Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTROK DALAM BADAI HATI
Murni berdiri tegak seperti pucuk pinus yang menentang hembusan angin topan, matanya seperti dua lautan yang tengah dilanda badai—air matanya menggelinding seperti hujan gerimis yang menusuk bumi kering hati. Khem dihadapannya, tubuhnya tegak seperti batu karang yang tak gentar terhadap ombak yang menerjang, wajahnya keras seperti besi yang baru saja dilebur dalam panas amarah.
"Bukankah kau mengerti bahwa setiap kata yang kau ucapkan seperti anak panah yang menusuk jantungku yang sudah berlubang-lubang?" ucap Murni dengan suara yang bergetar, seperti angin yang berbisik di antara dedaunan kering. Lidahnya seperti bilah pisau yang diasah dengan rasa sakit yang mendalam, setiap kata yang keluar seperti percikan lava dari gunung yang tengah meletus. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang melintas di sisi jalan—mereka seperti bayangan yang lewat sekejap, tidak berarti apa-apa di tengah badai emosi yang membungkus dirinya dan Khem.
Khem menghela napas dengan deras, napasnya seperti angin panas dari jurang dalam. "Dan bukankah kau paham bahwa setiap sikapmu yang keras kepala seperti batu besar yang menghalangi aliran sungai kehidupan kita?" suaranya seperti guntur yang bergemuruh di langit yang mendung, menggema hingga menyentuh setiap sudut jalanan yang sepi itu. Kakinya menginjak jalan seperti prajurit yang menuju medan perang, tidak ada satu pun keraguan dalam langkahnya—bahkan ketika beberapa orang berhenti sejenak untuk melihat aksi mereka, mata mereka penuh dengan rasa heran atau bahkan rasa kasihan.
Murni mengangkat dagunya dengan bangga, meskipun bibirnya sudah bergetar seperti daun yang digoyangkan angin. "Kau selalu menyalahkan aku, seolah-olah semua kesalahan ada pada diriku saja! Seolah-olah hati ini hanya sebuah wadah yang bisa kau isi dengan segala keluhan dan kemarahanmu kapan saja!" Katanya dengan nada yang semakin tinggi, seperti nyanyian burung yang terganggu dalam kesendiriannya. Rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan seperti rerumputan yang terkena badai, melayang-layang mengikuti hembusan angin yang seolah ingin membisikkan damai, namun tidak pernah terdengar di tengah suara mereka yang saling membenturkan.
Khem menggeram seperti singa yang kehilangan anaknya, tangannya menggenggam kepalan dengan erat hingga urat-uratnya muncul seperti sungai yang membentang di permukaan tanah. "Murni, kau terlalu sering membayangkan hal-hal yang tidak ada! Kau melihat bayangan di setiap sudut, seolah-olah dunia ini hanya penuh dengan kejahatan dan kedustaan!" Suaranya bergema di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi, seperti suara drum perang yang menggelegar. Dia melangkah lebih dekat, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Murni—napas mereka saling bersentuhan, hangat dan penuh dengan amarah yang tak tertahankan.
Di jalanan yang biasanya ramai dengan aktivitas manusia, kini seolah menjadi panggung khusus untuk pertempuran hati mereka. Mobil-mobil melintas dengan lambat, beberapa sopir bahkan mengulurkan kepala untuk melihat lebih jelas, namun Murni dan Khem sama sekali tidak memperdulikan. Bagi mereka, dunia hanya terdiri dari dirinya berdua dan jurang yang semakin dalam di antara mereka—seperti jurang yang dipisahkan oleh lempengan bumi yang sedang bergerak saling menjauh.
"Kau tidak pernah mencoba memahami perasaanku, Khem!" teriak Murni, tangannya mengepal dan kemudian membentak ke arah langit. "Aku seperti bunga yang tumbuh di bawah bayangan pohon besar—kau selalu menutupi sinar matahari yang seharusnya menyinari diriku!" Kata-katanya seperti hujan batu yang menghantam permukaan air yang tenang, menimbulkan riak-riak besar yang tidak kunjung hilang. Air mata yang sudah lama menahan akhirnya mengalir deras seperti sungai yang meluap banjir, membasahi pipinya yang pucat seperti kelopak mawar yang layu.
