NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan Alana

Sejak sore itu, Alana tidak bisa benar-benar tenang.

Ia mondar-mandir di dalam apartemen, langkahnya pendek dan gelisah. Jendela sudah ia buka, tirai tersibak, membiarkan cahaya senja masuk, namun dadanya tetap terasa sesak. Setiap detik berlalu seperti mengulur waktu dengan kejam.

Luciano terus terlintas di benaknya.

Tatapan tegasnya. Nada suaranya yang berusaha lembut. Cara ia menahan diri agar tidak kembali menjadi pria yang mengurung dan mengendalikan. Semua itu justru membuat Alana semakin khawatir.

Ia berhenti di dekat sofa, menekan dada dengan telapak tangan. “Kenapa rasanya begini…” gumamnya pelan.

Alana ingin menghubungi Luciano. Sangat ingin. Sekadar memastikan lelaki itu baik-baik saja. Mendengar suaranya. Tapi kenyataan kembali menghantam, ponselnya tidak ada di tangannya.

Luciano belum mengizinkannya memegang ponsel.

Bukan karena ingin menguasai, katanya. Tapi karena ingin memastikan Alana aman, tidak bisa dilacak, tidak disentuh oleh dunia luar yang kejam. Alana mencoba memahami alasan itu… tapi rasa khawatir tetap saja menang.

Ia duduk di tepi ranjang, jemarinya mencengkeram seprai. Ingatannya melayang pada pesan Altair pagi tadi, tentang penjagaan yang diperketat, tentang wajah-wajah asing yang kini berjaga di sekitar apartemen.

“Ada apa sebenarnya, Luciano?” bisiknya lirih.

Hatinya tidak pernah berbohong. Ada firasat yang menggerogoti, rasa tidak enak yang tak bisa ia jelaskan. Seolah sesuatu sedang bergerak dalam bayangan, mendekat, mengancam.

Alana berdiri lagi, melangkah ke pintu. Ia menempelkan telinganya sesaat, hanya suara langkah penjaga di luar. Aman, terlalu aman.

Justru itu yang membuatnya takut.

Ia memeluk tubuhnya sendiri, menahan dingin yang bukan berasal dari ruangan ber-AC. Untuk pertama kalinya, Alana menyadari satu hal dengan jelas Ia tidak hanya takut kehilangan kebebasannya.

Ia takut kehilangan Luciano.

Dan ketakutan itu, entah sejak kapan, telah mengambil tempat di hatinya.

Tidak berselang lama, pintu apartemen itu terbuka dengan bunyi pelan namun tegas. Alana yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat sosok yang masuk.

Altair.

Wajah pria itu tetap tenang seperti biasa, tapi Alana yang sejak sore diliputi kegelisahan merasakan ada sesuatu yang berbeda. Terlalu cepat. Terlalu mendadak.

“Altair?” Alana berdiri. “Ada apa?”

Altair mendekat, langkahnya mantap. “Aku diperintahkan Luciano untuk menjemputmu nyonya.”

Alana mengernyit. “Menjemput? Untuk apa?”

“Kita harus pindah,” jawab Altair singkat. “Apartemen ini sudah tidak aman.”

Kata tidak aman membuat dada Alana berdesir. “Kenapa tiba-tiba? Apa yang terjadi? Luciano di mana?” Pertanyaan itu keluar beruntun, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha terdengar tenang.

Altair menatap Alana beberapa detik, cukup lama untuk memutuskan satu hal penting. Lalu ia tersenyum tipis, senyum yang terlalu rapi.

“Luciano baik-baik saja,” katanya. “Dia hanya… mengurus beberapa hal. Ini murni soal keamanan. Tidak lebih.”

Itu bohong.

Dan Altair tahu Alana hampir bisa merasakannya.

“Kalau begitu kenapa tidak dia sendiri yang menjemputku?” tanya Alana, tajam. “Kenapa harus kamu?”

Altair menarik napas pelan. “Karena dia mempercayaiku untuk menjaga nyonya saat dia tidak bisa berada di sisi nyonya.”

Alana terdiam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ada perasaan tidak enak yang makin menguat, seperti benang halus yang menarik hatinya ke arah yang gelap.

