menarik tangan Giska, dan langsung meletakkannya di miliknya. "Ini namanya, Joni." Sontak Giska langsung menarik tangan nya kembali.
"Dasar aneh!"
"Kenapa? kau boleh memegangnya kapan pun kau mau. Dia Joni mu, sekarang, Gis." Ujar Bobby.
Giska tak menjawab, ia beranjak bangun, dan langsung berjalan cepat ke kamar mandi, dengan selimut yang membalut tubuhnya.
Sementara Bobby, ia malah tersenyum sendiri. "Nasib-nasib, punya 2 istri, yang 1 selalu menolakku. Yang 1 lagi selalu bersedia kapanpun, bahkan tanpa aku minta, tapi sayang nya, aku tidak bergairah dengan nya." Gumam nya.
*
Setelah Giska masuk ke dalam kamar mandi, ia langsung mengunci pintu kamar mandi itu. Ia mendudukkan bokongnya di kloset yang tertutup itu.
"Aww," pekiknya, ia merasakan sedikit nyeri di bagian miliknya. Meskipun ini yang kesekian kalinya untuk Giska. Namun, tetap saja milik Giska terasa sedikit perih, namun, tak seperih saat awal dulu. Ya, mungkin saja karena semalam Bobby melakukan nya secara paksa, mungkin itu yang membuatnya perih.
"Umurku baru 17 tahun, tapi sudah 2 pria yang pernah merasakan tubuhku. Haha, apakah setelah ini, hari-hariku akan selalu seperti ini? harus mau melayani suamiku kapanpun dia mau? ck, suami, bahkan aku masih sulit percaya, jika sekarang aku sudah memiliki suami." Giska masih duduk merenung, membayangkan hari-hari selanjutnya yang akan ia jalani, sebagai seorang istri, istri ke dua.
Di saat Giska tengah jatuh ke dalam lamunannya, terdengar suara Bobby, memanggil nya sembari menggedor pintu kamar mandi.
"Giska... bukalah pintunya! kenapa kau mengunci pintunya!" teriak Bobby.
Giska tak menyahutinya, ia memilih langsung membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, sisa-sisa keringat akibat ulah Bobby semalam. Usai mandi, Giska kebingungan mencari handuk, untuk mengeringkan tubuhnya.
"Kenapa tidak ada handuk di sini?" Ia pun berjalan mondar mandir di kamar mandi, hingga ia tak sengaja melihat pantulan tubuhnya di cermin kamar mandi.
"Apa ini? kenapa tubuhku merah-merah semua? dadaku, leherku, semua merah. Apa yang terjadi denganku?" Giska terkejut, ia merasa ketakutan sendiri. Pasalnya ia tak mengerti, jika itu adalah kissmark. Karena sebelumnya ia tak pernah mengalami hal seperti ini.
Tok... Tok... Tok.
"Giskaaaa... Kenapa kau lama sekali! cepat buka pintunya!" teriak Bobby dari luar pintu.
"Iya, sebentar." Sahut Giska.
"Aduh bagaimana ini? di sini tidak ada handuk, dan ini juga, tubuhku merah-merah semua. Bagaimana jika dia sampai melihat, dan menganggapku telah terkena penyakit menular?" Giska merasa bingung sendiri di kamar mandi.
"Cepatlah!" teriak Bobby kembali.
"Iya, iya, sabar dong." Giska kembali menyahut.
"Ah, kan masih ada selimut. Kenapa aku bisa lupa sih?" Giska menepuk keningnya, kemudian ia kembali memakai selimut yang tadi sempat ia bawa ke kamar mandi, untuk membalut tubuh polosnya.
Ceklek....
Pintu terbuka, Giska pun berjalan keluar dengan tubuh terbalut selimut tebal. Nampak Bobby sudah berdiri di depan pintu, ia bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana pendek saja, sehingga nampak ada sesuatu yang menonjol di balik celana pendek itu. Ada yang menonjol, tapi bukan prestasi, wkwkw.
Bobby menatap Giska, "Kenapa memakai selimut?" Bobby menautkan kedua alisnya.
"Aku lupa membawa handuk." Jawab Giska, ia tak berani menatap Bobby. Ia merasa malu sendiri melihat tubuh kekar suami nya itu.
"Astaga, kau kan bisa minta kepadaku."
"Hmm, biarkan saja. Memakai selimut kan sama saja." Giska berjalan melewati Bobby, ia menuju lemari pakaian. Tetapi, ia lupa jika ia belum membawa pakaian nya kesini.
"Bagaimana aku mengganti pakaian? pakaianku kan belum ku bawa." Giska bertanya kepada Bobby.
"Kau tidak perlu memakai pakaian, Gis." Bobby tersenyum menyeringai. Ia berjalan mendekat ke arah Giska.
"Jangan mendekat!" seru Giska, namun Bobby tetap saja mendekati Giska.
"Kenapa kau gugup begitu?" tanya Bobby, kini tubuh mereka sudah sangat dekat.
"Tolong! jangan lakukan sekarang." Pinta Giska. Ia memelaskan wajahnya.
"Aku berjanji, jika aku sudah siap nanti, aku akan melayanimu dengan senang hati." Ujar Giska.
"Kapan kau merasa siap?" Tubuh Bobby semakin menghimpit tubuh Giska yang masih terbalut selimut.
"A-aku akan berusaha siap secepatnya. Berikan aku waktu selama beberapa bulan." Giska menjawab dengan gugup.
"Beberapa bulan? kau ini waras atau tidak?"
"Untuk apa aku menikahimu, jika kau menyuruhku menunggu selama beberapa bulan, untuk menyentuhmu tanpa aku memaksa."
"Daripada aku harus menunggu beberapa bulan, lebih baik aku memaksamu seperti semalam." Bobby tersenyum menyeringai.
"Jangan!"
"Ba-baiklah, 2 minggu." Giska memberikan penawaran.
"1 minggu." Ucap Giska, karena ia mendapat tatapan menakutkan dari Bobby.
"2 hari, aku memberimu waktu 2 hari." Bobby memutuskan.
.
.
.
Bersambung...
Maaf telat.. Hp ku mati²an, huhuhu😢😢😢
ajik juga ngapain si wanita kek gitu dipertahankan ajik, gedek aing KA awewe kang selingkuh th naudzubilah . author nya bisaan ni bikin emosi pembaca 😭😭 maaf ya Thor 🤭