Khem menutup matanya sejenak, seolah-olah mencoba menekan amarah yang sedang membara di dalam dirinya. Ketika dia membukanya kembali, matanya penuh dengan rasa sakit yang sama dalamnya dengan rasa sakit yang ada di mata Murni. "Dan kau, Murni, tidak pernah mau melihat bahwa pohon itu hanya ingin melindungimu dari panas matahari yang terlalu menyengat!" ucapnya dengan suara yang sedikit menurun, seperti badai yang mulai mereda namun masih meninggalkan kekacauan di belakangnya. "Aku takut kehilanganmu—takut bahwa dunia yang kejam akan merusak keindahan yang ada padamu!"
Namun kata-kata itu hanya membuat Murni semakin marah. Dia menjerit dengan suara yang menusuk telinga, seperti suara peluit darurat yang membangunkan kesadaran. "Pelihara saja perhatianmu itu untuk dirimu sendiri! Aku tidak membutuhkan pelindungan yang membuatku terkurung dalam kegelapan!" Dia melangkah mundur dengan cepat, kakinya menyentuh batu kecil dan hampir tersandung, namun dia tetap berdiri tegak. "Aku sudah lelah, Khem—lelah dengan permainan hati yang kau mainkan setiap hari!"
Khem melihatnya dengan mata yang penuh dengan rasa putus asa, seperti seorang pelaut yang melihat kapal perahuannya mulai tenggelam di tengah lautan luas. Dia ingin mengulurkan tangan untuk menangkapnya, namun ragu menghalangi langkahnya. "Murni, tunggu..." ucapnya dengan suara yang lemah, seperti angin yang hampir padam. "Kita bisa bicarakan ini dengan tenang—kita bisa menemukan jalan keluar bersama-sama!"
Tetapi Murni hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat, seperti daun yang bergoyang menolak hujan yang ingin menyiraminya. "Tidak ada jalan keluar lagi, Khem!" teriaknya, kemudian berbalik dan berlari menjauh seperti rusa yang sedang melarikan diri dari pemburu. Kakinya melangkah cepat di atas aspal jalan, rambutnya terbang mengikuti gerakan tubuhnya—seperti bendera yang berkibar di atas benteng yang sedang jatuh.
Khem berdiri sendirian di tengah jalanan, melihat sosok Murni yang semakin jauh hingga akhirnya hilang di balik sudut jalan. Udara sejuk menyapu wajahnya yang masih panas karena amarah, dan dia merasakan seolah-olah sebagian dari dirinya telah pergi bersama Murni. Di sekelilingnya, kehidupan kembali berjalan seperti biasa—orang-orang berjalan dengan cepat, mobil-mobil melintas dengan suara yang berisik, namun bagi Khem, dunia seolah telah menjadi sunyi dan kosong seperti gurun yang luas tanpa batas.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Di dalam kamar kos yang sempit namun penuh dengan bau wangi kamomil dari sarung bantalnya, Murni terbaring tak berdaya di atas kasur yang tipis. Tubuhnya panas seperti bara api yang tersembunyi di dalam batu bara, setiap inci kulitnya memancarkan suhu yang membakar seperti matahari tengah hari di bulan Agustus. Badannya bergoyang-goyang seperti layar yang diremuk angin, saat demam menggeliat seperti gelombang pasang yang tak kunjung surut.
Rambutnya yang biasanya berkilau seperti sutra hitam kini lepek menempel di dahinya yang berkeringat deras, seperti embun pagi yang menyelimuti dedaunan namun jauh lebih hangat. Dia membuka mata dengan susah payah—kelopak matanya berat seperti batu bata yang dipasang dengan lem keras. Di depan matanya, bayangan-langit-langit kamar tampak kabur seperti lukisan yang direndam air, dan suara-suara di luar kamar seolah datang dari jauh sekali, seperti bisikan ombak di telinga orang yang tengah terbenam dalam mimpi.