“Kita ke mana?” tanyanya akhirnya.

“Ke rumah,” jawab Altair. “Untuk sementara.”

Mata Alana membesar. “Rumah itu—”

“Aku tahu,” potong Altair cepat, kali ini nadanya lebih lembut. “Penjagaan sudah ditingkatkan. Tidak ada yang akan mengurungmu. Ini hanya tempat paling aman saat ini.”

Alana menatap lantai, bergulat dengan pikirannya sendiri. Bayangan rumah besar itu kembali muncul, dingin, sunyi, penuh trauma. Namun di saat yang sama, bayangan Luciano juga hadir. Wajahnya, pelukannya, janjinya.

“Luciano yang memutuskan ini?” tanyanya pelan.

Altair mengangguk tanpa ragu. “Ya.”

Kebohongan kedua.

Alana menutup mata sejenak, lalu mengangguk. “Baik. Tapi satu hal—”

“Apa?”

“Kalau terjadi sesuatu pada Luciano…” Alana menatap Altair lurus-lurus, “aku akan tahu kau menyembunyikannya dariku.”

Altair membalas tatapan itu, kali ini tanpa senyum. “Aku bersumpah,” katanya pelan, “aku akan melakukan apa pun untuk memastikan kau tetap aman.”

Ia tidak mengatakan kebenaran yang sebenarnya, bahwa pada saat itu juga, Luciano sedang berada jauh di tengah hutan berhadapan langsung dengan Albert.

Dan bahwa keputusan memindahkan Alana bukan sekadar pencegahan, melainkan langkah darurat sebelum perang menelan lebih banyak korban.

***

Hutan timur tenggelam dalam gelap yang lembap. Bau tanah basah bercampur asap mesiu menggantung di udara, menusuk paru-paru. Lampu-lampu senter berkelebat liar di antara pepohonan, menciptakan bayangan patah-patah yang bergerak cepa, terlalu cepat untuk sekadar manusia yang ragu.

Luciano melangkah maju tanpa suara. Jaket hitamnya telah ternodai lumpur dan bercak darah yang bukan miliknya. Tatapannya dingin, fokus. Di sekelilingnya, tubuh-tubuh anak buah Albert tergeletak tak beraturan, ada yang meringkuk sambil menekan perutnya, ada yang tak bergerak dengan mata terbuka menatap kosong, darah merembes tipis dari sela jari.

Teriakan pecah.

Seorang pria menerjang dari kiri. Luciano berputar, menghindar setengah langkah. Suara tulang bertemu besi terdengar saat ia menghantamkan gagang senjata ke rahang lawan. Bunyi retak yang basah menyusul, pria itu terjerembap, memuntahkan darah dan serpihan gigi ke tanah.

“Majuuu!” teriak seseorang dari balik pepohonan.

Peluru menghantam batang pohon di samping Luciano, serpih kayu menyambar pipinya. Ia membalas tembakan singkat dua letusan. Satu tubuh jatuh, menabrak akar besar, darah mengalir tipis dari paha yang robek. Tapi cukup untuk menghentikan napas.

Langkah berat terdengar dari depan.

Albert muncul dari balik bayangan, wajahnya dipenuhi amarah yang mentah. “Kau pikir ini akan berakhir malam ini?” geramnya.

Luciano menyipitkan mata. “Sudah berakhir sejak kau menyerang milikku.”

Mereka bertabrakan di ruang sempit di antara pepohonan. Pukulan bertukar cepat, keras, tanpa ritme. Albert menghantam rusuk Luciano; Luciano membalas dengan siku ke pelipis. Darah mengalir dari alis Albert, menetes ke tanah, hitam di bawah cahaya senter.

Albert tertawa serak, meludah darah. “Oliver—”

Nama itu membuat Luciano bergerak lebih cepat. Ia menangkis, lalu menghantamkan pisau kecil ke lengan Albert, namun tidak dalam, tapi tepat. Darah menyembur singkat, merah kontras di kulit. Albert meraung, mundur tersandung akar.

“Ini untuk setiap langkahmu mendekati Alana,” ucap Luciano rendah, suaranya dingin seperti baja.

