Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Ini Rumahku
"Sialan! Mereka pasti sudah mengganti semua anak kuncinya!" Maki Soraya sambil berkacak pinggang, setelah mencoba anak kunci terakhir di pintu belakang juga tidak bisa memutar.
"Aku ke warung sebelah saja, siapa tahu mereka meninggalkan kunci rumah di sana," Soraya beranjak, satu pot pohon lombok yang rindang ia tendang hingga terguling karena merintangi jalannya.
"Mampus! Bikin kesal aja!" omelnya, terus berjalan maju lewat samping menuju halaman depan.
"Budhe War! Mas Har atau Melitha ada titip kunci di sini nggak?" Soraya berteriak dari depan warung yang lumayan ramai di kunjungi oleh para pembeli sore itu.
Selain budhe War, para pembeli juga melongok ke arahnya.
"Eh, mamanya Adri rupanya!" budhe War balas berteriak, tak lupa menyunggingkan senyum ramah.
"Nggak ada, mama Adri! Tumben, biasanya bawa kunci masing-masing? Ketinggalan ya?" Tanyanya.
"Iya, Budhe... nggak ada ya.... Ya udah, nggak papa, Budhe!" Soraya tersenyum palsu, badannya berbalik hendak beranjak dari warung. Tak mungkin ia jujur bila anak kuncinya sudah diganti, pasti banyak pertanyaan yang akan mereka lontarkan lagi, hanya membuat lelah jika menjawabnya.
Bruk!
"Liat-liat dong mama Adri, masa sebesar gapura kecamatan gini nggak keliatan?"
Soraya tersenyum canggung, setelah berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali yang hampir oleng karena menabrak wanita besar di depannya ini. "Ma-maaf, bu RW.... Saya nggak sengaja, tadi buru-buru."
"Baru keliatan, kemana aja kamu, mama Adri?" tanya si bu RW itu lagi, tidak lupa menyunggingkan senyumnya.
Sebagai ketua RW baru, dirinya memang sudah mendapat laporan dari pak RT setempat bila warganya itu pergi dari rumah karena urusan keluarga.
"Anu, bu RW... Orang tua saya sakit...." Soraya cengengesan.
"Siapa? Ibu atau Bapak? Sakit apa? Nanti saya tengok ke rumah," berondong bu RT lagi.
"Ibuk, Bu. Tapi sudah baikan kok. Itu sebabnya saya baru bisa pulang sekarang," sahut Soraya cepat.
"Saya balik dulu ya, bu RW.... Siapa tahu mas Har atau Melitha sudah pulang," pamitnya, sudah tak betah berlama-lama.
Bu RW tersenyum memberi anggukan. "Iya, silahkan."
"Bohong dia, bu RW," celetuk seorang ibu yang menenteng sekresek sembako dengan raut menggebu.
"Saya dengar sendiri waktu beli anti nyamuk bakar di sini beberapa malam lalu, Soraya berani bersoal jawab dengan bu Harun, padahal beliau itu bisa dibilang mertuanya juga.... setelah itu Soraya pergi naik taksi bersama si Rita. Udah kebiasaan minggat itu si Raya! Iya kan, budhe War?" menoleh pada pemilik warung untuk minta dukungan.
"Ehehe, iya saya dengar juga," jawab jujur si Budhe. "Tapi kalau masalah minggat, walau bersampingan kaya gini, saya kurang memperhatikan, bu RW. Maklum sibuk sama jualan!"
"Memang beberapa hari ini saya liat si kecil Naomi itu ikut ayahnya berangkat kerja," ujarnya lagi merasa prihatin sambil memasukan barang belanjaan yang telah dihitung harganya ke dalam kantong plastik.
"Kadang kasian sama mas Har, kerja banting tulang, tapi harus momong dua anaknya juga, untung ada si Melitha yang mau bantuin, bu RW."
Bu RW yang memiliki nama asli Wilda itu turut mendesah prihatin di dalam hati mendengarnya. Bagaimanapun juga, bu Harun dan ayahnya Harry masih kerabat jauhnya.
"Ngomong-ngomong tentang nak Melitha," seorang ibu lain ikut bersuara. "Apa benar nak Melitha mau nikah sama nak Pandji, sepupunya sendiri, bu RW?"
Wilda menatap ibu berdaster bunga matahari yang bertanya tadi. Selama beberapa detik, ia hanya mematung memikirkan jawaban yang tepat, ia tahu kehamilan Melitha pasti sudah menjadi konsumsi publik.
"Iya, dengar-dengar juga nih ya, si dokter Elok, anaknya pak Gustam itu dapat pacar seorang dokter tajir melintir, makanya si nak Pandji di tinggal--" sambung ibu yang menenteng kantong sembakonya.
"Ehem!" Wilda sengaja berdehem, tak ingin ibu-ibu itu bergosip panjang tentang kerabatnya.
"Eh! Ma-maaf... maaf bu RW... Maklum, lidah tak bertulang!" kekeh si ibu yang menenteng kresek sembakonya mengulum senyum.
Sementara itu, Soraya yang melihat mobil asing berhenti tepat di depan pagar rumah dibuat pangling oleh Pandji yang keluar dari sana.
"Ternyata diam-diam si Pandji punya banyak uang juga bisa beli mobil, tidak seperti mas Har, kere! Kerja siang malam, hasilnya pas-pasan!"
Melihat kehadiran Ibu mereka, Adri dan Naomi langsung berlindung di belakang pinggang Melitha.
"Anak-anak, kalian nggak rindu sama Mama?" Soraya berusaha bersikap manis, tersenyum lebar dan mengembangkan kedua tangannya, tapi Adri dan Naomi malah semakin erat memeluk pinggang bibi mereka tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Melihatnya, senyum lebar Soraya menguap, kesabarannya langsung pupus setelah hampir satu jam lalu menanti kedatangan adik iparnya itu.
"Melitha, kamu pasti telah meracuni fikiran Adri dan Naomi kan, agar menjauhiku?" menatap suram pada adik iparnya.
"Tidak benar itu, mbak Raya, mereka berdua hanya takut--"
"Halah!" Soraya langsung mengibaskan tangannya, tak sudi mendengar penjelasan Melitha.
"Kamu sengaja juga, ya kan? Mengganti semua anak-anak kunci, biar Mbak nggak bisa masuk!" tuduhnya, sedari tadi menyimpan kekesalan karena semua anak kunci yang biasa ia gunakan tidak bisa berfungsi lagi.
"Ini rumahku, Mbak. Aku berhak melakukan apapun demi kenyamanku, anak-anak, dan mas Har."
Pandji yang sedari tadi memilih jadi pendengar untuk sementara waktu langsung menoleh pada Melitha, menemukan aura ketegasan di raut adik sepupunya itu.
Di depan mereka, Soraya mengepalkan tangannya, rahangnya mengatup kuat, emosinya tertantang melihat Melitha mulai berani menjawabnya.
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.