"Sudah berapa lama aku terbaring seperti ini?" bisiknya dengan suara yang serak seperti dedaunan kering yang terpijar matahari. Lidahnya kering seperti gurun pasir yang tak pernah terkena hujan, dan setiap kali dia menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti ditusuk duri-duri semak yang tajam. Di mejanya yang terletak dekat kasur, gelas air putih berdiri sunyi seperti patung batu, permukaannya tak sedikitpun terganggu—dia sudah tidak berdaya untuk meraihkannya sejak beberapa jam yang lalu.
Pikiran Murni terus melayang kembali ke saat-saat pertengkaran dengan Khem di jalanan itu. Setiap kata yang mereka lontarkan satu sama lain seperti duri yang menusuk dalam-dalam ke dalam hati, tidak pernah bisa ditarik keluar lagi. Dia melihat bayangan wajah Khem yang penuh amarah, lalu berubah menjadi wajah yang penuh rasa sakit—seolah-olah kedua wajah itu saling bergantian seperti bulan yang muncul dan hilang di balik awan. "Mengapa kita harus sampai pada titik ini?" gumamnya, air mata yang hangat menyusuri pipinya yang panas, bercampur dengan keringat yang mengalir deras.
Sementara itu, di pabrik besi dan baja yang berasap dan bising, Khem berdiri di depan mesin besar yang berputar dengan cepat. Mesin itu mengeluarkan suara seperti raungan naga yang sedang makan bara, namun Khem sama sekali tidak memperhatikannya. Matanya kosong seperti kolam yang mengering, dan tangannya yang biasanya lincah dalam mengoperasikan mesin kini terasa berat seperti besi cor. Dia hampir salah mengatur pengaturan mesin beberapa kali, dan jika bukan karena rekan kerja yang cepat menangkap tangannya, bisa saja terjadi kecelakaan yang parah.
"Khem, kamu tidak baik-baik saja kan?" tanya Suparman, rekan kerjanya yang sudah lama bekerja bersamanya. Wajah Suparman penuh dengan kekhawatiran, seperti orang yang melihat kapal yang akan menabrak batu karang. "Kamu sudah tiga kali salah langkah dalam sejam. Apakah ada masalah?"
Khem menghela napas dengan berat, napasnya seperti angin yang keluar dari cerobong asap yang penuh dengan debu. "Maaf, Pak Suparman. Aku hanya sedikit terganggu," jawabnya dengan suara yang lemah seperti kayu yang sudah mulai lapuk. Dia mencoba untuk fokus kembali pada mesin di depannya, namun pikirannya terus terbang ke kamar kos Murni—dia bisa membayangkan betapa sendirinya Murni di sana, mungkin menangis sendirian atau bahkan sakit karena perkara mereka berdua.
Hingga tiba-tiba, suara mesin yang biasanya dianggapnya sebagai irama kerja kini terdengar seperti suara celaan yang tak berkesudahan. Dia merasa seperti sedang terjebak dalam labirin yang penuh dengan besi dan baja yang dingin, setiap jalan yang dia tempuh hanya membawa dia kembali ke titik awal—ke rasa bersalah yang membakar hati seperti api yang menyala di dalam tungku peleburan. Ia melihat lembaran besi yang sedang dibentuk menjadi pelat datar, seperti hati yang sedang dipukul dan dibentuk menjadi sesuatu yang tak dikenal lagi.
Di kantin pabrik saat jam istirahat, Khem duduk sendirian di sudut paling jauh, seperti orang yang ingin menyembunyikan diri dari dunia luar. Makanannya yang sudah dingin seperti batu es di atas piringnya, dia tidak punya sedikitpun nafsu untuk menyentuhnya. Rekan-rekan kerjanya melihatnya dengan rasa heran—Khem yang biasanya suka bercanda dan berbagi cerita kini seperti patung besi yang tak bernyawa. Mereka ingin datang dan menanyakan apa yang terjadi, namun aura dingin yang keluar dari tubuh Khem membuat mereka ragu untuk mendekatinya.
"Sekarang aku mengerti betapa dalamnya rasa sakit yang kudatangkan pada dirinya," bisik Khem sambil menatap nasi putih yang sudah menggumpal di piringnya. Pikirannya kembali ke wajah Murni yang penuh dengan air mata saat dia berlari menjauh—dia bisa merasakan betapa dalamnya rasa sakit yang ada di sana, seperti jurang yang dalam dan gelap yang tak bisa ditembus cahaya. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, jari jemarnya bergoyang di atas nama Murni di daftar kontaknya. Ia ingin menghubunginya, ingin meminta maaf, ingin mengatakan bahwa dia mencintainya lebih dari segalanya—namun rasa malu dan ketakutan menghalangi gerakannya.