Albert mencoba bangkit, tapi Luciano menendang lututnya. Bunyi tumpul terdengar; Albert jatuh tersungkur. Luciano menekan bahunya ke tanah, ujung pisau menempel di leher cukup untuk menggores kulit, meneteskan garis merah tipis.

Di sekeliling mereka, pertempuran mereda. Anak buah Albert yang tersisa mundur, ketakutan menahan langkah. Hutan kembali bernapas pelan, berat, dipenuhi rintihan dan bau besi.

Luciano berdiri, menarik pisau itu kembali. “Pergilah,” katanya singkat. “Dan ingat, satu langkah lagi ke arah Alana, dan aku tidak akan berhenti di sini.”

Albert terbatuk, memegangi lehernya yang berdarah. Tatapannya penuh kebencian dan ketakutan.

***

Pintu rumah itu terbuka pelan, disusul suara langkah yang berat, terlalu berat untuk sekadar pulang.

Alana yang sejak tadi duduk gelisah di ruang tengah langsung menoleh. Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Luciano berdiri di ambang pintu dengan tubuh sedikit terhuyung. Kemeja hitamnya nyaris tak lagi berwarna hitam, bercak darah mengering bercampur lumpur menodai hampir seluruh bagian. Celananya basah, entah oleh hujan, tanah, atau sesuatu yang lebih buruk. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras menahan nyeri.

“Luciano…” suara Alana bergetar.

Luciano melangkah masuk, lalu pintu tertutup di belakangnya. Baru dua langkah, lututnya nyaris goyah. Alana berlari menghampiri, refleks menopang tubuh pria itu.

“Ya Tuhan… ini apa?” Alana panik, matanya langsung tertuju pada lengan Luciano.

Darah masih merembes dari luka sayatan panjang di lengannya. Bukan luka kecil, kulitnya terbelah cukup dalam, merah gelap dan basah, jelas bekas pisau. Setiap gerakan kecil membuat darahnya kembali mengalir.

“Cuma luka,” gumam Luciano pelan, suaranya serak.

“CUMA LUKA?!” Alana hampir berteriak. Tangannya gemetar saat menyentuh pergelangan Luciano, takut tapi tak sanggup menjauh. “Kamu lihat sendiri ini sedalam apa?!”

Luciano mencoba tersenyum, namun gagal. Nafasnya berat, dadanya naik turun tak beraturan.

“Alana, tarik napas dulu,” ucapnya lirih.

Justru itu yang membuat Alana semakin marah. Matanya memanas, dada sesak oleh takut yang berubah jadi amarah.

“Kamu pergi tanpa bilang apa-apa. Kamu larang aku pegang ponsel. Kamu suruh aku aman, tapi kamu sendiri?” suara Alana pecah, matanya berkaca-kaca, “kamu pulang kayak orang hampir mati!”

Luciano terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tak membantah.

Alana menarik Luciano duduk di sofa dengan hati-hati. Ia berlutut di depannya, menatap luka itu dengan wajah pucat. Darah menetes ke lantai, meninggalkan bercak kecil yang membuat perutnya mual.

“Siapa yang ngelakuin ini?” tanyanya pelan, tapi penuh tekanan.

Luciano mengalihkan pandangan. “Nanti.”

Alana tertawa kecil. “Luciano, kalau kamu mati malam ini, apa aku masih punya nanti?”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari peluru mana pun.

Luciano menoleh. Untuk sesaat, topeng dinginnya runtuh. Ada lelah, sakit, dan sesuatu yang nyaris seperti penyesalan di matanya.

“Maaf,” katanya lirih.

Alana tak menjawab. Ia berdiri cepat, mengambil kotak P3K dengan tangan gemetar. Saat kembali, amarahnya masih ada, tapi kini bercampur rasa takut yang membuatnya hampir menangis.

“Kalau lain kali kamu berani pulang dalam keadaan begini lagi,” ucap Alana sambil membersihkan luka dengan hati-hati, suaranya bergetar tapi tegas, “aku nggak peduli siapa kamu, sekuat apa kamu. Aku yang bakal bunuh kamu duluan.”

Luciano tersenyum tipis di tengah rasa perih, senyum lemah yang hanya muncul saat bersama Alana.

“Aku catat,” jawabnya pelan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!