Di kamar kos Murni, suhu tubuhnya semakin naik seperti air yang akan mendidih. Dia merasakan seperti sedang terbang di atas awan yang panas, lalu jatuh ke dalam lautan yang dingin—perasaan yang saling bertentangan ini membuatnya semakin pusing dan tidak nyaman. Tangan dan kakinya menggigil seperti daun yang terkena hembusan angin musim dingin, meskipun tubuhnya sendiri sangat panas. Dia mencoba untuk meraih selimut yang berada di ujung kasur, namun tangannya hanya bisa menggapai udara kosong seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang tak pernah bisa ditemukan.
"Khem..." panggilnya dengan suara yang hampir tak terdengar, bibirnya bergerak perlahan seperti orang yang sedang berbicara dalam mimpi. Dia merasakan kehausan yang luar biasa, seperti tanaman yang berada di gurun pasir selama bertahun-tahun tanpa air. Di luar jendela kamar kosnya, matahari mulai meremang ke arah barat, memberikan cahaya kemerahan yang merambah ke dalam kamar—seperti darah yang mengalir di atas permukaan air, mencatatkan kesedihan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Kemudian, tanpa dia sadari, matanya mulai terasa berat sekali dan perlahan-lahan tertutup. Dunia di sekitarnya menjadi semakin gelap, seperti malam yang datang dengan cepat tanpa diimbangi oleh senja yang lembut. Sebelum kesadaran sepenuhnya hilang, dia bisa merasakan sebuah sentuhan yang lembut di dahinya—seperti tangan yang dingin menyentuh bara yang sedang menyala—dan mendengar suara yang lembut seperti bisikan malaikat...
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Tangan yang menyentuh dahi Murni itu milik Aksa—wajahnya yang biasanya penuh dengan senyum licik seperti ular yang menggoda mangsanya, kini terpampang ekspresi yang jarang terlihat: kekhawatiran yang dalam seperti lautan yang tak ada ujungnya. Jari-jarinya yang tipis namun kuat seperti ranting bambu yang lentur, menyeka keringat yang menetes di dahi Murni dengan lembut, sambil matanya mengamati setiap gerakan tubuhnya yang masih bergoyang-goyang seperti kapal di tengah badai.
"Murni... sayang, bukankah kamu bilang akan selalu memberitahu aku jika ada yang salah?" ucap Aksa dengan suara yang lembut seperti angin pagi yang menyentuh kelopak bunga. Namun di balik kelembutan itu, masih tersisa sedikit nuansa playboy yang khasnya—seperti duri yang tersembunyi di balik kelopak mawar yang cantik. Dia membawa ember air dingin dan kain bersih, menyeka tubuh Murni dengan hati-hati seperti seorang pramugari yang merawat penumpang yang sakit di atas pesawat terbang.
"Aksa... apa kamu lakukan di sini?" bisik Murni dengan suara yang masih serak seperti daun kering yang digosokkan satu sama lain. Matanya yang baru saja terbuka tampak bingung seperti anak yang baru terbangun dari mimpi buruk, melihat wajah Aksa yang muncul di hadapannya seperti ilusi yang tak nyata. "Kau tidak seharusnya ada di sini..."
Aksa tersenyum dengan lembut, namun senyumnya penuh dengan kesedihan yang dalam seperti sumur yang dalam. "Aku sudah putus dengan Amara, Murni," ucapnya dengan nada yang pelan seperti aliran sungai yang lambat. "Kita mungkin tidak pernah cocok—dia seperti bunga anggrek yang membutuhkan perawatan khusus di rumah kaca, sedangkan aku seperti burung yang terbiasa terbang bebas di langit luas." Dia menaruh tangan di atas tangan Murni yang hangat seperti bara api, merasakan getaran yang datang dari tubuhnya. "Dan aku tidak bisa tinggal diam ketika tahu kamu sakit dan sendirian di sini."
Sementara itu, Khem berdiri di depan pintu kamar kos Murni, tubuhnya membeku seperti patung es yang terbentuk di tengah musim dingin. Matanya melebar seperti bulan purnama yang terbenam di langit mendung, melihat sosok Aksa yang sedang merawat Murni dengan cara yang seharusnya dilakukan olehnya sendiri. Rasa cemburu dan amarah membakar hatinya seperti lava yang keluar dari gunung berapi, membuat darahnya mengalir cepat seperti sungai yang meluap banjir.
"Aksa!" teriak Khem dengan suara yang seperti guntur yang mengguncang langit, membuat kedua orang di dalam kamar itu terkejut seperti burung yang terbangun dari tidurnya. Dia melangkah masuk dengan langkah yang berat seperti gajah yang marah, matanya menyala seperti bara yang sedang membara. "Apa yang kau lakukan di sini dengan pacarku?"
Aksa berdiri perlahan, tubuhnya tegak seperti singa yang siap menghadapi lawan. Wajahnya yang tadinya lembut kini berubah menjadi wajah yang penuh dengan tantangan, seperti matahari yang muncul dari balik awan mendung. "Pacarmu? Kau masih berani menyebutnya pacarmu setelah membuatnya sakit dan sendirian seperti ini?" ucapnya dengan suara yang dingin seperti es batu yang pecah. "Kau seperti badai yang datang tanpa peringatan, menghancurkan segalanya yang indah di sekitarmu, lalu pergi begitu saja tanpa memikirkan kerusakan yang kau tinggalkan."
Khem mengangkat tangan dengan cepat seperti kilat yang menyambar langit, ingin menghadang kata-kata Aksa yang menusuk hati seperti anak panah yang tajam. "Jangan kau berbicara seperti kau tahu segalanya!" teriaknya dengan suara yang semakin tinggi, seperti ombak yang menerjang batu karang. "Kau hanyalah cowok bajingan yang suka bermain dengan hati perempuan! Kau datang ke sini hanya untuk merebutnya dariku, bukan?"
Aksa tertawa dengan suara yang seperti deru ombak yang menghantam pantai, namun tawa itu penuh dengan rasa tidak senang seperti gong yang berbunyi salah nada. "Merebut? Aku tidak perlu merebut apa yang sudah milikku dari awal, Khem!" jawabnya dengan nada yang menantang, tubuhnya semakin mendekat ke arah Khem. "Murni dan aku sudah mengenal satu sama lain jauh sebelum kamu datang ke dalam hidupnya. Aku hanya kembali untuk mengambil apa yang seharusnya ada padaku!"
Di sisi kasur, Murni mencoba untuk berdiri dengan susah payah, tubuhnya masih goyah seperti pohon muda yang terkena badai. "Berhentilah keduanya!" teriaknya dengan suara yang penuh dengan rasa sakit, tangannya mengepal dengan kuat hingga kuku menyayat kulitnya. "Aku tidak bisa melihat kalian bertengkar seperti ini di depanku!" Namun suaranya hanya terdengar seperti bisikan angin yang lemah, tidak mampu menghentikan dua lelaki yang sedang dilanda emosi seperti badai yang tak terkendali.
Khem melangkah lebih dekat, hidungnya hampir menyentuh hidung Aksa. Napas mereka saling bersentuhan, hangat dan penuh dengan amarah yang membara seperti bara yang sedang menyala. "Kau tidak pantas untuknya, Aksa!" ucap Khem dengan suara yang rendah namun penuh dengan ancaman, seperti ular yang sedang mengeluarkan suara mendesis. "Kau hanya akan menyakitinya seperti yang kau lakukan pada perempuan-perempuan lain!"
Aksa mengangkat dagunya dengan bangga, wajahnya penuh dengan rasa tidak terima seperti singa yang kehilangan wilayahnya. "Dan kamu pantas kah? Kamu yang membuatnya sakit hingga demam karena pertengkaran yang tidak perlu!" baliknya dengan nada yang tajam seperti pisau yang diasah dengan baik. Dia menggeram seperti binatang buas yang siap menyerang, tangannya mulai mengepal dengan kuat hingga urat-uratnya muncul seperti sungai yang membentang di permukaan tanah.
Tiba-tiba, Khem menyerang dengan cepat seperti harimau yang melompat ke mangsanya, tangannya meraih kerah kaos Aksa dengan kuat seperti penjepit yang mengencang. Aksa tidak tinggal diam, dia menendang perut Khem dengan keras seperti bola yang ditembakkan dengan kekuatan penuh, membuat Khem terjatuh mundur ke arah meja yang terletak di dekat pintu. Meja itu bergoyang dan kemudian roboh dengan suara seperti guntur yang menggema, barang-barang di atasnya terlempar ke segala arah seperti puing-puing yang terbawa badai.
Suara keributan itu menarik perhatian satpam komplek, Pak Suroso, yang sedang berkeliling dengan tongkat bambunya. Dia berlari dengan cepat seperti rusa yang sedang melarikan diri, wajahnya penuh dengan kekhawatiran seperti orang yang melihat rumah yang sedang terbakar. Ketika dia sampai di depan kamar Murni dan melihat dua lelaki yang sedang saling menyerang seperti binatang buas, dia segera masuk dan memisahkan mereka dengan kekuatan yang luar biasa untuk seorang pria seusianya.
"Cukup! Berhentilah kalian berdua sekarang juga!" teriak Pak Suroso dengan suara yang seperti gong yang berbunyi keras, membuat kedua lelaki itu berhenti sejenak. Dia menahan Khem dengan satu tangan dan Aksa dengan tangan yang lain, seperti seorang petinju yang sedang memisahkan dua pejuang yang sedang bertarung. "Kalian tidak boleh bertengkar di komplek ini! Ini bukan tempat untuk perkelahian!"
Khem menatap Aksa dengan mata yang penuh dengan amarah yang belum padam, seperti bara yang masih menyala di atas abu yang hangat. "Aku tidak akan menyerah pada dirimu, Aksa! Murni adalah milikku!" ucapnya dengan suara yang penuh dengan tekad, seperti prajurit yang berjanji untuk mempertahankan bentengnya.
Aksa mengusap bibirnya yang mulai berdarah seperti bunga mawar yang terluka, kemudian tersenyum dengan wajah yang penuh dengan tantangan. "Kita akan melihat nanti siapa yang layak untuknya, Khem," jawabnya dengan suara yang dingin seperti es batu. "Aku tidak akan mudah menyerah."
Pak Suroso kemudian menarik Aksa keluar dari kamar dengan kuat, seperti seorang penjaga yang sedang mengusir pencuri dari rumah. Dia mengantar Aksa keluar dari komplek kos dengan langkah yang mantap, tidak memberikan kesempatan bagi Aksa untuk berbicara lagi. Setelah Aksa hilang dari pandangan, Pak Suroso kembali ke kamar Murni dan melihat Khem yang sedang membongkar puing-puing meja dengan wajah yang penuh dengan rasa bersalah.
"Murni..." panggil Khem dengan suara yang lemah seperti angin yang hampir padam, menoleh ke arah kasur di mana Murni sudah terbaring kembali dengan wajah yang pucat seperti kelopak bunga yang layu. Dia ingin mendekatinya, namun rasa malu dan ketakutan menghalangi langkahnya—seperti tembok yang tinggi yang tidak bisa ditembus.
Pak Suroso menghela napas dengan berat, lalu menepuk bahu Khem dengan lembut. "Anak muda, cinta bukanlah sesuatu yang bisa diambil dengan paksa atau dipertahankan dengan kekerasan," ucapnya dengan suara yang penuh dengan hikmat, seperti orang tua yang sedang memberi nasihat kepada anaknya. "Kamu harus menunjukkan pada dia bahwa kamu layak untuknya dengan tindakanmu, bukan dengan pertengkaran."
Khem menatap wajah Pak Suroso dengan mata yang penuh dengan kesedihan, kemudian melihat kembali ke arah Murni yang sudah mulai terlelap karena kelelahan. Dia merasakan seperti ada batu besar yang tertanam di dalam hatinya—seperti batu yang menghalangi aliran sungai kehidupan mereka. "Aku tidak tahu harus bagaimana, Pak Suroso," bisiknya dengan suara yang penuh dengan rasa putus asa. "Aku takut kehilangan dia selamanya..."
...